
Suara desis pintu yang besar itu menyambut kami semua. Debu berterbangan karena pintu itu membuatku dan teman-temanku harus menutup mata kami, sedangkan bibi Yo masih membuka matanya seakan dia memang sudah terbiasa dengan hal ini.
Setelah dibuka, banyak prajurit yang berjejer di kanan dan kiri menyambut bibi Yo. Tak heran karena bibi adalah ratu disini.
"Selamat datang ratu!" teriak prajurit itu bersamaan.
Bibi Yo memasang mata sinis nya dan senyuman sinis nya bersamaan.
"Sa... ayo masuk!" kata Bibi Yo,
"Baiklah!" jawabku dan teman-temanku.
Kamu berjalan dengan bibi Yo yang mendampingi jalan kami diantara prajurit-prajurit gagah. Aku melihat mata salah satu prajuritnya, mata itu terlihat tangguh dan tak takut apapun seolah-olah berbicara kalau prajurit itu siap mengorbankan hidupnya demi kerajaan. Benar-benar tekad yang tinggi.
Aku melihat ke arah Artoria yang memandang lurus ke depan. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Aku penasaran apakah Anna pernah disambut seperti ini sebelumnya.
Saat kami berjalan mendekati 2 prajurit terakhir yang berada di samping dekat sekali dengan pintu utama, ada seseorang yang berdiri diantara pintu dan menyambut kedatangan kami.
"Selamat datang Ibu!" kata itu dengan suara laki-laki.
Aku melihat ke anak laki-laki yang memakai ikat kepala warna merah dengan baju yang terbuka sehingga otot perutnya kelihatan. Anak itu memiliki warna mata emas dan rambut merah, sangat mirip dengan ayahnya, paman Inara. Sorot matanya sangat tajam mengarah ke arahku, dia menyadari kalau aku sedang melihat ke arahnya. Dia langsung memasang mata sinis benci kepadaku. Aku mengangkat salah satu alisku sedikit bertanya apa maunya. Dia kembali melihat ke ibunya dan bertanya.
"Ibu, siapa orang yang kamu bawa ini?!" tanyanya dengan nada yang cukup menyeramkan,
"Dan lagi... dia memiliki headset paman Izayoi!" tambahnya.
Dia tahu soal ayahku? Aku tak terkejut lagian bibi Yo juga teman ayahku wajar kalau anak bibi Yo juga tahu tentang ayahku.
"Mereka ini adalah tamu-tamu penting disini. Dan lagi anak yang membawa headset pamanmu itu adalah sepupumu. Dia adalah anak dari keluarga Sakamaki." jawab Bibi Yo.
Semua orang disana langsung tertegun kecuali aku dan teman-temanku dan anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu sekali lagi melihat ke arahku dengan tatapan yang tajam sebelum melontarkan beberapa kata.
"Dia kelihatan lemah daripada paman Izayoi." katanya menyindir.
Artoria yang mendengar kata-kata itu, langsung memegang gagang pedangnya yang ada di samping badannya. Geram karena kata-kata itu.
__ADS_1
"KAU!!" Katanya.
Aku langsung merentangkan tangan kiri ku ke depannya dan menghentikan apapun yang ingin dia lakukan.
"Yah... Memang kelihatan lemah daripada pamanmu tetapi pamanmu saja kesusahan melawannya." kata Bibi Yo membelaku,
"Hoho.... Benarkah itu...? Aku tak percaya." katanya.
(Apakah ibu serius?! Paman Izayoi kesulitan melawan mahkluk lemah ini?! Aku bahkan tak bisa mengalahkan paman Izayoi! Aku tak percaya ini!).
"Kalau begitu buktikanlah!" kata Anak itu,
"Buktikan bagaimana?" kataku dengan cepat,
"Tentu saja. Bertarung denganku. Jika kamu menang aku akan mengakui mu dan jika aku kalah, pergilah dari Alam Semesta ini secepatnya!",
"Liyu!!!—" teriak bibi Yo berusaha menghentikan ini semua.
Aku langsung meletakkan telapak tanganku di pundak bibi Yo, menghentikannya. Bibi Yo langsung menghadap ke arahku. Saat setelah itu, aku langsung tersenyum sinis kepada bibi Yo uang mengatakan kalau dia harus percaya kepadaku. Aku berjalan beberapa langkah dan menjawab tantangannya.
"Jadi, kapan kamu mau mulai tantangannya?" tanyaku.
Saat aku melihat dengan jelas, dia sudah tak ada di depan mataku. Tiba-tiba suara mengerikan datang dari atas.
