
Kami telah mendapatkan semua bahan-bahan yang diperlukan, tetapi kami tak tahu harus apa.
"Apa yang akan dilakukan selanjutnya?" tanya Anna,
"Kita akan meracik obat dengan bahan-bahan yang kalian dapatkan." kata Aoi,
"Bagaimana caranya?",
"Mencampurkan semua bahan dengan air lalu aduk hingga warna airnya berubah.",
"Kalau begitu, kami harus ke daratan terlebih dahulu ya?" tanya Sei,
"Ya. Itu benar sekali.",
"Kalau begitu, Aoi kami akan ke daratan terlebih dahulu." kataku.
Aoi tersenyum kepadaku.
"Ya. Aku mengerti." kata Aoi.
Aku dan teman-temanku berteleportasi ke daratan, ke tempat 6 Senjata Segi Enam. Aoi melihat kami berteleportasi. Dia sendirian saat itu.
(Dia mirip denganmu ya... Asuha.).
Aku dan teman-temanku telah tiba di '6 Senjata Segi Enam'.
"Terus bagiamana selanjutnya?" tanya Tohka,
"Pertama, kita membutuhkan kuali panci tradisional." kataku,
"Darimana kita bisa mendapatkannya?" tanya Sei.
Semuanya terdiam, tak ada jawaban dari seorangpun dari kami. Setelah itu, Keiko mengusulkan idenya.
"Bagaimana kalau membuatnya dari tanah liat? Kita lagi di dalam air jadi cukup mudah untuk menemukan tanah liat disini." kata Keiko,
"Dalam air? Bukannya kita berada di daratan?" tanya Anna,
"Tidak. Sebenarnya kita ini berada di dalam bangunan yang sudah tenggelam. Tetapi berkat bantuan suatu sihir, airnya tak masuk dan lagi kita berada di kedalaman 1200 meter dari permukaan laut." Jelas Keiko,
"Begitu kah? Berarti kita tinggal ke tempat Aoi dan mengambil tanah liat yang ada di dalam air saja, bukan?" tanya Artoria,
"Ya. Itu benar." jawab Keiko,
"Tapi ini aku baru pertama kali dengar kalau tanah liat ada di dalam air." kata Anna,
"Ya. Tetapi tak mudah bertemu dengan tanah liat di dalam air, kita hanya bisa bergantung kepada keberuntungan. Ada jalan yang lebih mudah lagi yaitu pergi ke atas permukaan dan mencari pulau.",
"Kalau begitu, kenapa tidak?",
"Apakah kamu bisa, Nakano?" tanya Keiko dengan wajah cemas.
__ADS_1
"Aku bisa. asalkan ada pedang Excusifer di genggamanku, aku bisa kemana saja ketempat yang pernah aku datangi." kataku,
"Kalau begitu... mohon bantuannya." kata Keiko dengan nada cemas,
"Kenapa, Keiko?",
"Eh? apanya?",
"Kamu seperti mengkhawatirkan sesuatu.",
"Oh itu. Aku takut kamu akan kehabisan energi... jadi... karena itu... anu...",
"Oh begitu. Kamu mencemaskan ku ya?",
"....Ya...",
"Terimakasih tetapi tak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja." kataku,
"Ya..".
Aku dan teman-temanku berteleportasi ke pulau yang pernah aku dan Keiko kunjungi saat pertama kali datang ke alam semesta ini.
Saat kami sampai, kami berada di daratan dengan hutan yang tak begitu lebat dengan pohon-pohon aneh yang belum pernah kami lihat.
"Ini... dimana?" tanya Artoria,
"Ini adalah pulau yang aku dan Nakano jumpai saat kami masuk ke alam semesta ini." jawab Keiko,
"Begitu ya....".
Tohka mulai mengingat tujuan awal dia, aku, dan yang lainnya kesini. Dia melihat ke bawah kiri dan kanan. Dia menemukan tanah yang tercampur oleh air yang banyak. Dia berlari mendekati tanah itu. Teman-temanku dan aku melihat Tohka berlari dan berhenti. Dia menundukkan badannya dan jongkok.
"Ada apa, Tohka?" tanya Anna,
"Bukankah ini tanah liat?" tanya Tohka kembali.
