Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 31, Aku Bukanlah yang Terpilih.


__ADS_3

 


Akhirnya aku bangun dari tidurku setelah sekian lamanya. Aku tertidur entah berapa lama, aku tak bisa menghitungnya. "Nakano! NAKANO!" teriak seseorang yang sangat mengkhawatirkan ku.


Penglihatan ku mulai membaik secara perlahan. Aku melihat dua orang yang sedang menangis di sampingku. Kedua orang itu tidak lain adalah Sei dan Tohka. Aku tak begitu ingat apa yang telah terjadi kepadaku.


Aku mencoba untuk membangkitkan diri. Tapi Sei bilang, "Jangan memaksakan dirimu. Kamu perlu istirahat yang cukup lama.". Aku melihat ke arah mereka berdua yang menghapus air mata mereka, mencoba membuatku tidak khawatir.


Aku kehabisan tenaga tetapi aku masih bisa bicara walaupun harus dibatasi. "Oh begitu." jawabku,


 


"Bagaimana keadaan Artoria dan ibunya?" tanyaku,


"Keadaan mereka berdua baik-baik saja." jawab Tohka,


"Kau membuatku khawatir kau tahu?!" kata Sei menyela pembicaraanku dengan Tohka. Aku melihat ke arah Sei dan mengarahkan tanganku ke wajah Sei yang sedang menangis, berniat untuk menghapus air matanya dengan tanganku yang kasar tetapi aku tidak bisa. Tanganku terjatuh dari perjalanannya, tetapi itu ditangkap oleh Sei yang tahu maksudku.


Sei yang menangis mendekatkan tanganku ke matanya yang menjatuhkan air matanya. Tanganku menyentuh air mata itu, rasanya sangat menyedihkan.


Sei yang sekarang sedang dipenuhi rasa sedih dan cemas. Aku bilang kepadanya dengan tujuan agar dia tak mencemaskan ku, "Maaf membuatmu khawatir ya, Sei. Aku sekarang baik-baik saja karena itu jangan menangis lagi ya.".


Sei yang sedang menggenggam tanganku itu menggeserkan air mata yang dijatuhkannya. "Ya!" jawabnya.


Aku melihat ke arah Tohka yang sedang menahan air mata. Aku bilang, "Kamu juga, Tohka. Jangan khawatirkan diriku lagi. Aku sudah baik-baik saja.".


Tohka melihat ke arahku dan tersenyum manis, menjawab perkataan ku, "Ya!". Aku mulai merasa lega. Tapi aku penasaran apa yang sudah terjadi kepadaku. Aku bertanya ke Tohka yang telah melihat semua yang telah terjadi. "Tohka. Apa yang sudah terjadi padaku?" tanyaku.


Tohka menjelaskannya padaku. Yang terjadi padaku adalah aku kehabisan banyak sekali energi untuk menghasilkan kekuatan mengerikan itu. Aku telah tertidur selama 1 bulan penuh, itulah yang membuat mereka khawatir. Saat aku kehabisan banyak energi, Tohka memanggil bala bantuan dari Kerajaan Pion Putih yang artinya aku berada di alam semesta milik ayahku. Keadaan Artoria dan ibunya baik-baik saja, termasuk Sei. Kini, Artoria dan ibunya sedang berada di Alam Semesta mereka sendiri.


Tohka juga bilang kalau Sei telah tertidur selama 2 Minggu. Dan yang lebih penting dari itu semua, saat aku mulai baikan dan sudah bisa bergerak, aku diperintahkan oleh Arthories untuk datang ke Alam Semestanya. Entah apa yang ingin dia lakukan kepadaku. Tapi aku harus datang karena aku ingin mendengarkan semua penjelasannya, mengapa aku harus dipaksa menguasai alam semesta itu dan mengapa dia menganggap orang-orang yang berada di bawahnya, termasuk anaknya Artoria, dianggap sebagai alatnya sendiri.


