Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 120, Jawaban Kurumi 2


__ADS_3

Aku dan teman-temanku kembali ke kamar masing-masing. Masalah kami disini sudah hampir selesai. Semuanya tidur dengan nyenyak malam ini dan bisa menghirup udara segar lagi di esok hari... untuk yang lain... Sedangkan aku dan Artoria diceramahi panjang lebar oleh Anna. Sebesar itukah kecemburuannya?


Setelah berjam-jam, akhirnya aku dan Artoria bisa tidur... dinaungi oleh suara Anna yang masih bergema dipikiran kami. Sudah seperti mau mati saja.


Keesokan harinya, aku sedang berdiri di atas dinding menikmati pemandangan biru yang telah ku rindukan. Yap, semuanya kembali normal dan kurasa ada pr bagi kerajaan ini.


Aku menghirup nafas segar yang sudah lama tak ku hirup dan menghembuskan nya keluar. Rasanya segar walaupun masih ada bau-bau asap bakar bekas insiden lalu.


Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki di sampingku dan aku melirik ke arahnya. Aku menemukan Artoria sedang memandang ke arah yang sama denganku. Dia berhenti di dekatku dan memandangi keindahan yang sudah lama tak kami rasakan.


"Hufft... Hahh... Sudahlah tak menghirup udara segar ini." katanya,


"Ya. Rasanya seperti berada di surga apa aku benar?",


"Ya, kurasa." jawabnya sambil tersenyum.


Kami disana diam. Angin berhembus ke arah kami dengan lembut melewati kami. Rambut kami berterbangan ke arah berlawanan dan kami menikmati saat-saat itu.


"Jadi bagaimana dengan Kurumi?",


"Aku hanya perlu jawaban saja. Aku masih menunggunya, gak peduli berapa lama pun waktunya aku akan tetap menunggunya.",


"Heh... seperti biasanya ya... Kurasa anak ini beruntung memiliki ayah sepertimu.",


"Kau sudah cukup berani ya?",


"Aku belajar untuk lebih terbuka untuk anak...",


"Hm?",


"Anak... kita..." katanya dengan berbisik,


"Yah... walaupun kamu masih tetap saja belum terbuka soal perasaanmu itu.",


"Karena itulah aku belajar lebih terbuka tahu! Lagipula tak bagus menyimpan sifat pemalu ini sampai anak ini lahir.",


"Aku tak keberatan apapun jenis sifatmu, aku tetap menerimamu.".


Dia terdiam tetapi aku tak melihatnya.


"T-terima kasih..." katanya dengan nada malu.


Aku melihat ke arahnya dan melihat wajahnya merona kemerahan. Aku tersenyum disana lalu kembali melihat apa yang aku lihat sebelumnya.


Kami diam disana sebelum Artoria berbicara melanjutkan obrolan.


"Nakano... kenapa kamu menerimaku menjadi tunanganmu?",


"Hmm?",


"Dan... kenapa kamu juga menerima yang lainnya... dengan cepatnya lagi seperti... tanpa alasan...",


"....".


Artoria melihat ke arahku yang sedang memandang lurus ke depan.


"Entahlah... kurasa... tak ada alasannya...",


"Eh? kalau begitu... jika ada perempuan yang mau menjadi tunanganmu... apakah kamu menerimanya?",


".... Tidak... kurasa...",


"... Apa maksudmu?",

__ADS_1


"Entahlah. Aku juga tak paham kenapa aku menjadikan kalian tunanganku. Kenapa aku tak memilih salah satu dari kalian? Kenapa aku tak memiliki alasannya? Kenapa aku tak tahu alasannya? Kurasa... aku tak perlu jawaban dari semua itu..",


"...".


Aku melirik ke arahnya yang melihat ke arahku dengan tatapan sedih seperti mata seekor anjing yang memohon meminta sesuatu.


"Maksudku adalah... kurasa kalian berenam adalah wanita pilihanku yang tak bisa aku pilih... diantara kalian. Heh... apa sih yang aku bicarakan? Singkatnya adalah.. aku tak bisa memilih salah satu dari kalian karena kalian sama-sama berharganya bagiku dan aku tak mau membuat seorang wanita bersedih hanya karena diriku.",


"...",


"Intinya adalah... aku... benci melihat seorang wanita bersedih hanya karena aku. Dan disinilah aku memilihmu sebagai salah satu istriku dimasa depan nanti...".


Aku memegang tangan Artoria dan berlutut dihadapannya.


"Kumohon jadilah orang tua yang baik bagi anak kita." kataku dengan... nada romantis?,


"E-eh?! I-ini...",


"....".


Artoria mengeluarkan sikap percaya dirinya dan wajah polosnya. Dia mengeluarkan senyuman manis yang paling manis daripada semua senyumannya. Dia memiringkan kepalanya dan menjawab pertanyaan dariku dengan wajah penuh kebahagiaan.


"Ya! Aku berjanji... aku akan menjaga anak kita dengan baik sehingga tumbuh besar seperti ayahnya yang hebat..".


Aku tersenyum bahagia. Angin berhenti berhembus dan saat itulah kami berciuman. Dengan itu hati kami sudah menjadi satu. Artoria win?


Tak terasa malam hari pun tiba. Aku menghabiskan waktuku dari siang sampai malam untuk berbicara dengan Sumiko tentang banyak hal. Kami tak menjalin hubungan seperti bertunangan atau apapun, kami hanya menjalin hubungan persahabatan yang erat yang pernah ada. Dan saat itulah aku bertanya kepadanya tentang kemampuannya.


