Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 76, Simbol Kelinci


__ADS_3

Aku dan Tohka bermesraan di ruangan sempit nan panas itu. Disaat kami bermesraan itu, Mashiro yang melihat kami pun merasa jengkel.


"Ehem!" kata Mashiro berpura-pura batuk.


Aku dan Tohka yang mendengar itu langsung memisahkan diri dan menjauh 1 meter satu sama lain. Setelah itu, Mashiro yang jengkel itu menghela nafas dan menatap ke arah pedang Wynox sekali lagi.


"Jadi, apa yang kalian dapatkan barusan?" tanya Mashiro kepada kami berdua,


"Aku mendapatkan memori ingatanku saat aku menjadi Nakano Wynox tentang Narumi Ikumi— Bukan, maksudku, Tohka." kataku,


"Ya. Aku juga sama." kata Tohka,


"Begitu kah...".


Mashiro mengedipkan kedua matanya sebelum memberitahu apa yang dia lihat di pedang itu.


"Lihat ke arah bilah pedang itu, dasar kakak-kakak bodoh." kata Mashiro kasar.


Aku dan Tohka memutar dan melihat ke arah bilah pedang Malam Merah. Kami terkejut dan terdiam saat kami melihat sebuah simbol kelinci sedang berlompatan di bilah pedang itu. Kami merasa kalau kami sedang melihat tato di pedang itu. Simbol itu mengeluarkan cahaya berwarna pink seperti rambut milik Narumi Ikumi dulu.


"Ini... Tato..?" tanya Tohka ragu,


"Biasanya jawabannya akan masuk akal di otak. Tetapi kita berurusan dengan Pedang Kejam Legendaris yang sudah lama hilang. Tentu saja semua jawabannya pasti tak masuk akal. Kau tahu sesuatu Kakak Nakano?" tanya Mashiro,


"Tidak. Kalau kau Tohka?" tanyaku melempar pertanyaan.


Tohka yang melihat ke arah pedang itu terdiam sebentar kemudian menjawab.


"Tidak. Di seluruh ingatanku, tak ada kejadian yang seperti ini.",


"Begitu kah.".


Mashiro terdiam setelah aku mengeluarkan kata-kata terakhirku barusan. Mashiro melihat ke arah simbol dan mulai berpikir, Kenapa simbol itu muncul saat Tohka menyentuhnya? Apakah ada kaitannya? Apa hal yang sama akan terjadi jika Kakak Artoria dan Kakak Anna menyentuhnya?. Pertanyaan seperti itu berlarian di kepala Mashiro. Dan setelah itu, sebuah hipotesis pun muncul.


"Ini hanya hipotesis ku saja. Sepertinya ada 2 simbol lain yang akan terhubung dalam bilah ini. Simbol-simbol itu berada di tangan Kakak Anna dan Kakak Artoria, karena mereka adalah salah satu dari 3 istri Nakano Wynox. Kemungkinan besar, mereka berdua ada kaitannya dengan ini. Jika ini berdampak kepada Kakak Tohka, mereka juga pasti akan sama halnya dengan yang terjadi kepada dia." Jelas Mashiro,


"Begitu ya. Aku paham." kata Tohka,


"Kalau begitu, aku akan ke istana Anna dan menjemput mereka berdua." kataku.


Sementara itu di istana Pion Putih, Istana Anna.

__ADS_1


"APA KATAMU??!!!" Teriak suara yang amat sangat keras dari Anna,


"NAKANO HILANG BERSAMA TOHKA?!!" Teriak Anna,


"Tenanglah Nona. Mereka pasti akan baik-baik saja." kata Arthories mencoba menenangkannya,


"Aku tahu kalau mereka akan baik-baik saja, tetapi... mereka pergi bersama dan tanpa bilang bilang.... Aku pasti akan menceramahi mereka berjam-jam!" kata Anna.


Artoria dan Sei yang melihat Anna marah seperti itu merasa kalau mereka sedang melihat seekor naga besar mengamuk di tengah kerajaan. Mereka mulai berpikir betapa galaknya Anna saat dia marah.


(Wahhaaa... Galaknya minta ampun. Mengerikan....).


Artoria melihat ke arah luar kaca yang ada di belakangnya. Melihat keindahan kerajaan yang dicampur damainya kerajaan. Angin yang berhembus di balik jendela besar yang membuat daun pohon-pohon bergoyang. Banyak daun-daun yang berjatuhan membuatnya merasa dia berada di musim gugur. Walaupun sekarang adalah musim semi Tahun 1450 Necron*. Artoria menghela nafas panjang, mulai mengkhawatirkan keadaanku dan Tohka.


(Padahal baru saja pulang dari Waviware, mereka berdua sudah pergi lagi. Sebenarnya apa sih yang ada di kepala mereka itu?)


