
Aku berjalan menuju ke tempat Keiko, tetapi sebelum itu aku pergi ke belakang kerajaan. Aku muntah disana lalu melihat ke arah perutku. Perutku semakin membesar seiring berjalannya waktu, aku tahu kalau cepat atau lambat yang lainnya juga akan tahu kalau aku hamil.
Aku kemudian baru berjalan ke tempat Keiko. Saat aku sampai disana, Keiko menghilangkan tangannya dengan tubuhnya yang menyender ke samping. Jarinya yang ke atas dan ke bawah seperti telah menungguku lama. Aku terheran-heran dengannya.
"Ada apa?" tanyaku,
"Artoria... kita perlu bicara..",
"...".
Entah kenapa jantungku berdebar seperti ketakutan. Seperti Keiko telah mengetahui rahasia yang aku jaga selama ini.
"Artoria... Kau menyimpan rahasia bukan?",
"R-rahasia apa? Apa yang kamu maksud...?",
"Jangan berbohong lagi!",
"...",
"Di dalam perutmu... Adalah tempat dimana rahasia itu berada bukan..?",
"...".
Apakah Keiko mengetahui rahasiaku? Yah... sepertinya memang... Dia juga sudah memasang wajah serius. Aku sudah tertangkap basah.
"Sebutkan... Sebutkan rahasiaku.." kataku.
Aku sudah siap merasa bersalah. Aku akan disalahkan pastinya...
"Kau...".
Aku menutup mataku siap menerima kekalahan.
"Kau nambah gendut kah?".
Suasana disana langsung sunyi. Deh.. KUKIRA APA!!!! Ternyata hanya ini toh... Duh jangan menakutkanku dong... Aku sudah merasa jantungku akan copot tadi!
Keiko langsung memasang wajah penuh kemenangan.
"Heh.. Apakah aku benar?" tanya Keiko,
"Y-Ya.. kenapa kamu bisa tahu?",
"Mudah.. perutmu membesar seiring waktu. Pasti karena tak memiliki prajurit lagi untuk dilatih selain Liyu.".
Aku menghela nafas pendek.
"Hah...",
"Benar bukan? Santai saja, aku akan menjaga rahasia ini untukmu." katanya penuh percaya diri.
Ya sudahlah. Aku merasa lega karena dia masih belum tahu yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ya ya. Aku paham, berjanjilah kamu akan menyimpan rahasia ini untukku.",
"Ya. Aku akan menjaganya, lagian.. kita ini teman bukan? Atau... lebih dari "teman"? Fufu...",
"Terserah kau menganggapku apa.".
Yah kurasa hubungan kami lebih dari kata "Teman". Keiko tersenyum bahagia dan aku tersenyum lega. Ya.. aku lega karena Keiko masih belum tahu yang sebenarnya walaupun dia akan tahu dalam waktu yang mungkin dekat.
"Jadi kenapa kamu datang kemari?" tanya Keiko,
"Yah... ceritanya cukup panjang.".
Kamipun mengobrol hangat disana sambil menunggu jawaban dari Kurumi.
Setelah kurang lebih 15 menit aku mengobrol dengan Keiko, akhirnya ada yang masuk ke tenda dan itu adalah Kurumi bersama Sei. Kurumi dengan tatapan penuh keyakinan maju ke depan mendekati kami berdua yang ada didepannya. Aku langsung mengeluarkan tatapan sinis kepadanya.
Saat dia berada didepan kami. Aku bertanya kepadanya sambil menutup mataku:
"Jadi, apakah kamu sudah memutuskan jawabanmu?" tanyaku,
"Ya... Aku memutuskan untuk terus hidup.".
Aku menatapnya dengan tatapan sinis lalu tersenyum sinis.
"Baiklah. Keiko, lakukan ritualnya." kataku,
"Baiklah." jawab Keiko dengan senyuman murah diwajahnya.
Kami semua yang berada didalam keluar dari tenda pergi ke belakang istana agar tak ada seorangpun yang mengetahui apa yang kami lakukan. Di sana, aku berdiri berdampingan dengan Sei menonton dari kejauhan. Sedangkan Kurumi berada dihadapan yang tak jauh dari Keiko yang berdiri dihadapannya.
".... Siap!" jawabnya.
Aku dan Sei melihat ritual itu dari kejauhan. Di sana, Sei bertanya kepadaku:
"Apakah ini akan berjalan lancar? Aku merasakan firasat buruk...",
"Hmm? Firasat apa?",
"Entahlah... Aku hanya merasakannya..",
"Begitu ya. Hehe santai saja. Aku yakin ini akan berjalan lancar.".
