
Aku mendorong tubuhku ke arah ibuku dan menyerangnya, dia menahannya dengan pedangnya.. Excusifer! tapi lebih besar dan gagah... Setelah ditahan, aku mundur ke belakang.
"Apakah.. itu Excusifer?" tanyaku,
"Ya. Itu benar. Bentuknya berubah setiap kamu membuka setiap potensinya dan milikmu.. kamu baru membukanya sekitar 2 dari seluruh potensinya.".
2? Kurasa aku baru satu saja yang kubuka..
"Apa saja yang baru aku buka? Bisakah kamu memberitahuku?",
"Sayang sekali. Dalam pertarungan seharusnya tak boleh mengobrol tetapi jika itu anakku maka tak apa-apa. Tapi sayangnya.. aku tak bisa memberitahumu tentang hal itu, kamu harus mengetahuinya sendiri.".
Ibuku maju dan menyerangku sambil mengobrol denganku.
"Jadi bagaimana kabar Artoria? Dia hamil dan sudah melahirkan anak bukan?" tanyanya sambil bertarung,
"Yah, dia baik-baik saja. Bagaimana ibu bisa tahu?" tanyaku sambil menahan serangannya.
Aku lalu menyerangnya selagi dia masih dekat, aku tak ingin terburu-buru karena lawannya adalah ibuku yang mana orang yang membuka lebih banyak potensi pedang ini dari pada aku.
"Haha.. ibu melihatnya dari pedangmu. Kamu selalu membawa pedang itu kemana-mana.",
"Tunggu.. "Melihat dari pedang"..? Jangan-jangan ibu melihat...",
"Ya.. aku melihatnya saat kamu melakukan hubungan dengan Artoria dari awal sampai akhir. Kau tahu aku sangat merasakan malunya dan merasa sedikit terangsang. Aku mencoba menghindarinya tapi rasa penasaranku mengambil alih dan akhirnya.. yah kau tahu lah..".
Aku meloncat ke belakang dan menunjukkan wajah malu yang tak pasti. Ibuku menarik pedangnya dan mendorong tubuhnya sambil bilang,
"Ibu akan serius mulai sekarang! Sebaiknya kamu berhati-hati!",
"... Aku siap kapanpun ibu menyerang!".
Tapi itu salah.. hal yang baru saja aku ucapkan itu.. menjadi mimpi buruk.
Ibuku berteleportasi ke atasku mencondongkan pedangnya ke atas dan mengayunkannya ke bawah. Terlalu cepat! Tapi aku menggerakkan tanganku dan pedangku dengan cepat jadi aku bisa selamat.
Aku terdorong mundur beberapa meter ke belakang. Aku baru saja ingin menarik nafas tetapi ibuku mulai menyerang lagi tapi kali ini ada api keluar dari pedangnya. Aku memperkuat pedangku dan menahan serangannya. Tetapi ibuku tetap menyerang dan akhirnya ada serangan seimbang tapi cepat antara api dan cahaya.
__ADS_1
Aku melihat pedang ibuku.. yang merubah elemennya! Ada listrik di sekitar bilangnya menyambar.. Elemen Listrik! Listrik Hitam! Gawat! Aku harus menghindar!
Aku meloncat ke belakang demi menghindari serangan itu. Ibu tentu saja meleset dan menyebabkan sambaran petir hebat di tempat tadi aku berdiri. Aku menutup mataku menghindari kerikil.
Debu pun berterbangan dan saat aku membuka mata, ada petir hitam mengarah ke arahku. Aku menahannya dengan bilah pedangku. Petir itu mengalir ke tanganku dan menyebabkan sengatan hebat membuatku melepaskan pedangku.
"Ayo Nakano! Keluarkan potensimu yang sebenarnya! Kamu memiliki.. Memiliki potensi yang tak aku miliki!".
Potensi kedua? Potensi apa?!
Aku berdiri dan meng-teportasikan pedangku ke genggamanku. Aku terengah-engah karena terkejut tadi. Baiklah, aku akan serius.
Aku memegang erat pedangku dan berteleportasi ke atasnya. Dia tak terkejut melainkan tenang seperti dia tahu aku akan melakukan ini. Aku menyerangnya dari atas dan ditahan olehnya. Dia terdorong sedikit jauh dan aku mendorong diriku langsung ke dekatnya. Aku mengayunkan pedangku dan menyerangnya bertubi-tubi dengan cepat. Ibuku mulai sedikit terpojok tetapi dia berteleportasi mundur ke belakang.
"Bagus Na—".
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, aku berteleportasi ke belakangnya dan langsung mengayunkan pedangnya. Ibuku mulai kesal.
