
Saat ini, aku sedang berjalan-jalan berniat mencari angin. Itulah niatku tapi... dilihat dari yang aku lakukan sekarang... Aku seperti sedang kencan! Di sampingku ada seorang putri penuh misteri... mungkin, tengah berjalan-jalan bersamaku. Kenapa malah ini yang terjadi ya?
Sumiko melihat ke sana kemari dengan penyamarannya. Itu... jadi begini ceritanya....
10 menit yang lalu.... Aku berteleportasi ke kamar. Aku langsung berbaring di atas ranjang dan menghela nafas panjang. Aku tak tahu harus berbuat apa hari ini. Aku bosan.... dan jika aku ingin keluar, aku perlu minta izin ke Sumiko terlebih dahulu dan itu sangat menjengkelkan! Aku menghela nafas lagi dan berpikir kalau itu adalah pertama kalinya aku merasa jengkel. Aku merasa kalau diriku sedikit demi sedikit berubah.
Aku bangkit dan menghela nafas pendek. Aku berteleportasi ke kamar Sumiko tanpa pikir panjang. Aku menutup mataku dengan nada lesu bilang:
"Sumiko, aku minta izin untuk keluar kerajaan." kataku.
Aku membuka mataku dan melihat Sumiko sedang ganti baju di depanku. Dengan wajahnya yang merona, dia berteriak sambil meninju wajahku dengan keras.
"MESUUUUMM!" Teriaknya.
Setelah itu, aku duduk di atas lantai dengan pipiku yang memerah karena dipukul oleh Sumiko. Dihadapan ku sekarang ada Sumiko yang sedang marah. Dia menatapku dengan sinis dan berdiri di hadapanku mengenakan kimono pink polos. Aku menundukkan kepalaku, Sumiko yang melihatku langsung bilang:
"Lihat ke arahku!" katanya.
Aku langsung menuruti perintahnya dengan ragu. Jarinya yang bergerak keatas kebawah di ujung tangan yang menyilang menandakan kalau dia sedang marah besar kepadaku.
"Kau... ini ya! Kalau kamu mau datang ke kamar wanita harusnya datang lewat pintu depan!" katanya,
"M-maaf...".
Dia menghela nafas pendek dan langsung ke intinya.
"Ya sudah lupakan. Jika kamu melakukan hal yang sama, aku takkan pernah memaafkan mu!",
"M-maaf..",
"Ya sudahlah. Jadi, apa yang membuatmu datang kesini?",
"Aku ingin meminta izin untuk keluar kerajaan.",
"Hoh... Untuk apa?",
"Untuk mencari angin..".
Gawat! Dia meragukan ku! Kalau begini pasti tak akan mendapatkan izin darinya.
"Tak aku izinkan!" katanya dengan tegas.
Pasti ya...
Aku menghela nafas panjang sambil menutup mata berniat untuk pergi ke kamarku.
"Kalau begitu, aku akan tetap dikamar ku saja." kataku,
"Ji-jika kamu ingin keluar... ada syaratnya.." kata Sumiko dengan nada malu.
Aku melihat ke arahnya, wajahnya merona. Aku merasakan firasat buruk.
"J-jika kamu ingin keluar... Ajak aku keluar juga!" katanya sambil menutupi rasa malu,
"Eh?",
"Ajak aku keluar juga!".
EEEEEHHHHHHHH?!!?!
"T-tetapi kamu itu tuan putri loh... Kamu akan membuat perhatian besar jika kamu pergi!" kataku,
"A-aku akan menyamar!",
"Menyamar? Bagaimana caranya?!".
Begitulah ceritanya. Kini dia menyamar menjadi penduduk tingkat rendah dengan mengenakan gaun yang biasanya dipakai orang-orang disekitar kami. Bahkan aku telah melihatnya sebanyak 23 kali hati ini. Bajunya sangat sederhana, gaun yang terpusat dari kulit berwarna coklat cerah dengan baju yang menutupi leher dan lengan berwarna putih polos dan lagi mudah ditemui di manapun.
Tapi tak aku sangka Sumiko sampai berbuat seperti ini. Apa niatnya?
"Nakano!" panggilnya tetapi aku tak mendengarnya,
"Oi Nakano!",
"Ah... Apa?" jawabku,
"Aku ingin makan itu!" kata Sumiko sambil menunjuk ke sebuah kedai makanan di samping jalan.
Dia menarik lenganku dan membawaku ke kedai itu. Aku mendengar dia bilang beli 2 saat aku berpikir keras tentang kenapa Sumiko sangat bersikeras untuk keluar istana, tetapi aku mengabaikannya.
Aku masih berpikir keras tentang itu sampai Sumiko menyerahkan sesuatu kepada pedagang itu.
"Ini!" katanya sambil menyerahkan pisang yang sudah digoreng setengah matang yang dilapisi oleh coklat diatasnya.
Aku mengambil itu dari Sumiko dengan santai. Ah... sudahlah... aku terlalu banyak berpikir. Kenapa aku tak menikmati saja?
