
"NAKANO!!" Teriak teman-temanku. Mereka mencoba melepaskan diri untuk pergi ke tempatku berbaring.
"Lepaskan kami!" kata Artoria dengan tegas. Triton melihat ke arah mereka. Dia kemudian melihat ke arah Wynox dan menganggukkan kepalanya.
Wynox kemudian berjalan ke arah teman-temanku berada dan memotong tali yang mengikat mereka. Dengan cepat, teman-temanku berlari ke arahku.
"Nakano! NAKANO!" Teriak mereka memanggil namaku dengan keras.
*Hisk Hisk* Sei menangis, Tohka menahan tangisnya, dan Artoria memasang muka penuh rasa bersalah. Sedangkan, Anna sendiri yang tak menangis. Dia diam tak bergerak maupun berbicara. Anna kemudian berjalan ke hadapan Triton. Wynox melihat kearah Anna.
Anna menundukkan kepalanya, matanya ditutupi oleh rambut putihnya.
"Anna?" Gumam Sei.
Anna meletakkan tangannya di depan dadanya. Dia melingkari cengkraman tangannya seolah-olah memegang bola bisbol. Seketika, tangan Anna yang membentuk bola itu, membuat bola putih dengan bola-bola kecil hitam didalamnya.
Dengan cepat, Anna mengarahkan tangannya ke Nakano Wynox. Seketika bola putih itu menjadi pistol putih, sama persis seperti milik Kurumi. Wynox terkejut akan hal itu dan bertanya kepada Anna.
"Kenapa? Kenapa kamu memihak kepadanya?" tanya Wynox,
"Itu sudah jelas bukan, kalau aku mencintainya!" Jawab Anna dengan tegas,
"Mencintainya? Ini aku loh, ini aku! Kau kenal aku?",
"Ya.. dengan sangat jelas.",
"Jadi, kenapa kamu memihak kepadanya?",
"Dia adalah orang yang aku sayangi!",
"Kenapa? Bukankah dia telah menyakitimu? Bukankah dia telah menyiksamu?",
"Menyiksa? Menyakiti? Bagiku, yang menyakitiku adalah... Kau!",
"..." —Tak ada respon dari Wynox. Dia menundukkan kepalanya dan bertanya sekali lagi.
"Kenapa? Bukannya kamu telah disiksa olehnya?",
"Disiksa? Dia telah memberikanku kebahagiaan! Dia telah menghilangkan depresi ku saat aku kehilanganmu! DAN KAU SEBUT ITU DISIKSA?!",
"Apa ini?".
Wynox membalikkan badannya dan bertanya kepada Triton.
__ADS_1
"APA INI, TRITON?",
"Apa? apakah aku belum memberi tahumu... kalau informasi tentang istrimu disiksa oleh reinkarnasimu itu hanya kebohongan?",
"Apa?... Kau bilang istriku tersiksa oleh orang itu!",
"Itu hanyalah kebohongan. Pada akhirnya kamu hanyalah bonekaku!",
"Itu artinya...",
"Ya... kamu membunuh orang yang tak bersalah. Kamu mengingkari sumpah milikmu sendiri.".
Wynox terdiam. Dia melakukan sebuah kesalahan. Padahal dia sendiri yang bersumpah pada dirinya untuk tak membunuh orang tak bersalah lagi setelah sampai 150 Juta jiwa. Dia merasa sangat bersalah. Mungkin kesalahan terbesarnya seumur hidup, apalagi... aku adalah reinkarnasinya sendiri. Keadaan disana sangat kacau.
Di tempatku berada. Aku merasa seperti tenggelam... Dingin... dan hampa... Aku tak bisa bernafas. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, yang ada hanyalah kegelapan. Aku berada entah dimana... Di Al bawah sadarku? Tidak, lebih jauh dari itu. Aku mungkin sudah mati. Tiba-tiba ada sesuatu yang tajam di tempat aku tertidur. Benda itu tajam dan dingin.
Aku membuka mataku. Aku melihat ke sekeliling aku tak tahu dimana ini. Aku bangkit dari tidurku dan duduk. Aku melihat ke bawah. Benda itu adalah pedangku sendiri, Excusifer. Aku berbaring di atas bilah pedangnya.
