
Setelah kejadian itu, sepanjang hari aku berbaring di atas kasur. Kepalaku sering kali sakit dan kadang-kadang aku juga bisa pingsan. Tak hanya itu, aku menerima banyak pesan yang sama disaat aku merasa sakit.
Tohka dan Sei merawat diriku ini. Anna sedang bekerja di istana. Sedangkan, Artoria bekerja sebagai penguasa sementara dari Alam Semesta Fighterys.
Suatu malam. Semuanya tidur di kamar masing-masing. Tidak sama seperti sebelumnya, Anna kali ini tidur di kamarnya sendiri. Malam itu adalah malam yang tenang. Tetapi dimalam itu, aku pergi ke tempat lain tanpa memberitahu ke yang lainnya.
Aku bersiap, mengambil pedang dan mengganti pakaian. Pesan-pesan itu mengarah ke suatu hal yang tak pasti. Aku menyelinap keluar dari jendela. Saat aku turun, tiba-tiba ada sebuah suara yang keluar.
"Kau mau pergi kan?" tanya suara itu.
Suara itu berasal dari sampingku. Aku melihat ke samping dan di sanalah suara itu berasal, itu berasal dari Amaya Keiko.
"Kenapa kamu ada disini?" tanyaku,
"Aku tahu kalau suatu saat kamu akan keluar sendiri tanpa memberitahukan ke yang lainnya.",
"Terus apa yang ingin kamu lakukan? Kamu sudah tahu tujuanku. Apakah kamu akan melaporkannya ke teman-temanku?",
"Tidak. Aku tidak akan memberitahukannya. Aku penasaran dengan suara itu. Karena itu.. aku akan ikut sekaligus membantumu memecahkan misteri ini.",
"Eh? Kenapa?",
"Saat aku pulang, aku mencari tahu lebih dalam tentang suara ini dan membuat beberapa teori. Tetapi semua teori itu tak masuk akal. Ada satu teori buatan ku yang masuk akal.",
"Bisakah kamu memberitahuku?",
"Sudah kuduga kamu akan bilang begitu. Suara itu datang dengan kasarnya. Menurutku, suara itu adalah suara untuk sinyal bantuan seperti sinyal SOS.",
"Artinya?",
"Artinya. Orang yang mengirim pesan ini, pasti membutuhkan bantuan dari orang luar. Kita tidak tahu dia itu makhluk jenis apa tetapi yang kita tahu hanyalah itu.",
"Teori mu bagus. Aku akan percaya dengan teori itu.",
__ADS_1
"Hmph." gumam Keiko dengan nada yang sombong.
"Sekarang kita tahu tujuan pesan itu, tetapi kita tidak tahu berasal dari mana. Kamu tahu suara itu berasal darimana?" tanyaku,
"Kalau menurutku, suara itu berasal dari penguasa dunia laut yang ada di alam semesta Waviware." jawab Keiko,
"Waviware?",
"Ya. Alam semesta itu adalah alam semesta lautan. Planet-planet yang tersusun disana, sepenuhnya diisi dengan banyak cairan aneh. Salah satunya air dan lahar.",
"eh..",
"Penguasanya disana adalah orang yang optimis dan mudah dipercaya, tetapi akhir-akhir ini dia mulai tak pernah terlihat. Banyak Penguasa-Penguasa lain merasa cemas karena Penguasa Alam Semesta Waviware adalah orang yang cukup penting dalam organisasi, karena itu mereka mulai menyelidiki akan hal ini dan yang mereka temukan adalah planet ke tiga sekaligus planet tempat tinggal bagi Penguasanya dilindungi oleh benda aneh. Banyak yang mencoba datang tetapi diserang oleh sistem defensif.",
"Sistem defensif?",
"Ya. Sistem itu hanya bisa dibuat oleh Alam Semesta Dandeguard. Alam Semesta tempat tinggal bagi makhluk-makhluk hijau yang bisa disebut juga ras Alien. Tapi ras itu sudah lama punah karena suatu penyakit misterius dan kini Alam Semesta itu dikarantina dan dilarang dikunjungi oleh siapapun. Penguasa Alam Semesta nya meninggalkan pekerjaannya sebagai Penguasa dan menghilang entah kemana. Karena ada sistem defensif di Alam Semesta itu, Penguasa-Penguasa lain curiga kalau Penguasa Dandeguard yang melakukannya.",
"Begitu ya... Terus... apakah kita akan ke sana?",
"Kalau begitu ayo!".
