Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 50, Saran Untuk Berlibur


__ADS_3

Aku dan teman-temanku berteleportasi ke Kerajaan Pion Putih. Saat kami disana, kami sudah berada di dalam istananya.


"Hah... akhirnya pulang juga..." kata Sei,


"Kau benar." Jawab Anna,


"Sekarang... tubuh kita sudah mencapai batasnya masing-masing ya?" tanyaku,


"Ya.",


"Ya.",


"Ya.",


"Ya." Jawab mereka berempat secara bersamaan.


*Dubrak* Kami jatuh tertidur. Kami sudah mencapai batasnya masing-masing dan kami juga tak bisa bergerak lebih banyak. Kami terengah-engah. Kami semua tiduran terlentang dengan aku ditengah, Sei dan Tohka di samping kiriku dan Anna dan Artoria di samping kananku.


"Tadi itu benar-benar pertarungan yang gila ya." kataku,


"Ya... mungkin kita akan menghadapi yang lebih besar lagi dimasa depan nanti." Jawab Artoria,


"Ya...".


Aku bangkit duduk dengan kaki selonjoran dan melihat ke arah Tohka. Tohka menyadarinya dan melihat ke arahku juga sambil tersenyum manis. Aku pun ikut tersenyum. Ditengah-tengah momen itu, ada Sei yang menyela. Sei bangkit duduk dengan posisi kaki sama sepertiku. Dia merentangkan kedua tangannya ke mukaku dan muka Tohka dengan merentangkan 5 jarinya terpisah-pisah.


"Tunggu! Kalau kalian bertatapan sambil tersenyum bisa membuatku cemburu tahu!" kata Sei dengan tegas kepada kami berdua.


Anna pun memotong pembicaraan.


"Wah.. Ternyata Sei bisa jujur dengan perasaannya dihadapan Nakano ya... Berbeda dengan yang ada di sampingku ini." —Menatap Artoria dengan sinisnya,


"Ap?". Artoria menggertakkan giginya, yang kemudian tersenyum sinis. Dia pun mulai berbicara.


"Heh... lebih baik dari pada seorang wanita yang suka menggoda" katanya,


"Apa?!" —Reaksi Anna,


"Sudah-sudah! Kalian harus akur!" kataku menyela.


Mereka saling memandangi dengan sinis, kemudian mereka memalingkan wajah mereka.


"Hmph!",


"Hmph!".


Aku menghela nafas. Aku pun berdiri memaksakan diri. Aku berjalan mendekati mereka dan menaruh tanganku di atas kepala mereka.


"Yosh... anak baik..." gumamku. Artoria terkejut dan wajahnya mulai memerah. Dia melihat ke arahku.


"B-Bodoh! apa yang kamu lakukan?!" tanya Artoria,


"Tidak melakukan apa-apa, hanya mengusap kepala kalian saja.. Emangnya ada salahnya?",

__ADS_1


"Sudah jelas ada bukan?! Kamu tak memberitahu kami kalau kamu akan melakukan itu!",


"Emangnya perlu ya?",


"I-itu... ya... anu...".


Artoria memalingkan wajahnya dariku. Wajahnya menjadi lebih merah dari sebelumnya dan dia menggumamkan sesuatu.


"Tidak perlu... mungkin..." gumamnya,


"Hah? Apa?" tanyaku,


"Tidak! Tidak ada!" jawabnya dengan tegas.


Aku pun berhenti mengusap-usap mereka berdua dan jatuh tertidur lagi. *Gubrak!*.


"Nakano?" —panggil mereka berempat. Mereka semua melihat ke arahku. Aku tertidur karena kelelahan.


"Yah... dia tertidur." kata Anna,


"Bagaimana ini?" tanya Sei,


"Kita angkat bersama dan bawa ke kamarnya saja.",


"Dimana kamarnya?" tanya Tohka,


"Tunggu dulu. Akan aku siapkan." kata Anna.


Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke lurus ke dalam lorong yang ada diantara tangga kiri dan kanan.


"Kalau diperhatikan dengan seksama, Nakano saat tidur lucu juga." kata Artoria,


"Ya, aku juga sependapat." kata Tohka,


"Tetapi saat Nakano tidur, Artoria menjadi jujur pada perasaannya sendiri, kan?" kata Sei,


"Ap-- Aku hanya memujinya saja... ya! benar! Aku hanya memujinya.",


"Menurutku bukan begitu...".


Dan mereka pun berbincang-bincang dengan ramah sambil menunggu Anna kembali.


Setelah beberapa menit, dia kembali dan membawa sebuah kunci bernomor 503 dan kunci-kunci lainnya yang bernomor 504, 502, dan 505. Anna berjalan ke tempat teman-temanku berada.


"Ulurkan tangan kalian!" perintahnya.


Teman-temanku, kecuali Anna, mengulurkan tangan mereka. Mereka bertiga diberikan kunci dengan nomor yang berbeda. Sei dengan nomor 504, Artoria dengan nomor 502, dan Tohka dengan nomor 505.


Sekarang, mereka bersama-sama, memikirkan cara mengangkat ku ke kamarku dengan nomor 503.


"Sekarang... bagaimana caranya mengangkat Nakano ke kamarnya sendiri?" tanya Anna,


"Bagaimana kalau kita gotong dia ke sana?" —Artoria,

__ADS_1


"Pergerakan kita akan menghambat pergerakan yang lainnya!" Jawab Anna dengan cepat.