Aku melihat ke depan. Ada seorang wanita yang berdiri di depanku. Aku tak tahu siapa dia. Wanita itu berpakaian layaknya seorang kesatria, hampir mirip dengan pakaian Artoria. Wanita itu berada di bayang-bayang yang ada di gagang pedang.
"Kau sudah sadar ya? bagaimana keadaan tubuhmu?" tanyanya,
"Aku baik-baik saja." jawabku,
"Begitu ya. Kau mungkin kebingungan. Ini adalah dunia Excusifer.",
"Ya... atau lebih tepatnya duniaku. Karena hanya aku yang menggunakan pedang Excusifer dan kamu adalah orang kedua.",
"Aku kurang mengerti.",
"Singkatnya... aku adalah ibumu, ibu kandungmu.".
Aku terdiam karena kata-kata yang dia ucapkan barusan. Aku pun bertanya kepadanya.
"Namamu?",
"Heh?" —Gumamnya,
"Siapa namamu?,
"Namaku adalah Miyaniku Asuha. Lihat dari nama keluarga kita sudah tahukan... Manabe?".
Setelah kata-kata yang dia ucapkan, kepalaku terasa sakit. Dan aku mengingat semua saat aku kecil. Dia benar-benar ibuku.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyanya,
"Tidak, tidak apa-apa." jawabku,
"Ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu..." kataku,
"Oh? apa saja? tanyakan saja!",
"Kalau begitu.... Kenapa aku bisa ada disini?",
"Itu ya... entahlah... ini pertama kalinya terjadi.",
"Begitu ya... kalau begitu... Kenapa aku tak mirip denganmu?",
"Apa maksudmu?",
"Lihat... rambutku hitam kemerahan dan mataku juga merah terang. Mengapa kamu begitu berbeda denganmu? Kamu memiliki rambut biru tua dan mata biru tua.",
"Itu ya... Saat kamu lahir, kamu memiliki rambut dan warna mata yang paling mirip dengan ibu. Tetapi... saat kamu berumur 3 tahun, rambut itu berubah warna dan begitu juga dengan warna matamu. Aku tak tahu kenapa.",
"Begitu ya. Kalau begitu pertanyaan terakhir.",
"Apa? Coba sebutkan.",
"Bagaimana aku bisa keluar dari sini?".
Ibuku terdiam sejenak. Dia melangkah ke arahku dan memelukku sebentar. Dia melepaskan ku dari pelukannya.
"Kamu ingin pergi lagi ya.... padahal ibu ingin kamu berada disini lebih lama lagi..." kata ibu kandungku. Dia meneteskan air matanya. Aku merasa bersalah, aku seharusnya tak menanyakan akan hal itu.
"Maaf. Aku tak mau membuatmu menangis.",
"Tidak apa-apa kok... selama pedang ini ada di tanganmu. Aku sudah bahagia. Aku seperti sedang memelukmu.",
"Ibu...". Kami pun berpelukan dengan erat walaupun hanya sekejap.
"Ayo pergi sekarang! Ada yang menunggumu!". Seketika penglihatanku memutih seperti sebuah cahaya menyinari mataku dengan terangnya, aku menutup mataku.
Di tempat pertarungan. Teman-temanku sedang bertarung dengan Nakano Wynox. Pedangku tiba-tiba menyala berwarna biru tua dengan terangnya di tengah-tengah pertarungan mereka. Mereka terhenti dari pertarungannya dan melihat ke arah pedangku, Excusifer. Pedang itu memiringkan badannya dan menaruhnya di tengah badanku. Badanku juga ikut bersinar berwarna biru tua.
Seketika, rambutku menjadi warna biru tua dan warna mataku juga sama. Setelah beberapa saat, pedangku dan tubuhku berhenti bersinar. Dengan cepat, aku membuka mataku dan berdiri.
Teman-temanku terkejut dan menangis, mereka telah menungguku. Ini waktunya untuk mengalahkan diriku sendiri. Pedang ini... pertarungan ini... dan kemenangan yang ada di depan mataku.... adalah harapannya! Harapan dari Ibu kandungku, Miyaniku Asuha!
__ADS_1
Aku mengambil posisi siap menyerang. Aku pun berteriak kepada Wynox yang melihatku bangkit kembali.
"Majulah! Kerahkan seluruh kemampuanmu! WYNOX!".