Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 79, Ibu Baik yang Keras Kepala


__ADS_3

Di suatu saat. Ibuku terpilih sebagai Penguasa Alam Semesta, menggantikan posisi ayahku. Saat itu sedang pelantikannya.


"Sakamaki Usagi, apakah kamu siap mengemban tugas sebagai Penguasa Alam Semesta ini?" tanya Anna pada saat itu,


"Ya. Saya siap.".


Saat itu, mereka berdiri di depan balkon yang ditonton oleh ribuan warga Kerajaan Pion Putih. Ibuku sedang menunduk di sana dengan kepala menghadap ke bawah. Seorang pelayang disana, Arthories, membawa sebuah mahkota berwarna emas putih merah di atas bantal yang terlihat mewah di atas kedua tangannya. Berjalan dengan rasa hormat dan percaya diri yang tinggi, menghampiri Anna dan memberi mahkotanya. Anna mengambil mahkotanya dan meletakkannya di atas kepala ibuku.


"Berdirilah." bisik Anna.


Ibuku langsung berdiri dan menghadap ke para rakyat Kerajaan Pion Putih yang melihat ke arahnya.


"Dengan begini, Sakamaki Usagi, akan menjadi Penguasa baru dari dari Alam Semesta Fantasym." kata Anna.


Ibuku maju selangkah dan mulai berpidato.


"Maaf. Tapi ini singkat saja. Aku, Sakamaki Usagi, istri dari mantan Penguasa ini akan mengemban tugas yang diberikan oleh suamiku padaku! Aku akan membuat alam semesta ini menjadi tempat yang baik untuk kita semua! Demi kita semua dan demi mantan Penguasa ini! Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk itu. Sekian.".


Seketika banyak orang langsung bersorak untuk ibuku. Sorakan berisik yang lama makin lama mulai terasa seperti alunan musik. Angin yang tenang dan cuaca yang cerah disana membuat Anna mendapatkan mood yang bagus. Tetapi dibalik mood bagusnya itu, dia masih mencemaskan tentang satu hal.


Setelah pelantikan itu, semuanya kembali normal seperti biasanya. Teman-temanku, Adikku, Ibuku, dan teman-teman ibuku berkumpul di satu tempat, yaitu ruang tamu. Mereka mengkhawatirkan sesuatu.


"Ini sudah hari kelima ya, semenjak pemakamannya." kata Mashiro,


"Ya. Aku khawatir padanya. Dia sudah tak keluar kamar selama 5 hari sejak kabar kematian ayahnya." kata Artoria.


Saat mendengar itu, ibuku mulai penuh dengan rasa cemas dan bersalah.


"Aku akan ke kamar Nakano!" kata Ibuku,


"Tunggu. Kita tak tahu apa yang dilakukan Nakano di kamarnya. Pintunya pun terkunci." kata Artoria.


Ibuku melihat ke arah Anna dengan mata penuh kecemasan sebagai seorang ibu.


"Anna. Apakah ada kunci Nakano yang lain?" tanyanya,


"Ada kok." jawab Anna,


"Kalau begitu berikan kepadaku!",


"Coba telaah perkataan Artoria barusan. Ini bukan masalah apa yang dilakukan Nakano. Kita disini semuanya mencemaskan nya. Tentu saja aku juga cemas, tetapi kita tak boleh bertindak gegabah. Jika tidak maka akan terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.",


"Tapi!?",

__ADS_1


"Jangan khawatir. Kami berdua ada disini untukmu." kata seorang wanita berpakaian seperti bangsawan kuno menengah disana.


Nama wanita itu adalah Obounara Yo, istri dari Paman Inara.


"Oh iya. Nyonya Obounara..." panggil Anna,


"Panggil Yo saja." kata Obounara Yo,


"Kalau begitu Yo. Apakah kamu tak pulang?",


"Tidak. Aku khawatir dengan temanku ini. Lagipula anaknya juga sedang dalam masalah. Aku yang sebagai bibinya harus berbuat sesuatu.",


"Bibi..?",


"Aku dan Usagi dan Izayoi sudah berteman cukup lama.",


"Begitu ya.".


Setelah itu ditengah pembicaraan itu, Tohka mulai merasa aneh tentang Nakano Wynox dikalahkan.


(Tunggu. Kalau dipikir-pikir... Bukankah Nakano Wynox dikalahkan karena Magicufer? Apa maksud dari perkataan 'mengalahkan Nakano Wynox'? Yang benar yang mana?! Magicufer atau teman-teman Paman Izayoi yang mengalahkan Nakano Wynox?!).


Tohka mulai tersesat dalam rasa penasaran yang lebat. Diapun memutuskan untuk menanyakannya.


