Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 108, Serangan Nakano ll


__ADS_3

Aku melihat apa yang dilakukan oleh Kurumi kepada kembarannya sendiri, Anna. Aku merasa geram, aku ingin melakukan sesuatu! Tetapi aku tak bisa melakukan apapun sekarang! Gimana ini? Akhirnya aku hanya bisa melihat Anna patah hati dan tersiksa oleh Kurumi.


Air mata mengalir dari kedua mata Anna. Kurumi mendekati wajahnya.


"Wah wah... air mata...".


Kurumi menjilat air mata Anna dan menjauhkan wajahnya, merasakannya.


"Mmnn.... Manis... enak... Nyerufufufu.... Aku jadi ingin merasakannya lagi... karena itu Apakah kamu ingin menghasilkannya lagi untuk kembaran mu yang hampir menghilang ini? Fufu...".


Hampir hilang? Anna diam pasrah dengan takdirnya. Kurumi entah kenapa merasa jengkel dengan tindakan Anna. Dia kesal.


"Kau! Lebih baik mati!" katanya.


Kurumi bersiap menarik pelatuknya dan Anna pun menutup matanya siap mati. Nakano, apakah kamu tak melakukan sesuatu?! Nakano! Sadarlah!


Tepat saat Kurumi ingin menarik pelatuknya, ada sebuah pedang meluncur ke arah tangannya. Pedang itu menghentikan Kurumi dan menancap di tangan Kurumi. Kurumi terkejut sebentar lalu mundur ke arah pedang itu meluncur. Pedang itu datang dari atas... Tunggu... pedang... Sei!

__ADS_1


Aku melihat ke arah Sei berdiri dengan alis yang mengerut dan wajah yang kesal terpapar diwajahnya. Entah kenapa... bukan merasa terancam atau semacamnya tetapi... wajahnya malah semakin imut... Apakah ini yang dirasakan Nakano saat Sei memasang wajah semacam itu? Hatiku seperti tertusuk oleh panah tepat sasaran. Oke fokus!


Sei membuat portal yang mengeluarkan pedang, Unlimited Weapon! Pedang itu meluncur ke arahku dan orang berambut putih di dekatku. Nakano yang menyadari hal itu mengangkat pedangnya dan siap menebas ku. Saat pedangnya meluncur menuju leherku, aku berusaha menghindar ke samping. Aku berhasil menghindar tetapi pedangnya mengenai bahuku, tetapi berkat bantuan pedang Sei Nakano menjauh. Pedang itu berhenti dengan melayang. Sekarang aku tahu tujuan pedang ini sebenarnya.


Aku menggenggam gagang pedang dengan tangan kiri. Pedang itu langsung terbang membawaku mendekati Sei. Tangan kiri ku tak bisa menahannya tapi untungnya aku sudah sampai di tujuan yang diinginkan Sei. Aku melepaskan pedang yang masih melayang itu dan terjatuh. Aku tak terluka akibat itu, hanya saja.. luka di bahu kananku sepertinya cukup parah. Barusan bukan menebas lagi melainkan memotong! Aku melihat tadi pedangnya masuk ke dalam bahuku... Nakano benar-benar ingin membunuhku.


Aku terengah-engah dan merasa kesakitan. Darah yang terus mengalir dari bahu kananku tak berhenti-henti membuatku kelelahan. Tiba-tiba perutku merasa mual. Kenapa harus disaat yang seperti ini?! Aku memegang mulutku berusaha untuk menelan kembali.


"Artoria! Kau tak apa-apa?!" tanya Sei yang berlari mendekatiku.


Aku menelan kembali apa yang ingin aku keluarkan dari mulutku. Aku kembali sedikit membaik dan bisa menjawab Sei.


Aku selalu saja mual dan ingin muntah akhir-akhir ini. Ini tak lain adalah pertanda kalau... aku hamil... Wajahku langsung memerah disaat yang tidak tepat. Sei yang melihatku penasaran.


"Kenapa?" tanya Sei,


"T-Tidak! Tidak ada..".

__ADS_1


Sei merasa curiga tetapi dia mengabaikannya. Aku akan berusaha menutupi rahasia ini demi yang lain juga, bagaimanapun caranya! Aku hamil... hamil... hamil... Sial! Aku tak bisa berhenti memikirkannya! Nakano saat itu tak memakai pengaman.... Argh! Fokus diriku! Kamu harus fokus kepada situasi sekarang!


