Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 132, Lantai Ketiga


__ADS_3

Saat aku masuk, aku melihat sosok yang amat sangat kukenal. Dia adalah... ayahku.. Sakamaki Izayoi.


"Ternyata kamu sudah berada di sini ya.." katanya.


Aku terkejut dan terdiam. Aku tahu kalau hal ini akan datang tapi tak aku sangka secepat ini...


"Oho.. bukankah yang ada di telingamu itu adalah barang rongsokan milikku?" tanyanya.


Aku memegang headset milik ayahku.


"Hahaha... apa-apaan mukamu itu? Kau bersedih? Hanya untuk pria tua sepertiku?",


"....".


Aku tak menjawab. Aku tak tahu apa yang harus aku bilang kepadanya.. Aku bahkan tak tahu bagaimana ekspresi wajahku sekarang.


"Oh iya, sepertinya kamu telah menjadi seorang ayah ya?".


Dia bertanya untuk membuatku bicara walaupun hanya sepatah kata.


"Ya..." jawabku,


"Wow. Sepertinya aku menjadi seorang kakek disini. Tak kusangka kamu melakukannya.".


"Tak kusangka"? Kata-katanya menusuk.


Dia meregangkan tubuhnya dan mengambil diposisi menyerang sambil bilang,


"Ayo cepat selesaikan ini... Aku sedikit mulai bosan. Terakhir kali aku serius saat kematianku tiba. Karena itu, aku akan serius bahkan lebih serius kepadamu.",


"Terserah... Aku juga takkan menggunakan pedangku.".


Demi menghormati ayahku juga... aku akan bertarung dengannya dengan tangan kosong.


"HAHAHAHAHA... Sejak kapan kamu se-pede itu? Hah?",


"Entahlah... kurasa itu ajaran darimu...",


".... Omoshiroi (Sangat menarik.)".

__ADS_1


Aku meletakkan pedangku di lantai demi memperlancar pergerakan ku dengan mengurangi beban.


Aku meregangkan badanku terutama kakiku dan tanganku lalu bersiap diposisi. Dalam hitungan dalam hatiku... 3... 2... 1!


Aku langsung mendorong diriku menyerangnya dengan kaki. Dia menahan seranganku dengan tangannya. Aku lalu menarik kakiku dan menyerangnya dengan kedua tanganku. Semakin cepat dan cepat.


Dan aku melihat kesempatan terbuka di bagian dadanya. Aku menyerangnya tetapi ditahan dengan kedua tangannya, walaupun begitu dia terdorong cukup jauh. Kecepatan tangannya luar biasa tetapi perpindahan kekuatannya masih cukup lambat, walaupun begitu tadi sudah bisa dibilang cepat.


"Ada apa? Sepertinya kamu melemah." katanya,


"Mana ada!".


Aku langsung menyerangnya lagi terus-menerus menggunakan tangan, kaki, bahkan kepala.


Kami membuat lantai disana berguncang dan bergetar dan juga membuat hembusan angin yang sangat kuat.


Aku membawanya ke atas udara dan menendangnya ke lantai lagi dengan keras. *Duar*, suara hentakan yang sangat keras membuat lantainya retak.


(Au ah saya (Author) bingung mau gimana war nya.)


"Apa? Sudah melemah?" tanyanya kepadaku,


"Melemah? Aku baru saja mulai!".


Ayahku disana berdiam diri melihatku. Aku bersiap diposisi, menarik nafas dan langsung fokus. Alhasil, keluarlah api hitam yang dicampur petir hitam pada kedua tanganku. Ayahku tersenyum sinis.


"Ini yang aku tunggu-tunggu!".


Aku melihat sesuatu seperti aura api keluar dari ayahku. Dia bersiap diposisi dan tangannya bercahaya. Jadi ayahku sudah tahu bagaimana caranya melakukan ini?! Kenapa dia tak mengajariku?!


Kaki tak mengeluarkan sepatah katapun disana, saling menatap tajam. Lalu kami mendorong badan kami sendiri dan menyerang satu sama lain.


