
"Hampir saja!" kata Keiko,
"Duh... apa-apaan mahkluk besar itu?! Kita berhasil selamat berkata dirimu ya, Nakano. Aku berterimakasih." kata Keiko,
"Tidak apa. Mungkin mahkluk itu adalah mahkluk yang dimaksud oleh Aoi." kataku,
"Mungkin saja. Tetapi bila itu ada di semua tempat yang akan kita tuju, mungkin kita terkena masalah besar.",
"Mungkin saja. Kita masih memiliki kesempatan menghindar yang berguna. Mungkin 50:50." kataku,
"Kau mungkin benar. Tetapi seperti sebelumnya yang dikatakan Wynox. Jika kamu menggunakannya berlebihan maka akan ada dampaknya tersendiri terhadap tubuhmu.",
"Ya. Aku tahu.".
Aku merenungkan perkataan Wynox. Jika aku tidak bisa memilih waktu yang tepat untuk menggunakan kemampuan pasifku, aku akan terkena dampak yang hebat dan itu sangat buruk bagi tubuhku. Aku masih jauh jika dibandingkan Wynox.
Keiko melihat ke arahku yang sedang merenung. Dia menghela nafas dan kemudian berdiri. Aku melihat ke arahnya yang sedang berjalan ke depanku. Dia membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya kepadaku.
"Ayo berdiri. Kita masih memiliki tugas yang harus dilakukan!" kata Keiko.
Aku menerima uluran tangannya dan berdiri. Kami melihat ke lorong Barat Daya dan berjalan masuk ke dalam. Sama seperti sebelumnya, disana ada portal. Kami memberikan kotak hitam itu Energy Cube terakhir kami dan sebagai gantinya, portal itu berfungsi sepenuhnya.
Kami masuk ke portal itu dan itu membawa kami ke goa lagi. Aku berjalan duluan didepan tetapi Keiko mengentikan ku.
"Tunggu Nakano!".
Aku memutar badanku dan melihat ke arah Keiko. Dia menatapku dengan serius.
"Nakano. Akan bahaya jika kamu selalu bergerak terutama kamu itu sudah seperti transportasi. Biarkan aku saja yang mencari bahan selanjutnya. Kamu tunggu disini saja." Jelas Keiko,
"Apa yang kamu bicarakan? Kamu tidak bisa berteleportasi dengan cepat kau tahu? Kau itu manusia!" kataku,
"Karena itulah. Aku tak ingin kamu bekerja terlalu keras. Biarkan aku yang pergi mencari bahan itu. Kamu tunggu disini saja.",
"Kalau begitu, aku juga akan ikut bersamamu ke air mencari bahan!" kataku,
__ADS_1
"Itu tidak boleh.",
"Kenapa..?",
"Kamu tidak boleh memaksakan diri. Aku tahu... betapa kerasnya kamu bekerja keras melindungi semua orang yang berharga bagimu tetapi! Kamu harusnya mengandalkan kami juga... Jika kamu memaksakan diri lagi, aku tidak akan membiarkanmu melakukannya walaupun harus ada pertempuran!",
"Itu bahaya loh!",
"Kamu kan ada kemampuan berteleportasi! Jika aku dalam bahaya sebelum mendapatkan bahannya, kamu harus berteleportasi dan membawaku ke daratan! Jika aku sudah mendapatkan bahannya dan tidak berada dalam bahaya, aku akan berenang kembali dan dengan begitu kita tak perlu khawatir akan dampak kemampuanmu!" Jelas Keiko.
Aku terdiam sebentar terkesan dengan semangat dalam tubuh kecilnya.
"Baiklah! Kamu bisa mempercayakan nyawamu kepadaku!" kataku dengan begitu yakin.
Keiko menjawabnya dengan senyuman sinis. Dia kemudian berjalan keluar goa dan berenang ke bawah. Aku tak bisa membantah kata-katanya barusan. Aku bukan membuat orang yang ku sayangi merasa nyaman tetapi aku malah membuat mereka mengkhawatirkan ku.
