Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 122, Artoria Win?


__ADS_3

Aku keluar dengan Tohka dari istana menemui teman-temanku yang lain yang menungguku di depan istana. Badanku ditopang oleh Tohka karena aku tak sanggup berdiri.


"Nakano... kamu baik-baik saja?" tanya Tohka dalam perjalanan kami,


"Entahlah... aku tak tahu apakah aku baik-baik saja tetapi... yang aku tahu... aku akan baik-baik saja." kataku,


"Maaf...",


"Tidak apa-apa. Melakukan hal itu karena depresi menurutku itu hak normal. Kadangkala orang takkan menerima kenyataan pahit ini dan mulai kehilangan kendali kehidupan. Jika aku mengalami hal sama... mungkin aku akan melakukannya juga.",


"....".


Tohka berjalan sambil menopang tubuhku dengan raut wajah bersalah. Aku tak bisa melakukan apapun terhadap itu karena memang begitulah faktanya, terlalu kuat sampai-sampai tak bisa dibantah.


Saat kami berada didepan gerbang, teman-temanku melihat aku setengah tumbang.


"NAKANO!" Kata mereka bersamaan lalu lari ke arahku.


Tohka menjauh dariku dan membiarkan aku berdiri sebentar. Aku kemudian dikerumuni oleh teman-temanku yang sangat khawatir kepadaku.


"Nakano! Kamu baik-baik saja?!" tanya Sei,


"Ya... kurasa... tetapi aku akan baik-baik saja. Hanya itu yang bisa aku pastikan.".


Sei melihat ke arah Tohka dan bertanya.


"Tohka, apa yang telah terjadi?!".


Tohka melirik ke arah lain sambil tangan kanannya memegang siku tangan kiri dan berbicara dengan nada yang sangat bersalah,


"Semuanya... maaf...",


"Apa maksudmu?!" tanya Sei,


"Orang yang melakukan itu terhadap Nakano adalah... aku.".


Semuanya terkejut, tentu saja karena mereka tak membayangkan kalau Tohka akan berbuat sejauh itu.


Artoria melangkah maju dengan tegas dan cepat. Artoria langsung menampar wajah Tohka.


"Kau...! Berani-beraninya melakukan itu terhadap tunanganmu sendiri?!",


"Oi... hentikan...!" kataku dengan nada lemah dan serak.


Andaikan aku bisa berbicara seperti biasanya saat ini!

__ADS_1


"Hentikan Nakano... kau tak perlu membelaku terus." kata Tohka sambil melihat ke arahku.


Dia kemudian melihat ke arah Artoria yang marah dengan tatapan yakin dan bersalah.


"Ya. Itu benar! Aku yang melakukannya kepada Nakano! Marahlah jika kamu mau! Bunuh aku jika kamu mau! Pukul aku jika kamu mau! Dan jika kamu mau... aku bisa mundur dari jajaran tunangan Nakano!" katanya dengan penuh keyakinan.


Aku terkejut dengan hal itu. Apakah dia serius? Oi! Kata-katanya penuh dengan kepercayaan diri dan keyakinan. Aku melihat ke matanya yang menunjukkan rasa ketakutan dan kesedihan, matanya berkaca-kaca dan bias cahayanya bergerak. Dia seperti ingin menangis.


"Baiklah... aku akui keberanianmu. Tetapi, jangan lakukan hal yang sama lagi atau aku akan membuatmu menyesal!",


"Baiklah. Jika aku melakukan hal yang sama, bunuh aku jika kamu mau.".


Artoria membalik badannya dan berjalan dengan gagah. Tiba-tiba air mata keluar dari mata Tohka, sudah kuduga. Artoria membalik badannya lagi dan berlari menuju ke arah Tohka lalu kemudian memeluknya.


"Eh?".


Tohka terkejut akan hal itu. Artoria pun berbicara:


"Tohka maaf! Aku bersikap kasar kepadamu! Aku hanya ingin Nakano bahagia dengan tak adanya pengkhianat diantara kita semua tunangannya. Aku hanya mengujimu apakah kamu pantas apa tidak dan jawabannya adalah... kamu sangat pantas berada disampingnya...",


"....".


