Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 39, Istri Nakano dan Hukuman Arthories.


__ADS_3

Di pemandian air panas wanita. Kakakku, ibuku, dan teman-temanku berada disana.


"Oh iya ngomong-ngomong aku lupa memperkenalkan diriku." kata ibuku. Dia membalikkan badannya ke arah kakakku.


"Salam kenal. Aku, Sakamaki Usagi! Ibu tiri Sakamaki Nakano!" Kata Ibuku memperkenalkan dirinya kepada Kakakku.


Kakakku melihat ke arah ibuku dan memperkenalkan dirinya juga.


"Aku Miyaniku Maname, kakak dari Manab-- eh maksudku Nakano." kata kakakku,


"Mana-- apa?" tanya ibuku penasaran,


"Manabe. Itu nama asli dari Nakano dulu, tetapi tidak lagi sih.",


"Oh... kalau tidak salah, kami menemukan Nakano bukan di alam semesta milikmu.",


"Oh.. Nakano di adopsi oleh satu keluarga sebelum keluarga Sakamaki. Aku tak tahu detilnya, tetapi seperti itulah yang terjadi.",


"Oh... Aku penasaran, apa alasan mereka membuat menderita anak di bawah 15 tahun. Apalagi selama 7 tahun berturut-turut. Aku jadi kasihan.",


"Apa maksudmu?",


"Maksudku adalah... Saat Nakano belum di adopsi oleh keluarga kami... dia mendapatkan siksaan hidup yang berat. Mungkin paling berat yang pernah ada. Tetapi dia masih bisa berhasil walaupun hasilnya dia membunuh keluarganya dulu itu sendiri.".


Kakakku tak menjawab dan hanya bisa pasrah. Dia merasa bersalah yang seharusnya dia menjaga adiknya dengan baik.


"Singkatnya adalah... dia dalam fase pemberontakan. Aku masih kasihan... entah kenapa alasannya... tetapi bagiku menyiksa anak mereka yang berumur 6 tahun sampai 12 tahun itu sungguh keterlaluan." lanjut ibuku


"Kau benar. Apakah seluruh alam semesta memiliki orang yang tersiksa juga? Apakah organisasi Galaksi ini berada di jalan yang benar atau tidak?",


"Entahlah... yang bisa memastikan akan hal itu hanyalah dia.",


"Kau benar...".


Mereka berdua diam. Di sana sunyi dengan teman-temanku yang sedang bersantai. Kakakku menghitung dari ujung kanan ke ujung kiri, mulai dari Tohka dan seterusnya.


"Satu... dua... tiga... empat..." gumam kakakku,


"Apa yang kamu gumam kan?" tanya ibuku,


"Tidak hanya berpikir... Jika dimasa depan, Nakano akan menikah... siapa yang akan menjadi istrinya.",


"Kau benar tetapi... bukankah itu terlalu awal?",


"Tidak... semakin cepat... semakin baik... —kau tahu kan pepatah itu?",


"Kau benar. Semakin cepat semakin baik.",


"Kami berempat." Anna menyela,


"Eh?" —Kakakku dan ibuku terkejut,


"Kami berempat akan menjadi istrinya.." kata Anna dengan jelas,

__ADS_1


"EEEHHHHH??".


Seketika Artoria yang mendengar hal itu menjadi tertarik dan secara diam-diam mendengarkan.


"Te-tetapi yang bisa menikahi lebih dari satu gadis hanyalah penguasa alam semesta loh!" kata Ibuku,


"Wah, apakah Nakano belum memberi tahumu?" tanya Anna,


"Te-tentang apa?" tanya ibuku,


"Kalau Nakano itu bermimpi untuk menjadi penguasa alam semesta.",


"Eh? Benarkah? Aku baru tahu!",


"Aku juga..." kata kakakku menyela,


"Tapi... siapa orang keempatnya itu, Anna?" tanya Sei menyela pembicaraan mereka bertiga.


Anna melihat ke arah Sei.


"Orang keempatnya itu bukannya sudah ada disini. Yang lagi mendengarkan secara diam-diam." kata Anna. Anna melirik ke arah Artoria.


"I-itu maksudnya...",


"Benar! Artoria adalah istri keempatnya." kata Anna dengan percaya diri.


Semuanya terkejut. Muka Artoria memerah dan ikut dalam pembicaraan.


"Kan kamu sendiri bilang kalau kamu cemburu kepada Tohka dan Sei karena mereka dekat dengan Nakano kan? Itu artinya kamu mencintainya kan?" jelas Anna,


"A-a-ap--" —Artoria tak bisa melawannya karena itu faktanya. Di menahan rasa malunya dan merendam dirinya sehingga kepalanya hanya terlihat setengah darinya.


"Bukannya itu bahaya?" tanya Tohka yang dari tadi diam,


"Tidak... itu baik-baik saja. Semakin banyak yang mencintai Nakano maka semakin baik pula kedepannya." kata Anna,


"Kenapa bisa begitu?" tanya Sei,


"Itu... karena dulu Nakano Wynox dan Nakano yang sekarang sama-sama menderita. Aku tidak ingin melihat dirinya menderita lebih banyak lagi." Kata Anna,


"Kau benar!" kata Ibuku bersemangat. Dia berdiri.


