
"Amaya Keiko...?" tanya Anna terheran-heran,
"Dia adalah orang ketiga yang memiliki mata waktu. Dia juga orang yang menjaga Ender Library. Sebelum ke alam semesta Fantasym, kami pergi ke sana untuk mencari tahu tentang mata waktu dan yang lainnya." Jelas Sei,
"Pengguna ketiga?",
"Ya... jika kita tidak tahu... maka orang itu pasti tahu.".
Tiba-tiba suara seseorang muncul. Suara seorang wanita.
"Kau benar..." kata suara itu.
Kami terdiam, kemudian melihat ke belakangku. Seorang wanita kecil dengan kacamata besar di mata kirinya dan sebuah topi Wisuda di atas kepalanya, berpakaian seperti anak bangsawan. Wanita yang baru saja dibicarakan oleh kami terbang dengan sapu di belakangku. Dia adalah Amaya Keiko.
"Amaya Keiko?!" kata Sei terkejut,
"Ya benar..",
"Kenapa kamu ada disini?",
"Aku tadi merasakan energi besar di alam semesta ini. Dengan terburu-buru aku ingin menghentikannya tetapi aku terlambat. Yang aku lihat hanyalah kota yang hampir sebagian besarnya hancur karena ulah energi itu dan kenalanku yang mati.",
"Jadi.. singkatnya sebenarnya kamu tahu cara menghadapi tombak itu?",
"Ya.. aku tahu caranya. Tombak itu mengincar satu orang, tetapi bila tombak itu telah mengenai apa yang dia incar maka tombak itu akan meledak. Salah satu caranya adalah dengan mengorbankan orang lain yang tidak dia incar maka tombak itu hanya membunuhnya.",
"Kalau begitu cara lainnya?",
"Tombak yang kalian lawan adalah tombak yang berasal dari bulan dan termasuk sihir terlarang tingkat iblis. Cara lainnya untuk menghentikannya adalah menghancurkan bulan tersebut atau membunuh penggunanya. Temanmu mati karena mengorbankan dirinya berarti dia tahu kalau itu adalah salah satu caranya dan dia tak tahu cara lainnya.",
"Tapi darimana Tohka mengetahuinya?" tanya Anna menyela pembicaraan,
"Ada dua orang yang pernah menghadapinya dan berhasil dengan selamat. Salah satunya adalah ibu kandungmu, Nakano.",
"Kalau begitu... Tohka mempelajarinya dari ibunya kandungnya Nakano?" tanya Sei,
"Menurutku tidak. Ingat! Ibu kandung Nakano telah mati duluan sebelum mengenalnya.",
"Terus dari siapa?" tanya Anna,
"Aku kurang informasi tentangnya. Aku tak tahu namanya dan semuanya di seluruh alam semesta tak ada yang tahu namanya, tetapi dia diberi satu julukan. Julukannya ialah Herobrain.",
"Herob..rain?" gumam Sei ketakutan,
"Ada apa, Sei? Kau mengetahuinya?" tanyaku,
"Aku tak begitu tahu tentangnya tetapi aku pernah mendengar sedikit tentangnya. Dia adalah pria bermata putih bersinar yang menggunakan beliung sebagai senjatanya. Beliung itu memiliki sihir didalamnya yang berelemen listrik. Dengan beliung itu, pria ini bisa mengendalikan petir sesukanya." Jelas Sei,
"Pria... bermata putih..." gumam ku,
"Nakano?".
Seketika aku mengingat saat kakakku berbicara kalau dia dirawat oleh pria bermata putih dan berteman dengan Tohka setelah dia didorong bersamaku oleh ibuku sendiri untuk pergi ke tempat aman. Kakakku mengatakan kalau ibuku mengenali pria ini dan bertujuan untuk menyerahkan hidup kami berdua kepadanya tetapi ada hal yang tak terduga, tak seperti yang direncanakan.
"Jika kita ingin mencari tahunya, mungkin kakakku tahu sesuatu." kataku,
"Tapi bagaimana dengan Tohka?" tanya Artoria menyela pembicaraan. Kami hampir kelupaan tentang dia. Apa yang harus kami lakukan?
"Bagaimana ini, Nakano?" tanya Sei. Aku menggerakkan gigiku dengan keras dan mengepalkan kedua tanganku dengan keras sambil menundukkan kepala.
"Hei Nakano... kamu masih belum tahu jurus itu ya?" tanya Keiko di tengah suasana,
__ADS_1
"Jurus? Jurus apa?" tanyaku terheran-heran,
"Kau belum tahu ya... Bagaimana denganmu, nona? Kau tahu jurus itu?" tanya Keiko pada Anna. Anna memiringkan kepalanya dan menaikkan alisnya.
"Hah!" Desah Keiko. Kemudian dia berjalan ke hadapan Tohka yang aku gendong dan menyuruhku untuk menurunkannya.
"Turunkan dia!".
Aku pun menuruti perintahnya dan menurunkannya. Kemudian Keiko menyuruhku dan yang lainnya mundur.
"Mundur sekarang!"
Kami semua menuruti perintahnya dan mundur ke belakang. Keiko maju ke depan dan duduk di atas badan Tohka. Menarik nafas dan melepaskannya, kemudian dia menarik nafas sekali lagi.
"Aku, Amaya Keiko, sang pengguna mata waktu. Aku menyuruhmu untuk membalikkan waktu seperti yang sebelumnya! RETIME!".
Tohka kemudian terbang ke udara. Ada cahaya menyambar ke ujung langit. Di tengah-tengah cahaya tersebut, ada sesuatu berwarna biru dengan bentuk yang sama seperti mata waktu. Kemudian, jarum yang ada di atas sana berputar berlawanan arah dengan jarum jam.