Tohka mulai menangis tetapi tak sebesar tangisan saat di atas tadi. Artoria memeluknya membiarkannya menangis sama seperti yang aku lakukan barusan.


Tiba-tiba aku menjadi sangat lelah dan mataku tak bisa diangkat lagi. Kesadaran ku mulai memudar dan akhirnya pun pingsan.


----


Saat aku tersadar, aku melihat 7 sosok manusia. Aku tak bisa melihat dengan jelas... siapa?


Penglihatan ku mulai jelas... dan aku menemukan teman-temanku mengerumuniku dengan mata basah mereka, bahkan ada Sumiko disana. Apa yang terjadi? Aku hanya pingsan kemarin saja bukan?


"NAKANO!" Panggil mereka.


Nada mereka bicara... seperti baru menyaksikan orang yang mereka cintai tersadar dari koma yang sudah lebih dari 1 tahun.


"Kalian... kenapa..?" tanyaku dalam nada lemah,


"Kenapa?! KENAPA?! KAMU SUDAH KOMA LEBIH DARI 9 BULAN!! TENTU SAJA KAMI KHAWATIR!" jawab Anna.


9 Bulan? Apakah ini hanya lelucon? Perasaan baru kemarin aku pingsan... Aku percaya mereka sajalah...


".... Tohka dimana..?",


"Tohka ada di kamarnya mengurung diri selama kamu koma." jawab Artoria.

__ADS_1


Aku mencoba tersenyum sinis ke arah Artoria.


"Kamu... masih saja berbicara tangguh seakan tak terjadi apa-apa padahal air mata mengalir secara terus menerus dari matamu loh...".


Sesuatu... aku telat menyadarinya... perut Artoria... membesar.. bahkan lebih besar dari pada 9 bulan lalu...


Aku melihat ke arah Sumiko yang mengeluarkan mata basah juga.


"Eh... Sumiko...? Kenapa kamu menangis..?" tanyaku.


Sumiko menghapus air matanya dan menjawabku dengan nada orang menangis.


"T-Tidak juga... aku tidak menangis." katanya sambil memalingkan kepalanya.


Nada bicaraku masih serak dan tenggorokanku serasa kering. Dan perutku seperti sangat lapar.


Aku melihat ke arah Artoria dan tersenyum bahagia. Artoria langsung menyadariku, dia memiringkan kepalanya sedikit dan tersenyum manis bahagia.


"Aku ingin menemui Tohka dulu..." kataku lalu berusaha berdiri,


"Jangan memaksakan dirimu dulu! Kamu masih dalam keadaan tidak sehat.. aku akan kabarkan kepada Tohka nanti, apa tahu dia akan keluar kamar." kata Anna,


"Kuserahkan kepadamu, Anna." kataku sambil tersenyum,


"Mhm... baiklah..." jawabnya sambil mengangguk sedikit.


Semuanya lalu pergi membiarkan aku dan Artoria sendiri. Pipinya memerah sambil melirik ke arah lain.


"Sepertinya anaknya mau lahir..." kataku langsung,


"Mhm... itu benar...",


"... Berapa lama lagi itu akan lahir...?",


"Se-sekitar.... 2 Minggu lagi...",


"Aku akan menjadi seorang ayah ya?" kataku,


"... Tapi... kita bahkan belum menikah... apakah kita ini sudah pasangan sah...?",


"Kalau begitu... Artoria.... mau kah kamu... menjadi ibu yang ada didalam kandunganmu itu?",


"Apa-apaan itu? Cara melamar yang norak. Tapi... Mhm... aku mau..." katanya sambil malu-malu.


Aku tersenyum bahagia. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab akan anak itu karena itu memang anakku. Dan kurasa.. yang menjadi istri pertamaku adalah.. Artoria. Kemenangan Artoria?

__ADS_1


--------


Guys maaf aku upload nya telat. Aku ketiduran kemarin malem. Jadi bab ini mungkin... ada sedikit fan servicenya... lmao. Jadi maaf aja ya, tugas numpuk soalnya.


__ADS_2