"SEKARANG...!".
Aku melihat ke atas dan melihat kakinya sedang mencoba menyerangku. Aku terkejut sebentar lalu tersenyum. Anak itu pun mengayunkan kaki kanannya dari atas ke bawah dengan keras.
Terjadi gempa bumi karenanya. Asap debu berterbangan mengelilingi kami berdua. Teman-temanku dan yang lain tak bisa melihat apa-apa melainkan hanya bisa menutup mata karena angin yang dihasilkan anak itu kuat.
Setelah beberapa saat debu itu mulai menghilang. Mereka mulai jelas melihat apa yang terjadi dan mereka melihat aku memegang kaki kanan yang dikibaskan oleh anak itu, Liyu. Liyu terkejut aku bisa menangkap kakinya.
"Hmm.... lumayan juga kemampuanmu. Tetapi untuk melawan ayahku itu masih kurang." kataku,
"Tch! BERISIK!" teriaknya.
Liyu langsung mengarahkan kaki kiri kirinya ke tangan kiri yang menangkap kaki kanannya. Tanganku langsung menjauh dari kaki yang mencoba menendang ku itu. Dia langsung mundur ke belakang.
__ADS_1
Kemampuan bertarungnya sangat tinggi untuk anak seumurannya. Insting bertarungnya juga tak bisa dianggap remeh. Jika aku tak berpengalaman dalam bertarung dan tak memiliki pedang Excusifer maka aku akan kalah. Tetapi yang kurang darinya adalah membaca situasi. Dan emosinya itulah yang membuatnya tak bisa membaca situasi. Jika dia mengisi kekurangan itu, maka dimasa depan nanti dia akan menggapai pencapaian yang tinggi. Tetapi dia harus mengendalikan emosinya dulu dengan cara bersabar, dia adalah anak tipe mudah marah.
"Hmp... Kekuatanmu dan insting mu luar biasa hanya saja kamu tak bisa mengendalikan emosimu." kataku,
"BERISIK! AKU HANYA PERLU KEKUATAN UNTUK MENJADI KUAT!" Teriaknya.
Setelah teriakan itu, dia tak melihat aku dimana pun.
(Sial! Dimana dia?! Dia menghilang?!).
Tiba-tiba muncul bisikan suara dari telinga kirinya.
"Kamu salah... Tak semua membutuhkan kekuatan untuk menjadi yang terkuat." bisik ku.
Liyu melihat ke arah suara itu datang tapi dia tak melihat siapapun. Tiba-tiba, kali ini, bisikan suara muncul di telinga kanannya.
"Kalau kamu ingin menjadi kuat... kontrol emosimu, baca situasi yang kamu hadapi..." bisik ku.
Liyu melihat ke tempat dimana suaraku muncul dan sekali lagi tak ada siapapun. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, depan dan belakang, tetapi dia tak melihat apapun.
"DIMANA KAU?! KELUARLAH! JANGAN MENJADI PENGECUT!!!" teriaknya.
"Baiklah!" kataku dari atasnya.
Liyu mendengar itu dan melihat ke atas dia melihat kaki kananku berada diatasnya. Aku mengayunkan kakiku dari atas sampai berhenti di atas wajah Liyu, aku tak berniat menyakitinya. Saat aku berhenti, terjadi embusan angin yang sangat cepat bahkan beberapa dari prajurit itu terhempas sampai ke ujung tembok yang jauhnya bermeter-meter. Hembusan angin itu sangat kuat.
Setelah beberapa detik, hembusan itu berhenti. Semua yang ada disana tak begitu banyak melihat apa yang terjadi, tetapi dalam sekali lihat mereka langsung tahu situasinya. Liyu telah aku kalahkan.
Liyu melihat ke arah kaki kananku yang hanya berjarak beberapa sentimeter dengan wajahnya sambil gemetaran.
"Dengan begini aku adalah pemenangnya ya.." kataku.
aku langsung berteleportasi ke atas tanah, mendarat.
Liyu terjatuh duduk di bawah sambil ketakutan. Yah... sedikit pemanasan juga tak apa kan? Aku sudah cukup lama tak bertarung.
Aku tak melukai Liyu karena dia sebenarnya anak baik. Dia sangat berbakat, diusianya yang muda saja pernah menantang ayahku berkali-kali. Jika dia berhasil mengontrol emosinya dan mengembangkan kekuatannya, aku yakin dia akan menjadi penguasa Alam Semesta yang cocok untuk Alam Semesta Machinery ini. Aku harap dia tak masuk ke dalam jurang keputusasaan karena aku.
__ADS_1