
Aku terbangun di suatu tempat yang hangat... apakah... aku sudah mati..? Aku hampir tak bisa merasakan tubuhku... tetapi... apa yang aku sentuh ini... rumput..?
"Ah! Sudah sadar!" kata seseorang.
Suara itu... perempuan..? Siapa..?
Aku tak bisa melihat wajahnya... ataupun sekelilingku...
"Sebaiknya kamu beristirahat dulu... Badanmu masih banyak luka.. dan jangan banyak bergerak!".
.. Aku tak tahu siapa kau... dan.. aku memiliki banyak pertanyaan untukmu... tetapi untuk sekarang.. terimakasih...
Aku menutup mataku dan beristirahat.. Entah siapa atau apa yang ingin kulakukan... aku akan berterimakasih kepadamu....
Setelah beberapa saat, aku akhirnya terbangun.. Aku membuka mataku.. penglihatan ku buram dan mulai jelas. Aku melihat ke kanan dan ke kiri dan yang ada hanyalah rumput. Aku bangun dan merasakan sakit..!
Aku melihat ke badanku.. dibalut perban.. dan juga ada tungku dengan api menyala.. Aku melihat ada yang direbus di dalam tungku itu.
"Jangan memaksakan diri untuk bangun dulu..!" kata seseorang dari kiri penglihatan ku,
"...".
Dia berlari ke arahku sambil membawa... eeee... semacam keranjang yang dibuat dari.. rotan.. yang mana itu membawa semacam wortel lobak juga kelinci.. Terlalu jauh... aku masih belum bisa melihatnya dengan jelas..
"Kau sudah bangun ya...! Sebaiknya jangan memaksakan dirimu.. kami terluka sangat parah! Hampir saja kamu mati loh!".
Dia berjalan ke arahku dengan pelan.. tentang keranjang itu benar... Lalu aku melihat seorang perempuan berambut pendek hijau muda kebiruan berkacamata.. yang membawa buku di samping pinggulnya.. Berbaju seperti gaun pendek rapih berwarna hijau muda kebiruan.
Dia berjalan ke arah tungku itu lalu duduk, dia mengambil alas batu yang rata dengan panjangnya sebesar pahanya yang tertutupi oleh stocking hitam yang lumayan tipis.
Dia mengerahkan tangannya ke atas sebuah lobak dan wortel itu. Tiba-tiba bukunya yang ada di sampingnya terbang ke dekatnya.
"Wind Blade!" katanya.
Tiba-tiba kedua bahan makanan itu terpotong rapih dengan sesuatu.. seperti angin...? Aku hanya menebaknya karena aku melihat hembusan angin di sekitar benda itu saat dia selesai memotongnya.
__ADS_1
Lalu dia memasukkan bahan-bahan yang sudah dipotong itu ke dalam tungku itu, sedangkan kelincinya... Perempuan itu berdiri, meletakkan kelincinya di atas alas batu rata tadi. Dia menjauh lalu mengucapkan semacam mantra.
"Wind Cutter!".
"Wind Cutter" dengan "Wind Blade apa bedanya..? Tetapi tubuh kelinci itu terpotong menjadi sangat rapih dan tanpa ada darah sedikitpun mengalir atau muncrat.. Kurasa kekuatannya yang berbeda.. Perempuan ini.. bagus dalam mengontrol kekuatannya sendiri?
"Tunggu dulu sebentar ya disini!" katanya lalu pergi membawa bagian-bagian tubuh kelinci yang terpotong dan menaruhnya di atas keranjang rotan tadi.
Dia pergi entah kemana.. Sepertinya.. dia mencoba membuat masakan untukku. Heh.. sepertinya dia bukanlah orang jahat seperti yang aku pikirkan..
Setelah beberapa lama, dia kembali lalu langsung memasukkan kelincinya yang basah ke dalam air rebusan bersamaan dengan wortel dan lobak disana. Dia pergi ke arahku dan duduk di sebelahku.
"Bagaimana badanmu?" tanyanya,
"Ya.. aku baik-baik saja... Terimakasih banyak..",
"Ah.. tidak.. aku senang bisa membantu orang... Tunggulah sebentar lagi.. makanannya segera matang.",
"Walaupun begitu.. aku harus tetap berterimakasih kepadamu... Jika kamu tak membantuku mungkin aku akan mati disana.. kau tahu kan disana presentasi keselamatannya rendah...",
"Ya.. aku bisa mengerti itu...",
"Mhm.. Namaku Tanpooru Sukrosa... Aku penyihir satu elemen.. yaitu angin...",
"Ya.. aku bisa mengetahui hal itu dalam sekali lihat.. Ngomong-ngomong, namaku Sakamaki Nakano.. Aku pendaki menara ini...",
"Oh.. begitu ya... Aku juga sama...",
"Begitu ya... Tampaknya masih banyak peserta yang lulus...",
"Ya.. setiap generasinya tentu menghasilkan banyak orang berbakat... Dibandingkan denganku... aku terlalu takut untuk melakukan sesuatu yang berbahaya... Dan aku hanya bisa menggunakan satu elemen... Jadi aku tak berguna...",
""Tak berguna"? Kau sangat membantuku.. aku bisa saja mati di lantai keempat... tetapi berkat bantuan mu membuatku masih bisa berdiri disini..",
"K-Kau berlebihan...",
__ADS_1
"Bahkan itu belum cukup untuk membalas apa yang telah kau lakukan kepadaku...",
"...",
".. Oh iya.. Aku pingsan berapa lama dan bukannya lantai ini hanya bertahan 3 jam?",
"Tadi... penyelenggara bilang kalau aku dan kau mendapatkan tambahan waktu disini sampai kamu bangun.. Dan kamu bangun dalam 5 jam... Kamu disini sudah 5 jam bersamaku..",
"Ah.. Maaf! Aku sudah merepotkan dirimu..",
"Ah.. tidak... lagian aku suka membantu orang.. jadi... ini seperti pengharapan untukku sendiri...",
"Begitu ya.. Kau memang perempuan baik hati...",
"K-Kau berlebihan..!".
Dia memang perempuan yang rendah hati...
"Sebaiknya kamu memulihkan diri dulu..",
"Begitu ya.. sebaiknya iya... Aku kehilangan banyak energi ku... Ngomong-ngomong satu lagi.. Kenapa kamu bisa menemuiku di lantai empat?",
"Ah.. itu karena akulah orang kedua yang naik ke lantai empat dan setelah pertarunganku selesai, aku menemuimu berbaring dengan banyak luka dan darah mengalir.. jadi aku membawamu dengan angin..",
"Begitu ya... Mhm.. aku mengerti... Sekali lagi terimakasih banyak atas pertolonganmu...",
"Ya.. sama-sama...".
Setelah itu.. aku banyak-banyak beristirahat dengan bantuan Sukrosa yang sangat membantu...
12 Jam berlalu, aku akhirnya cukup siap untuk pergi ke lantai selanjutnya. Aku dan Sukrosa di tunjukkan 2 pintu yang berbeda tetapi berdampingan.
"Kalau begitu.. semoga beruntung didalam sana ya, Nakano.",
"Baiklah... Aku mengerti.. kamu juga semoga kita bertemu lagi di lantai teratas menara ini..",
__ADS_1
"Mhm.." angguknya..
Kami pun masuk ke dalam pintu dan menghadapi musuh terakhir kami berbeda dimensi... Sekarang, siapa yang akan menjadi kawanku selanjutnya?