Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 109, Serangan Nakano lll


__ADS_3

Aku bertarung adu pedang dengan Nakano. Nakano tak terlalu banyak berteleportasi jadi aku tak terlalu kesusahan melawannya.


Sei yamg berada dibelakang pertarungan kami melihat kami berdua bertarung seimbang. Sei masih tak percaya dengan apa yang dia lihat, Nakano menjadi penjahat. Tiba-tiba dibelakang Sei muncul seorang perempuan


"Jadi kau ya yang menggangguku tadi.." kata orang itu.


Sei melihat ke belakang dan ada Kurumi disana. Tepat saat Sei telah membalik, di dahinya sudah ada corong pistol Kurumi yang menempel. Sekali Sei bermacam-macam, mati.


"He-hentikan... Hentikan semua ini.... Ini tak benar..!" kata Sei ketakutan dengan badan gemetar.


"Nyerufufufu... Karena inilah aku suka menjadi pembunuh....",


"Kau kan yang menggangguku tadi untuk bersenang-senang?",


"Hentikan.... itu tidak benar..!",


"Hahahahahahaha.... lucu sekali... Bagimu saja yang tidak benar. Apakah kamu pernah berpikir kalau kamu pantas berada di sisi Nakano?",


"Apa... maksudmu..?",


"Aku tak akan merasa heran kalah Artoria, Anna, dan Ikumi bisa berada disisi Nakano. Tapi aku tak berpikir kalau kamu bisa berada disisinya... selamanya...",


"...",


"Maksudku adalah... mereka bertiga merupakan hasil reinkarnasi, kecuali Anna. Dia hidup sampai sekarang tanpa mati. Tapi kamu bukan apa-apa untuknya. Kamu bahkan bukan hasil reinkarnasi siapapun, apakah kamu memang pantas?",


"A-aku....",


"Apa? Bukankah itu benar? Fufu... Kamu bukanlah... apa-apa di hidupnya!" kata Kurumi dengan tertawa girang.


Sei! Apakah kamu akan ikut tenggelam juga?! Kumohon, jangan! Kamu adalah salah satu dari kami! Kamu pantas berada disisinya! Sial! Andaikan aku bisa berbicara seperti itu kepadanya sekarang!


"A-aku...".

__ADS_1


Kurumi tersenyum sinis bahagia. Sei merenungi kata-kata Kurumi. Jangan termakan ucapannya! Kau kuat! Kamu adalah perempuan yang kuat, Sei! Jangan termakan!


"Itu tidak benar!" kata seseorang dari bawah tembok.


Suara itu... Anna! Bagus! Kau bisa bangkit lagi! Dasar perempuan merepotkan! Apakah Nakano tak merasa kerepotan dengan sifat mu ini?! Beritahu dia, Anna!


"Itu tidak benar!",


"Apa?" tanya Kurumi merasa tak senang,


"Itu tidak benar Sei! Nakano mencintaimu! Aku tahu itu! Jika tidak, dia tak mungkin mempedulikanmu sampai sekarang!",


"BERISIK!" teriak Kurumi,


"Percayalah! Sei, kau adalah wanita yang kuat! Kamu bisa menahan luka dihatimu saat Tohka kencan dengan Nakano dan lagi kamu menontonnya! Kamu memang menangis, tetapi begitulah perempuan! Kamu adalah perempuan yang kuat, Sei! Paling kuat dari pada kami berenam!".


Kurumi turun dan berlari ke arah Anna dengan amarah yang mengamuk.


"BERISIK!!!" katanya.


"Sei! Kau adalah wanita yang kuat! Bangkitlah, lawanlah dan bawa pulang Nakano! Dia mengharapkan sesuatu yang besar kepadamu! Tidakkah kau tahu itu?!",


"Kau...!" kata Kurumi sambil menggerakkan giginya.


Kurumi mencondongkan pistolnya dan menembak Anna di bahu kiri dan menembak lagi di bahu kanan. Anna menutup matanya dan kesakitan, air mata ingin keluar darinya tetapi dia menahannya walaupun dia tahu kalau dia tak setangguh Sei. Saat dia membuka matanya, ada peluru yang datang ke depan matanya. Peluru itu ingin membunuh Anna!


Tetapi semuanya berubah. Sebuah pedang yang dilapisi cahaya menghalangi jalan peluru itu dengan cepat. Anna melihat ke arah atas, melihat Sei.


Sei melayang dengan tubuhnya yang mengeluarkan sinar cahaya. Cahaya itu menyelimuti Sei dengan terang. Cahaya itu merubah baju Sei menjadi kimono putih dan merah, hampir sama seperti yang dipakai Tohka dulu saat menjadi Ikumi. Tongkat Sei berubah, atasannya menjadi sesuatu dengan 4 lonceng bulat, badan tongkatnya menjadi lebih tersusun dengan warna putih sebagai warnanya. Kemudian didekat 4 lonceng itu, ada yang membentuk lingkaran dan bentuk cahaya ditengahnya. Dibelakang kepala Sei, membentuk seperti matahari. Sei... mirip dengan... Dewi matahari, Amaterasu!


"Mu-mustahil..." kata Kurumi.


Aku dan Nakano berhenti bertarung dan mulai menyaksikannya.

__ADS_1


"Sei..." gumam Anna lalu muntah darah sedikit.


Aku melihat ke arah Nakano dan mulai berbicara selagi ada kesempatan.


"Nakano... salah satu istrimu menjadi sesuatu yang hebat... tidakkah kamu bangga dengannya?! Kembalilah!" kataku dengan tegas saat itu.


Nakano terdiam tak berkata apapun. Dia tak mengabaikan ku, hanya saja.. dia tak menjawabnya, aku tahu itu. Aku mulai kehabisan ide bagaimana bisa membawanya kembali.


"Disaat orang-orang tak ada lagi yang menderita..." katanya.


Aku tak mengerti maksudnya, tapi setidaknya.. dia berbicara..


"Terimakasih..." kataku.


Nakano tak menjawab tetapi itu tak apa. Aku tak mengerti alasannya tetapi yang aku tahu Nakano melakukan ini karena ini adalah jalan yang terbaik menurutnya. Aku ingin melawannya tetapi tak bisa, aku adalah tunangannya. Apapun pilihannya, aku akan mendukungnya. Tapi tak seperti ini!


"Nakano... bisakah kamu memberitahuku kenapa kamu melakukan ini?" tanyaku secara terus terang,


"...".


Aku terkejut sebentar. Tentu saja ya, aku ini dianggap musuh baginya. Tak mungkin dia memberitahunya...


"Alasanku melakukan ini adalah... karena aku melihat masih ada yang menderita.",


"Apa maksudmu..".


Nakano mengangkat mulutnya siap memberitahuku, tetapi Kurumi menyuruh Nakano dan satu temannya lagi untuk mundur.


"Nakano! Ayo kita mundur!" kata Kurumi.


Nakano melihat ke arah Kurumi dan mengangguk.


"Sampai nanti, Artoria. Kita mungkin takkan bertemu lagi dalam waktu singkat atau selamanya..",

__ADS_1


"Nakano Tung—".


Dia langsung pergi berteleportasi membawa Kurumi dan satu lagi pergi entah kemana. Nakano, aku pasti... akan membawamu kembali ke arah yang benar!


__ADS_2