Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 105 Pertarungan Dua Orang Petarung Sejati


__ADS_3

Kami memutuskan untuk kembali bersiap dengan cara masing-masing sampai Nakano menyerang seperti yang dikatakan Anna.


Aku sedang melatih para prajurit kerajaan ini semenjak tak ada yang melatih mereka.


"Gerakan mu masih kaku! Belum cukup melawan Manusia Api satupun!" kataku dengan tegas kepada salah satu prajurit.


Semua prajurit disana kelelahan setelah berhadapan denganku. Tohka disana melihat pelatihan kami dari jarak dekat. Dia berjalan ke dekatku dan menatap kasihan kepada prajurit disana.


"Apakah kamu tak terlalu keras?" tanya Tohka di sampingku,


"Semakin keras latihannya, semakin cepat peningkatan mereka. Lagipula ini belum seberapa.",


"Belum seberapa?",


"...".


Tiba-tiba perutku mual seperti ingin muntah.


"Tunggu... Aku ke belakang dulu",


"Lagi? Ini sudah ke tiga kalinya loh. Apa jangan-jangan kamu hamil?",


"Berisik!".


Aku langsung berlari ke belakang meninggalkan Tohka sendirian. Aku berlari ke semak-semak dan muntah disana. Tak terlalu banyak tetapi jika begini terus akan menghambat diriku saat pertarungan nanti. Walaupun begitu, sepertinya ini tak bisa dihindari.


Aku mengelap mulutku dan kembali ke tempat Tohka berada. Aku berjalan dengan santai sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Semuanya baik-baik saja, tak ada yang panik. Semuanya dalam kendali.


Saat aku sampai, Tohka melihat ke arahku dan tersenyum sinis.


"Bagaimana? Apakah kamu hamil?",


"Tentu saja tidak. Kalau aku hamil, memangnya nanti anaknya siapa?",


"Heh... kau benar juga... Kamu kan tergila-gila dengan Nakano.",


"Tergila-gila? Kurasa kamu melebih-lebihkan itu.",


"Terserah...",


"Bagaimana dengan para prajurit?",


"Mereka beristirahat dari 5 menit setelah kamu pergi.".


Aku melihat ke arah para prajurit dan berbicara dengan tegas:

__ADS_1


"Kalian para prajurit, berdiri! Istirahat habis! Kembali berlatih! Cari seseorang untuk berlatih bersama denganmu!".


Semua prajurit disana berdiri dan yang awalnya merasa jengkel mulai merasa lega dengan perintah barusan. Mereka semua menyerah melawanku. Mereka mulai berlatih dengan satu sama lain.


Aku melihat ke arah kanan, melihat Anna sedang sibuk disana. Aku tak tahu bagaimana Anna bisa ada disini. Kerajaannya pasti di urus oleh ibuku dan Bibi Usagi.


"Anna terlihat sangat sibuk sekali." kataku,


"Benar. Semenjak dia datang kesini, dia mulai mengambil alih kepemimpinan. Dia mulai menjalankan tugas seperti pemimpin yang selayaknya. Yah, aku tak keberatan jika Anna menjadi pemimpinnya.",


"Hmm...." gumam ku.


Sekarang... aku ingin melakukan apa? Aku berjalan ke kananku, menjauh dari pelatihan tanpa tujuan yang jelas.


"Kau mau ke mana?" tanya Tohka,


"Aku ingin menghirup udara sekitar.",


"Asap bakar?".


Aku berhenti tertegun. Benar juga... hampir tak ada udara segar disini selain asap bakar yang mengelilingi kerajaan.


Tohka memiringkan kepalanya ke samping sambil tersenyum melihat betapa bodohnya aku. Tatapan yang merendahkan.


"Ehem... Aku hanya ingin melihat ke tempat lain saja.",


Lagi, aku tertegun. Kenapa setiap jawabannya selalu tepat? Itu membuatku bingung. Tohka menunjukkan senyum bodohnya dibelakang lalu menghembuskan nafas pendek.


"Aku hanya bercanda. Aku tahu maksudmu. Aku akan mengurus pelatihan disini untukmu. Istirahatlah oh wanita petarung.".


Aku tersenyum sebelum menjawab Tohka.


"Terimakasih atas bantuannya.".


Aku pun langsung pergi lurus ke depanku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Itu bukan salahku, hanya saja Author nya yang gak punya ide untuk hal ini. Author bocah nan bodoh. Aku tahu kamu lagi jengkel sekarang. Salahmu sendiri membuat ide seperti itu, menghina diri sendiri. Aneh.


Aku berjalan lurus ke depan tanpa arah yang jelas. Aku melihat ke kiri ku dan melihat Liyu berlatih sendirian. Semenjak Nakano pergi, dia menjadi tak memiliki teman untuk berlatih lagi. Ya sudahlah, aku juga sedang bosan.


