
Setelah hal itu, aku dan teman-temanku yang lain mulai merasa kesusahan. Kami kehilangan 2 orang yang paling berpengaruh disini. Nakano pergi bersama Kurumi, dan Tohka pergi entah kemana. Andaikan ini semua tak terjadi!
Kami masih belum tahu jelas apa yang menyebabkan Tohka menjadi seperti ini. Ini hanya pendapat Keiko, Tohka adalah hasil reinkarnasi dari Satshiryo Asuha. Tapi bagi aku dan Anna, ini cukup aneh. Sejauh yang kami tahu hasil reinkarnasi hanya bisa dari satu orang bukan dua orang. Jika memang teori Keiko benar, maka artinya Tohka memiliki 2 akar muasal*. Dan itu membutuhkan riset lebih lanjut. Aku menyerahkan hal itu kepada Keiko karena dia adalah satu-satunya orang yang memiliki pengetahuan luas diantara kami semua disana.
Akhirnya kami melanjutkan hari-hari kami. Aku menyelesaikan tugas para prajurit yang telah ku bunuh saat itu dengan meminta maaf kepada keluarga mereka. Tentu saja itu tak diterima dengan ringan oleh mereka. Aku akhirnya membuat kesepakatan dengan mereka yaitu mengabulkan satu permintaan mereka. Kebanyakan diantaranya meminta harta dan sebagian meminta anaknya kembali. Aku tak bisa melakukan apapun tentang anak tetapi jika harta aku bisa. Aku menyerahkan satu-satunya yang berharga yang aku miliki, serpihan bilah pedangku. Bilah pedangku itu telah di Echanted* menjadi lebih kuat dari pedang pada umumnya. Aku merasa bersyukur karena mereka menerimanya, dan hasilnya pedangku hanyalah pedang dengan bilah yang patah layaknya dipatahkan.
Banyak yang terjadi kepadaku, tetapi itu tak merubah kekerasan kepalaku untuk membawa Nakano. Jika aku disuruh memilih antara pedangku atau Nakano, maka aku akan memilih Nakano. Dia adalah satu-satunya alasanku ada disini, dari dulu sampai sekarang. Dia telah banyak membantuku, kini waktunya bagiku untuk membantunya keluar dari gelap hidupnya.
Setelah aku memberikan banyak serpihan pedangku kepada para keluarga prajurit yang aku bunuh, aku hanya bisa duduk di atas atap dinding yang mengelilingi kerajaan ini. Aku menghela nafas panjang, tak tahu harus berbuat apa. Bahkan jika aku menghirup udara, yang aku hirup hanyalah asap bakar. Rasanya aneh dan tidak enak. Walaupun aku tetap menghela nafas. Aku selalu menghela nafas disana, aku tak tahu berapa banyak aku menghela nafas panjang terus.
Tiba-tiba aku mendengar langkah kaki di telinga kananku.
"Kenapa kamu menghela nafas terus?" tanya sebuah suara.
Suara itu, Sei. Aku melihat ke arahnya dengan ekspresi wajah yang tak pasti.
"Oh... ternyata kau." kataku,
"Kenapa?",
"Tak ada. Hanya saja entah kenapa rasanya sepi sekali tak ada Nakano disini.",
"Benarkah? Bukankah sebelumnya kamu sudah jarang bertemu Nakano?",
"Yah... itu benar... tetapi sekarang berbeda. Rasanya lebih kesepian daripada sebelumnya....",
"....".
Aku memalingkan wajahku dan memeluk kakiku. Aku melirik ke arah Sei yang masih berpakaian mode Dewi Amaterasu.
__ADS_1
"Kenapa kamu kamu masih memakai pakaian itu?" tanyaku,
"Hm... Entahlah... aku tak tahu cara keluar dari mode ini.",
"... Lakukanlah sesuatu seperti melepas baju dan berpakaian seperti biasanya mungkin?",
"A-aku tak bisa! B-bajuku satu-satunya hanyalah baju petualangan ku!" katanya dengan wajah merona.
Benarkah? Setahuku kamu membawa banyak baju selain itu.
"Yah... aku tak begitu peduli sih.",
"... Artoria, kenapa? Kamu nampak lebih murung daripada sebelumnya. Apakah kamu demam?",
"Tidak, aku tidak.",
"Wow... bahkan kamu sudah belajar menyindir.",
"Apakah tadi itu sindiran? Aku hanya mengatakan fakta. Tapi itu benar bukan?",
"Ya, kurasa...".
Sei membungkukkan badannya, sampai belahan dadanya terlihat. Dengan wajah kesal dia berbicara:
"Tidak boleh begitu! Jika kamu memang memiliki masalah, ceritakan lah. Entah ke siapapun itu. Itu bisa membuatmu lebih baik! Kau tahu, aku merasa tak nyaman melihat temanku berputus asa!",
"...".
Dia memasang wajah senang kali ini dan memiringkan wajahnya. Dia merentangkan tangannya sedikit lalu menariknya memepetkan nya sambil bilang:
__ADS_1
"Karena itu, semangat lah ya!" katanya dengan senyuman manisnya.
Tarikan itu membuat dadanya bergoyang ke atas dan ke bawah. Membuatku salah fokus ke dadanya. Senyuman manisnya membuatnya semakin menggoda dan imut. Aku merasa sedikit jengkel dengan itu.
Aku melihat ke arah dadanya yang kurasa lebih besar dari punyaku. Bikin kesal saja! Tapi aku bisa apa? Walaupun tubuhku begini, aku adalah orang yang melakukannya pertama kali dengan Nakano. Aku yang merebutnya.
Semangat dari Sei membuatku sedikit membaik walaupun tubuhnya yang seksi itu membuatku sedikit jengkel. Tapi yah... aku tak bisa melakukan apapun untum itu, setidaknya aku tak kalah menariknya dengan Anna. Jika Tohka dan Keiko, tentu aku yang menang. Saat memikirkan itu, mood ku menjadi lebih baik sedikit dicampur dukungan semangat dari Sei mood ku sudah cukup membaik.
Aku tersenyum ke arah Sei dan menjawabnya,
"Terimakasih, Sei. Aku mengapresiasikannya!" kataku,
"Baik! Senang membantu!" katanya sambil tersenyum.
Aku tahu alasan Nakano ingin menjadikan Sei istri. Tak hanya dapat berpikir positif, baik, dan mendukung teman, dia juga memiliki senyuman tulus dari hatinya yang sangat terlihat dan itu membuatnya hampir sempurna. Entah senang atau sedih tetapi aku tahu Nakano sangat mencintainya.
"Kalau begitu, duduklah disini." kataku sambil menepuk tembok yang ada di sampingku.
Sei duduk disana dan aku pun menceritakannya kepada Sei apa yang aku alami sampai menjadi begini. Di sana terjadilah sebuah pembicaraan yang panjang dan menarik. Aku senang Sei yang mendengarkan aku bercerita. Dia takkan meninggalkan seseorang yang dia kenal sampai orang itu merasa baikan.
Sekali lagi, terimakasih Sei.
--------
*Akar muasal: Semacam Benang Kehidupan*, jika ada 3 akar muasal maka dia adalah hasil reinkarnasi dari 2 orang dimasa lalunya,
Enchanted: Menunjukkan suatu benda yang ditingkatkan tetapi ke tingkat yang sangat tinggi, sedikit berbeda dengan ditingkatkan,
Benang Kehidupan*: Benang berwarna emas yang menunjukkan mati atau hidupnya seseorang, warna emas menunjukkan kalau orang itu masih hidup, jika hitam itu artinya dia mati.
__ADS_1