
"Jadi... bagaimana rencananya Nakano?" tanya Artoria,
"Begini rencananya...".
Setelah beberapa saat menjelaskan rencananya, kami pergi beraksi sesuai rencana. Aku sendiri turun kebawah. Saat di bawah, aku melihat ke jendela di atasku memastikan apakah jendelanya terbuka atau tidak. Sesuai dugaan ku jendelanya terbuka. Tanpa ada siapapun yang melihat keluar jendela.
Aku meloncat masuk ke jendela itu. Melihat seorang putri yang tengah duduk di kasurnya. Dia menyadari hentakan kakiku pada kayu jendela, dan melihat ke arahku. Dia memasang muka cemas dan terkejut secara bersamaan. Dia berdiri dan melangkah satu langkah ke arahku. Dia mengucapkan namaku dengan terkejut.
"Nakano...?",
"Ya..." jawabku.
Dia semakin terkejut. Air mata keluar, dan terjun ke pipi. Dia berlari, sambil mengucapkan namaku, menuju ke arahku dengan air mata yang berjatuhan.
Aku turun masuk dari jendela. Orang itu, Magicufer, memelukku dengan lembut. Aku pun memeluknya dengan lembut dan hati-hati.
"Maaf ya sudah membuatmu menungggu lama." Kataku —mencoba menenangkannya. Dia berhenti menangis dan menjawab perkataanku.
"Tidak apa. Asalkan kamu memang sungguh datang kesini hanya untuk menemui ku, itu membuatku senang.",
"Tidak.... kami merencanakannya lebih dari itu." kataku,
"Lebih?",
"Kami ingin membawamu keluar dari istana ini.",
"JANGAN! Biarkan saja aku disini...",
"Tidak... aku tak bisa melakukan itu...",
"Jangan khawatir. Aku sudah senang karena kamu menepati janji itu.".
Magicufer memalingkan pandangannya dariku. Dia mencoba menahan air matanya.
"Tidak apa kok... kamu punya orang-orang yang kamu sayangi bukan? Tanpaku juga kamu akan tetap bahagia." Katanya.
Aku memegang kepala Magicufer dan memaksanya untuk menghadap ke arahku. Aku melihatnya sedang menangis karena menerima semua kenyataan itu.
"Itu tidak benar... Aku akan jauh lebih bahagia jika kamu ikut bersamaku." Kataku,
"Tapi... aku ini musuhmu loh! Orang yang telah membunuhmu di masa lalu!" kata Magicufer.
Aku menundukkan kepalaku dan melepaskan cengkraman ku dari kepalanya. Magicufer memalingkan wajahnya seperti tadi.
"Hei, Magicufer. Aku... bukannya sudah mengatakannya ya?" kataku mencoba membuat Magicufer ingat perkataan ku,
"Eh?" gumamnya,
"Tentang apa?" tanyanya,
__ADS_1
"Apa kamu sudah lupa?",
"Tentang apa?",
"Tentang Sakamaki Nakano dan Nakano Wynox.".
Seketika Magicufer terdiam. Dia menatap ke arahku. Dia mengingat saat aku berkata, "Aku tidak peduli siapapun dia. Aku akan terus maju melangkah walaupun ada yang menghalangi, walaupun itu Nakano Wynox sekalipun!".
(Begitu ya... Ini bukan Nakano Wynox! Ini Sakamaki Nakano. Orang yang mungkin akan melawan Nakano Wynox di masa depan. Orang ini bukan mendapatkan kenikmatan dari kekuatan Nakano Wynox, tetapi sebaliknya. Dia mendapatkan penderitaan dari Nakano Wynox!).
"Hei, kau ingat?" tanyaku padanya sekali lagi,
"I-iya... aku ingat." kata Magicufer dengan nada ketakutan,
"Kalau begitu... Kau paham kan?",
"P-paham apa?",
"Kalau aku... tidak ingin terjerat dengan Nakano Wynox. Aku tidak peduli kamu musuh Nakano Wynox atau bukan. Aku kesini karena itu adalah keinginanmu bukan?",
"Y-Ya... itu benar.",
"Kalau begitu, Jujurlah! Apa yang kamu inginkan saat bertemu denganku disini?!" —Dengan tegas,
"Aku..." —Ragu,
"Jawab!",
Seketika di sana senyap. Magicufer yang kelelahan karena berteriak, mencoba mengontrol pernapasannya seperti semula. Aku melihat ke arah Magicufer dengan wajah santai dan tersenyum kepadanya.
"Kalau begitu... maukah kamu menjadi teman perjalananku dan... bergabung kedalam daftar orang yang ku sayangi?" Tanyaku. Magicufer mulai menangis dan berlari memelukku.
"Ya... Ya!" Jawabnya.
Kami jatuh tertidur berdua. Aku tersenyum sendiri. Akhirnya... aku tak sendirian lagi... aku punya banyak orang yang aku sayangi. Kau tak mau kehilangan mereka.