Aku menyerangnya dengan tangan dulu, baru kaki. Kakiku mengeluarkan api dan listrik Hitam juga saat aku ayunkan. Ayahku menahannya, dia pun menyerangku.


Kami saling menyerang tanpa menahan diri disana, lalu terjadi lagi.. adu kekuatan dengan serangan bertubi-tubi. Kami harus menyerang satu sama lain dan menahan serangan satu sama lain diwaktu yang bersamaan.


Kami pun akhirnya melakukannya. Kami bertarung seimbang, apakah aku memang sudah sekuat ayahku semenjak mendapatkan kedua elemen ini?


(Mau ngasih gambar aku bagaimana pertarungan mereka tetapi gak punya. Gak punya ilustrator.)

__ADS_1


Dan saat satu momen, aku dan ayahku menyerang secara bersamaan dan kepalan tangan kami mengenai satu sama lain. Dan tanpa kusangka aku dan ayahku mengerahkan sebagian energi kami di kepalan tangan itu. Alhasil, terjadi penolakan energi besar, bahasa yang mudah dimengerti yaitu ledakan besar terjadi saat itu.


Kami meloncat mundur ke belakang lalu menyerang lagi satu sama lain habis-habisan, tak ada istirahat dalam pergerakan kami dan akhirnya... banyak bagian dari lantai dengan luas 1 kilometer retak besar karena ulah kami. Tak ada yang tak rusak disana, semuanya retak. Lalu satu momen yang sama dimana kami adu kekuatan lagi, membuat retakan lantai yang sudah kami buat makin besar dan parah.


Kami masih belum selesai, kami bertarung terus-terusan sampai salah satu dari kami staminanya habis! Kami membuat kerusakan yang amat sangat parah.


Setelah beberapa jam, akhirnya ayahku tumbang sambil terengah-engah. Aku juga sudah kelelahan. Aku yang terengah-engah ini mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya.


"Aku sudah kalah ya... Oi, sejak kapan kamu sekuat ini?" tanyanya.


Kata-katanya tak ada yang berubah, tak pernah memanggil namaku.


"Sudah lama. Mari kita akhiri ini?" tanyaku,


"Terserahlah. Kurasa aku juga akan mati karena staminaku terkuras habis, bahkan aku sekarang sudah merasa aku kehilangan kesadaranku...",


"Baiklah.".


Tubuh ayahku bercahaya pertanda kalau aku akan lulus lantai ini.


"Hei... Nakano...".


Dia... barusan... memanggil namaku?!


Aku melihat ke arahnya dengan terkejut.


"... Jadilah... kuat... gapai mimpimu tanpa bantuan siapapun... Jadilah kuat melebih semua orang di galaksi ini... Ya...? Kau dengar...?",


".... Ya... Aku dengar...",


"Baguslah..".


Dia langsung menghilang begitu saja. Perpisahan yang aneh...


Tanpa kusadari, aku meneteskan air mata... Dasar..! Ayah tua! Berapa kenangan lagi yang harus kau ingatkan kepadaku?! Berapa banyak lagi aku harus menangis untukmu...? Woi! Sialan..!


Aku menangis disana sendirian sebelum pintu menuju lantai istirahat muncul. Aku pun teleportasi-kan Excusifer masuk ke sarungnya dan lalu masuk ke dalam pintu. Seperti biasa tak ada siapa-siapa disana. Aku pun melakukan hal yang sama, berburu... bertahan hidup gaya klasik.... sambil menunggu yang lain datang dan menunggu staminaku datang lagi.


Setelah beberapa lama, orang-orang datang dengan jumlah yang sedikit.. sekitar... 50... sampai... 78 orang..? Sudahlah.

__ADS_1


Tiba-tiba seperti biasa pintu muncul di hadapanku dan itu pintu menuju lantai selanjutnya. Aku masuk dan penasaran... apakah... didalam sini itu... Wynox?


Saat aku masuk... aku melihat di hadapanku.. dan aku benar, Wynox dihadapan ku...


__ADS_2