Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 65, Tahap Kedua dan Bahan Terakhir


__ADS_3

Aku membawa Tohka dengan bantuan pedang layang ku menuju ke tempat yang cukup dingin. Kami berdua adalah pengaruh besar dalam kelompok.


Setelah beberapa saat dan beberapa meter jauhnya aku terbang dalam air, aku akhirnya menemukan tempat yang mulai mendingin. Aku terus berjalan membawa Tohka pergi ke tempat yang lebih dingin lagi.


Setelah beberapa menit, aku akhirnya menemukan jalan keluar goa dan sekaligus tempat yang cukup dingin. Aku menurunkan pedang dengan bilah besar milikku ke tanah dan membiarkannya dibawah tubuh Tohka yang kepanasan. Seketika, kulit tubuh Tohka menghijau. Aku yang melihat hal itu pun panik tak tahu harus apa. Tetapi kulitnya sudah tak menghijau lagi. Aku pun menyadari kalau kulitku juga... menjadi warna hijau juga. Apa yang terjadi?


Sementara itu di tempat Nakano, Aoi, dan Keiko berada, di waktu yang sama, juga mengalami hal sama yaitu kulit menghijau.


"Apa yang terjadi pada kulit kami berdua?!" tanya Keiko panik,


"Itu adalah tahap keduanya." kata Aoi,


"Tahap... kedua...?",


"Ya. Sebelumnya aku sudah menjelaskannya bukan kalau saat kalian masuk ke alam semesta ini, kalian akan terkena virus? Tahap pertamanya tak terjadi apa-apa. Tetapi tahap keduanya kulit mulai menghijau. Tahap ketiga perut mual dan sakit begitu juga dengan dada kalian dan kepala kalian dan juga otot kalian, semuanya akan terasa sakit. Dan tahap keempat sekaligus terakhir, kalian akan kehilangan akal sehat kalian dan setelah 2 menit, kalian... mati!" jelas Aoi,


"Ma...ti?",


"Ya. Karena itu pilihan bagus untuk menerima tawaranku, karena penawarnya ada dalam tubuhku dan anak-anakku. Tetapi kalian membutuhkan yang segar jadi kalian akan mendapatkannya dari anak-anakku nantinya.",


"Semoga mereka berempat baik-baik saja...".


Di tempat Artoria dan Anna. Mereka berlari ke dalam untuk mempercepat waktu. Mereka lari terburu-buru masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Dan ditengah perjalanan, kulit mereka menghijau dan karena itulah mereka terhenti.


"Kulitku!" teriak Anna,


"Tenanglah. Ini mungkin tahap selanjutnya dari virus yang dikatakan Aoi. Kita tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jadi, kita harus mempercepat pencarian bahannya. Tak punya banyak waktu lagi, Ayo!" kata Artoria dengan tegas,


"Ya." jawab Anna.


(Jarang sekali melihat anak ini patuh dalam omonganku.).


Mereka lanjut berlari dan masuk ke tempat yang lebih dalam lagi dengan cepat.


Beberapa saat setelah itu, Artoria dan Anna sampai pada suatu ruangan yang gelap dan sunyi.


"Inikah yang terdalam dari goa ini?" tanya Anna,


"Ya mungkin.".


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruangan. Mereka tak tahu bahaya apa yang akan datang. Seketika, gempa terjadi. Anna dan Artoria masuk dalam mode waspada. Mereka melihat ke kiri dan kanan tetapi tak ada apa-apa dan mereka menurunkan tingkat kewaspadaannya.


Anna melakukan sesuatu. Artoria yang melihat Anna merasa penasaran dengan apa yang dilakukannya. Anna tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya ke atas dan di atas telapak tangannya yang menghadap lurus ke atas, ada bola cahaya yang menyinari ruangan gelap itu. Perlahan, bola itu semakin terang dan ruangan mulai terlihat dengan jelas.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan... Anna..?" tanya Artoria terkejut,


"Tidak ada. Aku hanya menggunakan sihir cahaya untuk menerangkan ruangan gelap ini." jawab Anna,


"Tak ku sangka kamu bisa menggunakan sihir cahaya. Kukira kau hanya bisa sihir pistol aneh itu dan waktu.".


Anna tersenyum dengan wajah kesal. Dia tersinggung dengan kata-kata yang dilontarkan Artoria.


"Aneh? Sihir pistol itu sihir cahaya kau tahu?",


"Benarkah? Berarti sihirmu dengan sihir Sei sama ya?".


Anna menghela nafas panjang. Dia meletakkan tangannya di pinggul dan menjelaskan perbedaannya.


"Kau tahu kah kalau sihir ku dan sihir Sei memang bisa dibilang mirip tetapi Sei mengeluarkan pedang sedangkan aku mengeluarkan anak panah, peluru dan semacamnya!",


"Benarkah? Tak bisa dipercaya...",


"Hah? Apanya...?",


"Tidak! Tidak ada! Kalau begitu ayo masuk!".


