
Aku dan yang lain bersiap untuk peperangan. Aku telah memberitahu kepada yang lainnya kapan iblis Api ini kira-kira akan menyerang yaitu 20 Februari 142 Tahun Matahari. Hari ini, 18 Februari 142 tahun Matahari. Kami bersiap dengan berlatih lebih keras lagi. Para kelompok pemadam seperti Shiro, Sistine, dan Sanae berlatih dengan cara mereka sendiri sedangkan aku, Liyu, dan teman-temanku berlatih satu sama lain. Liyu berlatih denganku dan kami berdua menggunakan seni bela diri satu sama lain.
Saat itu, aku menendang Liyu sampai terdorong ke belakang.*Gubrak*.
"Ckhah!! Hah... Hah... Hah..." suara Liyu terengah-engah kelelahan.
Aku berjalan pelan ke dekat Liyu yang berbaring di atas tanah seperti tak sanggup berdiri. Aku membungkukkan badanku dan melihat ke bawah.
"Sudah lelah? Apakah kamu mau mengakhirinya?" tanyaku,
"Tidak!! Hah.. hah... Aku ingin lagi! Sekali lagi!".
Liyu mencoba berdiri dengan paksa.
"Ckiiiahhh!" suaranya.
Dia mencoba berdiri tetapi gagal karena badannya sudah tak sanggup lagi.
"Istirahat 5 menit, aku akan menemui mu lagi untuk bertarung. Isilah tenaga mu dengan minum air, minimal." kataku,
"Hah... Hah... hah....".
Liyu terengah-engah sambil berbaring di tanah tak bisa berdiri. Aku lalu pergi ke tempat lain membiarkan Liyu sendirian.
Saat aku berbelok melihat keadaan, Artoria berlari ke arahku.
"Nakano!" panggilnya.
Dia berhenti di depanku dan berdiri dengan normal.
"Ada apa?" Tanyaku,
"Tak ada. Bagaimana pelatihan Liyu?" tanyanya balik,
"Yah... dia masih belum bisa mengalahkan ku.".
Jadi begini ceritanya...
5 Jam yang lalu....
Saat itu, ditempat terpencil yang tak ada orangnya Liyu membungkukkan badannya dan memohon kepadaku untuk dilatih olehku.
"Kumohon, Latih aku!" kata Liyu,
"Yah... aku tak keberatan tetapi pelatihannya akan sedikit berat bagimu, tak apa?",
"Tak apa!",
"Kau bahkan tak berpikir panjang kan? Aku takut ini terlalu keras.",
"KUMOHON! WALAUPUN SEKALI SAJA KUMOHON!!!".
Dia benar-benar keras kepala.
"Aku tak keberatan sih... Tetapi kerajaanku banyak... kenapa tak minta dilatih oleh Artoria?",
"Kakak Artoria..? Dia menggunakan pedang sedangkan aku ingin melawan seseorang seni bela diri keduanya!".
Aku menghela nafas, sepertinya tak ada cara lain untuk menghindarinya.
"Baiklah kalau begitu...",
"Terimakasi—".
__ADS_1
Tepat sebelum Liyu menyelesaikan kalimatnya, aku mulai berbicara lagi.
"Tetapi....",
".....Tetapi...?",
"Tetapi pelatihan ini takkan selesai sampai kamu memaksaku untuk mengeluarkan kekuatan teleportasi milikku. Bagaimana? Jika kamu berhasil memaksaku untuk mengeluarkan kekuatan itu, pelatihan selesai dan kamu lulus. Bagaimana? Masih ingin?".
(Ini takkan mudah... Kak Nakano memiliki kekuatan fisik yang setara dengan paman Izayoi. Artinya saat aku melawannya, aku akan merasa melawan paman Izayoi!).
Liyu tersenyum entah itu sinis atau bahagia.
(Entah kenapa bukannya ketakutan... malah... Aku menjadi bersemangat untuk melawannya! Aku ingin melawannya sesegera mungkin!!!).
"BAIKLAH!!!" katanya dengan penuh semangat.
