Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 86, Kencan yang Dinantikan


__ADS_3

Sebelum aku berteleportasi pulang ke istana Machinery, tiba-tiba ada seseorang yang bertanya kepadaku secara tiba-tiba.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya suara itu.


Aku terkejut sebentar. Aku tak dapat merasakan hawa keberadaannya. Suara seperti perempuan itu mengagetkanku dan aku pun langsung berbalik badan. Aku melihat sosok wanita yang sedang menyilang tangannya dengan baju yang terbuka sehingga pakaian dalamnya dapat dilihat dengan jelas. Siapa perempuan itu? Kenapa aku tak dapat merasakan hawa keberadaannya atau kehadirannya?


"Siapa kau?" tanya wanita itu,


"Aku? Aku hanyalah orang yang lewat saja..." kataku berusaha menutupi identitas ku,


"Heeeeh... Kalau begitu, kenapa kamu ada di atas atap?",


"Yah.. Itu.. aku tadi melihat asap jadi aku penasaran apa yang terjadi..",


"Hoho.... Benarkah itu? Apakah kamu tak tahu apapun soal manusia api?",


"Manusia... api..? apa itu?",


"JANGAN BERPURA-PURA LAGI! Kau.... adalah anggota GsK kan?!",


"Apa maksudmu? GsK?",


"Cih. Masih tak mau mengakui ya. Kalau begitu kamu.. ikut ke kantor kami!".


Aku tak tahu apa yang terjadi. Tetapi aku tak mau terikat dengan masalah mereka jadi aku memutuskan untuk berteleportasi pulang dengan cepat.


"Deh... Woi!" kata wanita itu.


(Cih! Dimana dia?! Dia pasti anggota GsK! Aku harus menangkapnya demi mencari informasi!).


Wanita itu melihat ke kanan dan ke kiri kemudian loncat ke sana kemari mencari ku tetapi tak bisa menemukanku.


"Cih! SIALAAAAAAAAANNNNN!" teriaknya dengan panjang.


Aku pulang dengan selamat. Aku menghela nafas di kamarku dan langsung berbaring di atas kasur kamarku.


Hampir saja... apa-apaan tadi itu? GsK? Manusia Api? Apa maksud semua itu? Apakah itu masalah dari alam semesta ini?


Aku menghela nafas sekali lagi dan menguatkan niat untuk mencari seseorang yang harus kutemui, Sei. Ya, benar. Sei dan Tohka pernah membangun hubungan sangat dalam hanya dengan sehari saja. Jika bukan karena Sei yang bertindak, mungkin mereka takkan pernah seperti sekarang.

__ADS_1


Aku pun berdiri dan menguatkan niat untuk mengajak Sei kencan sekaligus meminta saran padanya. Aku keluar kamar dan berjalan menuju ke kamar Sei yang tak jauh dariku. Aku berjalan, melewati tangga, dan akhirnya aku sampai ditempatnya. Aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali dan langsung ada jawaban dari dalam.


"Baik tunggu sebentar!" kata Sei dari dalam.


Sei membuka pintu dan melihatku sedang berdiri. Sei membuka pintu secara penuh sehingga aku bisa melihat seluruh tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki.


"Ada apa, Nakano?" tanyanya,


"Aku ingin meminta saran padamu. Yang pertama-tama, ayo keluar jalan-jalan. Kencan." kataku,


"HEEEHH?! Kenapa tiba-tiba...?!",


"Aku kan sudah bilang aku minta saran. Kupikir bagus jika meminta saran saat berkencan lagian kita kan tak pernah kencan. Kencan dengan calon istriku, kenapa tidak?",


"Be-begitu ya... Tunggu sebentar Nakano... aku akan ganti baju." kata Sei dan langsung menutup pintu kamarnya.


Aku berjalan menuju pilar yang berdiri diantara jendela besar. Aku menyender di pilar itu dan merenung sambil menunggu Sei selesai bersiap. GsK? Apa maksudnya?


Sementara itu di dalam kamar Sei. Sei terburu-buru bersiap. Dia sedang memilih baju sekarang.


(Eeee... ini bagus apa gak ya... atau bagus ini?! Aku harus bersiap dengan cepat, Nakano menunggu soalnya!).


(Diam kau Nakano! Aku yang menulis novel ini. aku bisa membuatmu tiada dengan sekejap mata.). Wah... menakutkan, ok lanjutkan ceritanya.