Anna masang wajah kesalnya dan kemudian mengehela nafas.


Artoria dan Anna melihat ke dalam ruangan. Mereka melihat telur-telur aneh dengan motif mirip api. Di antara telur-telur yang berjumlah 4 itu ada bunga mawar yang bergerak seperti terhembus angin. Bunga mawar itu memiliki kelopak berwarna merah dan mahkota bunga dengan 3 warna dengan urutan. Paling pawang berwarna oranye, tengah berwarna merah muda, dan paling atas berwarna kuning. 3 warna itu mengeluarkan sinar cahaya dengan warna sama seakan-akan mawar itu membakar dirinya sendiri.


"Itukah bunganya?" tanya Artoria,


"Ya. Habitat di tempat paling panas dalam planet ini dan dikelilingi telur-telur yang dipercaya itu telur naga yang menjaga gunung ini." jawab Anna,


"Kalau begitu, apa yang kita ambil?",


"Kita ambil bunganya.",


"Bagus. Kalau begitu aku akan pergi memetiknya." kata Artoria dan langsung pergi ke dekat bunga itu.


Dia berlari dengan cepat dan sekejap mata dia ada di depan bunga mawar itu. Dia bersiap memetiknya dengan cepat.


"JANGAN!" Teriak Anna.


Artoria terhenti dari pergerakannya. Dia melihat ke belakang, ke arah Anna.


"Kenapa?" tanya Artoria dari kejauhan,

__ADS_1


"Dampaknya!".


Artoria tak mengerti apa yang dimaksud oleh Anna. Diapun memutuskan untuk tak terburu-buru. Dia berjalan kembali ke tempat Anna dan menanyakan apa dampaknya.


"Apa yang kamu maksud?" tanya Artoria,


"Dampaknya kau bodoh. Aku sudah membaca gulungan ini sebelumnya. Gulungan kertas ini bilang kalau bunga yang ada disini merupakan bunga api terakhir. Karena ada satu di dunia ini, maka dampaknya saat kehilangan juga akan besar. Gunung ini tidak aktif selama lebih dari 2.000.000 tahun lamanya berkat bunga ini. Jika kita memetiknya, gunung ini akan aktif dan akan menyebabkan malapetaka bagi planet ini!" Jelas Anna,


"Terus bagaimana selanjutnya? Kita butuh bunganya atau kita akan mati!",


"Ada satu cara untuk menghindari malapetaka itu yaitu mencabut satu kelopaknya dan kita bisa memetik bunganya dengan mudah. Dengan begitu bunganya bisa hidup lagi, itu menurutku. Tetapi itu tak bisa dibuktikan. Jika kita bertindak gegabah, nyawa lah urusannya.",


"Bagaimana kalau putiknya atau bijinya atau apapun itu!",


"Ada satu. Setiap bunga mawar pasti memiliki biji tetapi cukup langka. Bijinya bisa kita dapatkan di alam semesta ini dengan 3 cara, yaitu dari putiknya, kelopaknya, dan akarnya. Cara paling mudah adalah akarnya.",


"Akarnya? Kenapa?",


"Karena presentase untuk bisa mendapatkannya lebih besar dibandingkan yang lain. Kita akan melakukannya dengan cepat.",


"Begitu. Kita cabut mawar nya dengan cepat dengan begitu ketika bertemu biji, langsung tanam ditempat yang sama. Begitu ya?",


"Ya. Begitulah. Dan yang bisa melakukannya hanya kamu!".


Artoria mulai percaya diri. Artoria berjalan dengan hati-hati mendekati mawar itu. Dia memegang batang tajam dan panas mawar itu dengan erat. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku rok panjangnya. Dia memutarkan benda itu dan langsung memotong batangnya. Dia tersenyum percaya diri.


"Misi selesai.." katanya dengan percaya diri,


"MISI SELESAI DENGKUL MU! KAMU TAK MELAKUKAN SEMUA PERKATAANKU!" Teriak Anna marah,


"Tenang saja. Lagian kamu bukan ahli mawar tetapi bilang teori sampah itu dengan sikap percaya diri.",


"Eh..? Ya.. Itu..." kata Anna lalu memalingkan wajahnya.


Artoria menghela nafas.


"Kalau bukan ahli jangan jadi sok ahli. Kamu sendiri bilang kan taruhannya nyawa. Atau semua itu hanya tipuan?",


"Yah... itu... ketahuan ya...".


Artoria berjalan mendekati Anna dan memukul kepalanya dengan keras.


"KALAU TARUHANNYA NYAWA JANGAN SOK AHLI KAMU!!!".

__ADS_1


__ADS_2