
Sumiko berlari mencari seseorang yang bernama Keiko. Karena itu adalah saran ku dia pun mengikutinya. Dia mencari Keiko kemana-mana tetapi tak bisa dia temukan. Dia berlari melihat ke kanan dan ke kiri tak melihat lurus ke depan. Alhasil dia menabrak seseorang dengan keras.
*Gubrak* Suara Sumiko terjatuh. Dia memegang kepalanya kesakitan sebentar.
"Aduduh...".
Dia membuka matanya dan meminta maaf kepada orang yang dia tabrak.
"Ma-maaf kan aku!" kata Sumiko yang penuh rasa menyesal.
Dia melihat seorang perempuan berambut pirang panjang yang selalu ada di dekatku sebelumnya. Dia adalah Artoria.
"Maaf! Aku terburu-buru.".
Sumiko berdiri dan mengulurkan tangannya berniat membantu Artoria berdiri.
"Kamu tak apa-apa?" tanya Sumiko.
Artoria menerima uluran tangan Sumiko dan berdiri.
"Aku baik-baik saja. Kalau kamu bagaimana? Kamu sepertinya tertabrak cukup keras.",
"Aku baik-baik saja.".
Sumiko terbawa suasana itu sampai lupa tujuannya, tetapi dia mengingatnya kembali setelah beberapa detik.
"Ah, Maaf! Aku harus pergi! Aku mencari orang bernama Keiko? Apakah kamu tahu dia?",
"Aku kenal dia. Dia adalah temanku dan sekaligus salah satu tunangan Nakano. Ada apa?",
""Salah satu"? Maksudnya... Nakano memiliki lebih dari itu?",
"Ya. Ada banyak hal yang kamu tak ketahui tentang Nakano. Aku juga salah satu tunangannya.",
"Eh?".
Artoria melihat ke sorot mata Sumiko yang terkejut. Dia menemukan kalau dia memiliki banyak pertanyaan kepadanya.
"Aku tahu kamu memiliki banyak pertanyaan tetapi simpan itu. Kamu ingin mencari Keiko kan? Maka dia ada di depan sana." kata Artoria lalu menunjuk ke arah tenda di belakangnya,
"Ah! Terimakasih banyak!".
Sumiko berlari menuju ke arah yang ditunjuk oleh Artoria. Tetapi Artoria menghentikannya dengan memegang tangannya dengan cepat.
"Tunggu!",
"Eh?",
"Aku... memiliki masalah terhadap hubunganku dengan Nakano... Itu... anu.... Kamu... terlihat sangat dekat dengan Nakano... dan aku ingin hubungan seperti itu... itu... anu...",
"Eh?",
"...".
Artoria terdiam tak bisa berkata-kata karena saking malunya untuk bertanya kepada seseorang.
"HEEEEEHHHH?!",
"Tu-Tunggu. Kalian adalah tunangan, seharusnya kalian memiliki hubungan yang erat!!!",
"..Ada sedikit masalah dengan hubungan kami... jadi... Itu....",
""itu"?",
"AKU INGIN MEMINTA SARAN MU KARENA KAMU TERLIHAT DEKAT DENGANNYA!!!!",
"Tu--. KAMI TAK MEMILIKI HUBUNGAN APAPUN SELAIN TEMAN!!!",
"Aku tahu itu! Kalian tak memiliki hubungan apapun selain pertemanan! Tetapi kalian selalu bersama akhir-akhir ini dan karena itulah aku ingin meminta saran mu!",
"A—?!".
Sumiko memegang kepalanya seolah-olah kepalanya sakit.
"Apakah tak ada yang lain yang bisa kamu mintai saran untukmu?" tanya Sumiko,
"Tidak ada. Jika para tunangan Nakano tahu masalahku maka mereka akan marah kepada Nakano dan itu akan menyulitkannya. Aku tak ingin membuat masalah untuk Nakano.".
__ADS_1
Sumiko menghela nafas panjang dan mencari tahu akar masalahnya.
"Jadi, apa yang membuat kalian berada dalam hubungan sulit?",
"Apakah aku harus menjawabnya? Itu sangat memalukan!",
"Kamu harus! Kita harus menemukan akar dari masalah kalian dan hanya kamu yang tahu.",
"Ini sangat memalukan jadi aku akan membisikkannya kepadamu saja.".
Artoria berjalan mendekati Sumiko dan membisik di telinga kirinya.
