
Aku mengikuti gadis berambut pirang pendek bernama Sistine ini dari belakang. Dia mengantarku ke tempat ditengah jalan yang dikelilingi kobaran api. Aku melihat dua pemadam kebakaran, Sanae dan Shiro disana. Shiro dan Sanae sedang menahan diri untuk tidak menghancurkan manusia api yang dilawannya. Sistine berlari ke dekat mereka dan berdoa dengan kalimat yang sama.
"Wahai jiwa yang bergentayangan....".
Sanae dan Shiro yang mendengar hal itu mulai menghancurkan monster itu. Sanae memegang tangan monster itu dan menariknya, melepaskannya dari tubuhnya dan memukul monster itu dengan tangan yang ditariknya. Sedangkan Shiro melakukan karate biasa dengan mendendangkan kakinya ke perut monster itu lalu menyemburkan api dari bawah kakinya. Lalu tepat saat mereka berdua menghancurkannya, Sistine menyelesaikan doanya.
"...Akan aku suci kan kau dan membebaskan mu dari penderitaan mu... Accell.",
"Accell." kata mereka berdua.
Sanae dan Shiro berlari ke arahku.
"NAKANO INI SITUASI DARURAT!!!" kata Shiro sambil berlari mendekatiku,
"Ya aku tahu." jawabku.
Shiro sampai di tempatku, dia langsung terengah-engah sambil bertanya selagi bisa.
"Apakah kamu tahu penyebabnya?!" tanyanya sambil terengah-engah,
"Tidak aku tak tahu... Tetapi ini pasti ada dalangnya.. dan mungkin saja GsK dibalik layar ini..." kataku.
Sanae berhenti berlari dan terengah-engah.
"Apa yang harus kita lakukan?!" Tanya Sanae sambil terengah-engah,
"Pertama-tama kita harus keluar dari kobaran api ini. Para penduduk sudah dievakuasi semuanya... bukan?!",
"Ya. Sejauh yang kulihat...",
"Bagus aku juga tak merasakan hawa keberadaan siapapun sejauh 1 kilometer.",
"Satu kilometer?! Jadi, berapa jauh kobaran api yang merajalela ini?!",
"Ini hanya perkiraan ku, Kemungkinan kobaran api ini telah merajalela sejauh 3 kilometer dari ujung ke ujung.",
"Terus bagaimana ini?!",
"Kita sebaiknya keluar dan memikirkan strategi..." kataku.
Aku melihat ke arah mereka bertiga dan mengulurkan kedua tanganku ke depan mereka.
"Pegang tanganku!",
"HEH?! KENAPA SEKARANG?!" Tanya Sanae,
"INI BUKAN MAIN-MAIN! Kita akan berteleportasi keluar dari sini.",
"TERUS BAGAIMANA DENGAN ANGGOTA KAMI YANG LAIN?!",
"Aku rasa mereka semua aman..." kata Shiro dengan cepat,
"Heh?! Apa maksudmu?!" tanya Sanae,
"Pikirkan saja apa yang telah kita lalui setelah semua ini tetapi semuanya baik-baik saja. Mereka semakin kuat dan pasti mereka baik-baik saja, asalkan mereka bersama mereka bisa keluar dari lautan api ini.",
"Ayo cepat pegang tanganku!" kataku dengan tegas.
Mereka bertiga langsung memegang tanganku dan aku langsung berteleportasi ke kerajaan.
Saat kami sampai disana, kami disambut oleh Artoria yang telah bersiap memakai baju tempurnya.
"Nakano!" panggilnya dengan tegas.
Aku menoleh ke belakang melihat ke arah Artoria.
"Bagaimana dengan situasi penduduk?" tanyaku,
"Ya. Semuanya baik-baik saja tetapi...",
"Tetapi...?",
"Kata Paman Inara, sekitar sepertiga penduduk di kota kerajaan ini telah lenyap.",
"Manusia api... Berapa banyak yang menjadi korban?" tanyaku,
"Kurang lebih 20 ribu orang!",
"20 Ribu?!".
Gawat! 20 ribu monster yang merajalela ditengah lautan api itu.