Dia membalik dengan cepat dan menahannya.
Alhasil ada angin topan hitam disana membawaku berkeliling sekali dan melemparkanku sampai ke ujung dinding. Oh iya aku lupa hilang kalau luas satu lantai itu 1,5 km dan memiliki dinding yang berkekuatan cukup tinggi jika diperkirakan ketebalannya mencapai.. 250 meter... jadi ibuku melemparkan aku sekitar.. 700 meter?! Sial.. aku membuat ibuku marah...
"Ugh...".
Aku membuka mataku, aku tak melihat apapun tentu saja karena.. yang sudah ada di depanku adalah ibuku sendiri. Sial aku akan mati... Tidak.. Tidak.. Tidak! Aku belum mau mati! Ada hal yang harus kuselesaikan di atas sana!!
Aku berteriak dan ibuku tiba-tiba mundur ke belakang. Rambutku.. berubah menjadi ungu lagi! Inikan... Sosok Manabe?! Bagus!
"Manabe..." katanya berhenti.
Dia menggelengkan kepalanya dan kembali menyerangku dengan tatapan terpaksa. Dan lagi.. cara menyerangnya mulai berubah dari yang tadi, entah kenapa.. dia menjadi lebih lembek kepadaku dan itu membuatku jengkel.
"Jangan menahan dirimu Ibu! Kerahkan seluruh kekuatanmu! Serang aku!",
"Tidak..! Aku tidak bisa..!",
"...",
__ADS_1
"Kau adalah anakku, dan melihatmu tumbuh besar adalah.. salah satu impianku! Aku tak bisa menghancurkan momen seperti ini!",
"JIKA KAU TAK BISA, KAU BUKANLAH IBUKU!!",
"... Eh? Apa maksudmu..?",
"Aku memiliki seorang ibu pemberani, petarung tangguh, dan juga penyayang. Tetapi aku tidak ingat memiliki seorang ibu yang terlalu lembek kepada anaknya dan aku benci hal itu! Aku ingin menjadi lebih kuat karena itulah ibu harusnya mendukung disana bukan meratapi nasib! KEBAHAGIAAN SEORANG IBU YANG SESUNGGUHNYA ADALAH MELIHAT ANAKNYA MENJADI SESUATU YANG BESAR MELEBIHI IBUNYA BAYANGKAN!!!!",
".... Kau...!".
Ibu maju ke depanku dan menyerangku tentu saja aku menahannya. Dan saat aku menahannya, aku melihat ibu tersenyum bahagia disana. Pertarungannya baru dimulai.. sekarang!
Dengan sosok ini.. aku bisa menyaingi ibu.. karena ini adalah.. potensi yang dia maksud!
Pedangku berubah bentuk menjadi lebih bercahaya pada bagian ungu di pedangnya.
Aku dan ibuku saling menyerang satu sama lain, tak ada hal spesial dalam perang ini.. hanya ada ikatan antara seorang anak dan ibu yang bisa dibilang.. spesial. Lebih tepatnya authornya aja yang gak punya ide selanjutnya untuk pertarungannya karena kemampuan atau status dalam pertarungan ini masing-masing hampir sama hanya berbeda pengalaman bertarung dan potensi pedang yang terbuka.
...----------------...
Setelah beberapa jam kami bertarung, akhirnya aku bisa mengalahkannya. Yah.. aku mendapatkan pengalaman bertarung lebih lagi tetapi aku masih kesusahan disini. Tapi aku akhirnya bisa mengalahkannya dengan potensi baruku! Yaitu potensi enchant! Yap, aku bisa membuat api hitam! Tetapi hanya itu saja yang bisa aku buat.
Ibu terkejut saat melihat hal itu.
"Kerja bagus Nakano. Sepertinya juga kamu telah mengalahkan ku ya?" kata ibuku memudar seperti cahaya,
"Ibu?!",
"Tenang saja. Tugas ibu sudah selesai disini, ibu menunggumu di alam pedang ya!".
Ibuku berteleportasi ke depanku, memelukku dan mencium keningku.
"Ini adalah kasih sayangku, jangan sampai putus asa! Demi dirimu dan juga orang-orang yang kamu sayangi!",
"Ya! Aku mengerti!".
Ibuku langsung menghilang meninggalkan pedangnya yang jatuh ke lantai. Pedang itu juga mulai menghilang dengan seperti terbakar oleh api. Dengan begini.. lantai satu diatasi dengan mudah. Kurasa.. pertarungannya akan semakin sulit... dan.. menarik!!
__ADS_1