Begitulah ceritanya... Walaupun selama 5 jam kami bertarung, aku tak menahan diriku sehingga dia bisa merasakan kekuatan yang setara dengan pamannya, yaitu ayahku. Alhasil, dia tak membuatku terpaksa harus berteleportasi selama 5 jam seperti kami hanya bermain-main saja.
Aku melihat ke arah Artoria dan menanyainya sesuatu. Walaupun ingin begitu, tetapi entah kenapa aku merasa canggung sekali untuk berbicara padanya. Pipiku memerah sendirinya. Aku melirik ke mata Artoria. Dia melihatku kemudian melirik ke arah lain mencoba untuk menghindari kontak mata. Pipinya langsung memerah dengan sendirinya. Suasananya tiba-tiba canggung. Untuk mencairkan suasananya, Artoria beralasan untuk pergi ke tempat lain.
"A-aku harus pergi, Sampai jumpa!" katanya,
"Ah! Tu—".
Aku ingin menghentikannya tetapi dia sudah menghilang dari pandangannya dengan cepat. Hubungan diantara kami mungkin bisa dibilang... memburuk... Kecanggungan kami adalah penyebabnya. Jika ini terus terjadi, tak hanya hubungan kami yang semakin renggang, kami juga dapat menghambat kerjasama tim. Ini buruk untuk perjalananku... Aku harus menghilangkan kecanggungan diantara kami, tapi bagaimana..?
Disisi lain, Artoria berhenti berlari setelah bertemu denganku. Badannya gemetar. Dia langsung jongkok dan menutup wajahnya yang merona.
(Ha-HABIS SUDAH!!! Habis sudah hubungan kami, bukannya semakin erat sebagai tunangan malah semakin renggang. Andaikan saja aku tak memintanya melakukan itu pasti takkan berakhir seperti ini diantara kami.. Apakah aku harus menyerah? Tidak! Aku belum boleh menyerah! Aku harus mengeratkan kembali hubungan kami dan batasnya adalah 20 Februari mendatang. Yosh! Selama ada kesempatan, disitu ada harapan!)
Kembali, ditempat aku berada. Aku berjalan menuju ke sebuah tenda besar. Aku masuk ke tenda dan melihat Sumiko sedang diikat di kursi oleh Tohka.
"Diam saja, Oke?!" kata Tohka,
Aku sebelumnya menugaskan Tohka dan Keiko untuk menjaga Sumiko agar tak kemanapun karena aku tahu jika perempuan ini dibiarkan dia akan bertindak sesuka hatinya dan itu bisa gawat.
"MYMMMMHMMMM!!!!!",
"Cih! BERISIK!!! AKU AKAN MEMBELAH ISI PERUTMU JIKA KAMU TAK BISA DIAM!!!" Teriak Tohka,
"Wah... Kamu sadis Tohka tetapi aku setuju... Jika kamu tak diam... kami akan membuatmu menyesal..." kata Keiko
"HMHMHNHHHMMMNNNMM!!!!!".
Tetapi entah kenapa sekarang... lebih mirip penyiksaan terhadap tuan putri dari pada menjaga Sumiko. Membelah isi perut? Tak ku sangka Tohka akan bilang sesuatu yang menjijikkan seperti itu.
"Ehem..." kataku.
Semua suara disana menghilang dan semua tatapan menuju ke arahku.
"Kalian berdua!" kataku dengan tegas.
Tohka dan Keiko langsung berdiri tegak siap dan menjawab ku.
"Siap!".
Kenapa jadi mirip tentara?
"Kalian berdua ini... apa yang kalian lakukan kepada Sumiko?!",
"Kami hanya menjaganya sesuai perintah. Tetapi dia tak bisa diam jadi itu membuat kami jengkel.".
Aku langsung memegang jidatku dengan pelan seperti kepalaku kesakitan.
__ADS_1
"Kalian ini... Sudahlah... Tohka tugasmu sekarang mengawasi sekitar, bantu Sei untuk mencari informasi kota dan keadaannya dan Keiko sebaiknya kamu menyiapkan stamina mu banyak-banyak, peperangan ini mungkin takkan berakhir dengan waktu satu hari saja." perintahku,
"Siap!",
"Siap!" jawab mereka serentak kemudian pergi.