Artoria kembali melihat ke arah Anna yang marah-marah dengan Arthories, ibunya. Ibunya kesusahan menenangkan Anna yang sedang marah-marah.


Artoria tersenyum dan kemudian membalikkan badannya ke arah jendela. Saat dia sudah berada di depan jendela, beberapa detik kemudian, dia melihatku baru saja berteleportasi ke depan jendelanya. Dia terkejut kecil. Aku melihatnya, kemudian berteleportasi ke sampingnya.


"Yo. Aku pulang." sapa ku.


"Ya. Selamat datang." jawab Artoria.


Anna yang dari tadi marah, memutar badannya dan melihatku. Dia berjalan dengan terburu-buru ke arahku dan berdiri di depanku. Dia mengayunkan tangannya dari bawah dan menampar mukaku. *PLAK*. Suaranya saking kerasnya sampai menggema di ruangan. Semuanya terkejut dan terdiam, tak ada sepatah katapun keluar dariku baik yang lainnya.


"Kenapa.... Kenapa..? KENAPA KAMU SELALU MEMBUATKU KHAWATIR?!!"" Teriak Anna.


Dia langsung mendorong badannya ke arahku dan memelukku dengan cepat. Dia memelukku sambil menangis.


"KENAPA?! KENAPA KENAPA KENAPA?!" Kata Anna.


Aku terkejut sebentar dan kemudian memeluk Anna kembali.


"Maaf... telah membuatmu khawatir..." kataku lemah lembut,


"Sebaiknya sebelum kamu kemana-mana, kamu harus memberitahuku terlebih dahulu!" kata Anna,


"Baik baik...".


Artoria, Sei, dan Arthories yang melihatku, tersenyum ke arahku.

__ADS_1


"Maaf semuanya. Aku pergi tanpa memberitahu kalian. Saat Tohka bilang ada sesuatu yang terjadi kepada adik Mashiro, aku langsung terkejut dan tak pikir panjang langsung pergi ke rumah." jelasku,


"Memangnya ada apa dengan Mashiro?" tanya Sei,


"Matanya layu seperti telah melihat sesuatu yang buruk di depan matanya..." kataku.


Mereka bertiga terkejut dan terdiam merenung. Mereka khawatir tentang keadaan Mashiro.


"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Dia sudah baik-baik saja." kataku.


Mereka bertiga kembali melihatku dan tersenyum penuh rasa syukur.


"Tetapi aku meminta tolong kepada kalian, Anna juga. Ikutlah bersamaku ke rumah keluargaku." kataku.


Mereka mulai mengeluarkan tatapan seriusnya dan mengangguk 'iya' kepadaku. Anna melepaskan pelukannya dengan mata air yang masih mengalir di matanya melewati pipi putih tembemnya. Aku mengangkat tanganku dan mengelap air mata yang ada di bagian pipi kirinya. Dia tersenyum tulus kepadaku. Aku tersenyum sinis juga. Mereka, termasuk Anna, menganggukkan kepala mereka. Mereka berdua kecuali Anna dan Arthories, berjalan mendekatiku.


"Kalau begitu kalian pergilah. Aku akan menjaga istana ini selagi kalian pergi." kata Arthories.


Aku yang mendengar hal itu menghentikan dia pergi.


"Tunggu dulu Arthories. Aku perlu pengetahuan mu tentang pedang." kataku.


Arthories berhenti dan membalikkan badannya. Dia tersenyum sinis ke arahku. Aku juga membalasnya dengan senyum sinis. Dia berjalan mendekatiku. Saat dia telah berada di sampingku, aku langsung berteleportasi ke ruangan sempit itu.


Mereka bertiga, kecuali Sei, terkejut saat melihat pedang yang langsung ada di depan mereka. Mereka tak berkata sepatah katapun ataupun bergerak. Mereka hanya terdiam Sakin terkejutnya melihat apa yang di depan mereka.


"Ini... bukan kah... Pedang Malam Merah Milik Nakano Wynox?!" tanya Anna terkejut.


Sei yang hanya berdiam tak tahu apa yang ada di depannya terkejut mengetahui kalau benda itu milik Nakano Wynox.


"EEEHHH?!" Gumamnya,


"Ara. Sei tak tahu itu?" tanya Anna,


"Tentu saja tak tahu! Aku tak seperti kalian! Reinkarnasi istri Nakano dan masa lalu yang berhubungan dengan pedang, aku bukan salah satunya!" kata Sei dengan tegas,


"Begitu kah..",


"Dan lagi kau barusan bilang "Ara" kan?! Ini bukan novel dari Jepang kau tahu?!".


*Necron: Adalah nama kalender Alam Semesta Fantasym. Setiap Alam Semesta memiliki nama kalender berbeda salah satunya di dunia nyata kita, Hijriyah.

__ADS_1


__ADS_2