
"Sebelum pergi, kita harus pergi ke satu tempat." kataku
"Kemana?" tanya Sei
"Aku datang kesini tidak sendirian. Ada satu perempuan lagi yang jadi teman perjalananku." kataku
"Oh." kata Sei
Setelah itu aku memegang tangan Sei dan dia pun bilang,"Tung-- Apa yang kamu lakukan?"."Karena kita mau berteleportasi ketempat yang aku bicarakan tadi." Jawabku
"B-benar ya ahhahhah..." kata Sei."Ada apa denganku ini? Saat Nakano memegang tanganku. Tiba-tiba perasaanku bercampur aduk dan jantungku berdetak kencang." pikirnya.
Aku pun berteleportasi ke tempat dimana Tohka diamankan. Saat sampai, dia tertidur pulas karena kehabisan energi sihir."Sekarang bagaimana, Nakano?" Tanya Sei
"Ayo bawa dia ke kota Netherwath!" jawabku
Aku pun kembali ke istana Netherwath dan mencoba mencari jalan keluar. Aku juga mengambil tongkat Crystal Futures yang tergeletak di dekat mayat itu. Mayat itu tidak mengeluarkan darah melainkan abu."Kakek sudah hidup selama ratusan tahun lamanya. Biasanya keturunan Kerajaan memiliki waktu hidup selama sekitar 200 tahun. Jika sudah sampai umur 200-an maka jasadnya akan menjadi abu." kata Sei
"Oh begitukah?" kataku dan Sei menjawabnya dengan mengangguk kan kepalanya. Aku pun pergi melihat daerah sekitar dan berteleportasi lagi ke gang yang aku lihat di dekat sebuah toko. Kami sangat beruntung karena toko itu adalah penginapan."Selamat datang ke tempatku.. Apa yang kau inginkan?" kata pemilik toko disana
"Aku pesan 3 kamar untuk mereka berdua dan aku" kataku
__ADS_1
"Baik" katanya dan pergi mengambil kunci yang digantung di dinding dekatnya
"Ini, kamar kalian ada di lantai 2." katanya saat kembali
"Baik, terimakasih." kataku
"Ok. Kalau perlu apa-apa panggil aku ya!"
"Baiklah." sambil pergi ke tangga di depan kamar nomor 3. Nomor kamarku 5, Sei 6, dan Tohka 7.
"Ini akan kuberikan kunci kamarmu." kataku
"Kau mau kemana?" tanya Sei
"Oh... Baiklah."
Aku, yang menggendong Tohka, meletakkan Tohka di atas kasur dan memberikannya selimut. Aku bisa melihat wajahnya yang senang akan suatu hal. Aku pun keluar dari kamar dan menuju ke kamarku sendiri. Aku melepas sepatu pedang Excusifer ku taruh di dekat kasur. Aku pun berbaring di kasur. "Ohya, aku masih belum punya perlengkapan atribut sihir yang mungkin berguna di perjalananku. Besok saja aku beli yang berguna. Sekalian membelikan baju yang cocok untuk Sei. Tapi aku belum tahu apa-apa tentangnya. Mungkin dia bagus dalam sihir? akan kutanya pada Sei besok saja" kataku pada diriku sendiri.
Saat aku tidur, aku bermimpi yang sama lagi. Pria yang berdiri di atas tumpukan mayat yang banyak, langit yang berwarna merah darah, dan pedang kecil seperti belati yang mengeluarkan aura merah. Aku mulai bicara padanya, "Hei kau! Siapa Namamu?",
"Sebentar lagi kau juga akan tahu siapa dirimu sebenarnya dan juga siapa aku sebenarnya." kata pria itu,
__ADS_1
"Apa maksudmu itu?" tanyaku.
Dia tak menjawabnya. Dia melompat turun dari tumpukan mayat itu dan berjalan ke arah ku. Saat dia sampai, dia menunjukkan mata kirinya. Mata kirinya sama seperti milik ku, Mata Waktu."Mata itu--" kata-kataku berhenti,
"Yang bisa aku beritahu adalah, Mata Waktu mu itu adalah jawaban semuanya." Katanya,
Dia mengeluarkan Belatinya dan menusukku dan sekejap aku langsung bangun dari tidurku. Dan ternyata sudah pagi. Aku bersiap untuk pergi dari sini dan melanjutkan perjalananku.
Sei keluar dari kamarnya dan sudah siap pergi. Sei menggunakan baju yang baru dibelinya tapi aku tidak tahu kapan dia membelinya mungkin malam hari?. "Selamat pagi Nakano." kata Sei,
"Selamat pagi." kataku,
"Dari mana pakaian penyihir itu?" tanyaku,
"Aku membelinya sendiri." Jawab Sei,
"Kau punya uang untuk membelinya?",
"Tidak. Tapi aku kembali ke kerajaan untuk mengambil beberapa harta milik ayah disana dengan sihir apiku yang membuatku bisa bergerak cepat.",
"Oh..",
__ADS_1
"Tohka kami masuk ya.".
Aku pun membuka pintu dan melihat Tohka sedang melihat ke dunia luar melewati jendela di samping kasurnya. Cahaya matahari yang menyinarinya. Warna hitam rambutnya yang dihembuskan oleh angin membuatnya seperti sesosok Dewi.