"Anu... apakah aku boleh menanyakan sesuatu kepada kalian bertiga...?" tanya Tohka,


"Aku ingin menanyakan sesuatu tentang kalahnya Nakano Wynox. Apakah benar-benar kalian yang membunuh Nakano Wynox...?",


"Ya. Itu benar.",


"Tapi.... kalau tak salah seingatku... Nakano Wynox mati karena mengorbankan diri saat melawan seseorang.",


"Seseorang...?".


(Gawat. Aku harus menyembunyikan identitas Magicufer agar tak timbul keributan. Magicufer adalah legenda paling kejam yang beredar diantara para Penguasa Alam Semesta. Jika mereka tahu kalau Nakano sedang bertarung dengan Magicufer maka mereka pasti takkan tinggal diam!).


"Aku tak tahu siapa orang yang kamu maksud itu tetapi kami memang benar-benar membunuhnya. Tetapi kami gagal melakukannya.",


"Gagal melakukannya? Apa maksudnya?",


"Kami memang sudah membunuhnya dan kami pikir itu adalah akhirnya. Tetapi kami salah. Nakano Wynox hidup kembali. Kami tak tahu kenapa, padahal kami sudah mencabut jantungnya keluar tetapi dia masih hidup dan jantungnya pulih kembali seakan waktunya berbalik ke masa saat dia belum mati.".


(Itu pasti karena Mata Waktunya. Tak ada hal lain yang bisa seperti itu kecuali sihir kebangkitan dan kemampuan mata waktu. Mustahil untuk melakukan sihir kebangkitan seorang diri saja, Nakano Wynox memang memiliki sesuatu tetapi untuk melakukan itu tetap saja mustahil. Kecuali mata waktu.).

__ADS_1


"Begitu ya. Terimakasih telah menjawab." jawab Tohka menyelesaikan pembicaraan.


Setelah pembicaraan selesai, Ibuku meminta kepada Anna untuk memberikan salinan kunci kamarku.


"Anna. Tolonglah. Aku harus bertemu anakku itu apapun yang terjadi.",


"Tidak kamu tidak boleh.",


"Bohong kan...?",


"Kecuali kamu memberikan satu alasan yang bagus. Kalau alasannya bagus aku akan memberikannya.",


"Baiklah. Sakamaki Nakano adalah anakku yang sedang depresi berat karena ayahnya meninggal. Aku tak bisa tinggal diam saja.",


"Kuran—",


"Ada satu hal yang suamiku sesali sebelum dia meninggal. Dia menyesal karena harus mati duluan sebelum... melihat anaknya menjadi penguasa di alam semesta yang diinginkan olehnya. Itu adalah penyesalan terakhirnya. Demi menyelesaikan itu, aku tidak ingin Nakano putus asa sekarang! Dia harus menggapai mimpinya! Bukan hanya demi suamiku, tetapi demi dirinya juga! Aku perlu berbicara dengan anakku walaupun hanya sekali saja. Aku harus berbicara dengannya! Aku perlu membicarakan sesuatu... sesuatu yang sangat penting." Jelas Ibuku.


Dia terengah-engah kehabisan nafas akan penjelasan panjangnya. Dengan matanya yang gigih yang menandakan dia takkan menyerah sampai bisa berbicara denganku. Anna melihat mata gigihnya dan kemudian tersenyum.


(Kamu beruntung bisa memiliki ibu sepertinya ya. Nakano...).


Anna meraih kantung di dadanya dan mengambil sesuatu. Dia mengeluarkan sesuatu setelahnya dan melemparkan sebuah kunci yang keluar dari kantongnya kepada ibuku.


"Ini." katanya sambil melempar kuncinya.


Ibuku terkejut dan berusaha menangkap kunci itu.


"Wo—Whoaaa..".


Untungnya ibuku bisa menangkapnya.


"Terimakasih banyak!" kata ibuku.


Ibuku kemudian berlari menuju ke kamarku. Yo yang melihat hal itu sedikit cemburu karena dia dekat dengan anaknya. Yo sebenarnya memiliki seorang anak tetapi keduanya tak begitu dekat satu sama lain. Anna yang melihat ibuku berlari berpikir betapa keras kepalanya dia.


(Dasar ibu yang keras kepala. Yah.... Aku juga sama sih...).


Sementara itu, aku yang berada di kamarku. Merasa depresi karena kehilangan sesosok berharga. Aku berpikir betapa menyakitkannya saat orang yang kita sayangi meninggal. Jika itu salah satu istriku apa yang akan aku lakukan?


---


**Assalamu'alaikum,

__ADS_1


Yo, Para pembaca sekalian. Maaf kemarin gak update bab baru. Kali ini.... sebenarnya cuman pengen bilang maaf aja sih gak ada maksud lain. Jadi ya gtu aja (well.. nvm:v). Dahh!


Wassalamu'alaikum**!


__ADS_2