__ADS_1
Aku berjalan-jalan dengan Sumiko dan bersenang-senang. Aku cukup lucu melihat reaksinya melihat sesuatu seperti itu pertama kalinya dia melihat itu semua.
Saat aku berjalan dengan Sumiko yang sedang memakan sebuah roti bulat dengan isi coklat, aku bertanya kepadanya tentang kekuatan gerigi tanpa pikir panjang dan melihat situasi.
"Hei Sumiko, untuk mendapatkan kekuatan gerigi itu bagaimana caranya?" kataku sambil berjalan.
Sumiko terhenti.
"Apa kamu mau memperebutkannya..?",
"Hmm? Apa maksudmu?",
"Apakah... Kamu menginginkannya?!" katanya dengan tegas.
Saat itu aku tak tahu apapun.
"Apa maksudmu?",
"Sudah kuduga... KAMU SAMA SAJA SEPERTI MEREKA!",
"Oi, Apa maksudmu?",
"BERISIK! KAMU MAU KEKUATAN INI KAN?! Kalau begitu... KAMU TAKKAN PERNAH MENDAPATKANNYA!!" katanya.
Beberapa gerigi terbuat disekitarnya, dia loncat ke gerigi itu dan terbang pulang ke istana. Saat itu aku tak membaca situasinya, tak tahu apapun yang terjadi. Apa yang terjadi?
"WOI!" teriakku.
Apa sih yang dia maksud?!
Ditengah perjalanannya, dia meneteskan air mata.
(NAKANO BODOH! Padahal... aku baru saja berpikir kalau aku menemukan sesuatu yang lain yang berharga bagiku! Padahal... aku sudah mulai mempercayaimu! Padahal aku... ingin terbuka kepadamu, kenapa kamu menginginkan kekuatan ini juga?! Sudah cukup! Aku sudah muak dengan hidupku! Aku... ingin mati!)
Aku melihat ke atas langit berpikir, apa yang telah aku perbuat? Apakah aku menanyakan sesuatu yang salah? Tunggu! Ini bukan waktunya berputus asa!
Aku berteleportasi ke depan kamar Sumiko. Aku langsung membuka pintunya dengan cepat dan melihat Sumiko memegang sebuah pisau lancip yang mengarah ke tepat di jantungnya.
"Tunggu dulu! Apa yang kamu ingin lakukan?!" tanyaku dengan tegas,
"Sudah cukup! Jangan menghentikan ku lagi!",
"....".
Dia menangis dengan kedua tangan yang gemetaran sambil memegang pisau yang di condongkan ke jantungnya.
"...",
"Selamat tinggal Nakano...".
Aku terkejut, aku langsung berteleportasi ke dekatnya menghalangi jalan pisaunya dengan lenganku sehingga pisaunya menusuk di bahuku. Sumiko melihatku dengan terkejut.
"Na...kano...? apa yang kamu lakukan...?" tanyanya,
"HENTIKAN INI SEMUA!!!" kataku sambil berteriak,
"TAK ADA YANG BISA MENGHENTIKAN KU!",
"SUDAH CUKUP!!!!!!" kataku sambil berteriak lebih keras.
Sumiko terhenti dari pergerakannya sambil melihatku dengan terkejut dan takut.
"Hentikan ini! Aku tak ingin merenggut nyawamu! atau apapun darimu! Aku ingin kekuatanku karena suatu alasan!",
"KAMU SAMA SEPERTI MEREKA! HANYA INGIN KEKUATANKU DEMI KEPENTINGAN PRIBADI!",
"INI BUKAN PRIBADI!!!!",
"Apa yang kamu maksud?!",
"SUDAHLAH HENTIKAN INI SEMUA TERLEBIH DAHULU! Aku akan menjelaskan semuanya secara merinci! Karena itulah, kamu harus tenang, mengerti?",
"Apakah... kamu akan menjawab semua pertanyaan ku..?",
"Ya. Semuanya. Bahkan jika kamu punya jutaan atau miliyaran, aku akan menjawabnya.",
"....baiklah...".
Sumiko melepaskan tangannya dari pisaunya dan mulai mengkhawatirkan keadaanku. Aku tumbang sampai berlutut karena kesakitan.
"NAKANO! Kamu baik-baik saja?!" tanyanya,
"Ya. Aku baik.".
Aku menggenggam pisau itu dan melepaskannya dari bahuku. Aku merasa kesakitan tetapi aku juga berusaha untuk tetap diam tak berisik. Sumiko terlihat khawatir dan bersalah, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Aku duduk di dekat tembok dan bersandar kepadanya. Sumiko juga duduk di sampingku.
"Aku akan mulai. Alasanku membutuhkan kekuatanku adalah untuk mengalahkan seseorang.",
"Seseorang?",
"Ya. Dia adalah ancaman bagi seluruh alam semesta ini.",
"Siapa orang itu?",
"Diriku sendiri.".
Sumiko terkejut sebentar. Dia menundukkan kepalanya.