Aku melihat ke arah mata waktu Keiko, dan mata waktunya sama seperti yang ada di atas. Aku kembali melihat ke atas. Di atas sana, aku melihat perut Tohka menutup dengan sendirinya seperti semula.
"Ini... bukannya... kemampuan mata waktu terlarang?!" kata Anna memotong suasana,
"Kemampuan... terlarang? apa itu?" tanya Artoria,
"Kemampuan yang memerlukan energi banyak sama seperti melihat masa depan. Kemampuan ini berfokus untuk membalikkan waktu sesuatu atau orang yang penggunanya lihat.",
"Apa maksudmu?" tanyaku,
"Singkatnya adalah... membalikkan waktu!".
Cahaya yang menyambar itu meredup dan menghilang secara perlahan-lahan dengan sendirinya. Tohka yang terbang di atas udara, terjun bebas di ketinggian 1200 meter dari tempatku berdiri.
Aku dan teman-temanku, kecuali Tohka, dengan cepat pergi ke arah Tohka. Sei terbang dengan pedangnya, Artoria melompat, Anna terbang dengan mata waktunya, dan aku berteleportasi. Kami semua tiba di Tohka disaat yang sama. Kami bersama-sama, menangkap Tohka.
Aku kemudian berteleportasi ke tempat awal kami sebelumnya dengan teman-temanku. Kami memanggil nama Tohka secara bersamaan.
"Tohka!".
Kami pun melanjutkan perkataan kami bersamaan.
"BANGUNLAH! TOHKA!",
"BANGUNLAH! TOHKA!",
"BANGUNLAH! TOHKA!",
"BANGUNLAH! TOHKA!".
Tohka kemudian batuk. Setelah berhenti, dia membuka matanya dan melihat ke sekitar. Dia melihat kami berempat duduk disampingnya.
"Semuanya..." —gumamnya.
Kami semua terdiam dan sementara Tohka menyelesaikan kalimatnya sambil tersenyum bahagia.
"Aku pulang...".
Kami tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Kami memeluk Tohka dengan cepat.
"Tohka!" panggil kami semua satu per satu.
Sei berdiri dan melihat ke arah Keiko. Dia berlari dan memeluk Keiko dengan erat.
__ADS_1
"Terimakasih.... Keiko!!",
"Ah.. Uh.... LEPASKAN!",
"Tidak!! Kamu memang wanita yang baik ya..." .
Kemudian, Anna dan Artoria juga berlari ke arah Keiko dan memeluknya dengan lembut. Mereka berdua meletakkan tangan mereka di kepalanya dan mengusap-usapnya.
"Kau memang anak baik ya... Keiko." Kata Anna dengan nada yang lembut,
"Lepaskan!" kata Keiko,
"Anak baik... anak baik..." gumam Artoria.
Tiba-tiba, muka Keiko memerah dan mulai nurut dan tidak banyak memberontak.
"A-aku hanya... menyelesaikan tugasku saja kok! Tidak ada yang lain!" katanya,
"Benarkah?" tanya Anna,
"Benar!",
"Anak baik..." gumam Anna.
Aku menggendong Tohka di belakang punggungku dan melihat ke arah mereka berempat.
"Sekarang bagaimana ini, Nakano? Mencari identitas dari Herobrain?" tanya Artoria,
"Benar ya.." gumam ku,
"Herobrain?" gumam Tohka,
"Ya... kamu tahu dia?",
"Ya... dia itu waliku dan juga wali Maname. Dia menjaga kami berdua dengan baik dan melatih kami dengan sangat bagus. Tapi aku tak tahu kabarnya sekarang. Maname mengatakan kalau dia telah tiada. Dan dia hanya bisa ditemukan di Spiral God Tower.",
"Spiral apa?" tanya Sei,
"Spiral God Tower adalah menara besar dengan lima lantai. Di setiap lantainya ada musuh yang menjadi legenda. Setiap penjaga selalu berubah-ubah setiap 1000 tahun sekali. Hanya orang-orang yang terpilih yang bisa masuk kedalam." Jelas Keiko
"Bagaimana caranya untuk menjadi yang terpilih?" tanyaku,
"Entahlah... caranya masih menjadi misteri. Biasanya ada sebuah penjiplak tangan di dekat menara itu yang bisa memberitahu kalau kamu itu orang yang terpilih atau tidaknya." Jelas Keiko,
"Begitu ya... aku paham..!",
"Jadi bagaimana, Nakano? Spiral God Tower atau ke alam semesta lain?" tanya Artoria menyela,
"Kita akan ke alam semesta lain terlebih dahulu sebelum pergi ke Spiral God Tower. Dari namanya kita tahu setiap penjaganya pasti memiliki kekuatan yang hebat. Sebelum itu, aku harus menjadi lebih kuat." Jawabku,
"Terus, Alam semesta apa yang ingin kamu jelajahi berikutnya?" tanya Tohka,
"Alam semesta mekanika! Machinery!" Kataku dengan semangat,
"Tetapi sebelum itu, kita harus segera pergi dari sini." kataku,
"Kalau begitu, aku akan duluan... sampai jumpa." kata Keiko. Dia memanggil sapu terbangnya dan pergi terbang bersamanya.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke Istana Pion Putih." kataku,
"Ya." jawab mereka berempat.
__ADS_1
Kamipun berteleportasi dengan bantuan ku dan pergi ke Kerajaan Pion Putih. Dan dengan begini, urusanku di alam semesta busuk ini selesai, tetapi tidak dengan musuhku.