Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 94, Kota Lautan Api


__ADS_3

Keesokan paginya, sangat pagi sekitar jam 3 pagi. Aku terbangun dari tidurku dengan dada telanjang dan kaki yang bersembunyi dibalik selimut. Aku melihat keluar, sinar rembulan menyinari kamarku. Aku kemudian melihat ke samping bawah dekat tangan kananku, aku melihat Artoria sedang tidur nyenyak. Aku tak ingat apa yang aku lakukan kemarin, tetapi ingatan itu mulai pulih dan aku mengingat kalah aku telah melakukannya. Aku tak begitu terkejut hanya saja tak aku sangka pertama kali melakukannya adalah bersama Artoria.


Aku melihat ke arah Artoria, wajahnya sangat imut dan lucu saat tidur. Aku menyingkirkan rambut pirangnya yang terurai menutupi telinganya. Diapun langsung memegang tanganku dengan lembut dan pelan sambil mengigau.


"Nakano....".


Aku tersenyum dan menaruh tanganku di pipinya, mengelusnya sambil dipegang olehnya. Dia mengigau lagi sebelum tersenyum.


"Nakano...".


Dia tersenyum dengan polos dan bahagia saat tidurnya. Aku menyandar ke samping melihat ke arah Artoria dan membiarkan tanganku dipegang olehnya. Aku tak mau mengganggu tidurnya yang nyenyak. Tiba-tiba dia terbangun. Dia mengucek matanya dan mengangkat kepalanya. Dia melihatku.


"Nakano...".


Dia langsung merona dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Aku tertawa kecil sebelum berbicara.


"Sudah jangan menyembunyikan diri lagi. Aku sudah tahu seperti apa tubuhmu itu. Tak ada gunanya menyembunyikan diri." kataku.


Kepalanya keluar dari selimut samping matanya, dia melihat ke arah lain dan langsung mengeluarkan kepalanya secara menyeluruh. Dia melihat ke atas atap sambil memikirkan sesuatu.


"Nakano... Maaf..." katanya secara tiba-tiba,


"Hmm? Apanya?" tanyaku,


"Karena aku kamu melakukan hal semacam ini...",


"Tak apa. Lagian nanti dimasa depan juga kita akan melakukannya.",


"Aku tahu itu... Tapi aku hanya meminta maaf karena aku kamu melakukannya pertama kali bukan dengan Anna atau Tohka atau yang lainnya...".


Aku memutar dan berbaring melihat ke langit-langit kamar.


"Tak apa. Aku tak peduli dengan siapa aku pertama kali aku melakukannya, hanya saja jika itu bersama tunangan ku aku mau melakukannya.".


Dia melihat ke arahku.


"Nakano...".


Dia memutar tubuhnya ke arahku dan berbicara.


"Padahal kita itu bahkan belum bertunangan..." katanya sambil terkekeh,


"Benar juga... Tapi bukankah kamu yang ingin menjadi calonnya.. Aku tak memintamu untuk melakukannya loh." jawabku sambil tersenyum,


"Benar juga... ya sudahlah... kenapa kamu tak anggap kami berenam sebagai tunangan mu saja? Walaupun tak resmi tetapi karena kami yang meminta menjadi istrimu dan kamu menerimanya..",


"Benar juga... ya sudahlah kalau begitu...".

__ADS_1


Aku memutar tubuhku ke arahnya dan memanggilnya.


"Artoria............" kataku,


"Artoria Pendragon. Itu namaku.",


"Ah begitu ya. Kalau begitu, Artoria Pendragon tunangan ke-3. Dimasa depan nanti maukah kamu menikahi pria pemimpi bodoh ini?".


Artoria tertawa kecil dan menjawab ku.


"Kamu terlalu merendahkan dirimu tahu. Ya. Aku bersedia." katanya sambil tersenyum.


Aku dan Artoria menggenggam tangan satu sama lain kemudian menyatukan kening kami.


Kami sangat mesra saat itu, tetapi ada sesuatu yang mengganggu. Suara ledakan dari luar sangat kencang sehingga kami berdua bisa merasakan tanah bergetar. Aku langsung berdiri melihat ke arah jendela.


"Nakano?" panggil Artoria.


"Apa... yang terjadi...?" tanyaku.


Artoria membengkokkan kepalanya dan mengangkat alisnya sedikit.


"Nakano... Apa maksudmu?" tanyanya,


"Lihat keluar..." kataku.


"Nakano... Apa yang terjadi?!",


"Entahlah... aku kurang yakin... Tetapi apapun yang terjadi, ini pasti ulah seseorang.",


"....",


"ARTORIA AYO CEPAT BERSIAP DAN SELAMATKAN KOTA. BANGUNKAN TOHKA DAN SEI DAN JUGA PAMAN DAN BIBI KITA MEMILIKI KEADAAN DARURAT!!! Keadaan yang amat sangat darurat..!".