Keiko berjalan mendekati. Dia menundukkan badannya dan melihat dengan seksama.
"Kau benar, Tohka. Tak salah lagi, ini tanah liat. kita cukup beruntung bisa mendapatkannya dengan mudah." kata Keiko,
"Kalau begitu...",
"Ya. Kita sudah bisa membuatnya. Tetapi kita perlu beberapa bahan lagi.",
"Bahan apa lagi?",
"Hanya beberapa bahan yang mudah ditemukan, kita perlu batang kayu yang di potong rapih berbentuk lingkaran.".
Artoria berlari ke arah pohon terdekat yang ada di samping kirinya. Dia menebangnya dengan pedangnya dan memotongnya sekali dengan bentuk yang diminta.
"Apa lagi?" tanya Artoria,
__ADS_1
"Tidak ada. Hanya itu." kata Keiko.
Keiko menggunakan suatu sihir yang bisa mengangkut batang yang dipotong Artoria. Dia juga mengangkat sebuah tumpukan tanah liat. Dia meletakkan tumpukan tanah liat di atas batang pohon itu. Setelah itu, batang pohonnya berputar-putar dengan cepat di udara.
Dia mengangkat tangannya dan menggerakkannya seolah dia sedang berkarya dengan tanah liat yang melayang itu. Dia menggerakkan tangannya itu dan tanah liat itu juga ikut berubah sesuai dengan arah bentuk tangannya terbentuk, berputar cepat di atas batang pohon yang di putar cepat itu.
Setelah beberapa menit, tanah liat itupun terbentuk menjadi kuali tradisional yang di inginkan. Keiko sempoyongan dan kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh. Kuali itu pun ikut terjatuh, tetapi berhasil di tangkap oleh Artoria dengan keadaan sempurna. Kuali nya aman.
"Keiko!" panggil Tohka.
Aku melihat itu dan berteleportasi cepat meraih badan Keiko. Keiko membuka matanya dan melihat ke arahku. Matanya seperti mengharapkan sesuatu dariku.
"Kau sudah berusaha keras, Keiko. Istirahatlah." kataku.
Dia tersenyum dan kemudian pingsan.
"Nakano... Apa Keiko baik-baik saja?" tanya Sei,
"Dia baik-baik saja. Dia hanya pingsan. Dia pasti kehabisan energi karena menggunakan sihir itu." Jawabku,
"Tapi sihir apa itu? tak pernah kulihat sihir semacam itu." tanya Anna,
"Mungkin sihir yang hanya dikuasai olehnya. Tetapi tak sepenuhnya terkendali, jadi menghabiskan banyak energi.",
"Begitu.. Keiko ternyata punya kemampuan semacam ini ya walaupun ditubuh anak-anak." kata Artoria,
"Jangan sampai Keiko mendengar hal itu." kata Anna.
Kami tertawa kecil disaat Keiko pingsan.
"Terus bagaimana selanjutnya, Nakano?" tanya Anna,
"Karena itu tanah liat, pasti membutuhkan waktu untuk kering. Sebaiknya kita istirahat disini saja terlebih dahulu, apalagi hari sudah mulai gelap dan Keiko tak bisa bangun dalam waktu singkat." kataku,
"Aku mengerti.",
"Yosh kita akan berkemah disini untuk sementara waktu. Tohka dan Sei pergi ambil kayu bakar. Sedangkan aku dan Anna akan mencari goa sekaligus tempat yang bagus untuk kuali ini cepat kering. Nakano, kau angkatlah pohon yang telah ku tebang itu. Sayang jika hanya dibiarkan saja." perintah Artoria,
"Mengerti!",
"Mengerti!",
"Mengerti!",
"Mengerti!" jawab kami semua.
Kamipun menjalankan tugas-tugas kami yang diberikan masing-masing.
----
**Assalamu'alaikum,
__ADS_1
Yo, Pembaca sekalian! Maaf kemarin gak update bab baru dan bab ini juga agak membosankan. Saya tak mendapatkan ide baru buat novel ini tetapi bab selanjutnya ada banyak kejutan... mungkin... jadi itu saja, saya minta maaf sekali lagi! Semoga dimaafkan ya.
Wassalamu'alaikum wr.wb**.