
Peperangan antara Pion Putih dan Pion Hitam berakhir dengan kemenangan Pion Putih. Rumor di kerajaan Pion Hitam berkata kalau raja telah mati di hadapan ibuku. Tapi yang benar adalah Raja mereka telah menjadi dirinya yang dulu sekaligus, dia adikku.
Saat malam, tiba bagi kerajaan Pion Putih untuk merayakan kemenangan mereka. Aku yang berada di lantai 2, menikmati suasana pesta ini. Aku sendirian disana.
Anna datang menaiki tangga dan berjalan ke arahku.
"Selamat malam... Nakano~~" Sapa Anna,
"Selamat malam juga. anu....",
"Panggil saja Anna seperti biasanya",
"Baiklah",
"Ngomong-ngomong, sedang apa kamu disini?",
"Tidak. Tidak ada.",
"Kenapa kamu tak merayakan pestanya dengan mereka..",
"Aku hanya ingin sendirian.".
Anna melihat ke arahku dengan mata yang penuh kesedihan.
"Habis ini kamu pergi ya",
"Benar juga...".
Aku melihat ke arah Anna. Matanya yang melihat ke bawah menunjukkan kalau dia sedang bersedih karena aku sudah akan pergi ke tempat lain. Aku melihat ke arah langit dan bertanya kepadanya.
"Apakah kamu mau melakukan perjalanan denganku?",
"Aku senang dengan tawaran itu dan aku ingin menerimanya. tapi... Kerajaan ini membutuhkanku.",
"Kau benar.".
Aku melihat ke arah Anna, berjalan ke arahnya dan memeluknya. Anna terkejut.
"Jangan khawatir. Kapan-kapan aku akan mampir kesini untuk mengunjungi mu lagi.",
"Benarkah?",
"Benar, aku berjanji.".
Anna membalas memelukku dan rasa cemas dan sedihnya sedikit demi sedikit mereda.
Tok.. tok.. tok.. ada suara seseorang yang sedang menaiki tangga. Itu adalah Tohka dan Sei. Mereka melihatku sedang berpelukkan dengan Anna.
"Eh?!" kata Mereka. Mereka terkejut.
"Waahaa!! Anna curang!" kata Sei,
"Benar! Kami berdua yang lebih lama dengan Nakano, belum pernah memeluk Nakano sama sekali!" kata Tohka.
Anna mendekatiku dan menyentuh dadaku.
"Akulah orang yang paling dekat dan paling lama bersama Nakano. Lagian aku itukan sudah bersama Nakano sejak sebelum reinkarnasi~",
"Itu tidak ada hubungannya! Itu masa lalu. Lagian kami berdua ini sudah berjanji agar menjadi istri Nakano—",
"Wah— kalian berdua ingin menjadi istri Nakano ya— kalau begitu aku juga ikut—",
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu.".
Tohka berlari ke arahku dan memelukku.
"Tapi yah.. sayang ya. Kamu harus disini sementara kami berdua berpergian dengan Nakano~" kata Tohka. Mendengar hal itu membuat Anna kesal. Anna menenangkan diri dan menjawab kata-kata Tohka.
"Memang benar kalian akan lebih lama lagi bersama Nakano—".
Tohka menunjukkan sifat percaya dirinya. "Tapi ingat satu hal! Ciuman pertama dan kedua milik Nakano... telah aku ambil—",
"Eh?- EH???!!!!!!?!". Mereka berdua berteriak dengan keras. Tohka dan Sei terkejut berlebihan dan mereka membutuhkan kepastian dariku.
"D-dia b-b-bohong kan, Nakano?" kata Tohka tak percaya
Aku mengalihkan pandanganku dari Tohka yang menandakan kalau aku benar-benar melakukannya.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Bagaimana kejadiannya?",
"Saat malam itu Nakano dan aku membuat sebuah janji agar mengembalikan ku ke tubuh ku yang asli ini—",
"Tubuh asli? Karena itukah kamu tidak menghilang sebab kematian Kurumi?",
"Benar sekali.".
Sei melihat ke arah Anna dan mencoba membedakannya dengan yang dulu. Rambut putih panjang yang di kuncir dua, mata biru indah layaknya malam hari, mata waktu berwarna emas cerah, dan pakaian seperti komandan berwarna putih serta topi baret putih. Tidak ada yang berbeda baik dirinya yang dulu maupun sekarang. Tapi Sei menemukan yang berbeda dari dirinya yang dulu.
"Aku tahu apa yang berbeda!",
"Sifat mu menjadi sedikit mesum.",
"Eh?" kata semua orang disana.
Kurumi menunjukkan wajah kesalnya. "Kenapa kamu berpikir begitu?",
"Yah— biasanya para raja atau ratu tak suka menggoda. Benarkan?",
"SALAH! BENAR-BENAR SALAH!",
"Heeehh??".
Anna menenangkan diri dan mencoba menjelaskannya.