Keiko kemudian berenang ke bawah mencari bahan selanjutnya. Aku melihat ke dekat sihir pemisah itu atau sejenisnya. Kau melihat ke lingkungan sekitar, lingkungannya berwarna hijau layaknya racun. Aku tak tahu bahan apa yang dicari disini. Setelah itu, aku melihat ke atas dan melihat seekor monster yang memiliki bentuk yang hampir mirip seperti nyamuk tetapi tanpa sayap. Dengan sebuah bola bercahaya di bagian atasnya dan 3 benda menyerupai jarum yang aneh. Mahkluk itu tak memiliki mata dan mulut... mungkin.. Aku merasakan firasat buruk. Apakah itu Leviathan? Tetapi apakah ada jenis seperti ini?
Sedangkan itu, di tempat Keiko berada. Keiko melihat gulungan kertas itu sekali lagi dan mencari bahan yang ada disini.
Keiko telah menyerap informasi itu dan dia melihat ke sekelilingnya memastikan apakah benar-benar ada Leviathan atau bahan yang di cari disana. Keiko melihat ke bawah dan menemukannya. Bunga itu terletak diantara genangan air hijau yang tak menyatu dengan air. Dikatakan kalau air hijau itu mengandunh racun tingkat tinggi jadi dia harus berhati-hati.
Keiko dengan hati-hati, memetik bunga itu dan dia mendapatkannya.
"Yosh. Aku harus segera kembali ke atas." katanya.
Sementara itu di tempatku berada. Aku melihat mahkluk dengan 3 jarum itu dengan seksama. Mahkluk itu tak melakukan apapun. Tetapi aku tetap melihat ke arahnya dengan seksama.
Setelah beberapa saat, aku merasa bosan. Aku melihat ke bawah dan disana ada Keiko sedang melakukan sesuatu di dekat genangan air hijau. Kemudian aku kembali melihat ke arah mahkluk aneh itu dan dia melakukan sesuatu.
Mahkluk itu melayang di atas Keiko dengan jarak sekitar 500 meter. Ketiga jarum mahkluk itu meneteskan sesuatu menyerupai tetesan air. Aku tak tahu mahkluk itu ingin melakukan apa, tetapi yang kusadari adalah... Keiko dalam bahaya.
Kembali lagi di tempat Keiko. Keiko telah mendapatkan bahan apa yang dia inginkan. Tetesan yang ku maksud barusan itu mendekatinya dan meledak di jarak yang sangat dekat dengan Keiko.
Aku yang menyadari hal itu, berteleportasi tepat saat tetesan itu meledak. Tetesan itu meledakkan dan menyebarkan angin hijau ke seluruh tempat yang bisa dia tuju. Semua mahkluk hidup yang ada di tempat hijau itu... semuanya... mati, kecuali Leviathan itu.
__ADS_1
Aku berhasil menangkap Keiko dan berteleportasi lebih dulu. Kami berteleportasi ke tempat 6 senjata itu.
"Hampir saja!" kata Keiko.
Keiko kemudian melihat ke arahku dan berterimakasih kepadaku.
"Terimakasih Naka--".
Dia terhenti dari ucapannya. Dia melihat aku sedang berbaring dengan kulit yang menghijau. Aku terkena serangan Leviathan itu.
"NAKANO!" Teriak Keiko.
Aoi yang mendengar teriakan Keiko merasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
"Nakano! Nakano! Bertahanlah!" Teriak Keiko.
Aoi terdiam. Dia tak bisa keluar dari sangkarnya tetapi bisa mendengar suara dari luar.
Aoi juga berteriak kepada Keiko, menyuruhnya untuk membawaku ke tempatnya.
"KEIKO! BAWA NAKANO KESINI! CEPAT!" Teriak Aoi.
Keiko mendengar akan hal itu. Keiko merasa bersalah dan tak bergerak.
"KEIKO! KEIKO! KEIKO! CEPATLAH!" Teriak Aoi.
Tetapi Keiko tak menjawab hal itu. Pedangku dibawa Keiko dan dia menekan pedangku layaknya tombol pada umumnya. Pedang itu bersinar dan berteleportasi ke tempat Aoi. Keiko menuruti perkataan Aoi dan segera pergi ke sana dengan rasa bersalah yang besar.
----
**Assalamu'alaikum,
Yo, Pembaca semuanya. Kemungkinan besok gak update dulu karena ada beberapa urusan penting. Kenapa saya bilang 'Kemungkinan" itu karena saya akan mencoba sebisa saya untuk tetap update. Dah, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. Tetap dukung saya ya!
Wassalamu'alaikum wr.wb**.
__ADS_1