"Jadi, apakah aku bisa mendapatkan setengah kemampuanmu?" tanyaku,


"Setengah...? Heh... siapa bilang setengah?",


"Eh?".


Sumiko menjauh dariku dan aku melihat mata waktunya menjadi mata waktu yang mirip denganku yang dulu.


"Sumiko... matamu..!",


"Ya... Aku tahu... Pupil tambahan di mataku hilang bukan? Itu berarti aku tak memiliki kemampuan pasif. Sedangkan kamu Nakano...".


Sumiko menarik tanganku dan membawaku ke depan cermin kamarnya.


"Lihat matamu!" katanya.


Aku melihat ke arah cermin dan fokus ke mata waktuku. Pulpilnya bertambah. Pupil itu menyatu dengan warna emas matanya dan ada 2 pupil yang berbeda! Satunya berbentuk lingkaran ditengah dan satunya berbentuk gerigi dibalik angka waktu! Itu artinya... aku sudah memiliki 2 kemampuan pasif!


"Sumiko...!" kataku girang.


Dia menjawabku dengan mengangguk. Dia tersenyum bahagia untukku.


"Selamat Nakano!" katanya.


Aku bahagia sampai melupakan sesuatu.


"Sumiko! Kemampuanmu?!",


"Oh itu... Tenang saja... aku masih memiliki sihir. Dan lagi, aku hanya perlu sesuatu untuk kemampuan mata waktuku yang baru, kekuatan yang jauh lebih cocok untukku.",


"...".


Aku mengeluarkan wajah khawatir akan kekuatannya. Bukankah ini sama saja merebut kekuatannya?


"Jangan khawatir. Aku tak perlu kekuatan itu. Ambil saja.. kamu perlu bukan? Itu hadiah untukmu dan juga... tanda bukti kalau kita ini bersahabat! Karena itu... jangan tinggalkan aku sendirian lagi ya...",

__ADS_1


"Ya! aku berjanji." kataku dengan penuh semangat.


-----


Aku berdiri di atas dinding yang mengelilingi kerajaan sambil melihat ke arah bulan. Aku menunggu Kurumi disana karena entah kenapa rasanya aku akan bertemu dengannya malam ini.


Aku menghembuskan nafas dan saat itulah aku mendengar suara hentakan kaki yang lembut dan suara efek dari suatu sihir... suara ini... mirip dengan saat Kurumi pergi saat itu.


"Nakano..." kata seseorang yang tak jauh di sampingku.


Aku memalingkan wajahku ke arah suara itu muncul dan benar seperti dugaan ku, Kurumi disana. dia berdiri dengan wajahnya yang sedikit merona dan matanya yang berkaca-kaca melirik ke arah lain. Dia melihat ke arahku dengan tatapan pemalu.


"Jadi, bagaimana?" tanyaku,


"Duh... jangan terburu-buru! Hatiku masih...",


"Baik-baik aku mengerti. Jadi, apa?",


"... Apakah kamu benar-benar akan menerimaku?",


"Itu lagi? Ya. Aku akan menerimamu apa adanya sebagai salah satu tunanganku.",


"Benar?",


"Ya. Itu benar! Aku akan— Tidak! Aku pasti menerimamu apa adanya!" kataku.


Kurumi menunduk melihat ke bawah dengan wajahnya yang masih ragu-ragu. Wajahnya memerah tetapi masih ragu-ragu untuk menjawab.


"Jika kamu memerlukan waktu untuk berpikir, aku akan memberikannya. Kamu tak perlu memaksakan dirimu. Aku akan menunggu jawabanmu selalu dan selamanya, bahkan bertahun-tahun.",


"...".


Kurumi terpukau dengan kata-kata itu. Dia memang ragu-ragu dan itu hal normal. Dia telah tersakiti dan tak ingin hal yang sama terulang lagi kepada dirinya sendiri.


"Aku sudah putuskan!" katanya penuh keyakinan,


"...".


Aku melihat ke matanya dan kami saling bertatapan. Aku melihat matanya penuh dengan keyakinan dan kepercayaan.


"Aku... akan menerima tawaranmu! Jadikan aku salah satu mempelaimu!" katanya penuh keyakinan.


Aku tak terkejut dan malah tersenyum.


"Baiklah...".


Aku mengulurkan tanganku kepadanya.


"Aku berjanji... kalau aku akan membahagiakanmu semampuku!" kataku.


Kurumi terkejut dan tersipu malu. Dia melirik ke arah lain dan ke arahku secara bergantian berulangkali. Dia kemudian berlari memelukku. Dia mendorongku jatuh ke lantai. Aku melihat ke arah wajahnya dan dia sedang tersenyum sangat sangat bahagia. Ya sudahlah biarkan dia saja.


"Selamat Kurumi." kata seseorang di belakangku.


Suara itu... ah... Artoria ya. Aku melihat ke atas dan melihat Artoria di atasku sekarang. Dia tersenyum bahagia untuk Kurumi.


"Oh iya Nakano, bagaimana dengan Tohka?" tanyanya secara tiba-tiba,


"...".


Oh iya aku lupa... aku melupakan dia. Bagaimana dengan dia ya? Apakah dia ada di Ender End?


"Entahlah aku belum memikirkannya dengan lanjut apa yang terjadi kepadanya. Tetapi yang aku tahu... ini adalah perjalanan kita selanjutnya! Kembali ke tempat awal mula semua ini dimulai! Ender End!".

__ADS_1


__ADS_2