
Liyu terdiam, berdiri bingung seperti tak tahu apa yang baru saja terjadi. Dia sadar kalau dirinya telah dikalahkan oleh orang lain selain Nakano dan Pamannya.
"Serangan tadi.... apa yang baru saja terjadi...?" tanyanya,
"Kau tak ingat? Kau sudah kalah.",
"Tapi bagaimana?",
"Aku menghantamkan energi pedang yang aku kumpulkan ke tanah yang mana menyebabkan aku terpental ke arah yang berlawanan. Aku menggunakan serangan itu untuk menghindari serangan mu dan menyerang kamu balik.",
"...",
"Tenanglah. Kamu akan menggunakan taktik semacam itu suatu saat nanti. Kamu terlalu fokus dengan tujuan mengalahkan musuh mu tanpa berpikir apa yang akan dilakukan musuh selanjutnya. Berpikir singkat boleh saja dalam pertarungan tetapi kadangkala berpikir panjang juga merupakan kunci kemenangan. Mulailah berpikir. Gunakan taktik untuk mengelabuhi musuh, dengan begitu mereka akan menari dalam kendali mu seperti boneka.",
"...".
Aku tersenyum sinis, menarik pedangku dan memasukkannya kembali ke sabuknya.
"Pertarungan hebat, Liyu. Tetapi itu masih kurang untuk membuatmu kuat seperti Kakak ipar mu. Belajarlah lagi, jika kamu sudah merasa jauh lebih kuat panggil aku. Aku akan meladeni kamu kapanpun kamu mau." kataku.
Aku berbalik badan dan berjalan lurus kembali ke tempat pelatihan ku. Pertarungan tadi cukup membuat rasa bosanku menghilang. Walaupun tak aku sangka Liyu sekuat ini, dia tak sekuat ini sebelum aku dan Nakano dan yang lainnya datang kesini, mungkin bisa aku kalahkan dalam sekali atau 2 kali ayunan.
Aku berjalan meninggalkan Liyu sendirian. Liyu terjatuh duduk menyadari kalau dirinya masih belum cukup kuat untuk melebihi kakak iparnya sendiri.
Aku berjalan kembali. Saat hampir sampai aku bisa melihat tempat pelatihan ku diurusi oleh Tohka. Perintahku sebelumnya masih berlanjut sampai sekarang. Yah, setidaknya tak ada masalah yang terjadi.
Tohka yang menyadariku langsung melihatku yang berkeringat sedikit dengan baju yang sedikit ditutupi debu. Tohka menyapaku.
"Hoi, Artoria!" sapa nya.
Dengan santai aku berjalan mendekatinya.
"Ada apa?" tanyaku,
"Tak ada. Kenapa bajumu agak kotor?",
__ADS_1
"Aku berlatih dengan Liyu.",
"Dan hasilnya?",
"Seri.",
"Sesuai dengan yang ku harapkan.",
"..... Bagaimana pelatihan para prajurit ini?",
"Seperti yang kamu lihat, mereka masih menjalankan perintah sebelumnya darimu sampai sekarang.",
"Perkembangannya?",
"Kurasa mereka sedikit bertambah gesit dan kuat.",
"Begitu ya.".
Aku melihat ke arah para prajurit itu, melihat apakah kekuatan mereka bertambah atau tidak. Suara pedang dan suara prajurit disana memenuhi tempat pelatihan. Setelah aku lihat dengan teliti, memang benar apa kata Tohka, kekuatan mereka bertambah walaupun hanya sedikit. Aku ingin lanjut pelatihan mereka tapi aku lelah membutuhkan air.
"Tunggu sebentar." kata Tohka lalu pergi ke suatu tempat.
Setelah beberapa detik, dia kembali sambil berlari ringan dan memberikan kepadaku sebotol air yang dingin. Aku berterimakasih sambil mengambilnya dari tangan Tohka.
"Terimakasih." kataku,
"Baik baik...".
Dia kembali melihat ke arah para prajurit.
"Bagaimana perkembangan Liyu?" tanyanya,
"Dia semakin kuat semenjak menjadi murid Nakano. Jika kemampuannya diasah, mungkin kekuatannya akan melebihi Nakano bahkan paman Izayoi.",
"Heh... benar apa kata Nakano, dia anak berbakat...",
__ADS_1
"...".
Aku tersenyum. Tohka melihat ke arah langit langit yang dipenuhi oleh asap bakar dari kota. Asap itu memenuhi langit-langit sampai-sampai kami hampir tak bisa membedakan siang dan malam. Asap yang kami hirup... asap yang menyiksa paru-paru kami. Kami harap ini cepat selesai dengan begitu, kami bisa menghirup udara bersih dan segar lagi.
Tohka yang melihat ke atas tersenyum dan bertanya,
"Aku penasaran.... sedang apa dia sekarang?",
"Ya, kamu benar... baru saja tak bertemu dengannya sejak kemarin tapi... sudah dibuat rindu...",
"Rasanya... seperti tak bertemu dengannya selama ribuan tahun... padahal baru kemarin...",
"Ya... kamu benar...",
"Sebenarnya... seberapa besar kita mencintainya sampai-sampai merasakan hal memalukan semacam itu?".
Entahlah.... Nakano... kenapa kamu memilih jalan itu? Apakah kamu telah jatuh? Apakah kamu sudah menyerah? Jika iya, aku akan selalu berada disisi tak peduli saat apapun itu. Jika kamu sudah menyerah, tolong... bawa aku juga bersamamu...
Tohka meregangkan tubuhnya ke atas lalu menghembuskan nafas dengan pelan dan santai.
"Sekarang, sebaiknya kita melakukan apa yang harus kita lakukan sekarang." katanya,
"Benar juga...",
"Dan kau!" katanya sambil menunjuk ke arahku,
"Sebaiknya kamu mandi dan berganti pakaian. Pakaianmu kotor!".
Biasanya aku akan merasa jengkel dengan ucapannya barusan, tetapi yang dia katakan benar. Aku perlu mandi dan berganti pakaian.
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi ke kamar mandi dulu. Tolong awasi mereka, jangan sampai mereka berhenti sedikitpun dari gerakannya.".
Aku pergi ke belakang, ke kamar mandi. Tohka yang melihat kepergian ku tersenyum lalu kembali melihat ke arah prajurit dan mengawasi mereka.
Aku pergi seperti tujuanku tadi, lalu kembali ke pelatihan melatih para prajurit itu dengan keras layaknya seorang ksatria wanita. Aku harus membawa Nakano kembali ke sisiku dan yang lainnya. Alam semesta membutuhkannya!
__ADS_1