
Aku berbalik dan berjalan ke arah sebaliknya dari kamarku sambil memegang buku, buku harian Sumiko. Aku berjalan lurus dan aku melihat belokan dan aku pun berbelok. Secara tak sengaja aku bertemu dengan bibi Yo, beruntung.
"Ah, Nakano... Kamu mengagetkanku." kata Bibi Yo,
"Maaf. Aku ingin ke kamar Sumiko, apakah bibi tahu dimana?",
"Wah... Apa kamu ingin melakukannya dengan Sumiko? Kamu masih belum cukup umur loh~",
"Hentikan itu. Aku tak bermaksud yang lain-lain.".
Aku menghela nafas dan menjelaskan situasinya dengan singkat.
"Sumiko tadi menjatuhkan buku ini." kataku sambil menunjukkan bukunya,
"Hmm...." gumam Bibi Yo,
"Karena itulah aku ingin ke kamarnya, aku ingin mengembalikannya. Apakah aku boleh tahu dimana kamarnya?",
"Begitu ya...".
Bibi Yo menunjukkan arahnya, mengulurkan jari telunjuknya ke belokan.
"Lurus terus dan apakah kamu melihat belokan disana? Belok ke jalan itu dan nanti kamu akan bertemu tangga, naik satu lantai dan belok kanan. Jalan terus dan kamu akan menemukan sebuah pintu yang cukup besar di ujungnya. Kamu mengerti?",
"Ya. Aku mengerti.",
"Kalau begitu baguslah. Dah.." kata bibi Yo sambil melambaikan tangannya sekali.
Dia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Aku melihat ke depan dan melihat belokan dari sana. Itu adalah belokan yang dimaksud oleh bibi Yo barusan.
Aku berjalan sesuai dengan petunjuk dari bibi Yo. Saat aku sampai di lantai di atas, aku melihat sebuah pintu yang cukup besar dihiasi dengan kaca-kaca cantik gemerlap di sampingnya. Aku berhenti di depan pintu dan mengetuknya sebanyak tiga kali. Ada jawaban dari dalam.
"Ya...".
Pintunya pun terbuka oleh Sumiko dari dalam.
"Siapa?—".
Dia melihatku dan menundukkan kepalanya.
"Oh kamu ya.".
Dia masuk ke dalam dan menutup pintunya lagi.
"Tunggu! Kamu tadi kejatuhan sesuatu!" kataku.
Pintu itu terbuka lagi dan aku melihat Sumiko mengintip dari celah pintu.
"Apa?" tanyanya.
Aku mengeluarkan buku hariannya dan menunjukkan kepadanya sambil menyerahkannya.
"Ini." kataku.
Dia melihat ke arah buku dan langsung mengambilnya dari tanganku dengan cepat. Aku menurunkan tanganku dan berjalan pulang ke kamarku disini. Tetapi sesaat sebelum aku melangkah, Sumiko berbicara dari dalam kamar.
__ADS_1
"Terimakasih..." katanya.
Aku terhenti dan langsung tersenyum. Aku berjalan lagi dan lagi Sumiko berbicara kepadaku. Dia membuka pintu, menunjukkan dirinya dan mengehentikan ku.
"TUNGGU!!!!".
Aku terhenti dan berbalik melihat ke arahnya.
"Kamu.... KAMU MEMBACA BUKU INI YA?!!" tanyanya sambil berteriak.
Bagaimana dia bisa tahu?
"Tidak. Aku tidak membacanya." jawabku berbohong,
"Bohong! Aku tahu persis kamu membacanya! Kalung yang aku simpan dibuku ini, berpindah tempat!",
"Ah. Itu tadi jatuh. Aku langsung masukkan lagi.",
"Oh begitu kah?!".
Dia menunjukkan sebuah halaman di dalam buku itu. Jarinya menunjuk ke bagian samping halaman.
"Ini... Sidik jarimu bukan?!",
"Sidik jari? Aku tak melihat apapun disana.",
"Kamu mungkin tak melihatnya, tetapi aku bisa dengan jelas melihatnya! Buku ini tak tersentuh siapapun selama 8 tahun! Aku tahu persis kapan buku ini dibaca atau tidak! Walaupun kamu tak mengakuinya, tetapi aku tetap akan menuduh mu sampai kamu jujur!".
Wohaah... Tak ku sangka orang ini sangat detil. Aku kalah ya, sepertinya aku harus mengakuinya.
"Baiklah aku mengaku. Aku membaca isi buku mu!",
"Tenang saja. Aku takkan bilang kepada siapapun apa yang kamu tulis disitu.".
Sumiko menggertak kan giginya, merasa kesal. Dia berjalan kepadaku dengan tegas dan cepat. Dia menarik bajuku dan membawaku ke dalam kamarnya. Dia kemudian mengunci kamarnya.