"****." bisik Artoria dengan singkat.
Sumiko tertegun. Dia sangat terkejut sampai tak bisa berkata-kata.
"eh?.... HEEEEEEEEEEEEEEHHHHHHH?!!?!?!".
Tentu saja Sumiko terkejut berlebihan karena dia tak menyangka kalau aku melakukan hal itu.
"APA-APAAN ITU?!?! KALIAN BENERAN MASIH TUNANGAN KAN?! KAU SEDANG TAK BERCANDA BUKAN?!?!!!".
Artoria menjauh selangkah dan menjawab pertanyaan Sumiko.
"Iya... aku serius..." katanya.
Sumiko menepuk jidatnya dengan keras. *Pak!*.
"Kalian masih tunangan tetapi sudah berani sejauh ini? Jadi, apakah kamu hamil atau tidak?",
"Ti-tidak....",
"Kalau begitu bagus. Setidaknya itu takkan membuat marah tunangan Nakano yang lain.",
"Kalau begitu, aku harus bagaimana seterusnya?" tanya Artoria dengan cemas,
"Hmmm.....".
Tangan kanan Sumiko memegang dagunya sambil berpikir keras mencari jalan keluar masalah Artoria dan aku.
"Hah?! Tidak! Itu mustahil bukan?!",
"Kalau begitu aku takkan membantumu lagi.",
"Heh?!"
Artoria langsung melemaskan badannya merasa putus asa. Sumiko merasa jengkel sekaligus kasihan dengannya.
"Argh! Dasar! Dengar, aku bukanlah pemberi saran yang bagus. Aku tak pernah memberi saran sebelumnya dan hanya itu yang terlintas di kepalaku. Jika kamu memang benar-benar mencintai Nakano sebagai tunangan mu, maka buktikanlah!",
"Bagaimana?",
"Carilah caramu sendiri. Caramu untuk mengatasi masalah sendiri. Nakano pasti menginginkan hal itu. Dengar! Kamu bukanlah orang dengan tipe mudah menyerah kan?! Kamu adalah orang yang keras kepala kan?! Kalau begitu lakukanlah apapun untuk mempererat hubunganmu dengan Nakano!".
Artoria mulai mendapatkan kepercayaan dirinya lagi.
(Benar juga! Aku bukanlah orang yang mudah menyerah! Aku harus mencari caraku sendiri! Tapi bagaimana? Tidak! Apapun masalahnya pasti ada jalan keluarnya! Aku harus mencarinya sendiri!)
"Kau benar, Sumiko! Aku harus mencari jalan keluarnya sendiri! Terimakasih Sumiko! Aku harap kamu bisa menjadi salah satu dari kami.".
Wajah Sumiko langsung memerah.
"A—?!?!".
Artoria tertawa kecil kemudian pergi berlari. Dia berhenti di tengah jalan dan melambaikan tangannya ke udara sambil berterimakasih dan mengucapkan perpisahan.
"Terimakasih dan Sampai jumpa!!!" kata Artoria dengan penuh semangat.
Sumiko yang melihat Artoria tersenyum dan melambaikan tangannya juga. Artoria kemudian pergi berlari entah kemana dan sedangkan karena hal yang baru saja terjadi Sumiko hampir terlupa dengan tujuan sebenarnya, tetapi untungnya dia masih ingat walaupun mungkin sebagian besarnya lupa.
(Eh? Hmm... apa yang ingin aku lakukan barusan..? Ah! Aku harus mencari orang bernama Keiko!)
Sumiko melihat ke kanan dan ke kirinya kemudian barulah ke belakang.
(Itu... Belakang.... Ah di kearah belakangku!).
Sumiko berlari ke arah tenda. Saat dia berada di depan pintu masuk tenda, dia merasa sangat gugup tetapi dia tetap masuk. Dia masuk dengan pelan ke dalam tenda.
__ADS_1
"Permisi..." kata Sumiko dengan nada kecil.
Dia melihat Keiko sedang melatih kapasitas energi sihirnya. Sumiko tak ingin mengganggu pelatihan Keiko karena tak tega.
Keiko tiba-tiba membuka matanya dengan pelan dan melihat ke arah Sumiko. Sambil melatih kapasitas energi sihirnya dia bertanya kepada Sumiko.
"Ada apa kamu kemari?" tanyanya,
"Ah. Maaf! Aku sepertinya mengganggu pelatihan mu ya?",
"Ya, sedikit.",
"Begitu ya... Maaf!".
