Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 29, Artoria yang Berubah Wujud dan Aku yang Dulu dan Sekarang Menyatu?


__ADS_3

"Tunggu tapi ibu--" kata Artoria,


"Diamlah! Artoria!" kata Arthories,


"Tunggu ini berlebihan!" kata Ikumi,


"Diamlah kalian!" kata Arthories.


Arthories melihat ke arah Artoria dan bilang, "Bunuh mereka!",


"Tapi ibu..--",


"TIDAK ADA TAPI!!" hentak sang ibu.


Artoria harus memilih diantara membunuh kami bertiga atau melawan perintah ibunya. Dia ragu harus memilih yang mana, tapi dia sudah memilihnya. "Aku.... aku... TIDAK AKAN MEMBUNUH MEREKA!".


Arthories terkejut karena ini pertama kalinya Artoria melawan perintahnya. Tapi di saat yang sama, dia marah besar. Dia berdiri dari tempat duduknya, "KAU!!",


"KAU BUKAN APA-APA SELAIN ORANG YANG MEMATUHI PERINTAHKU!! DIAMLAH DAN TURUTI PERINTAHKU!!" Kata Arthories.


 

__ADS_1


Artoria merasa aneh dan sedikit demi sedikit kesadarannya diambil alih oleh seseorang. Baju ksatria yang awalnya berwarna merah menjadi hitam, dan pedang besar merahnya menjadi pedang besar hitam.


Sebuah topeng hitam menghalangi mata sehingga tak bisa melihat matanya. Apa yang sedang terjadi. "HAHAHAHA!!! Ini adalah kekuatan dari segel yang kuberikan kepadanya! Segel ini akan bekerja saat orang yang disegelnya memberontak! Dengan ini aku bisa membunuh siapapun yang menentang perintahku!!" kata Arthories,


 


"Kau! Beraninya kau menggunakan itu kepada Anakmu! Apa kau tak peduli dengan anakmu sendiri kah?" kata Sei,


"Anak? Dia? Anakku? JANGAN MEMBUATKU TERTAWA! DIA HANYALAH ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMBUNUH MANUSIA!! Sekarang serang mereka!".


Artoria mengayunkan pedangnya dan menghasilkan sihir gelap yang dingin dan dahsyat. Sihir itu datang ke arah kami. Nakano melihat ke arah sihir itu datang dan tiba-tiba sihir itu lenyap.


Sei pun bertindak, "Unlimited Weapons!". Sei membuatnya lebih banyak dari yang sebelumnya, mungkin sekitar 15 hingga 25. Itu membuat Artoria sedikit kesulitan. Sei pun menyerang dengan titik buta Artoria dan itu mengenai topengnya. Topeng itu terbelah menjadi dua. Kami melihat mata yang awalnya berwarna biru menjadi merah yang haus akan kemenangan.


Sei terus menembakinya tetapi setiap serangannya mulai terbaca oleh Artoria. Senjata-senjata yang dilemparkan Sei tak mengarah ke Artoria setelah di singkirkan oleh pedangnya. Kemungkinan besar itu karena pedang miliknya bukanlah pedang biasa. Pedang macam apa itu?


Sei meningkatkan kecepatan sihirnya hingga kecepatan cahaya, tapi dia hanya bisa melemparkan beberapa saja karena dia kelelahan karena menarik pedang dari jarak sekitar 2 meter kembali dan melemparkannya ulang itu menguras banyak energinya. Aku dan Ikumi tak bisa ikut campur karena itu serangan jarak jauh tapi... "Light and Dark Sword!" kataku. Sihir itu membuat cahaya pedang sehingga itu mirip dengan sihir Sei, tapi sedikit berbeda karena milikku ini menghilang bukan kembali.


Hujan pedang yang mengguyur Artoria sama sekali tak membuatnya kelelahan ataupun lengah sedikitpun. Sei berhenti karena kehabisan energi sihir.


Artoria dengan kecepatan tinggi, pergi ke hadapan Sei dan memukul perutnya hingga ia terpental ke belakang. "AHKHAAAA...".

__ADS_1


"Nakano! Menyerahlah!" kata Arthories.


Aku yang mencoba fokus menyerang Artoria, melihat Ikumi sedang disandera oleh Arthories. "Menyerahlah! atau nyawa gadis ini terancam!",


"IKUMI!",


"Ikuti permintaanku! Jadilah penguasa disini!",


"Kenapa harus aku?",


"Kenapa? Itu mudah. Karena kamu itu manusia sampah yang hanya tahu cara membunuh!".


Kata-kata itu sepertinya aku sudah dengar... Tapi dimana? Kapan?. Perlahan, aku mulai mengingat diriku yang sekarang. Aku bukan Nakano Wynox! Nakano itu telah mati! Aku yang sekarang adalah Sakamaki Nakano!.


"Kenapa aku harus menurutimu?",


"Sialan kau! AKAN KUBUNUH DIA!!".


Aku berteleportasi di atas kepala Arthories dan aku menendang wajahnya dengan keras hingga terpental. "Kalau bisa sih.".


Tangan Kiri ku yang seharusnya tidak memegang apa-apa, secara tiba-tiba aku memegang pedang Excusifer dan pedang Sabit Merah di tangan kanan. Kini aku yang dulu menyatu dengan aku yang sekarang. "Namaku Adalah Sakamaki Nakano! TAKKAN KUBIARKAN KAMU MELUKAI TEMAN-TEMANKU!" teriakku.

__ADS_1


__ADS_2