Sei terjatuh dan suaranya terdengar sampai keluar dimana aku sedang bersandar di depan pilar depan pintu Sei.*Gubrak* suara dari dalam kamar. Aku langsung berlari, membuka pintu dan melihat Sei sedang berbaring dengan mata yang berputar-putar. Aku terheran-heran karenanya.


"Kamu... baik-baik saja kah, Sei?" tanyaku,


"Eeeeaaeeeee...." katanya,


"Aku tak mengerti satupun apa yang kamu bicarakan.",


"Pusiiiiingg....".


Aku menghela nafas panjang dan langsung mengangkat Sei ke ranjang. Aku membereskan pakaian yang berserakan dimana-mana, bahkan aku melihat pakaian dalamnya saat merapikannya tetapi aku bertingkah seolah-olah aku tidak peduli dan aku pun melanjutkan beres-beres nya sampai selesai.


Saat selesai, aku menghela nafas pendek dan mengusap keringatku. Aku melihat ke arah Sei dan dia tertidur. Mungkin karena terlalu banyak pikiran. Aku memutuskan untuk membuat catatan yang bertuliskan:


Sei, Kencannya tak jadi. Tetapi kita masih bisa melakukannya besok. Besok, Didepan gerbang istana jam 10.00 pagi, aku akan menunggumu disana. Istirahatlah baik-baik dan jangan membuat keributan lagi, santai saja dan jangan tergesa-gesa.

__ADS_1


-Nakano.


Setelah aku menulis itu, aku menaruh itu di meja kamar dan pergi keluar kamar membiarkan Sei tidur dengan nyenyak. Sesaat setelah aku keluar dan menutup pintu dengan pelan, Sei tiba-tiba bangun. Dia bangkit dari tidurnya dan melihat ke kanan dan ke kiri.


(Eh... Apakah sudah pagi...?).


Dia pun mengingat sesuatu yang seharusnya dia lakukan sebelum aku meninggalkan catatan.


(Ah! Benar juga! Nakano!)


Dia berdiri dengan cepat sebelum menyadari catatan yang aku tinggalkan di kamarnya.


(Aku harus cepat! Nakano Menunggu!).


Dia melihat ke samping kiri dan terheran-heran.


(Eh? Dimana semua baju yang berserakan itu?).


Dia akhirnya melihat ke samping kiri dan ke bawah. Dia akhirnya melihat catatan yang aku tinggali dan membacanya. Setelah membacanya, dia jadi tak bersemangat dan merasa bersalah.


(Begitu ya... Kencannya tak jadi ya... Semuanya salahku.... Karena aku ceroboh kencannya pun tak jadi... Aku salah... padahal ini adalah kencan yang sangat kunantikan namun hancur saja... semua salahku!).


Dia menghela nafas dan pergi duduk di atas kasur kamarnya. Dia berbaring malas dan tak bersemangat.


(Besok ya... kuharap aku tak mengacaukannya... Ini adalah kencan yang sangat kunantikan dan aku tak boleh mengacaukan nya! Kalau bisa aku inginnya sekarang... aku selalu berharap kalau aku bisa pergi kencan dengan Nakano dan inilah saatnya tetapi aku menghancurkannya karena aku ceroboh. Semua salahku! Besok aku takkan menghancurkannya!).


Sei bangun dan duduk ditempat sebelum dia menarik nafas panjang.


(Besok adalah hari spesial! aku harus bersemangat!)


"Yosh! Aku takkan mengacaukannya lagi!).


---


Assalamu'alaikum!


**Yo para pembaca maaf karena kemarin tak upload. Itu karena aku terlalu sibuk baik di noveltoon dan juga di dunia nyata. Jadi ya, aku harap bab yang satu ini tak membuat bosan kalian karena menurutku sendiri bab kali ini terlalu membosankan. Aku berusaha untuk membuatnya seru tetapi dipikiran saya yang membuat novel ini seru adalah pertarungannya jadi itu cukup rumit dan sedangkan pertarungan selanjutnya— Tunggu. Aku takkan memberitahu kalian karena itu adalah battle epic... maybe... so ya.. begitu aja dulu kurang lebihnya mohon maaf dan sampai jumpa!


Wassalamu'alaikum!

__ADS_1


-Author Z**.


__ADS_2