
Aku dan Tohka bersiap diposisi. Dan aku memulai serangan duluan kearah Mayane. Dia tahu akan hal itu dan menangkis serangan ku. Ada yang menangkis serangan ku tapi aku tidak tahu apa itu. Kami bertolak belakang. aku pun melanjutkan serangan ku secara terus menerus. Mayane meloncat kebelakang dan Tohka menyerangnya dengan melemparkan benda tajam seperti pisau kearah Mayane. Setelah itu ada semacam pelindung api yang muncul mungkin itu yang telah menangkis serangan ku tadi. Aku pun mulai berpindah dan menyerang lagi lebih cepat dan lebih cepat lagi. Saat pelindung itu keluar, dengan kedua tanganku yang memegang pedang Excusifer menyerang dari atas. Terjadilah adu kekuatan yang besar. Tetapi yang tak disangka muncul, dimana pedang Excusifer berhenti menyerang dan mulai menyerap aliran sihir yang ada pada pelindung itu."Apa--" kata Mayane. Aku memutarkan badanku dan mulai menyerang balik ke arah Mayane dan membuat luka parah di bagian dada sampai perutnya sama seperti yang aku lakukan pada penguasa disini. Pendarahan yang tak terhenti tetapi dia masih menyerang."Akan kugunakan semua sihir yang masih kumiliki!" Teriak Mayane
"Hiaaaaaaaaaghhh" Teriak Mayane saat mengumpulkan sihirnya disatu tempat dan bilang,"Meteor Apocalyps!!". Salah satu sihir pun terwujud. Menggunakan bahan dasar batu yang dibakar sehingga mirip dengan meteor. Itu datang kearah ku dengan cepat. Aku tidak yakin bisa menahannya dan Tohka tahu itu. Dia juga menggunakan sihirnya,"Aktifkan: Sihir perbindahan ruang!". Seketika cahaya muncul dan meteor itu pun dipindahkan jauh dari sini. Setelah itu, ada ledakan besar di belakangku yang ternyata itu meteornya. Tohka duduk karena kelelahan. Sepertinya sihir yang dia miliki kecil dan untuk menggunakan sihir tingkat tinggi membutuhkan energi yang besar pula."Kau sudah bekerja keras ya Tohka. Sisanya biar kuurus" kataku. Tohka pun tersenyum dan tertidur. Aku memindahkannya ke tempat aman dengan berteleportasi.
Aku melanjutkan pertempuran yang masih belum selesai. Aku melihat Mayane kelelahan dan hampir tak sanggup berdiri. Saat itu juga, ada yang keluar dari kamar. Dia menggunakan pakaian kusut dan ada borgol yang telah rusak di kedua tangannya. Umurnya mungkin lebih muda 1 sampai 2 tahun dari umurku."APA YANG KAU LAKUKAN ANAK BODOH?!" kata Mayane."Bodoh? pikirku."AKU SUDAH KATAKAN PADAMU JANGAN KEMARI!!" lanjut Mayane. Dan saat sadari kalau gadis ini memiliki nasib sama sepertiku."Hei apa yang kamu lakukan pada anak itu?" kataku.
"Oh tidak--" pikir Mayane yang menyadari kalau Nakano juga memiliki nasib yang sama dan membalikkan badannya. Saat Selesai membalikkan badannya, Mayane melihat mataku yang tajam ini mulai semakin memerah. Dan seketika mata itu bersinar di kegelapan dan tiba-tiba malam gelap pun hilang dan muncul malam dimana semua langit menjadi merah seperti mataku."Apa ini? Jangan-jangan ini Malam... Merah?" pikir Mayane yang melihat ke arah langit."Hei, jangan abaikan aku!" kataku. Aku berpindah ke hapadannya dan mencekiknya."Aku akan bertanya sekali lagi, apa yang telah kau lakukan pada gadis disana?" kataku
"Bagaimana jika aku bilang telah menyiksanya layaknya mainan." jawab Mayane. Aku mencekiknya lebih keras lagi dan melemparnya hingga ke dinding. Aku berpindah dan memenggal kepalanya dan bilang,"Kau tidak punya alasan lain untuk hidup.". Darah yang keluar mengalir dari leher tanpa kepala. Aku tidak hilang kendali. Aku hanya reflek membunuhnya karena aku tidak ingin melihat orang lain sama menderitanya denganku. Aku berjalan ke arah gadis itu. Gadis itu menunjukkan tatapan yang ketakutan. Aku berdiri dihadapannya, jongkok dan bertanya,"Siapa Namamu?"
"Murasame Sei..." Katanya
__ADS_1
"Oh... Kau baik-baik saja?"
"Y-Ya aku baik.."
"Oh, syukurlah kalau begitu.". Aku mengusap kepalanya dan dia pun berhenti menangis.
"Mau ikut denganku berkelana seluruh alam semesta?" tanyaku
"Asal aku bisa bersamamu itu saja cukup..." kata Sei dengan suara pelan
"Kau bilang sesuatu?" tanyaku
__ADS_1
"Tidak, bukan apa-apa." kata Sei sambil tersipu malu dan memalingkan wajahnya.
"Ngomong-ngomong, umurmu berapa?" tanyaku
"Umurku 16 tahun.. Kenapa?"
"Pantas saja itunya mulai membesar..." Pikirku
"Tidak, tidak apa-apa.." Jawabku.
Saat itu Malam Merah pun selesai dan terbit matahari dari Timur yang membuat pemandangan indah. Sei memegang telapak tanganku. Mungkin dia ketakutan karena mengingat apa yang telah Mayane lakukan padanya dan juga gembira diwaktu yang sama karena ada yang datang menyelamatkannya.
__ADS_1