Keiko mengakhiri pelatihannya dan berdiri tepat di depan Sumiko.
"Sudahlah lupakan. Apa tujuanmu datang kemari? Jika tak penting maka aku akan membunuhmu karena telah mengganggu pelatihan ku.",
"Aku ingin bertanya tentang alasan kenapa aku tak bisa mengendalikan kekuatanku!".
Keiko menundukkan kepalanya sedikit sambil memasang tatapan tajam ke Sumiko.
"Kamu cari mati ya...?" kata Keiko dengan nada mengerikan,
"Tidak aku tidak mencari mati! Aku memiliki kekuatan sihir jenis gabungan Cahaya dan Tanah!".
Keiko mengangkat tangannya setinggi bahunya. Secara tiba-tiba ada buku keluar di atas tangannya kemudian jatuh tepat ke telapak tangannya.
"Ini buku panduan tentang kekuatan gabungan sihir cahay—".
Tepat sebelum Keiko menyelesaikan kalimatnya, Sumiko memotong kalimatnya.
"Aku sudah pernah membacanya! Tetapi itu tak berhasil!",
"Hah?",
"Aku sudah membacanya berkali-kali sampai aku hampir mengingat seluruh isi bukunya! Aku juga sudah menguji semua panduan yang ada di dalamnya tetapi tak berhasil! Kekuatanku serasa berbeda dengan kekuatan gabungan sejenis ku yang lainnya.",
"Kalau begitu kenapa harus tanya aku?",
"Kamu memiliki mata waktu bukan?",
"Hmm? Ya aku benar-benar punya disini.".
Keiko menunjukkan mata kirinya yang tertutup oleh poni rambutnya.
"Aku ingin bertanya. Apakah mata waktuku ini yang menghambat perkembangan kekuatanku?" tanya Sumiko sambil menunjukkan mata waktunya,
"Tidak. Sesuatu seperti itu tak ada. Di seluruh alam semesta hanya ada 4 mata waktu. Sejauh yang kulihat, tak ada penggunanya yang kekuatannya terhambat oleh mata waktu, kecuali Nakano.",
"Nakano bilang kalau sel kapasitas sihir dalam tubuhnya terhambat oleh mata waktu. Apakah itu benar?",
"Ya. Tetapi sebagai gantinya, dia dianugerahi dengan stamina yang lebih besar dari ayahnya dan tubuh yang kuat. Sehingga ayahnya yakin kalau anaknya, Nakano, bisa mewarisi kekuatan seni bela dirinya.",
"Seni bela diri? Aku baru tahu itu.",
"Setiap ahli seni bela diri memiliki kekuatan fisik besar yang cukup untuk membuat aliran seni bela dirinya sendiri. Rata-rata semua seni bela diri hampir seluruhnya diketahui namanya oleh publik tetapi tidak dengan cara kerjanya dan semacamnya. Satu-satunya seni bela diri yang belum terungkap adalah milik Sakamaki Izayoi. Seni bela diri terkuat yang ada di seluruh alam semesta.",
"....",
"Lupakan itu. Jika kamu berpikir kalau kamu tak bisa mengendalikan kekuatanmu karena mata waktu maka berpikirlah kembali. Jika memang benar pasti ada sesuatu yang lain yang dianugerahkan mata waktu kepadamu entah itu fisik atau apapun. Pasti ada! Carilah dan jika sudah ketemu, maka temui aku lagi. Aku akan membantumu berlatih.",
"Kekuatan gerigi.... KEKUATAN GERIGI!!! Itu adalah kelebihan ku! Aku bisa menguasai kekuatan gerigi sebagian.",
"Sebagian?",
"Ya. Kekuatan gerigi adalah kekuatan gabungan cahaya dan tanah jadi sebagiannya aku tak bisa mengendalikannya. Aku hanya bisa membuat pedang atau pelindung dari itu, selebihnya aku tak bisa menggunakannya sebebas ayahku.",
"Bagus! Besok temui aku disini! Aku akan melatih mu sampai kuat sekuat ayahmu. Dan jika kamu sudah melewati pelatihan ini.".
Keiko tersenyum sinis dan melanjutkan kalimatnya.
"Kamu akan menguasai kekuatanmu sepenuhnya!".
Sumiko terkejut sebentar dan langsung berteriak girang.
"YAAATTAAAAAAA!!!!!".
__ADS_1