Aku berjalan mendekati Liyu sambil menyapanya.


"Oi, Liyu.".


Dia melihat ke arahku dan lalu memalingkan kepalanya langsung.


"Oh, Kakak Artoria ya.",

__ADS_1


"Kenapa nada bicaramu tak bersemangat?",


"Tak ada.".


Jelas-jelas ada alasannya begitu. Aku menghela nafas pendek, lalu mencabut pedangku dari sabuknya. Aku mencondongkan nya kepada Liyu. Liyu terkejut sebentar.


"A-Apa?" tanyanya,


"Ayo berlatih!".


Liyu diam sambil menundukkan kepalanya. Dia berdiri dengan pelan dan dengan cepat pedangku lepas dari tanganku. Terpental jauh di belakangku.


"Kenapa, Kakak Artoria?".


Aku meloncat mundur sampai ke pedangku, melihat dia memasang posisi siap menyerang.


"Apakah... aku terlalu kuat untukmu?".


Aku menundukkan kepalaku dan menarik pedangku. Tersenyum sinis sebelum masuk posisi siap menyerang.


"Heh... Jangan membuatku tertawa, bocah.".


Aku dan Liyu saling bertatapan sebentar dan langsung maju berusaha menyerang satu sama lain.


Aku mengayunkan pedangku ke atasnya tetapi Liyu menahannya dengan tinjunya, pedangku terpental ke arah yang sama tetapi beruntungnya masih ada di genggamanku. Aku mengayunkannya ke belakangku dan memutarkan nya ke sampingku. Aku menyerang dia lagi dari bawah tetapi ditahan oleh kakinya.


Aku dan dia tersenyum lebar. Aku menjauhkan pedangku darinya dan mengayunkannya langsung memutar ke samping atas dan menyerangnya dari atas. Liyu berhasil menahan serangan ku tetapi tidak dengan pergerakannya, dengan begini aku tak perlu khawatir kehilangan momentumnya.


Aku menyerangnya dari bawah kiri ku. Tetapi Liyu berhasil menahan serangan ku, walaupun begitu aku tak henti-hentinya menyerangnya. Liyu berhasil menahan serangan ku semuanya. Saat ada kesempatan, dia berusaha menyerangku dan aku refleks menahan serangannya. Serangannya mendorongku ke belakang. Serangannya mengingatkanku kepada seseorang, Nakano. Yah itu wajar karena Liyu adalah muridnya, dia pasti belajar gerakan Nakano.


"Nah, begitu dong!" kataku.


Aku langsung mendorong tubuhku ke depan, menyerang Liyu lagi. Liyu juga mendorong tubuhnya ke depan dan kami baku hantam disana. Percikan api yang tiada habisnya dan suara yang keras menarik beberapa orang untuk ke sana. Semuanya memperhatikan ke pertarungan kami.


Tepat saat ada kesempatan, kami menerjunkan serangan kami lebih cepat lagi dan cepat lagi. Sehingga orang-orang tak dapat melihat serangan kami lagi. Aku dengan 120 ayunan dan Liyu kurang lebih 120 pukulan, dan hasil tentu saja seimbang. Kami mulai kelelahan tetapi itu bukanlah akhirnya.


Aku maju menyerang satu sama lain. Terjadi pertarungan sengit disana. Tak ku sangka Liyu sudah sekuat ini, Nakano.... kamu menemukan murid berbakat disini.


Kami mundur ke belakang disaat yang bersamaan. Kami melihat satu sama lain dengan senyum lebar, maju menyerang lagi. Itu adalah serangan terakhir jadi kami memfokuskan seluruh energi di satu serangan ini. Liyu sudah siap menyerang lalu mendorong dirinya ke depan, aku juga melakukan hal yang sama. Liyu menerjunkan serangannya.


Aku mengayunkan pedangku dari atas bahu kiri ku ke arah tanah, yang mana mendorongku terbang ke samping kiri. Ayunan tadi menghasilkan embusan keras di tanah.


Serangan Liyu meleset karena aku menghindar. Aku berputar di udara dan siap menyerang dari atas bahu kiri ku. Dengan cepat mengayunkan pedangku ke arahnya. Serangan itu hampir mengenainya, hanya perlu sekitar 1 cm lagi untuk mengenainya.


Energi yang pedangku hasilkan barusan membelah melewati Liyu dan menghancurkan tembok jauh dibelakangnya. Aku berhenti menancapkan pedangku di tanah. Pertarungan ini adalah kemenangan ku. Membuatnya terkejut itu adalah tujuanku sebenarnya.

__ADS_1


Aku mencabut pedangku dan berjalan mendekati Liyu yang berdiri diam. Aku mencondongkan pedangku di lehernya dan bilang dengan lega:


"Ini adalah kemenangan ku.".


__ADS_2