Keiko menjawab ku dengan menganggukkan kepalanya. "Um!". Kami pun berteleportasi ke organisasi Galaksi dan mencari jalan menuju ke Alam Semesta Waviware dengan terburu-buru. Kami tak memiliki waktu banyak sebelum teman-temanku ikut bertindak. Kami cukup beruntung karena Organisasi itu tidak ada seseorang sehingga pergerakan kami tak terhambat.
Kami berdua terus menerus berlari di lorong. Kami melihat papan yang bertuliskan "Waviware" dan kami berlari menuju ke sana.
Di tengah perjalanan kami ke Alam Semesta Waviware, aku merasa sakit kepala lagi sehingga kami terhenti.
"Nakano!" teriak Keiko,
"Nakano, Kamu baik-baik saja?" tanya Keiko
"Ya.",
__ADS_1
"Kamu tak boleh memaksakan diri. Karena ini petunjuk bagus, beritahu apa yang suara itu sampaikan!".
Aku memegang kepala kesakitan. Suara itu pun muncul.
"Aku... bukanlah... musuh mu... Ingin membantu..." kata Suara itu.
Aku pun mengulangi pesan yang disampaikan suara itu padaku untuk Keiko. Kami beristirahat sebentar di lorong satu arah sempit dan gelap.
"Pesan itu mulai semakin jelas ya. Dengan begini, ini bisa selesai dengan cepat." kata Keiko,
"Ya. Tetapi bila harapan yang diberikan oleh suara misterius ini telah terkabul, apa yang akan terjadi kepadaku?",
"Entahlah. Itu memang hal sepele tetapi patut diperhitungkan. Jika harapannya telah terkabul, apapun bisa terjadi kepadamu bahkan memiliki kemungkinan kamu... mati..",
"Eh?",
"Tetapi bila diambil dari watak pesan barusan, suara ini tidak jaga jadi kemungkinan kecil kamu bisa mati. Tetapi bila kamu memang mati.. Apa yang akan dilakukan teman-temanmu selanjutnya membuatku penasaran. Apakah mereka menjadi jahat dan memberontak atau mereka hanya bisa pasrah?",
"Yah... Sebagai temanmu, aku tidak ingin kamu mati sih." kata Keiko.
Tak ada respon sedikitpun dariku. Keiko tahu kalau itu memang benar bisa terjadi, tetapi dia hanya bisa menunggu hasilnya. Keputusannya berada di tanganku. Aku adalah orang yang percaya kepada firasat sendiri dan firasatku bilang kalau aku akan baik-baik saja. Tetapi bila firasat ku salah... apa boleh buat. Aku benci takdir.
"Maaf ya... menyinggung mu barusan. Aku tak berniat bilang begitu tetapi... yah... kau tahu... Aku menyukaimu apa adanya. Tetapi bila kamu mati mungkin aku akan menjadi orang yang menentang takdir.",
"..." —Tak ada respon dariku tetapi aku tertawa kecil.
"Yah.. aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku. Aku tak ingin orang lain mencemaskan ku berlebihan. Aku hanya.. ingin melihat senyuman mereka. Senyuman yang selalu ingin aku jaga. Dan aku tahu kalau senyuman itu muncul karena diriku. Aku tak ingin melihat orang yang ku sayangi menangis.",
"Ya. Aku tahu perasaan itu. Aku juga ingin melindungi senyuman semua orang, termasuk dirimu sih." katanya dengan tersenyum bahagia.
"Kalau begitu ayo kita pergi!" kata Keiko dengan ceria sambil mengulurkan tangannya untuk ku. Aku menangkap tangannya dan berdiri.
"Ayo!".
__ADS_1
Kamipun berlari dengan jarak meteran jauhnya dan akhirnya kami tiba di tempat teleportasi menuju ke Alam Semesta Waviware. Banyak terumbu karang di samping kiri dan kanan portal. Di tengah-tengah kumpulan terumbu karang, terdapat tempat masuk yang terbentuk seperti gelembung.
Tanpa ragu, kami berdua masuk dengan percaya diri dan siap menanggung beban yang akan diberikan Alam Semesta ini kepada kami. Dan tanpa basa-basi lagi, kami masuk dan apa yang terjadi? Tunggu di Chapter selanjutnya!