
"Pantai?" kataku dengan alis yang sedikit terangkat. Ibuku menyatukan kedua tangannya, meletakkannya di samping pipinya.
"Wah! Ide bagus!" katanya,
"Tetapi siapa lagi yang akan ikut? Jika hanya empat orang, kurasa kurang pas." kata Sei menyela,
"Aku akan ikut bersama Mashiro!" Kata ibuku,
"Oh iya, Mashiro sedang berada dimana?" tanyaku,
"Mashiro? Dia sedang berburu, menggantikan pekerjaan ayahmu.",
"Ayah berburu?",
"Ya! Rumah kita jauh dari kota atau desa manapun. Karena itu, ayahmu berburu. Tapi karena dia sedang tak ada di rumah, Mashiro menggantikannya.",
"Aku baru tahu itu.",
"Ditambah dengan ibunya Nakano dan Mashiro jumlahnya menjadi 6 orang. Entah kenapa ada yang kurang." kata Sei menyela,
"Bagaimana kalau Anna?" tanya Tohka,
"Anna sedang sibuk dengan pekerjaannya. Aku tak mau mengganggunya. Tetapi jika pekerjaannya telah selesai, dia bisa ikut." kata Artoria,
"Walaupun penampilanmu tegas, tetapi kamu bisa menjadi peduli juga ya, Artoria." pujiku,
"Ti-tidak juga! Aku hanya mengingatkan. Jadi bagaimana, Nakano?",
"Begini saja. Dengan Anna, kita akan berangkat besok. Bagaimana menurut kalian?",
__ADS_1
"Jangan tanya kami! Kan kamu yang butuh liburannya.." kata Ibuku Dengan tegas.
Aku tersenyum. Aku merasa bersyukur karena memiliki orang-orang yang peduli padaku.
"Kalau begitu, sudah diputuskan. Besok kita akan ke pantai." kataku,
"Siap!" kata mereka berlima,
"Kalau begitu, aku akan pulang ke Istana Pion Putih. Aku juga ingin memberitahukan Anna tentang hal ini." kataku,
"Ya. Sampai jumpa besok!" kata ibuku,
"Ya." jawabku.
Aku dan teman-temanku berteleportasi pulang ke istana Pion Putih. Kami berteleportasi di aula istana, sama seperti saat kami pulang dari alam semesta busuk itu. Kami berjalan menuju ke ruangan Anna berada, tempat kerjanya. Kami berjalan melewati lorong yang cukup panjang.
Setelah berjalan cukup panjang, akhirnya kami sampai. Pintu yang tak dijaga. Aku membukanya dengan hati-hati. Setelah dibuka, aku melihat 3 tumpukan lembaran tebal dan sesosok wanita yang sedang berkerja dengan kerasnya. Aku berpikir dua kali untuk menyapanya, tetapi Sei menyapanya seperti tak ada gangguan.
"Apa?" tanyanya dengan nada sinis,
"Eh... itu... anu...",
"Nakano dan yang lainnya akan pergi ke pantai. Dan kami kesini untuk mengundangmu. Maukah kamu ikut dengan kami?" kata Tohka dengan sopan,
"Aku berharap aku bisa ikut tetapi dengan tumpukan semacam ini aku mustahil bisa menyelesaikannya tepat waktu. Lagian... kenapa kalian masuk tanpa seizin ku?" —sambil menatap kami dengan sinis nya,
"..." —Tak ada yang merespon pertanyaan barusan.
"Kalian memang diizinkan tinggal disini, tetapi itu bukan berarti kalian bisa bertindak sesuka hati!" kata Anna dengan nada sinis,
__ADS_1
"Maafkan kami." kata Tohka,
"..." —Tak ada respon dari Anna. Tangan Anna kemudian kembali bergerak di atas sebuah kertas. Kamipun tak bergerak sedikitpun dari tempat kami berdiri, merasa bersalah karena bertindak sesuka hati di wilayah milik orang lain.
Setelah itu, aku berjalan ke arah Anna sendirian. Tangan Anna tak terhenti dari pergerakannya dan terus bergerak. Aku berjalan ke meja Anna dan melihat kertasnya, membacanya secara diam-diam. Kemudian tanpa ragu, aku mengambil bulu tinta yang sedang di pakai Anna dengan cepat. Tangan Anna mulai terhenti kembali.
Aku membungkukkan badanku dan mendekati Anna. Anna melihat ke arahku sampai tersipu malu karena terlalu dekat. Dia memalingkan wajahnya dengan rasa malu sebelum melihat kembali ke arah kertas dan mulai membacanya.
Aku mulai menulis di kertas tersebut. Menulis beberapa kalimat dan berhenti. Anna merasa terkagum-kagum dengan ide yang diberikan olehku di kertas itu.
"Jika kamu perlu bantuan, maka ada disini." kataku,
"Eh?" —Anna memutarkan wajahnya, melihat ke arahku. Mukanya tepat di hadapanku. Kemudian Artoria, Tohka, dan Sei berjalan dan membantu Anna menyelesaikan tugasnya. Semuanya mengambil sebagian dari tumpukan dan mulai membantunya.
"Semuanya... Terimakasih!" Kata Anna sambil tersenyum,
"Tidak apa! Kan kita ini teman.." kata Sei,
"Kalau begitu.. mohon bantuannya teman-temanku!" kata Anna sambil tersenyum bahagia.
Dan mereka mengerjakannya sampai malam hari.
---------
**Assalamu'alaikum wr.wb
Hai pembaca novel ini. Maaf kemarin gak up bab baru dan bab kali ini pendek. Saya lagi kurang sehat dan kesusahan untuk membuat ide untuk novel ini jadi... ya... mohon maaf aja deh. Besok saya akan up seperti biasanya.
Sekian dulu dari saya,
__ADS_1
Wassalamu'alaikum wr.wb**