
Tohka berlari secepat mungkin, menuju kamar Sei. Saat sampai, Tohka mencoba membuka pintu tapi terkunci. Dia mengetok pintu kamar Sei dan bilang, "Sei.. SEI! Buka pintunya!",
"SEI!!" Teriak Tohka secara terus menerus. Akhirnya Sei pun mulai bicara, "PERGI DARI SINI! BIARKAN AKU SENDIRIAN!". Sei mulai bicara tapi cara bicaranya cukup kasar. Tak punya pilihan lain, Tohka mendobrak pintu kamar Sei hingga rusak ke terpental, membuat dinding putih di kamar Sei rusak. Tohka masuk ke dalam dan Sei mulai berbicara lagi, "Kenapa... Kamu sendirian?",
"Aku meninggalkan Nakano di Taman Putih untuk bertemu denganmu." Jawab Tohka,
"Kenapa? padahal kamu semakin dekat dengan Nakano." tanya Sei,
"Itu karena... Kita adalah teman. Teman tidak akan mengkhianati temannya." Jawab Tohka.
Tohka maju ke dekat Sei dan memeluknya. "Karena itulah.. Jangan menangis lagi, mengerti?" kata Tohka,
"Tohkaaaa...." kata Sei setelah itu menangis dan memeluk Tohka,
"Maafkan aku!!" kata Sei,
"Iya-iya.. Maafkan aku juga karena telah melupakan janji kita.." kata Tohka. Mereka pun berbaikan.
Aku berteleportasi ke depan pintu kamar Sei tanpa diketahui oleh mereka berdua. Aku melihat mereka mulai berbaikan dan aku pun tersenyum sendiri. Anna melihat semuanya yang terjadi melewati Bola Penglihatan dan melihat aku tersenyum. Dia pun ikut tersenyum. Yang penting adalah... Kencannya lancar dan.. pertemanan Tohka dan Sei meningkat setelahnya.
Keesokan harinya, Tohka dan Sei pergi ke ruang makan bersama. Saat mereka masuk ke dalam, mereka ditanyai oleh Anna. "Bagaimana keadaanmu, Sei?",
"Aku baik-baik saja.. Maaf membuatmu khawatir, Anna." Jawab Sei,
"Bagaimana denganmu Tohka? Kencan mu berjalan lancar bukan?" Tanya Anna kepada Tohka,
"Ya... Ini berkat kalian berdua yang membantuku. Terimakasih banyak." Jawab Tohka,
"Baguslah kalau begitu." Kata Anna. Tohka melihat ke arahku dan meminta maaf, "Nakano, Maaf ya kemarin tiba-tiba meninggalkanmu sendirian.",
"Tidak apa-apa." Kataku,
__ADS_1
"Tunggu! Nakano, kau berkencan dengan Tohka?!" Kata Ibuku menyela,
"Aku tak menyebutnya kencan. Lagian Tohka memintaku untuk tak menyebutnya kencan. Kami hanya berjalan-jalan bersama." Jelas ku,
"Itu sama saja dengan kencan tahu! Kencan!" kata ibuku,
"Sudah-sudah." kata Anna,
"Apa katamu? Seseorang yang telah menyentuh Dadaku tanpa sepengetahuanku memintaku diam?! Seharusnya kamu yang diam!" Bantahan Ibuku,
"Eh?" kata semua orang yang sudah mendengar penjelasan itu,
"Yah... itu karena kulit mu mulus dan dada mu besar jadi.. aku tak bisa menahannya. Bisa dibilang... itu loh... Iri. Punyamu sebesar itu sedangkan punyaku lebih kecil dari punyamu jadi ya... anu.. begitulah.." kata Tohka,
"Kau benar, Tohka. Seharusnya kamu bangga Usagi." kata Anna,
"Bantu aku! Izayoi!" kata Ibuku
"Benar kan?! Kulitnya yang mulus dan tubuhnya yang langsing itu membuatnya sempurna. Tak hanya itu, bokongnya dan dadanya yang membuatnya semakin sempurna!" kata Ayahku. Ibuku memukul ayahku dengan keras hingga terpental ke tembok, "Kamu tak membantu SAMA SEKALI!" Kata Ibuku,
"Kita akan mengadakan rapat strategi untuk mengalahkan Kerajaan Pion Hitam. Aku mendapatkan beberapa informasi, satu baik dan satu buruk." Jelas Anna,
"Kabar baiknya adalah kita menang jumlah dalam pasukan dan kabar buruknya adalah... Kurumi.. bekerjasama dengan kerajaan itu." Jelas Anna,