"Bukan itu MASALAHNYA!" katanya,
"Hah? Terus apa?",
"Kamu telah mengetahui rahasia yang mana orang tuaku saja tidak tahu! Kamu harusnya malu!",
"....",
"Aku memang sangat ingin kamu menjaga rahasianya tetapi apakah kamu pikir hal itu akan selesai begitu saja?!",
"Terus apa mau mu?",
"Kamu harus terus berada dibawah pengawasanku!",
".... Yang artinya....",
"Ka...mu...tak...boleh....ke...mana...pun..tanpa...izin DARIKU!",
"Eh?",
__ADS_1
"...",
"Tu-- Kamu bercanda bukan..?",
"Kenapa aku harus bercanda soal ini?!".
Aku... tak boleh kemanapun tanpa seizin darinya?! Peraturan macam apa itu?! Apa dia menganggap ku seperti anjingnya?!
"APA-APAAN ITU?!" teriakku,
"Begitulah!",
"KAMU BERCANDA BUKAN?! AKU INI BUKAN ANJINGMU!",
"Kalau begitu mau bagaimana? Mau kamu mengabulkan semua keinginanku? Kau tahu aku memiliki keinginan yang tiada batasnya dari tingkat normal sampai sangat sangat sangat sangat mustahil.".
Dia menyebut "sangat" sampai 4 kali, berarti itu pasti diluar batas semua iblis, dewa, manusia, dan bahkan monster. Sepertinya tak ada pilihan lain, dibandingkan mengabulkan seluruh keinginannya aku lebih memilih yang lainnya. Tapi aku penasaran, apa yang membuatnya bilang "sangat" sampai 4 kali?
"Kenapa kamu bilang seperti itu?" tanyaku secara langsung,
"Itu....".
Sesaat saat dia memikirkan sesuatu, wajahnya langsung menjadi sedih. Tetapi dia langsung melontarkan kata-kata yang membuat suasana sedih itu menghilang begitu saja.
"Rahasia! Setiap perempuan itu pasti memiliki rahasia tersendiri bodoh. Mulai dari memalukan sampai dengan yang lainnya. Kamu tak bisa memaksa perempuan membicarakan rahasianya.",
"Jarang sekali ya, kamu berbicara seperti ini setelah apa yang kamu lakukan 2 hari yang lalu." kataku,
"Di-Diamlah!",
"Baiklah baiklah.".
Aku berdiri setelah dilempar oleh Sumiko.
"Kemana kamu mau pergi?" tanyanya,
"Ke kamarku tentu saja." jawabku.
Aku berjalan melewati Sumiko dan berbisik tepat saat bersebelahan dengannya.
"Aku turut berdukacita atas apa yang terjadi kepada temanmu." kataku.
Sumiko terkejut dan dia langsung mencoba menghentikan ku.
"Tu--".
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, dia berbalik badan dan melihat aku menghilang. Aku berteleportasi ke kamarku.
(Dasar bodoh! Aku kan belum minta maaf kepadamu! Dan terimakasih... Akhirnya... aku punya teman lagi. Aku kesepian... karena temanku satu-satunya telah tiada dan sampai sekarang buku harian ku adalah temanku. Setidaknya... sebelum kamu menghilang lagi... biarkan... aku berterimakasih dan minta maaf kepadamu dasar bodoh! Dan... ini pertama kalinya... ada orang yang turut berdukacita atas apa yang terjadi kepada temanku... terimakasih! dan... maaf atas yang aku lakukan kepadamu 2 hari yang lalu, Nakano...).
Sumiko berjalan di kamarnya menuju ke ranjang. Dia berbaring diatasnya sambil memeluk buku hariannya. Dia berguling-guling di atas ranjangnya ke sana kemari. Kemudian secara tak sengaja, dia jatuh dari ranjangnya sambil... tersenyum bahagia. Dia melihat ke arah cermin melihat dirinya tersenyum.
(Aku... tersenyum..? Setelah 8 tahun... akhirnya... aku bisa tersenyum lagi! Waaaa! aku sangat senang!)
Dia pergi ke meja yang ada di belakangnya dan duduk di kursi dekatnya. Dia menulis catatan harian baru disana. Di atas halaman itu, dengan bulu dengan ujungnya yang bertinta, dia menulis ini:
__ADS_1
*14 Januari 142 Tahun Matahari,
Hari ini.. aku belajar lagi tetapi ada insiden kecil membahagiakan hari ini! Hari ini, aku mendapatkan teman baru! Walaupun hubungan kami tak berjalan baik, tetapi aku sangat senang! Mungkin hubungan kami takkan bertahan lama... tetapi jika dapat menikmatinya maka aku akan menikmatinya. Hey Temanku yang lama, apakah kamu bahagia aku mendapatkan teman baru? Kami... tak bisa disebut teman mungkin, tetapi aku akhirnya berhubungan dengan orang lain. Andaikan kamu ada disini, aku akan sangat senang dan tak menyesal dalam kehidupanku. Aku masih memegang teguh sumpahku loh! Yang mana Aku akan mengalahkan GsK demi membalas dendam temanku*.