Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 110, Kekuatan Persahabatan


__ADS_3

Setelah kejadian penyerangan itu, semua orang mulai berlatih dengan keras tapi hanya sebagian. Sebagiannya lagi menerima takdir kalau mereka memang tak sebanding dan berputus asa. Aku benci melihat orang semacam itu.


Lukaku hampir pulih berkat sihir penyembuh Sei yang meningkat lagi. Setidaknya sihir penyembuhnya sudah ada ditingkat dewa. Yah lagian dia memang telah menjadi dewa sih...


Aku dan yang lainnya hampir tak tahu apapun tentang Dewi Matahari, tetapi berkat bantuan orang-orang sini yaitu Shiro, Sanae, dan Sistine, kami mendapatkan beberapa informasi mengenainya.


Dewi Matahari atau biasa dikenal Amaterasu adalah Dewi dari mitologi Jepang yang menguasai Cahaya. Orang-orang percaya siapapun yang berada didekatnya akan terbakar habis tak bersisa sampai ke tulang karena saking panasnya Beliau. Banyak Dewa-dewa yang jatuh cinta kepadanya tetapi semuanya tertolak karena terlalu lemah atau tak dipilih. Beberapa diantaranya terbakar habis oleh dahsyatnya panas Dewi Matahari dan beberapa lagi ditolak oleh Dewi sendiri. Beberapa diantaranya adalah kurang mapan, kurang kuat, kurang tampan, atau semacamnya. Tak ada yang mampu merebut hatinya sampai sekarang. Jika ada seseorang yang membuatnya jatuh hati, orang-orang percaya itu pasti Iblis.


Aku tak menyangka kalau Sei adalah Dewi Matahari dan jatuh cinta kepada seorang manusia... normal? Aneh? Jika memang benar kalau Sei adalah Dewi Matahari yang jatuh hati dengan Nakano yang seorang ras Ender setengah manusia... maka Nakano bukanlah ras Ender maupun manusia.. Yah aku tak heran sih, cara bertarungnya, cara berpikirnya, penderitaannya, dan kekuatannya.


Nakano dilatih oleh ayahnya sendiri dan dalam waktu yang cukup singkat yaitu 5 tahun bisa memperoleh kekuatan fisik yang bisa dibilang besar. Biasanya orang-orang normal takkan bisa bertahan dari latihan yang diadakan oleh penguasa alam semesta sendiri, kecuali kalau penguasa itu berbelas kasih tapi itu akan menghambat pelatihan, setidaknya akan memakan waktu 30-60 tahun. Tetapi Nakano hanya 5 tahun dan masih bertahan sampai sekarang, memperoleh kekuatan sebesar itu pasti takkan ada belas kasih di setiap pelatihannya.


Walaupun aku sedang sedikit terluka di bagian bahu kananku, aku tak berhenti untuk melatih para prajurit yang ingin. bertarung disana. Aku juga melatih Liyu disaat yang bersamaan. Kekuatanku menurun saat melawannya tetapi itu tak merubah fakta kalau dia masih lemah untukku. Aku juga mendapatkan bantuan dari Tohka.


Soal Tohka, aku tak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini. Dia terlihat sangat ketakutan saat melihat Nakano sebagai musuhnya. Ada yang tak beres dengannya, itu bukan Tohka yang aku kenal.


Saat itu, aku berada di tempat pelatihan prajurit, mengawasi para prajurit berlatih ditemani oleh Tohka. Aku melirik ke arah Tohka lebih dari 5 menit, tapi Tohka seperti tak peduli dengan itu. Dari tadi kepalanya selalu menunduk, itu membuat rambutnya jatuh ke bawah dan menutupi matanya. Aku melihat ke arah Tohka terus menerus. Setelah itu, kepalanya mulai bergerak sedikit.


"Hm.. Ada apa? Kamu telah melihat ke arahku lebih dari 5 menit." tanya Tohka,


"Tak ada. Akhir-akhir ini kamu selalu diam. Ada apa?",


"Ini bukan urusanmu..",


"Apakah kamu merasa bersalah karena satu-satunya orang yang tak bertindak saat itu?",


"....",


"Yah... apapun itu sebaiknya jangan terus dipikirkan. Keiko juga tak ada disana untuk membantu. Sebaiknya kamu curahkan pikiranmu itu karena pertarungan dengan Nakano akan lebih sulit dari yang ini.",


"...".