"Kalau begitu kenapa? Kitakan ahli dalam banyak bidang." kata Sei
"Mungkin benar, tapi yang merepotkan dari Kurumi adalah jam roh nya yaitu Big Bang. Jika Kurumi mengeluarkan jam roh itu, sekitar 3000 orang bisa mati dalam sekejap bahkan lebih dari itu. Jumlah pasukan kita adalah 50.000 dan jumlah pasukan musuh adalah 30.000, jika Kurumi mengeluarkan jam roh nya itu habislah kita." Jelas Anna. Setelah mendengar itu, semuanya murung karena tak bisa memikirkan jalan keluarnya kecuali aku dan ayahku
"Jangan khawatir! Anna pasti punya rencana untuk menghindari jam roh." Kata Ayahku,
"Kau benar, Izayoi. Aku punya sebuah rencana. Jam roh Kurumi memiliki kelemahan yaitu dengan pedang Excusifer milik Nakano. Kita akan membiarkan Nakano bertarung dengan Kurumi tanpa ada yang bisa mengganggu mereka. Nakano akan menghancurkan Big Bang dengan pedang Excusifer nya dan menyegel mata waktu Kurumi." Jelas Anna,
__ADS_1
"Disegel? Memangnya bisa?" kata Tohka,
"Ya bisa. Tapi mata waktunya hanya disegel artinya, jika Kurumi memiliki kekuatan lebih untuk menghancurkan segelnya maka mata waktunya akan kembali padanya. Tapi jika tidak, maka kita harus menggunakan kesempatan ini untuk menarik kembali sifat Kurumi yang asli, dengan begitu masalah akan selesai." Jelas Anna,
"Penyegelan nya menggunakan apa?" tanya Tohka,
"Menggunakan ini.." Kata Anna sambil mengeluarkan sebuah peluru yang di desain dengan sihir,
"Dengan ini kita bisa menyegelnya atau dengan kucing!" kata Anna,
"Kucing?" tanya Tohka yang tidak paham,
"Kurumi adalah penyuka kucing, kucing favoritnya adalah kucing hitam. Minimal kita harus memilikinya." Jelas Anna,
"Begitu kah... Aku paham!" kata Tohka,
"Bagaimana dengan Rajanya?" tanya Ibuku,
"Sudah kuduga kamu akan berkata begitu. Untuk Rajanya, aku menyerahkannya kepada Izayoi. Artinya dialah yang memutuskan untuk membiarkan Raja itu mati atau hidup." Jelas Anna,
"Tidak, akulah yang akan bertarung dengannya. Aku mohon, biarkan aku yang mengalahkannya!" kata Ibuku,
"Baiklah kalau itu mau mu. Kamu akan bertarung dengan Raja Kerajaan Pion Hitam." kata Anna,
"Baiklah kalau begitu... Rapat ini dibubarkan!" kata Anna dan dia bergegas pergi. Aku pun bicara,
"Tunggu. Bagaimana denganmu? Jika Kurumi kembali ke sifatnya kamu akan hilang.. Bagaimana dengan kerajaanmu?" tanyaku,
"Biarkan hal itu. Aku akan mengurusnya." kata Anna dan bergegas pergi ke kamarnya.
"Dia pasti berat hati saat bilang hal itu." itulah yang kupikirkan.
__ADS_1
Sementara itu, Anna yang berjalan menuju ke kamarnya, mulai menangis. Saat dia sampai ke kamarnya, dia menangis. Selama ini dia telah menahan tangisannya. Saat dia pertama kalinya bertemu diriku, dia sangat bersyukur mengetahui aku masih hidup. Tapi aku tak mengetahui akan hal itu. Saat kencan juga dia menangis tapi tak ada yang menghiraukannya baik itu teman-temanku maupun diriku. Aku telah gagal untuk menjaganya agar tidak menangis lagi.
Di kamar, dia menangis sangat keras tapi sayangnya tak ada yang mendengarnya baik itu aku ataupun yang lain. Dan dimalam itu, dia bilang pada dirinya sendiri, "Aku... ingin bersama Nakano... lebih lama lagi... Kenapa aku begitu bodoh? Aku hanya ingin disayangi oleh Nakano.. Aku ingin berada di sisi Nakano. Hatiku terasa sesak saat aku memikirkan diriku akan menghilang... Aku ingin bersamanya... lebih lama lagi!"