Mereka memikirkan caranya. Sei kemudian berdiri di dekatku. Dia mengangkat lenganku sambil membawaku. Tohka melihat hal itu dengan cepat, berjalan ke arahku dan mengangkat lenganku yang lainnya.


"Kita tak usah memikirkannya lebih lama lagi ya... Sei memang hebat!" —Puji Anna. Sei menaruh jari telunjuknya di mulutnya dan mengeluarkan sebuah suara. *Sshh!*. Seketika, Anna diam dan tak mengeluarkan suara.


Sei dan Tohka membawaku ke kamarku sendiri. Mereka tak mau membangunkan aku, jadi mereka melakukannya dengan hati-hati.


Artoria dan Anna membantu dengan memegang badanku dan mengangkatnya dengan lembut melewati tangga. Setelah berusaha dengan keras, akhirnya mereka tiba di kamarku. Artoria dan Anna melepaskan genggamannya dari badanku dan membiarkan Sei dan Tohka mengantarku ke atas kasur. Setelah itu, Sei menyelimuti ku dengan selimut yang ada di dekat kakiku. Dan setelah itu, mereka berempat pergi ke kamar masing-masing dan beristirahat.


Pagi tiba. Aku bangun dari tidurku dan menyadari kalau aku telah berada di kamarku sendiri. Aku keluar dari kamar dan pergi mandi. Saat di kamar mandi, aku mulai berhipotesis sendirian. Begitu banyak pertanyaan yang berlarian di kepalaku seperti, Dimana Magicufer dan Triton? Kemampuan apa yang keluar saat setelah Tohka terbunuh? Siapa itu Herobrain?. Itu membuatku sangat penasaran. Aku juga memikirkan tentang perjalananku selanjutnya dan meragukannya. Apakah lebih baik aku ke Alam Semesta Ender End untuk mencari tahu lebih banyak tentang Herobrain atau ke Alam Semesta Machinery untuk menggali informasi lebih banyak tentang Wynox, sihir atau Bimasakti?. Pada akhirnya, aku tak menemukan dimana Magicufer berada dan mengalahkan Wynox. Ibu... bagaimana ini?. Aku menghela nafas panjang. Aku pun menyelesaikan mandi ku, kemudian pergi sarapan. Dan di sanalah aku memutuskan untuk pergi ke rumah ayahku dulu sebelum pergi ke Alam Semesta Machinery.


Aku kemudian pergi ke rumahku bersama teman-temanku, kecuali Anna. Anna tidak ikut karena pekerjaannya menumpuk saat dia pergi dan harus segera menyelesaikannya.


Aku dan teman-temanku berteleportasi ke rumahku dan berniat untuk bertemu dengan ayahku. Aku masuk ke dalam rumah.


"Ibu... aku pulang!" kataku,


"Ah... selamat datang!" jawab ibuku. Dia keluar dari kamar dan menyambut ku dengan baik.


"Ibu.. langsung ke intinya saja.. ayah dimana?" kataku,


"Sepertinya kamu akan langsung pergi lagi ya. Ayahmu sedang ada rapat Konferensi Alam Semesta. Dia tak akan ada di rumah untuk sementara. Memangnya ada apa?",


"Aku ingin pergi ke Machinery. Ayah adalah teman penguasanya. Aku ingin langsung bertemu dengannya, menggali informasi yang ada dan pergi secepatnya.",


"Tunggu dulu! Perlahan-lahan. Kamu tergesa-gesa. Itu bukan Anakku yang ku kenal. Anakku yang ku kenal itu dingin tanpa ekspresi dan dapat menyelesaikan tugas secara bertahap tanpa kesulitan.",


"Maaf ibu... di kepalaku sekarang ini ada banyak pertanyaan yang muncul membuatku sedikit stres mungkin.".


Ibuku bejalan ke arahku dan memelukku.


"Jangan memaksakan dirimu ya... kamu telah terlibat banyak pertempuran hebat. Tentu saja kamu akan stres apalagi kamu hampir kehilangan ekspresi mu." kata Ibuku,


"Baik ibu...".


Ibuku melihat ke arah teman-temanku dan tersenyum. Ibuku melepaskan pelukannya dariku dan giliran teman-temanku untuk memelukku. Teman-temanku memelukku tanpa aku sadari.


"Jangan memaksakan diri ya Nakano.." kata Tohka,


"Kalau kamu memaksakan diri, itu akan merepotkan kami tahu!" kata Artoria,


"Jika kamu perlu bantuan, jangan sungkan minta saja ke yang lainnya." kata Sei,


"Semuanya... terimakasih." kataku,


"Untuk sekarang, kenapa kamu tak beristirahat sesekali? Itu akan memulihkan mu dari stres. Kamu bisa menjadi seperti yang biasanya." kata Ibuku,


"Ibu benar...",


"Oh iya ngomong-ngomong soal Machinery, penguasanya sedang ikut ke acara yang sama dengan ayahmu. Untuk sekarang... beristirahatlah sampai rapat selesai." kata ibuku


"Tetapi aku harus kemana untuk meluangkan waktuku?" tanyaku,

__ADS_1


"Bagaimana kalau ke pantai?" tanya Sei sekaligus menyarankan,


"Pantai?".


__ADS_2