"Dengar! Itu sifat ku dari dulu! Lagian aku juga tidak akan menggoda siapapun itu kecuali Nakano. Hanya Nakano saja yang bisa mendapatkan godaan dariku.".
(Pikiran sempit macam apa itu?) pikir Tohka.
"Sudah-sudah. Lebih baik ayo kita nikmati jamuan ini." kataku menyela.
Anna melihatku dan kemudian dia tersenyum. Dia melepaskan pelukannya. "Kau benar— ini bukan waktunya bertengkar. Ini waktunya menikmati kemenangan kita di perang ini.".
Yang terjadi kepada Mashiro adalah dia tidur kehabisan tenaganya. Begitu juga dengan ibu ku.
Awalnya aku mencoba mengajak kakakku untuk datang kesini tapi dia tidak datang karena dia bilang kalau dia akan merasa malu karena jamuan ini hanya untuk kami dan dia tidak ada hubungannya dengan ini. Kakakku memang benar tetapi dia terlalu melebih-lebihkan nya. Lagian kakakku bilang kalau dia lagi sibuk. Aku juga tidak ingin mengganggunya.
Tengah malam pun datang. Dimalam yang sepi semuanya tidur. Aku sedang tidur di kamarku sendiri. Aku telah mengeluarkan banyak energi karena perang itu.
__ADS_1
Di tengah malam itu, ada seseorang melangkah ke kamarku. Dia berdiri di pintu dan mengeluarkan sebuah kunci. Kunci itu untuk kamarku. Tanpa sepengetahuanku orang itu melangkah ke hadapanku yang tengah tidur.
Orang itu mengangkat selimut dan tidur di dekatku. Aku tidak tahu dia siapa. Orang itu juga menutup gorden di kamarku.
Pagi hari pun tiba. Aku masih tertidur di kamarku. Tohka dan Sei tahu kalau aku tertidur lebih lama dari biasanya. Karena khawatir, mereka datang ke kamarku. Pintu itu tidak terkunci karena di buka oleh orang itu dan tidak di kunci kembali.
Tohka dan Sei masuk dan berdiri di hadapanku. "Hei— bangun— Nakano bangun—".
Aku bangun karena dibangunkan oleh mereka berdua. "Selamat pagi—, Sei, Tohka.".
Aku mencoba bangkit dari tidur tapi berat. "Eh- Uh.. Berat!" kataku,
"Kamu baik-baik saja Nakano." kata Sei,
"Maaf tapi aku bukan kelelahan tapi seperti ada sebuah beban di balik selimut ini.".
Selimut itu bergerak sendiri tanpa ada penyebabnya. Tohka memegang selimutku dan membukanya. Ternyata Anna yang tengah tertidur dengan tubuh telanjang bulat. "ANNAA????!!!!!". Kami semua terkejut karena itu.
"Hoam.... Selamat pagi semuanya—",
"A-a-a-a-apa yang kamu lakukan?!" tanya Tohka,
"Hanya tidur satu ranjang dengan Nakano..",
"Bukan itu! Tapi kenapa kamu telanjang?!",
"Hehehe.... Nakano hebat saat di ranjang.",
"A-a-a-a-a-a-a-a-a-a-APA???!!! Apa maksudnya ini, Nakano?!",
"Aku serius. Aku tidak melakukan apapun seperti yang kalian bayangkan.",
"Jangan bohong gitu dong, Na~Ka~No~",
"Jangan buat orang lain salah paham Anna. Jelaskan ini semua aku juga ingin tahu.",
"Lagian kamu ingin pergi jadinya aku ingin tidur dengan Nakano semalam saja.",
"Kekhawatiran mu itu berlebihan!!" kata Tohka,
"Bantu aku, Sei!",
"Aku juga kaget. Tapi lihat, celana Nakano masih terpakai.",
"Kau benar!",
"Sudah-sudah. Ngomong-ngomong Nakano. Kamu sudah memutuskan Alam Semesta mana yang ingin kamu jelajahi?" Tanya Anna,
"Sudah... Alam Semesta Pertempuran. Fighterys! Itulah Alam Semesta berikutnya." Jawabku.
Alam Semesta Fighterys adalah alam semesta yang penuh dengan pertempuran. Tak ada perdamaian. Penguasanya saja tidak peduli dengan makhluk ciptaannya sendiri.
"Sepertinya disana kita... Harus mengotori tangan kita dengan membunuh." kataku,
"Maksudmu.. Kita akan membunuh manusia?" tanya Sei,
"Benar. Ini adalah satu-satunya cara. Alam semesta itu penuh pertempuran tanpa ada perdamaian sedikit pun. Mungkin yang akan menjadi lawan kita selanjutnya adalah penguasanya.",
"Kalau Nakano ingin pergi ke sana... aku juga ikut!" kata Sei,
"Memang tidak cara lain. Inilah satu-satunya cara." kata Tohka,
"Siapkah kalian berdua?",
__ADS_1
"Siap!".