Keiko menarik nafas dan lalu mengucapkan mantra.
"Wahai penguasa waktu.. temukanlah orang ini jalan kebenaran waktu. Bawalah dia ke jalanmu dan berikanlah dia jawaban atas segala pertanyaannya! Gyríste píso to rolói!".
Seketika di atas Kurumi ada gambar jam dengan diatasnya lagi ada sebuah mantra dengan motif gerigi dan di atasnya lagi, lagi, dan lagi menjadi 5 lapisan. Di bawah Kurumi ada gambar jam juga dengan layarnya dan di pinggirannya sama-sama bermotif gerigi.
Kurumi melayang di antara mantra berwana merah itu. Mantra yang ada dibawah kaki Kurumi pergi ke atas mengikuti Kurumi. Kurumi menutup matanya dan tubuhnya lemas seperti dia pingsan diantara mantra merah itu. Aku juga tiba-tiba merasakan firasat buruk tentang ini.
Kurumi membuka matanya dengan tiba-tiba, dia memegang lehernya seperti ada yang mencekiknya. Lalu keluar darah dari mulutnya. Dia menggeliat kesakitan disana. Keiko yang menyadari itu langsung membatalkan mantra dan Kurumi pun turun dengan selamat.
Aku dan Sei langsung berlari mendekati mereka berdua.
__ADS_1
"KURUMI!",
"KURUMI!".
Dia terengah-engah kesakitan. Matanya layu seperti ikan mati dan sekarang dia seperti berada diujung tanduk hidupnya... Apakah ini perbuatan kami?
"Kurumi! Kau tak apa-apa?" tanya Sei,
"....".
Dia tak menjawabnya. Dia terengah-engah. Aku dapat merasakan tubuhnya.. perlahan-lahan menghilang. Matanya layu seperti ikan mati, nafasnya sangat pendek dan pelan bahkan hampir tak bisa kurasakan. Badannya dingin seiring mulai menghilang. Lalu ada sesuatu seperti kunang-kunang terbang menuju ke atas. Kurumi pelan-pelan menghilang. Kurumi tersenyum dan mulutnya bergerak seperti bilang sesuatu tetapi kami tak bisa mendengarnya. Dan dari gerakannya aku bisa mengetahui apa yang dia bilang,
"Terimakasih... karena telah mencoba menyelamatkanku... Arthuria...".
Tiba-tiba kami mendengar suara teleportasi di belakangku. Nakano! Apakah dia ingin melawanku? Disaat-saat seperti ini?!
Dia berjalan mendekati kami semua. Lalu mengusir kami bertiga dengan paksa. Mulut Kurumi bergerak lagi dan aku mengetahuinya, lebih tepatnya apa yang dia coba katakan,
"Nakano... Terimakasih atas segalanya... Selamat tinggal semuanya...".
Aku merasa bersalah saat itu. Tetapi Kurumi mendekati wajahnya dengan Kurumi dan langsung mencium bibirnya. Kurumi terkejut tetapi langsung menutup matanya. Dia seperti telah pasrah dari kehidupannya.
Tetapi sesuatu terjadi saat Nakano menciumnya. Tubuh Kurumi menebal lagi seakan tak jadi menghilang. Itu adalah sebuah keajaiban yang luar biasa, Kurumi hidup lagi! Tetapi... bukankah itu berarti Nakano yang menghilang..? Oh.. kumohon tidak!
Setelah mereka selesai berciuman. Kurumi melihat ke arah Nakano.
"Kenapa..?" tanya Kurumi,
"... Aku takkan membiarkan orang yang tersakiti mati dengan rasa sakit yang masih membekas..".
Tunggu... ada yang aneh.. kenapa Nakano tidak menghilang..? Apakah ini... Cara lain untuk menyatukan akar muasal?!
Nakano dan Kurumi berdiri. Nakano membalik badan melihat ke arahku.
"Naka—".
Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Nakano berteleportasi ke dekatku dan langsung memelukku.
"Artoria maaf! Aku hampir meninggalkan kewajiban ku! Aku hampir menghindari tanggung jawab yang harus aku tanggung!",
"Eh.. ah.. Tidak...",
"Maaf!.. Aku berjanji aku akan bertanggung jawab. Aku akan menjaga anak kita dengan baik.".
Suasana disana langsung sunyi.
"Eh?",
"Eh?",
"Eh?",
"EEEEEHHHHHHHH?!?!!!?".
__ADS_1
Apakah ini... akhir bahagia? Akhir yang sangat aneh... Begitulah! Ini adalah akhir dari Arc Machinery! Gelar MC dikembalikan ke MC yang sesungguhnya, Nakano!