
Aku berlari menuju ke tempat Keiko berada. Dia terus berada didalam tenda melakukan latihan anehnya.
Saat aku masuk ke dalam tenda, aku melihat Keiko sedang melayang melakukan meditasi sendirian. Aku pun menyapanya dengan tujuan tertentu dan mengganggunya.
"Yo, Keiko." sapaku dengan santai.
Dia membuka sebelah matanya dan turun ke atas tanah. Dia memijakkan kakinya di tanah dengan pelan lalu melihatku dengan sorot mata kesal.
"Apakah kamu mencoba untuk menganggu pelatihan ku?" katanya dengan nada sinis,
"Eh?".
Kenapa dia bisa tahu?
"Kenapa... kamu bisa tahu?",
"Tentu saja aku tahu. Sekarang, jika kamu hanya ingin menganggu pelatihan ku maka pergilah dari sini." katanya sambil melambaikan tangannya,
"Tidak, aku tidak bermaksud mengganggumu. Yah sedikit mencoba mengganggumu tetapi aku memiliki tujuan yang sangat penting kesini.",
"Jika itu tentang Nakano aku akan sangat senang.",
"Yah... lebih tepatnya tentang Kurumi. Kau tahukan? Kembarannya—",
"Ya ya aku tahu. Hufft.... kamu sudah muak menjadi pahlawan apa? malah membantu penjahat.",
"Kurasa lebih tepatnya kita yang mengganggunya. Dengar aku harus menceritakan ini kepadamu.".
Aku pun menceritakannya kepada Keiko. Keiko mendengarkannya dengan baik, dan setiap barisnya dia mulai merasa bersalah.
"Begitu ya..." katanya setelah aku menceritakan semuanya,
"Aku tak tahu kalau dibalik kebahagiaan Anna ada yang tersiksa.",
"Yah.. Kita melakukan kesalahan dan kita harus memperbaikinya! Batas waktunya adalah besok!",
"Besok? Bukankah... itu didalam ceritamu yang terjadi kemarin?",
"..... Eh?".
Aku melupakan sesuatu, besok yang aku maksud adalah.... HARI INI BUKAN??!?!?!!
"CEPAT! BISAKAH KAMU MEMBANTU KAMI?!?!",
"Waktunya?",
"Kurasa Kurumi akan menghilang tepat tengah malam ini.",
"Tengah malam ya... Ya... aku bisa... tetapi...",
"Tetapi...?".
Keiko menghela nafas pendek. Memasang muka serius dan menjawabnya dengan serius:
"Kita perlu Kurumi untuk melakukannya. Kita tak bisa melakukan ritual tanpa adanya seseorang yang kita tuju. Untuk menyatukan akar muasalnya kita perlu Kurumi sendiri karena hanya dia yang memiliki akar muasalnya sendiri.".
Sial! Kenapa harus disaat-saat seperti ini?!
"Jika tanpa Kurumi... apakah bisa?" tanyaku,
"Hah? Apakah kamu bodoh? Jika ingin menyatukan akar muasal kita perlu seseorang yang akarnya setengah, mempertemukan mereka dan bersentuhan. Dengan begitu akar utuh bisa terbentuk tanpa jalan kelahiran.",
"Jika dengan jalan kelahiran?",
"Kurumi yang mati lalu bereinkarnasi. Memangnya apa lagi?".
Begitu ya... apakah aku perlu mengorbankan.... Apakah hanya itu jalannya..? Tidak, pasti ada jalan lain! Benar juga Kurumi belum mati! Masih ada kesempatan! Jika Kurumi memang telah mati... aku akan disuruh memilih... Kurumh atau bayiku..
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencari Kurumi!",
"Oi, apakah kamu serius? Kamu bahkan tak tahu dimana Nakano dan kamu ingin mencari Kurumi? Apakah kamu bercanda?",
"Tidak, aku tidak bercanda. Aku akan benar-benar mencarinya dan menemukannya!".
Aku berlari keluar tenda berniat mencari Kurumi tanpa adanya informasi mengenai tempat dimana mereka. Saat aku keluar, aku bertemu Sei yang berdiri didepan tenda.
"Artoria!" panggilnya.
Aku berhenti didepannya.
"Syukurlah, aku menemukanmu dengan cepat!" katanya,
"Ada apa?" tanyaku,
"Kebakarannya...! Perlahan mengurang! Perlahan menghilang! Api disana tak bisa menemukan sesuatu untuk dibakar lagi, itu artinya hampir sebagian besar dari kota telah terlahir oleh api!",
"Ini adalah berita baik sekaligus buruk. Tetapi kita memiliki misi yang lebih penting lagi. Sei! Bantu aku cari Kurumi!",
"Eh? Dimana?",
"Aku tidak tahu.",
"HEH?!!!? Kita bahkan tak tahu dimana Nakano berada dan kamu ingin mencari Kurumi yang selalu berpindah posisi?",
"Ya. Aku merasa... aku tahu jalan menuju ke arahnya... Aku merasa... dia ada di suatu tempat yang kita kenal..!",
"Tapi dimana?",
"Entahlah... tetapi firasat ku bilang kalau... Kurumi... ada di Rumah Nakano!",
".... Tetapi kenapa?",
"...".
Sei yang khawatir mulai memasang wajah penuh percaya diri dan semangat yang mulai membara.
Aku terkejut dengan jawaban Sei. Aku tersenyum sinis.
"Tetapi bagaimana? Tanpa adanya Nakano dan Tohka, kita tak bisa bisa berteleportasi!",
"Aku tahu seseorang yang dapat membawa kita ke tempat tujuan.. Penguasa Alam semesta ini... Paman Inara!".