"Berapa banyak penduduk di kota ini secara total?" tanyaku,
"Ada sekitar 150 ribu orang secara total.",
"Begitu ya...".
__ADS_1
Ini benar-benar kehilangan sepertiga penduduknya... gawat!
Aku melihat ke arah Shiro dengan sorot mata sinis, bertanya padanya.
"Shiro, apakah Manusia Api dapat menyebarkan sesuatu agar manusia lainnya dapat menjadi seperti mereka?" tanyaku,
"Ya. ada. Tetapi bukan manusia api, melainkan Iblis Api yang melakukannya.",
"Bisakah kamu menjelaskan detilnya?",
"Ya. Iblis api memproduksi satu virus yang dapat merubah manusia normal menjadi Manusia Api, tetapi virus itu hanya ada disekitar Iblis Api dan tidak menyebar kemana-mana.",
"Begitu ya. ini berarti....",
"Berarti?",
"Apakah Iblis Api bisa mengendalikan Manusia Api untuk menjadi bawahannya atau semacamnya?",
"Ya bisa. Hanya bisa dilakukan oleh Iblis Api itu sendiri.",
"Apa katamu?!".
Gawat! Jika ini benar maka, iblis api pasti akan datang ke istana ini cepat atau lambat. Tempat ini bukanlah tempat aman lagi. Jika ingin mempertahankan kerajaan ini, kita harus bertarung... melawan 20 ribu Manusia Api!
"Tempat ini tak lama lagi akan menjadi makanan mereka. Tempat ini bukanlah tempat aman lagi..." kataku.
Aku melihat ke Artoria dengan tatapan serius.
"Artoria, dimana Tohka?" tanyaku,
"Dia sedang mengamati di atas menara dekat sini.",
"Panggil dia kesini!",
"Baiklah!" katanya dan langsung pergi melakukan perintahku.
Sanae yang mulai mengerti situasinya mulai panik.
"Nakano, kita harus melakukan apa?" tanyanya,
"Kalian kumpulkan lah semua pemadam kebakaran yang ada disini. Kita memerlukan bantuan lebih terutama dari orang yang sudah berpengalaman melawan Manusia Api dan Iblis Api.",
"Baiklah!" jawab Shiro secara tiba-tiba,
"Shiro?!",
"Kita tak boleh hanya melihat. Kita harus bertindak atau 130 ribu nyawa akan menghilang begitu saja! Aku takkan membiarkan itu terjadi!",
Aku dan yang lainnya melihat ke samping dan Liyu berdiri didepan kami semua. Sorot matanya berbicara kalau Liyu telah mengerti situasi dan sudah siap bertarung sampai mati.
"Sepertinya kamu sudah mengerti situasinya ya, Liyu!" kataku,
"YA! Kita akan melawan 20 ribu monster api yang mengamuk! Itu membuatku semangat!",
"Jangan sampai mati ya.",
"Mana mungkin! Aku sudah berlatih lebih keras semenjak aku selalu dikalahkan olehmu!",
"Bagus! Itulah yang namanya semangat. Kurasa ayahku di atas sana sudah mengakui mu.",
"Yosh!".
Suara hentakan kaki datang dengan keras dan memanggil namaku.
"NAKANO!" Teriak suara itu.
Aku melihat ke belakang Liyu dan melihat Sumiko berdiri di depan dengan sorot mata seperti... marah?
"IZINKAN AKU IKUT JUGA!!" Katanya,
"Tidak kamu tidak boleh! GsK mengincar mu kau ingat! Kau tak boleh bertindak gegabah!".
Sumiko mengalihkan pandangannya ke arah lain selagi aku berbicara.
"Karena itu...".
Tepat saat aku ingin menyelesaikan bicaraku, Sumiko menyela ku.
"Aku tak dengar! Aku ikut! Jika kamu bertarung maka aku juga akan bertarung!",
"Tidak!",
"Ikut!",
"Tidak!",
"Ikut!".
__ADS_1
Dan kami melakukan itu sampai Tohka datang. Dia berpura-pura batuk untuk menghentikan kami.
"Ehem!".
Kami langsung berhenti dan langsung membalikan badan ke arah belakang satu sama lain.
"Hmph!",
"Hmp!".