"Kita harus membuat semua alam semesta berubah bagaimanapun caranya! Menjadi tempat yang lebih baik lagi!" kata Ibuku,


"Kau benar!" kata Kakakku —ikut berdiri. Yang lainnya juga ikut berdiri.


"Kau benar." Kata semuanya yang baru saja bangkit dari duduknya —satu per satu, termasuk Artoria.


Setelah beberapa saat berdiri, mereka merendam badan mereka lagi. Mereka seperti melupakan sesuatu. Mereka melupakan tentang Arthories.


"Ngomong-ngomong, soal Arthories, apa yang terjadi padanya?" tanya Sei mengingatkan ke yang lain,


"Dia baik-baik saja. Dia juga mendapatkan hukuman yang setimpal." kata Anna,

__ADS_1


"Hukuman apa?" tanya Tohka,


"Ra-ha-si-a..." kata Anna yang membuat yang lainnya penasaran,


"Kalian bisa mengetahuinya segera." lanjut Anna.


Aku yang berada di seberang tembok, lebih tepatnya pemandian air panas pria, mendengar pembicaraan mereka tentang Kebahagiaanku. Aku sendiri disana. Tetapi, mendengar Anna dan yang lainnya ingin membahagiakan aku, membuatku tersentuh dan bahagia. Aku tersenyum sendiri disana lebih tulus dari sebelumnya dan menangis sendirian. Aku cukup beruntung karena sendirian. Walaupun sebenarnya aku sudah bahagia dengan adanya mereka.


"Ngomong-ngomong tentang Magicufer. Bagaimana ini? Dulu dia musuh Nakano mungkin dia menyuruh Nakano ke alam semesta yang dia tinggal dan menghabisinya..." Kata Sei cemas,


"Sepertinya dia tidak akan menghabisi Nakano." kata Anna dengan tegas,


"Kenapa? Bagaimana bisa?" tanya Tohka,


"Entahlah... Tapi aku berfirasat kalau akan ada hal bagus bagi kita semua jika membiarkan Nakano dan teman-teman petualangannya ke tempat Magicufer tinggal." jelas Anna. Semuanya terdiam —tak ada ide.


Aku mendengar akan hal itu. Tentu saja hal itu akan membuat cemas teman-temanku karena Magicufer dulu sangat kuat dan lebih lagi lawan Nakano Wynox. Aku akan bersiap sebelum aku pergi ke sana. Mungkin saja sesuatu yang buruk akan muncul.


Setelah beberapa menit, kami semua, termasuk aku, keluar dari pemandian dan pergi bersiap. Jam makan malam akan segera tiba. Aku dan yang lainnya bertemu di meja makan. Meja yang begitu panjang yang cukup untuk kami semua. Kakakku tak datang dan dia kembali ke Ender End, karena dia memiliki tugas di Alam Semestanya.


Semuanya sudah berkumpul dan makanan lezat sedang dibawa kemari. Kami semua terkejut, kecuali Anna, melihat seorang pelayan wanita muda dan itu adalah Arthories. Wanita yang selalu kelihatan gagah itu bisa secantik ini. Kostum pelayan wanita dengan warna rambut emas dan wajahnya yang memerah karena rasa malu membuatnya kelihatan sangat cantik. Aku, Sei, dan Tohka melihatnya kagum karena kecantikannya, siapa sangka orang yang kelihatan gagah, tegas, dan pemberani bisa secantik dan selugu ini?


Arthories datang ke arah kami, menyajikan makanan yang dibawanya dari dapur.


"S-Sialahkan dinikmati..." katanya dengan rasa malu. Makanan yang dibawanya kelihatan lezat. Dia menaruh makanan di depan kami semua dan kami makan bersama. Rasanya lezat sekali.


Artoria melihat ke arah ibunya yang sedang menjadi pelayan karena itu adalah hukumannya.


"Kenapa ibu menjadi pelayan?" tanya Artoria,


"Itu karena... anu... ini adalah hukuman yang diberikan mereka kepadaku." Kata Arthories dengan rasa malu,


"Hukuman?" kata Artoria. Kemudian Artoria mengingat saat Anna bilang sesuatu tentang hukuman yang diberikan ke Arthories.


Kemudian aku, keluargaku, dan teman-temanku menikmati makan malam kami layaknya keluarga sungguhan.


Sei melihat ke arah Arthories yang sedang dalam perjalanan kembali ke dapur. Dia kemudian melihat ke arah Artoria dan sebuah pertanyaan muncul.


"Apakah Artoria tak terkena hukuman?" tanya Sei,


"Tidak." kata Anna,


"Kenapa?",


"Itu karena dia kan sudah bilang kalau dia akan menjadi teman perjalanan Nakano.",


"Apakah itu bisa dibilang hukuman?",


"Tidak. Hukuman Artoria sudah selesai yaitu jujur dengan perasaannya terhadap Nakano dan alasan yang membuatnya cemburu.",


"Ringan sekali...",


"Sudahlah aku juga tidak keberatan dengan hal itu." kataku menyela. Sei kemudian melanjutkan makannya dan jadilah suasana tenang yang ku impikan. Setelah makan malam, kami pergi ke kamar masing-masing dan tidur. Karena hari esok adalah hari perpisahan dan hari keberangkatan aku dan teman-temanku, kecuali Anna, ke alam semesta Devilains dan bertemu Magicufer. Aku penasaran, mengapa dia menungguku. Pasti ada alasannya!

__ADS_1


__ADS_2