Dia diam tak menjawab. Yah wajarlah, dia pasti merasa bersalah karena salah satu orang kuat tak bertindak disana yaitu dia.

__ADS_1


"Nakano... dia menjadi penjahat dalam arc ini... pasti ada alasannya...".


Baru sadar?


"Yah... lupakanlah. Fokus pada yang sekarang saja, jangan mencari tahu apa yang akan Nakano lakukan. Nakano adalah orang yang susah ditebak.",


"Teleportasi nya?",


"Ya, itu salah satunya. Kalau begitu, aku serahkan pelatihan ini kepadamu Tohka.",


"Kau mau kemana?",


"Aku ingin bertemu Anna. Kasihan dia.".


"...".


Tohka diam ditempat. Aku berjalan menuju ke samping kiri ku meninggalkan Tohka ditempat. Aku berjalan lurus sampai menemukan tenda yang hampir mirip dengan logo palang merah. Aku berjalan masuk ke dalam dan menemukan Anna yang berbaring dengan baju biru putih belang bergaris ke atas.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku tanpa sapa,


"Tak menyapa sebelum bertanya itu tak sopan tahu." kata Anna lalu tersenyum sinis.


Dia menutup matanya dan meletakkan tehnya di atas pahanya yang tertutupi selimut putih. Mengangkat bibirnya siap berbicara.


"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah bertanya.",


"Kalau begitu baguslah.",


"Kau ini...",


"Haha... Aku hanya bercanda. Tapi ya, syukurlah kau baik-baik saja. Sebaiknya kamu lekas sembuh." kataku.


Anna mengangkat kedua alisnya. Dia sedikit terkejut. Ekspresi wajahnya sekarang mengatakan kalau tak menyangka aku akan berbicara seperti itu tanpa rasa malu. Dia kemudian menurunkan alisnya, memiringkan kepalanya sedikit, dan tersenyum sinis.

__ADS_1


"Wah... bisakah kamu hentikan itu... Aku bisa jatuh cinta padamu nanti.",


"Apa itu?",


"Hmm? Apakah tak berpengaruh?".


Dia memalingkan wajahnya ke belakang dan berpikir tentang suatu hal.


"Hmm... ini aneh. Kalau aku Nakano pasti bisa meluluhkan hatinya. Apakah karena Artoria jatuh cinta kepada Nakano lalu gombalan seperti itu tak berpengaruh kepadanya?",


"Jadi kau sengaja ya?!" kataku lanjut,


"Ya sudahlah. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.",


"Aku tahu. Tentang Totsuka Kurumi bukan? Ini memang aneh. Seharusnya saat aku mendapatkan tubuh ini, dia mati. Tapi ini tak seperti yang aku ketahui. Sepertinya ada dalang lagi dibalik kasus ini yang mana Nakano sendiri tak tahu.",


"Nakano tak tahu? Mereka pasti menjaga rahasianya dengan ketat ya. Nakano memiliki kepintaran yang bisa dibilang tinggi, seharusnya dalam waktu singkat sudah bisa ditemukan tetapi saat aku bicara dengannya sedikit dia seperti tak tahu akan hal itu. Aku setuju denganmu.",


"Cih. Masalah ini makin rumit!",


"Sebaiknya kita perkuat pertahanan kita terlebih dahulu, Gerombolan Manusia Api itu akan datang kesini sesegera mungkin.",


"Soal itu juga ada yang aneh. Seharusnya gelombang Manusia Api sudah lewat menurut Sei.",


"Ya. Memang seharusnya begitu. Tapi aku menerima laporan kalau Manusia Api ini malah diam tak bergerak selama 3 hari penuh lalu bergerak menuju kemari semenjak Nakano telah menyerang kemari.",


"Masalahnya semakin rumit. Aku juga masih belum pulih sepenuhnya.",


"Sebaiknya kamu istirahat dulu sampai sembuh. Jika tidak, aku akan kesusahan. Jangan repot kan aku ya, Nenek Muda.",


"Baiklah baiklah. Perempuan Gila.".


Kami melihat satu sama lain dan tersenyum sinis. Apakah ini yang disebut kekuatan persahabatan atau semacamnya? Rasanya... menjijikkan... tapi... kuat.

__ADS_1


__ADS_2