Aku pergi berjalan mendekati Sumiko dan melepas lakban dengan pelan.
"Maafkan mereka. Aku tak menyuruh mereka melakukan ini." kataku.
Aku berjalan kebelakang kursi dan melepaskan tali yang mengikat Sumiko.
"Apa-apaan mereka itu?! Apakah itu sikap mereka kepada tuan putri?!".
Sambil mendengar Sumiko mengeluh aku minta maaf kepadanya.
"M-maafkan mereka. Mereka tak pernah terjerat sesuatu seperti menjaga. Mereka pernah menghadapinya sesuatu yang lebih mengerikan daripada eksekusi mati. Aku akan meminta mereka untuk lebih menjaga sikap.".
Sumiko memegang kepalanya pusing dengan apa yang terjadi. Sambil memegang kepala, dia berbicara.
"Sudahlah lupakan. Nakano! Ajak aku untuk ikut Medang pertempuran!",
"Maaf itu tidak bisa.",
"Kenapa?! Apakah karena aku adalah targetnya?!",
"Itu salah satunya tapi yang lainnya adalah kamu masih belum bisa mengontrol kekuatanmu dengan baik.",
"B-bagaimana kamu bisa tahu?!",
"Aku membaca judul buku yang kamu bawa saat tertabrak saat itu. Kamu membawa banyak buku panduan penguasaan sihir tingkat dasar, menengah, hingga tinggi.",
"....".
Sumiko menundukkan kepalanya karena merasa dia bukanlah apa-apa selain tuan putri yang tak bisa mengendalikan kekuatannya. Dia merasa tak berguna.
"Hei, Sumiko, aku ingin menanyakan hal ini dari awal. Ada apa dengan kekuatanmu? Sepertinya bukan kekuatan yang biasa dari yang lain.",
"...",
"....Jika kamu tak ingin menjawab tak apa.. Lupakanlah..".
Aku merapikan talinya dan meletakkannya diujung sudut tenda.
"Aku saat lahir, dilahirkan dengan kekuatan yang berbeda. Bukan karena kekuatan geriginya, tetapi karena cara kerja kekuatanku yang berbeda. Normalnya setiap kekuatan memiliki kinerja yang sama setiap elemennya, elemen gabungan juga seperti itu. Aku adalah elemen gabungan antara cahaya dan tanah. Aku harus belajar dengan kinerja mereka tetapi aku gagal. Entah kenapa... rasanya berbeda dengan sihir gabungan cahaya dan tanah yang lainnya. Karena itulah aku membaca banyak buku panduan..",
"....",
"Hei Nakano... Aku ingin menanyakan hal ini.. Apakah kinerja kekuatanku berbeda dari yang lain karena ulah mata waktu?" tanyanya,
"Mungkin... Jika kamu mau menanyakan hal itu, kamu bertanya kepada orang yang salah. Aku dibesarkan dengan kekuatan fisik sebagai dasarnya kekuatanku. Sehingga menghambat pertumbuhan sel sihir ku. Dan sampai sekarang aku tak bisa mengeluarkan sihir tingkat tinggi walaupun aku sudah masuk kriterianya. Karena aku tak memiliki mana yang cukup untuk mengeluarkannya.",
"...",
"Jika kamu ingin bertanya apakah mata waktu yang menghambat mu, kamu harus bertanya kepada orang yang tepat, bukan aku melainkan Keiko.".
---
**Assalamu'alaikum,
Guys maaf kemarin gak upload bab baru. Banyak tugas dari sekolah... untungnya sekarang sudah selesai semua jadi aku bisa melanjutkan up bab baru seperti biasanya. Maaf ya sekali lagi. Aku juga ingin bilang kalau aku gak up artinya aku diantara sakit atau sibuk. Jadi gtu ya. Seterusnya kalau gak up mohon maaf aja.
Wassalamu'alaikum,
__ADS_1
-*Author Z***.