"Apa maksudmu?" katanya.
Aku menghela nafas pendek lalu menarik nafas, mencoba menjelaskannya sesingkat-singkatnya.
"Aku adalah reinkarnasi dari penguasa Alam Semesta Bimasakti. Aku bahkan pernah bertemu dengan diriku yang dulu, tetapi reinkarnasi kami ada sedikit masalah. Kepribadian ganda.",
"Kepribadian ganda?",
"Itu artinya kepribadian kami bertolak belakang. Dia adalah seekor monster yang mana hampir tak ada yang bisa mengalahkannya. Sedangkan aku hanyalah seorang bocah yang cukup beruntung dengan hidupku, tak lebih dari itu. Kami membenci satu sama lain, entah kenapa tapi kami merasa salah satu dari kami harus ada yang mati.",
"....",
"Dan jika aku mati, maka dia akan mengambil alih tubuh ini dan melanjutkan hal yang sama yang pernah dia lakukan kepada seluruh alam semesta. Maka dari itu, aku perlu kekuatan. Salah satu temanku bilang kalau mata waktuku ini akan mendapatkan kekuatan yang kuat jika menggabungkan 3 jenis kekuatan, Kekuatan teleportasi, kekuatan gerigi, dan kekuatan 7 elemen. Karena itu aku menginginkan kekuatan gerigi mu. Maaf, aku tak tahu jika aku merebut kekuatanmu maka aku juga akan merenggut nyawamu..",
"Begitu ya... Kurasa itu masuk akal... Dan lagi, siapa nama orang yang ingin kamu kalahkan itu?",
"Nakano... Wynox...".
Sumiko terkejut dan tertegun. Nama Nakano Wynox dia alam semesta lain pasti sudah tak asing baginya. Legenda paling ditakuti yang menduduki nomor kedua sebagai cerita paling ditakuti. Bagaimana tidak? Dapat menghancurkan satu alam semesta dalam kekuatan penuh dan telah membunuh sekitar 150 juta jiwa dimasa lalunya. Sumiko merenung.
(Pasti berat ya... bagi Nakano harus melawan seseorang yang sekuat itu... tetapi dia tak menyerah kepada hidupnya dan terus mencari cara agar terus menjadi lebih kuat walaupun rintangannya sangat sulit baginya. Sedangkan aku... hanya dikejar oleh sekelompok penjahat aneh saja membuatku ingin menyerah untuk hidup...).
"Maaf ya.." kataku,
"Tidak, seharusnya akulah yang meminta maaf.",
"...",
"Nakano... kamu sangat kuat ya. Padahal rintangan mu itu sangat sulit untuk dilewati tetapi kamu menolak untuk menyerah. Jika aku menjadi kamu aku pasti sudah menyerah dari dulu. Maaf karena telah mrnganggap mu sebagai penjahat seperti GsK.",
"Itu bukan apa-apa...",
"...".
Suasana itu entah kenapa menjadi sangat canggung.
"Hei Sumiko. Ini mungkin bukan waktu yang tepat tetapi... siapa itu GsK?" tanyaku,
"GsK adalah God's Killer. Mereka adalah sekelompok orang pemuja iblis dan setan. Mereka mengincarku karena mereka pikir aku adalah seorang tuhan.",
"Kenapa bisa?",
"Kekuatanku. Dulu ada seorang dari tim GsK yang ditangkap dan di interogasi. Dia bilang kalau kekuatanku ini dapat mengendalikan waktu dan benang takdir.",
"Begitu ya... Aku juga ingin bertanya... aku mendapatkan informasi kalau kamu memiliki mata waktu juga, apakah aku boleh melihatnya?",
"Ka-karena kamu adalah... orang yang ku percaya aku akan menunjukkannya.".
Dia melihat ke arahku dan bilang.
"Power On!".
Seketika, mata kirinya yang awalnya berwarna coklat, kini berubah menjadi mata waktu dengan sesuatu dibalik ketiga jarum itu berbentuk sangat mirip dengan gerigi. Apakah itu kekuatannya?
"Aku akan menunjukkannya jika hanya ada kamu di suatu ruangan sepi yang tak ada orang saja." katanya,
"Kalau begitu, aku tak keberatan.".
Aku bertatapan dengan Sumiko di ruangan yang sepi dan kami menyadari kalau kami sudah kelewatan. Untuk mendinginkan suasana, aku bertanya suatu hal.
"Oh iya. Jika aku mendapatkan kekuatan gerigi mu, apakah kamu akan kehilangan nyawamu juga?",
"Tidak, aku takkan kehilangannya." jawabnya,
"Aku hanya... akan kehilangan... sesuatu yang... berharga bagiku..." katanya sambil berbisik dengan nada malu,
"Apa?" tanyaku,
"Bu-bukan apa-apa!",
"Terus bagaimana?" tanyaku,
__ADS_1
"Ka-kamu akan segera mengetahuinya..." katanya.
Aku terheran-heran dengan perkataannya..