Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 69, Pilih Aku atau Nakano Wynox


__ADS_3

Beberapa menit setelah matahari terbit. Anna bangun. Mereka melihat aku yang sedang melihat pemandangan matahari terbit.


"Nakano...?" panggil Anna,


"Ah.. apa aku mengganggu tidurmu?" tanyaku,


"Tidak juga. Sedang apa?",


"Tidak ada. Hanya melihat matahari terbit.".


Anna berdiri dari tidurnya dan mendekatiku. Dia juga ingin menyaksikan pemandangan matahari terbit sebelum kami menyelesaikan tugas kamu di alam semesta ini.


"Indahnya..." gumam Anna.


Aku melihat ke arah Anna. Angin berhembus membuat rambut Anna berterbangan ke belakang. Rambut berterbangan dengan matahari pagi yang menyinari Anna membuatnya menjadi sosok bidadari yang cantik nan anggun.


"Kamu pagi-pagi sudah secantik ini." kataku,


"Apa itu? Merayu?" tanya Anna,


"Tidak. Aku hanya memujimu saja. Tak ada salahnya kan memuji kecantikan tunangan ku?",


"Kita bahkan belum bertunangan, kau tahu itu kan?",


"Tidak ada salahnya bukan bilang begitu? Lagian kamu kan yang ingin menjadi istriku padahal aku tak melamar mu.",


"Benar juga... Yah entah kenapa aku masih mau jadi istrimu. Mungkin karena melihat Nakano Wynox yang lain yang berbeda. Singkatnya telah berubah. Walaupun dirimu yang sekarang membenci sosok dirimu di masa lalu.".


Aku memalingkan wajahku dari Anna dan menatap ke arah matahari. Angin yang berhembus membuat rambutku bergoyang, aku menggerakkan bibirku.


"Kau tahu. Aku sebenarnya tak membenci Nakano Wynox.",


"Benarkah? Kamu terlihat seperti membencinya.",


"Tidak itu tidak benar. Saat aku pertama kali bertemu dengannya secara langsung, aku merasa aku harus menyingkirkannya. Aku tak membencinya tetapi aku merasa kalau aku harus benar-benar membuat dia mengakui diriku dan menerima sosokku. Hanya itu.",


"Begitu ya...".


Kami diam, mendengarkan suara laut dan angin yang menenangkan. Aku pun bertanya kepadanya suatu hal.

__ADS_1


"Hei, Anna. Jika kamu dipaksa memilih diantara kami berdua, siapa yang kamu pilih?" tanyaku.


Anna terkejut dengan pertanyaan ku. Dia menarik pandangannya dari matahari dan melihat ke arahku.


"Eh?" gumam Anna.


Dia melihat sosokku dengan rambut yang bergoyang terhembus angin, yang juga membuatnya tak bisa melihat mataku karena tertutup angin. Dia melihat bibirku mulai bergerak.


"Aku tak menyuruhmu menjawab itu. Maaf. Mungkin itu membuatmu tak enak." kataku,


"Kalau disuruh memilih... mungkin aku akan lebih memilih Nakano Wynox.".


Tak ada jawaban langsung dariku. Anna menutup mulutnya, dia merasa kalau kata-katanya barusan akan menyinggungku. Dia mulai memikirkan hal-hal aneh.


(Gawat! Apakah... Nakano marah..? Tentu saja dia marah ya kan...? Dia pasti akan melontarkan kata-kata yang dipenuhi amarah. Dia pasti tidak akan menerimaku sebagai calonnya lagi.).


Anna menutup matanya dan menundukkan kepalanya, bersiap untuk dimarahi. Aku membuka mulutku, mulai berbicara.


"Begitu ya..." kataku,


"Eh?",


"Kenapa?",


"Kenapa aku harus marah?",


"Yah... itu aku lebih memilih Nakano Wynox dibandingkan dirimu loh...",


"Emangnya kenapa? Sudah wajar bukan? Lagian Nakano Wynox pasti melakukan sesuatu yang besar yang membuatmu memilihnya kan? Aku tahu itu. Kenapa aku harus marah? Jika aku jadi dirimu juga mungkin aku akan menjawab dengan kata-kata yang sama. Nakano Wynox pasti melakukan sesuatu yang besar untukmu kan? Sesuatu yang tak bisa kulakukan.",


"...." —Tak ada jawaban dari Anna.


Dia mulai mengatakan sesuatu di kepalanya yang ingin dia katakan kepadaku.


(Bukan begitu... Jika aku memilih satu diantara kalian aku tak bisa memilihnya... karena bagiku kalian berdua sesuatu yang amat sangat berharga... Tetapi jika dipaksa memilih... aku akan memilih Nakano Wynox karena dia telah membuat jalan untukku. Hanya itu. Aku memilihnya bukan berdasarkan cinta... tetapi aku memilihnya berdasarkan kebaikan yang telah dia lakukan kepadaku. Jika berdasarkan cinta... aku mungkin akan memilihmu...).


Kata-kata yang ada di kepala Anna, ingin dia lontarkan tetapi dia harus berpikir dua kali sebelum mengatakannya dan Anna membuat keputusan untuk tidak mengatakannya.


Anna yang dari tadi menundukkan kepalanya, dengan cepat memelukku.

__ADS_1


"Maaf!" katanya,


"Buat apa kamu minta maaf. Kamu tidak memiliki salah.",


"Maaf!",


"Baik-baik.".


Aku membalas pelukannya dengan memeluknya juga.


(Aku hanya merasa aku perlu minta maaf. Nakano... Maaf!).


Setelah beberapa menit, aku dan Anna melepaskan pelukan kami. Kami menatap satu sama lain dan mendekatkan kepala kami. Kami menutup mata dan mendekati bibir kami ke satu sama lain.


Seketika, dengan cepat, ada sesuatu yang menciumiku dengan cepat dan penuh energi. Bibirnya juga berbeda dari milik Anna. Siapa?


Aku membuka mataku dan melihat wajah dekat dengan rambut pendek dan kacamata lensa satu. Itu Keiko.


Sementara itu, Anna merasa tak ada apapun di bibirnya. Dia merasa janggal. Dia membuka matanya dan melihat sekumpulan rambut tebal pendek. Itu rambut Keiko.


"Wooaahhh.. Keiko?!" teriak Anna terkejut.


Setelah beberapa detik, Keiko melepaskan bibirnya dariku.


"Hehe... ciuman pagi ala Nakano..." kata Keiko dengan nada puas,


"Tunggu! Harusnya itu ciumanku!" protes Anna,


"Aku tidak peduli~! Siapa cepat dia dapat. Salahmu sendiri kamu lengah.".


Keiko yang melihat ke arah Anna, melihat ke arahku. Dia menyentuh bibirku dan mulai mengatakan sesuatu dengan menggoda


"Nakano juga.. Jangan sampai lengah loh~!" kata Keiko sambil menyentuh bibirku,


"Woooaahhh!! Tak adil! Lagian kata-kata menggoda mu itu, kamu meniru ku kan?!" kata Anna,


"Wah~ kamu sadar ternyata.",


"Tentu saja lah! Karena harusnya itu kata-kata milikku, dasar kau peniru!".

__ADS_1


Kami tertawa kecil setelah kata-kata yang dilontarkan oleh Anna.


Setelah beberapa menit, teman-temanku bangun satu persatu. Setelah itu, beberapa dari kami mulai mencari makanan di sekitar pulau dan juga kami meletakkan Kuali Tradisional di bawah sinar matahari pagi. Kami perlu menunggu sampai siang hari agar kuali nya bisa kering sepenuhnya.


__ADS_2