"Sudahlah... Nakano, menurut penyebaran api, api ini telah memakan 95 persen bagian kota." kata Tohka,
"Secepat itu?!",
"Ya. Dan lagi api di bagian Utara paling ujung terdapat api yang sangat besar melebihi yang lainnya.",
"Sudah kuduga kamu pasti memiliki informasi seperti ini. Kerja bagus Tohka.".
Tohka tersenyum bahagia dan mendengarkan aku berbicara.
"Yosh kalian semua dengar! Kali ini ada perang melawan Api! Masing-masing dari kita akan dijadikan kelompok yang menyerang di arah berbeda untuk membersihkan seluruh monster dan lagi kita dapat bantuan dari tim pemadam kebakaran khusus disini. Satu lagi, kalian tak boleh membunuh monster ini sebelum perempuan berambut pendek pirang disana selesai membacakan doa nya.",
"eh? HEEEEEHHHH?!" teriak semuanya,
"KENAPA?!" Tanya Liyu,
"Jika kalian membunuh monster itu, kalian akan masuk ke ilusi yang bertahan tergantung seberapa banyak kalian membunuh mereka. Satu monster sama dengan kira-kira 10 detik. Ini dapat menghambat pergerakan kita. Jadi kalian harus hati-hati. Apakah kalian ada pertanyaan?".
Seseorang mengacungkan tangannya ke atas udara dan itu adalah Sanae.
"Bagaimana kita bisa mengirim Sistine ke tempat berbeda dengan cepat? Apakah menggunakan kemampuan aneh teleportasi milikmu?".
Benar juga.... Oh iya!
"Tenang saja aku tahu orang yang tepat. Dia bisa menggunakan sihir telekomunikasi jarak jauh.",
"Siapa dia?",
"Ada. Dia berada di alam semesta lain. Tunggu sebentar.".
Aku lalu pergi berteleportasi ke... Ender Library. Satu-satunya tunangan ku yang ahli dalam sihir apapun, Keiko!
Saat aku sampai, aku melihat Keiko sedang duduk melayang di atas ku.
"Keiko!!" Teriakku,
"WAAA...".
Keiko terkejut dan melemparkan bukunya ke atas langit. Dia berusaha mengambilnya tetapi gagal.
"Wo-woaaa!!".
Aku yang melihat ada buku jatuh langsung meloncat meraihnya dan berteleportasi ke belakang kursi nyaman yang di duduki Keiko
"Yo, Keiko." sapa ku,
"KYAAAA!" Teriaknya terkejut.
Dia terengah-engah karena terkejut.
"Cih! JANGAN MENGAGETKANKU!!!!" Teriaknya,
"Maaf. Aku tak tahu kamu akan terkejut.".
Dia menarik dan menghela nafas panjang.
"Jadi, ada apa? Kamu kesini bukan hanya untuk menyapaku kan?",
"Kamu sangat mengenalku ya. Ya. Aku memiliki masalah sihir dan hanya kamu yang bisa mengatasinya.",
"Bawa aku ke tempat masalah." katanya sambil mengulurkan tangannya ke dekatku.
Aku memegang tangannya dan langsung berteleportasi kembali ke tempat sebelumnya.
Mereka melihatku berdiri sambil menggenggam tangan seseorang mirip anak kecil.
"Keiko!" Sapa Tohka,
"Ah... Tohka ya.. Yahoo..".
Aku melepaskan tangan Keiko dan menjelaskan situasinya sesingkat yang aku bisa.
"Jadi masalahnya adalah aku memerlukan sihir telekomunikasi mu untuk membiarkan perempuan berambut pendek pirang itu berdoa ke telinga semua orang disini agar semua orang yang bertarung injmembunuh monster Api yang mengamuk ini...",
"Aku kurang paham dengan apa yang terjadi disini tetapi ini adalah permintaan Nakano jadi aku menerimanya.",
"YOOSHHAAAAA!!!!" Teriak semuanya bersama-sama... Tepat di momen itu aku mempertegas ulang kepada Sumiko.
__ADS_1
"Dan Sumiko, Kamu tetap tak boleh ikut!" kataku,
"AP—???!!!".