Aku menghabiskan 1 Minggu berbaring di kasur di Kerajaan Pion Putih. Dengan Bantuan Sei, Tohka, dan Anna, akhirnya aku bisa berdiri walaupun masih belum seimbang. Aku harus berada di kerajaan Pion Putih lebih lama lagi. Tidak baik jika masuk ke tempat yang dikuasai oleh orang yang telah mencoba menyerangku dalam keadaan buruk.


2 Minggu kemudian, aku sudah bisa berjalan kembali dan bergerak seperti biasanya, tapi Anna melarang ku untuk memakai sihir karena energiku belum pulih sepenuhnya. Tapi dengan begini mungkin sudah cukup untuk datang ke tempat Arthories dan Artoria berada.


Saat aku, Tohka, dan Sei ingin pergi, Anna memohon kepadaku agar mengajaknya ke sana juga. Kekhawatirannya berlebihan, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Matanya itu penuh dengan rasa cemas yang tinggi. Aku mengizinkannya untuk ikut.


Kami berempat berteleportasi ke alam semesta Fighterys. Kami berteleportasi dari Ender End ke Fighterys. Entah kenapa aku tak kelelahan padahal aku menggunakan sihir dan Anna tak memarahiku. Mungkin karena sihir ini telah menjadi kekuatan pasifku.

__ADS_1


 


Kekuatan pasif adalah kekuatan dimana kekuatan itu bisa dikeluarkan tanpa menggunakan energi sedikitpun. Jika pengguna kekuatan itu memiliki kekuatan pasif teleportasi sama seperti milik Nakano. Maka orang itu bisa berteleportasi tanpa susah dan khawatir bila energinya terkuras


 


(Penjelasa).


 


Kami berempat berteleportasi tepat di hadapan Arthories. "Akhirnya kamu datang juga, manusia rendahan!" sapa Arthories dengan kata\-kata kejam dan menusuk.


 


"Kamu tadi bilang apa?" Tanya Anna,


"Apa perlu aku ulang lagi?" tanya Arthories.


Tohka, Sei, dan Anna menatap Arthories dengan mata tajam mereka yang penuh dengan rasa kesal. Jika mereka kesini tanpaku mungkin Alam Semesta ini akan hancur karena emosi mereka.


"Terus, apa yang kalian inginkan?" tanyaku melenyapkan suasana mengerikan disana,


"Itu karena aku ingin mencari tahu tentang diriku yang dulu. Meskipun aku telah menyatukan diri dengan Nakano Wynox sebulan yang lalu, aku tak mendapatkan memori tentangnya." Jelas ku,


"Bukannya saat pertamakali datang kesini kamu telah mendapatkannya?" tanya Artoria menyela pembicaraanku dengan Arthories,


"Ya memang benar. Tapi entah kenapa sekarang aku tak mengingatnya sama sekali. Baik seberapa keras aku mencoba mengingatnya." jawabku,


"Kalau begitu kamu datang kesini berharap kalau disini ada kepingan yang kamu cari begitu?" tanya Arthories,


"Benar.",


"Hanya ada satu orang disini yang pernah bertemu dengan Nakano Wynox dan sekaligus menjadi salah satu istri dari tiga istri Nakano Wynox. Anak tiri ku sendiri.",


"Anak Tiri?",


"Benar. Dia dulu hanyalah anak dari sebuah desa. Tapi desanya hancur karena suatu peperangan. Aku tak sengaja melihatnya. Aku melihat sebuah dendam membara terhadap peperangan dimatanya, maka dari itu aku mengasuhnya dan menjadikannya kesatria terbaik disini.".


Setelah mendengar akan hal itu, kupikir aku dan Artoria memiliki permasalahan yang hampir sama. Aku melihat ke arahnya. Dia memiliki rasa dendam yang diasah dan dijadikan kekuatan dasarnya. Dia juga melihat ke arahku tetapi setelah itu dia memalingkan wajahnya karena suatu alasan. Mungkin karena aku hanyalah duplikat Nakano Wynox, sama seperti yang dikatakannya saat pertempuran hari itu.