Aku dan Sei sama-sama menganggukkan kepala di waktu yang sama. Kamipun berlari mencari paman.
Kami berlari kesana-kemari mencarinya tetapi tak ketemu-ketemu. Kami tetap terus mencarinya tetapi tetap tidak ketemu. Dimana paman? Jangan-jangan.... apakah paman juga menghilang?!
"Artoria... kita sudah mencari paman kemana-mana... apakah paman juga diculik oleh Kurumi?",
"Entahlah...".
Kurumi... apa yang kamu pikirkan?! Paman tak terlibat dengan ini semua bukan?!
"Ayo kita mencarinya didalam istana." kataku,
"Mhm..." jawab Sei sambil mengangguk.
Kami berlari menuju ke dalam istana. Di tempat kami masuk banyak penduduk yang sedang tinggal disana. Kami berjalan dengan tergesa-gesa ditengah kerumunan orang banyak.
Kami melihat tangga dan kami menaikinya. Kami berjalan di lorong panjang dengan pintu di samping kiri. Saat kami berjalan mendekati belokan, kami bertemu bibi Yo. Kamipun menyapanya.
"Bibi Yo!" panggilku.
Dia melihat ke arah kami dengan mata kesepian. Aku terheran-heran dengan hal itu.
"Bibi, ada apa?" tanyaku,
__ADS_1
"Suamiku, maksudku paman kalian... sedang berada dalam sidang Alam Semesta 3 hari yang lalu tetapi sampai sekarang masih belum pulang..." jawabnya,
"Bukannya biasanya memang lama?" tanya Sei,
"Ya... memang tetapi tak selama ini... biasanya hanya memakan waktu 2 hari yang paling lama. 3 Jika memang ada sesuatu yang berbahaya akan menimpa seluruh alam semesta.",
"Terus kenapa? Bukannya ada insiden monster yang merenggut nyawa paman Izayoi?" tanyaku,
"Yah... memang... Tetapi entah kenapa... aku merasakan firasat yang tak mengenakkan...",
"Yah.. kami juga sedang dalam sesuatu yang serius. Kami melukai seseorang yang salah dan kami ingin membantunya keluar dari kesengsaraan yang dia alami... Bibi, apakah bibi bisa menggunakan kekuatan teleportasi?",
"Yah.. bisa tetapi hanya bisa membawa 2 orang dan lagi aku hanya bisa menggunakannya sekali sehari.. Sihir teleportasi adalah sihir kelemahan terbesarku.",
"Kalau begitu baguslah! Aku ingin bibi membawa kami ke suatu tempat!",
"Eh? Tetapi kalian tak bisa pulang nanti...",
"Tak apa!",
"Ini adalah masalah serius! Tolong bantu kami!" kata Sei,
".... Baiklah... jika kalian memaksa...".
Aku dan Sei berdiri tegak berdempetan didepan bibi Yo sambil mendengarkan dia merapal mantra.
"Wahai kekuatan gelap, Pinjamkan aku kekuatanmu dan pindahkan mereka ke dimensi lain! tilemetaforá!".
Kami pun di teleportasi kan ke rumah Nakano alias rumah keluarga Sakamaki. Kami berdua masuk ke dalam rumahnya dengan pelan.
"Artoria... bisa jelaskan kenapa kamu bisa tahu kalau Kurumi ada disini?" tanya Sei berbisik,
"Hm... entahlah... menurutku sendiri ini karena pedang yang ada disini... Kamu tahukan pedang apa yang aku maksud?",
"Pedang... Bulan Merah milik Wynox?",
"Tepat sekali. Satu-satunya yang bisa menjernihkan pikiran Kurumi atau Anna adalah memikirkan tentang Nakano.",
"Begitu ya...",
"Ayo kita masuk... kita akan kehabisan waktu jika tak pergi dengan cepat!".
Kami pun berjalan dengan tergesa-gesa ke dalam ruang bawah tanah tempat penyimpanan Senjata berbahaya. Senjata milik Wynox pada jaman dahulu. Tiba-tiba suara muncul saat kami melewati kamar orang tua Nakano.
"Kira-kira apa yang kalian cari?" tanya suara itu.
Kami terkejut dan langsung melirik ke samping mengerahkan senjata kami.
"Santai saja... ini aku, Mashiro. Apa yang kalian inginkan sampai datang kesini?" tanyanya.
Ternyata hanya adik Nakano... Aku dibuat terkejut olehnya.
"Kami sedang dalam masalah serius. Ceritanya panjang... lebih baik ikuti ucapan kaki berdua..".
Dia memiringkan kepalanya sambil mengangkat alis kirinya.
"Baiklah... jika semuanya masuk akal aku akan mengikuti ucapan kalian.",
"Oh iya dimana bibi Usagi?" tanya Sei,
"Ibu? Dia sedang rapat alam semesta.. Sudah 3 hari dia tidak pulang... bukannya seharusnya kalian tahu? Maksudku disana kalian bertemu penguasa alam semesta bukan?",
"Yah.. kami tahu itu." jawabku,
"Lebih penting dari itu, ayo ikut aku dan Sei untuk ke bawah tanah.",
"Baiklah." jawabnya.
__ADS_1
Kami pergi melewati tangga besi yang menuju ke bawah tanah ke tempat tujuan kami sebenarnya.
Saat kami sampai, kami membuka pintu bawah tanah dan sesuai apa dugaanku ada Kurumi disana berdiri menghadap ke arah pedang dengan tubuh yang mulai tembus pandang. Waktunya semakin menipis.