"Hei, Nakano." Kata Magicufer,
"Apa?" jawabku,
"Kamu mau tahu kenapa aku terkunci di kamar?",
"Iya... aku ingin bertanya tentang hal itu dari tadi.",
"Itu ya... karena ayahku melarang ku untuk mendapatkan kebebasan...",
"Kenapa?",
"Aku juga tidak tahu. Tapi yang aku tahu... dia tak memberikanku hak kebebasan karena... dia hanya memanfaatkan kekuatanku saja.",
__ADS_1
"Emangnya seperti apa kekuatanmu?",
"Aku sebenarnya tak begitu bagus dalam sihir cahaya dan elemen. Tetapi aku bagus dalam sihir kegelapan.",
"Bisakah kamu memberikan detilnya?",
"Bisa. Ini berawal saat aku menginjak umur 6 tahun. Saat aku berumur 6 tahun kebawah, aku memiliki kenangan indah dengan ibuku. Tetapi dia sudah tiada saat aku berumur 5 tahun." Lanjutnya,
"Saat aku menginjak umur 6 tahun... aku mendapatkan sihir kegelapan yang begitu besar. Ayahku memanfaatkan kekuatanku itu untuk mendominasi alam semesta, seperti Netherwath. Aku selalu mengharapkan bantuan dari seseorang, tetapi itu hanyalah mimpiku belaka. Ayahku memiliki seorang pengawal yang kuat, tetapi aku tak tahu siapa dia, bahkan aku tak pernah melihatnya. Karena itu, saat aku melihat kamu datang kesini... itu... membuatku sangat bahagia...".
*Hisk Hisk* suara tangisan Magicufer yang ternyata telah menderita sangat lama. Mungkin bagi Nakano Wynox, dia ini adalah musuh terbesarnya. Tetapi bagiku, dia ini adalah temanku yang tersiksa. Sekarang... siapa yang pengawal yang dimaksud Magicufer itu? Aku merasakan firasat buruk soal ini.
"Tenang saja... aku akan membebaskan mu dari kurungan ini.." kataku bermaksud menenangkan Magicufer,
"Ya...." jawabnya.
Tiba-tiba seseorang berteriak dengan sangat keras.
"HEI KAU PENYUSUP! JIKA INGIN NYAWA TEMAN-TEMANMU SELAMAT!! MAKA DATANGLAH KESINI!!!".
Aku mendengar suara itu... Teman-teman? maksudmu teman perjalanan ku?. Apa yang terjadi?
"CEPAT DATANG KE SINI!" Teriak orang itu lagi.
"Eh? apa yang terjadi?" tanya Magicufer. Aku mengerutkan kening dan memasang mata tajam. Aku menjawab pertanyaan Magicufer.
"Entahlah... aku juga tidak tahu. Tapi yang pasti aku merasakan firasat buruk soal ini.",
"..." —Magicufer terdiam.
Aku menundukkan badan dan memegang punggung dan kaki Magicufer. Aku kemudian berdiri dengan menggendong Magicufer seperti putri.
"Tu-- Wa—".
Aku yang menggendong Magicufer, membalikkan badan dan melompat keluar melewati jendela.
Setelah turun dari jendela di lantai 2, aku berjalan tergesa-gesa ke pintu masuk utama istana. Aku berharap teman-temanku baik-baik saja. Aku berdiri di depan pintu utama dan mendobraknya dengan paksa. Setelah mendobraknya, aku melihat teman-temanku duduk di tengah sambil diikat hingga tak bisa bergerak. Magicufer melihat merasa bersalah karena hal itu disebabkan olehnya.
"Akhirnya kamu muncul juga ya... Penyusup!" kata orang yang duduk di belakang teman-temanku.
"Lepaskan teman-temanku!" kataku dengan tenang,
"Tidak akan... mereka memecahkan kaca-kaca di 4 sisi istana ini. Mereka harus membayarnya." kata orang itu,
"Siapa kau?" tanyaku,
"Aku? aku adalah... raja sekaligus penguasa alam disini. Namaku Triton ingat itu baik-baik. Sepertinya percuma untuk diingat... karena KALIAN AKAN MATI DISINI!" kata orang itu setelah itu dia tertawa dengan puasnya.
Saat dia tertawa, aku memanggil Excusifer ke telapak tangan kananku dan melemparkannya ke arah orang itu, Triton. Saat terlempar, ada orang yang menyerang pedangku dengan cepat. Pedangku terpental dan aku memanggilnya ke telapak tanganku.
__ADS_1
"Oh... apakah aku belum memperkenalkan pengawal ku? Baiklah aku perkenalkan..." kata orang itu. Aku melihat ke arah orang yang menyerang pedangku dan aku terkejut akan hal itu. Aku sampai terdiam, sosok yang amat sangat aku kenali ini. Mata merah yang bersinar di tengah gelap malam itu. Orang itu melanjutkan perkenalannya.
"Dia adalah teror semua alam semesta... benar! Nakano Wynox!"