__ADS_1


Aku melihat kembali ke arah Arthories dan mengajukan pertanyaan, "Arthories, aku memiliki beberapa pertanyaan.",


"Beritahu kepadaku!",


"Pertama. Kenapa kamu memperalat Arthories dan bawahan mu yang lain?",


"Mudah. Karena kemenangan adalah satu-satunya yang berharga bagiku.",


"Bagaimana dengan kebahagiaan dan keharmonisan serta kesejahteraan alam semesta ini?",


"Itu hanyalah omong kosong. Semua pertandingan bagiku adalah segalanya. Dan kemenangan adalah cara hidupku. Pemenang adalah segalanya disini.",


"Aku penasaran kenapa alam semesta ini masih bertahan walaupun penguasanya kacau balau begini.",


"Aku minta maaf. Lagian apa urusanmu mencampuri urusan di alam semesta ku sendiri. Urusanmu adalah masalahmu. Urusanku adalah masalahku. Kalau tak ada pertanyaan lagi, pergilah kalian dari sini.",


"Tunggu. Aku punya satu pertanyaan lagi. Kenapa kamu begitu tergila-gila dengan kemenangan?",


"Karena aku adalah penguasa alam semesta disini--",


"Pembohong. Kamu memiliki alasan lain kan?",


"Eh--. Bagaimana kamu tahu?",


"Hanya dugaan.".


Aku menunjuk ke arah Arthories dan bilang, "Jelaskan!",


"Baiklah. Aku dulu hanyalah orang desa yang memiliki bakat berpedang yang bagus dan unik sampai aku mencabut pedang ini. Enterprise. Ada seseorang yang selalu berdiri di dekat pedang yang tertancap di batu yang amat besar dan berat ini. Pedang ini sudah tertancap di batunya ribuan tahun lamanya. Dipercaya pedang ini memiliki komposisi logam tahan karat yang amat langka dan sihir. Setiap tahun desa kami selalu mengadakan acara pencabutan pedang ini. Setiap orang yang ahli bermain pedang, termasuk diriku sendiri, datang sebagai peserta ke acara itu untuk mencoba mencabut pedang Enterprise. Acara itu sudah tak ramai lagi karena semuanya percaya kalau tidak ada yang bisa mencabutnya, bahkan penguasa alam semesta ini sendiri.


Demi meramaikan acara ini. penguasa alam semesta Fighterys dulu membuat kesepakatan di desa kami. Jika orang di desaku bisa mencabut pedang Enterprise dari batunya, maka orang itu akan menjadi penguasa alam semesta. Para warga desa berpikir kalau itu adalah keputusan yang tepat tetapi tidak mungkin.


Setiap peserta dari nomor satu hingga terakhir tak bisa mencabutnya. Tibalah bagiku untuk mencabutnya. Aku mencabutnya dengan sekuat tenaga. Pedang itu bergerak dan tercabut dari batunya.


Semuanya terkejut dan aku pun dipilih sebagai penguasa alam semesta disini. Sampai saat ini. Tak ada yang bisa mengalahkanku. Kau lah satu-satunya, Nakano. Aku membuat kesepakatan. Orang yang bisa mengalahkan ku di pertempuran dua orang, akan menjadi penguasa alam semesta berikutnya. Dan kamulah yang bisa, Nakano.".


Penjelasan yang panjang itu akhirnya berakhir sampai dimana aku terpilih menjadi penguasa alam semesta ini. Tapi sayangnya aku harus menolaknya. "Kutolak!",


"Kenapa kamu tetap bersikeras?",

__ADS_1


"Karena alam semesta yang ingin aku kuasai bukanlah alam semesta ini melainkan Bimasakti! Lagian aku bukanlah manusia terpilih. Melainkan manusia yang tak inginkan.".


__ADS_2