Wajahnya memerah karena terlalu banyak berpikir tentang hal itu dan saat itu juga... ingatanku saat aku melakukannya dengan Nakano... Argh, sial! Kenapa aku malah terpikirkan sekarang! Fokuslah!


Aku melihat ke arah Anna menangis ditempat, kemudian melihat ke arah Kurumi yang melihat ke mari. Dia tersenyum lebar jahat. Ada yang tak beres...


Saat aku sedang berpikir, ada suara dibelakang kami berdua. Suara yang amat sangat jelas, suara efek teleportasi! *Ziiuung*


Aku melihat ke belakang dan ada Nakano yang siap menyerangku. Pedangnya meluncur ke arah leher bersiap membunuhku, tetapi aku dengan cepat menarik pedangku dan menahan serangan Nakano dengan bilah pedang yang cepat. Alhasil, aku terdorong ke belakang karena belum siap. Sei berlari menjauh ke arah yang berlawanan denganku. Nakano berdiri di depan Sei, tetapi dia mengabaikan Sei dan mengincar aku. Kenapa dia mengincar diriku? Ada yang tak beres... strategi... strategi macam apa yang mereka mainkan ini?!


Oke tenang Artoria Pendragon. Nakano mengincar ku karena suatu alasan, aku kurang yakin kalau alasannya adalah karena aku mengandung anaknya. Tetapi aku tahu ada alasannya, aku tak boleh terbunuh sampai tahu alasannya!


Kedua, Tohka dan Sei dibiarkan oleh mereka bertiga dan sedangkan si rambut putih seperti mengincar seseorang tetapi bukan kami yang sedang ada disini... kalau begitu... siapa? Shiro? Sanae? Sistine? Atau.... Liyu? Aku memiliki firasat kalau si rambut putih tadi mengincar Liyu dengan alasan kalau dia adalah murid Nakano. Jadi mereka menganggapnya berbahaya.


Sepertinya yang mereka incar adalah orang-orang yang mereka anggap berbahaya bagi mereka. Orang-orang itu adalah Anna, Liyu, dan aku. Jika mereka mengincar Anna, kurang lebih alasannya pasti karena Anna tetap tenang di segala situasi, yah... kecuali sekarang.. dan Liyu seperti yang ku jelaskan tadi. Tapi kenapa mereka mengincar diriku? Ini hanya pendapatku, mereka mengincar ku karena aku bisa dibilang... mirip dengan Nakano... cara kepemimpinan ku hampir sama dengan Nakano, begitu juga Anna. Cara berlatih kami berbeda tetapi dapat melatih seseorang ketingkat jenius. Dan lagi, kemampuan pedang kami yang luar biasa, serta pengalaman kami dalam dunia pertempuran. Kurasa itulah alasan mengapa mereka mengincar diriku.


Sekarang, bagaimana ini? Kemampuan Sei takkan bisa mengenai Nakano, tentu saja karena kemampuan teleportasi nya. Tohka tak bisa berbuat apa-apa karena dia tingkat penggunaan katana nya masih rendah. Terutama dia harus berhadapan dengan pengguna jarak jauh, kecepatan tembakan pistol Kurumi tak begitu cepat bagi aku dan Nakano, tetapi sayangnya Tohka belum mengeluarkan potensi penuhnya jadi itu menghambatnya menghadapi sesuatu yang cepat.

__ADS_1


Aku harus berhadapan dengan Nakano, dan Liyu... kurasa dia akan baik-baik saja sampai seseorang datang untuk membantunya contohnya... Shiro. Aku punya bala bantuan dari pasukan pemadam khusus tetapi aku tak tahu bagaimana caranya memanggil mereka. Setidaknya ada mercon atau apapun.... Ahah, terompet! Kerajaan pasti memiliki terompet khusus yang suaranya berbeda dari terompet biasa. Itu akan membantuku! Tetapi dimana... Bibi Yo dan Paman Inara tak tahu dimana...


Aku melihat ke arah Nakano. Dan langsung mendorong badanku ke arahnya dan dia juga melakukan hal yang sama. Kami siap menyerang satu sama lain. Sepertinya kamu tak datang ke sini untuk bicara ya, Nakano. Hanya pedang inilah yang dapat menjawab mu!


__ADS_2