(Aku tak pernah melihat Nakano seserius ini. Jika Nakano serius, pasti ada sesuatu yang buruk akan terjadi!)


"Baiklah!".


Artoria langsung mengambil pakaiannya dan memakainya dengan terburu-buru, lalu dia berlari keluar kamar.


Apa yang terjadi?! Ini tak salah lagi, ini pasti ulah GsK!


Aku mengambil pakaian petualang ku dan membawa pedangku, Excusifer. Aku langsung berteleportasi ke atas atap di tengah kota yang kebakaran. Aku melihat ke samping kiri dan kanan, banyak Manusia Api dimana-mana dan lagi aku tak melihat apapun selain lautan api disini. Aku melihat ke bawah dan melihat seorang ibu dan anak yang sedang dikepung oleh monster api itu. Aku berteleportasi ke dekat monster itu dan menebas mereka menyelamatkan kedua orang itu.


"CEPAT MENGUNGSI DARI SINI!!!" Kataku dengan tegas.


Mereka mengangguk kemudian lari menyelamatkan diri. Aku melihat ke samping kiri dan kanan.

__ADS_1


1..2..3..4..5..6..7..8..9..13 monster ya... Kalau begitu aku akan meladeni kalian semua!


Kau berteleportasi dan menghancurkan monster api itu dengan cepat. Walaupun ini masih bukan kecepatan maksimal ku, tetapi ini sudah cukup untuk mengalahkan mereka. Andaikan aku bisa berteleportasi lebih cepat ini akan sangat mudah tapi sayangnya adalah batasannya. Sial! Andaikan aku lebih menguasai mata waktu, aku bisa menggunakan skill ini sesuka hati!


Aku berlari untuk mengisi ulang batasan skill ku. Aku berlari ditengah kobaran api yang merajalela disana. Terus berlari mencari seseorang, aku berharap aku menemukan sekelompok pemadam kebakaran. Aku berteleportasi ke atap untuk mempermudah ku tetapi sayangnya hasilnya sama saja. Hanya ada kobaran api dimana-mana. Aku tak bisa melihat sekitarku karena ditutupi oleh api. Aku berlari di atas atap, tetapi aneh aku tak melihat apapun bahkan monster pun tidak ada. Ada yang tak beres disini. Aku berhenti berlari. Aku melihat ke atap yang aku injak.


Apakah... ini atap yang sama dengan sebelumnya...?


Aku mengangkat tanganku dan memukul kepalaku sendiri. Aku membuka mata dan terengah-engah. Aku melihat di sekeliling, ada banyak monster yang mengelilingiku... ah begitu ya.. aku tadi pingsan... Aku memegang pedangku dan berteleportasi-menebas seperti biasanya. Semua monster itu lenyap seketika tiba-tiba ada suara dari belakangku.


"Wahai jiwa yang bergentayangan. Akan aku suci kan kau dan membebaskan mu dari penderitaan mu... Accell." kata suara itu.


Aku membalikkan badanku dan melihat seorang gadis berambut pirang yang selalu berdoa itu.


"Sebaiknya kamu juga bilang "Accell" atau kamu akan kena kutukan loh, kakak." katanya kepadaku.


Aku menurutinya dan bilang apa yang dia minta.


"Accell." kataku.


"Apa maksud dari kata itu dan krnapa kamu berdoa untuk seekor monster?",


"Dulunya monster ini adalah manusia...".


Manusia?!


"Sudah jelas untuk pertama kalinya kakak pasti akan terkejut sekaligus takut berpikir kalau kakak membunuh orang... Tetapi tenang saja... manusia yang telah menjadi seekor monster takkan bisa kembali menjadi manusia lagi... Karena itu untuk membuat mereka tenang, dibuatlah tim ini dengan suster minimal satu di setiap timnya..",


"Ada tim lebih dari satu?",


"Ya. Kami adalah tim ke-8 tim peringkat terakhir... Namaku Sistine, salam kenal Kakak!",


"Namaku Sakamaki Nakano... salam kenal juga... aku telah mengikat janji kerjasama dengan kalian...",


"Ah itu... ya aku mendengarnya dari kak Shiro.. Mohon kerjasamanya...!",


"Ya. Mohon kerjasamanya!".


"Sekarang... bisakah kamu membawaku ke tempat timmu berada, Sistine?" tanyaku,


"Ya. Karena itulah tujuanku datang kemari... Kak Shiro tahu kalau kamu akan datang jadi dia menyuruhku untuk menjemputmu...",


"Begitu kah... kalau begitu ayo!",


"Ikuti aku!".


Ditengah paginya hari... ada sebuah kota yang telah menjadi lautan api penuh monster api didalamnya... kira-kira aku bisa menyelamatkannya apa tidak? Tidak aku harus bisa! Jika tidak, maka kapan aku bisa menyaingi kekuatan Wynox! Ini adalah ujian ku!

__ADS_1


__ADS_2