
Aku mendapatkan musuh-- tidak, aku dan teman-temanku mendapatkan musuh yang merepotkan mungkin. Tak ku sangka ada sekelompok orang yang tahu gerak-gerik kami. Tidak, ini bukan waktunya mengkhawatirkan mereka, aku yakin mereka baik-baik saja. Lagian mereka bukanlah sekelompok wanita yang lemah.
Sekarang, bagaimana ini? Melawan atau kabur? Jika melawan, mereka akan mengetahui identitasku sebagai manusia sepenuhnya. Jika kabur, mereka akan mengejar dan mungkin mereka akan menangkapku diakhir. Orang seperti mereka pasti tahu gang itu. Merepotkan, padahal sedikit lagi. Sudahlah... aku ladeni sajalah.
"Hei! Jangan melamun begitu! Lawan aku kalau kamu mau masuk ke dalam istana ini!" kata Orang itu.
"....." —Aku tak merespon perkataannya. Apakah dia akan marah? itu akan sangat bagus untukku.
"Woi! Jangan melamun terus! Jawab perkataan ku!" Teriak orang itu. Kau tak menjawabnya dan mencoba membuat dia marah dan menyerangku.
"Cih! Kau mengabaikan aku ya?". Orang itu menyiapkan tembakannya. Kali ini anak panah yang dia arahkan padaku adalah anak panah api.
"Rasakan ini!" teriak orang itu, melepaskan tali busurnya yang mendorong anak panah api ke arahku. Aku dengan cepat mengerahkan pedangku ke anak panah itu dan itu terpotong menjadi dua.
"Cih!". Orang itu menembakkan panah api lagi, lagi, dan lagi. Dia terus menembaki aku, sampai anak panahnya sisa satu.
Dia menembaki anak panah terakhirnya kepadaku berharap itu bisa mengenaiku. Tapi itu tidak bisa. Aku menebas semua anak panah yang datang ke arahku satu per satu. Tak ada anak panahnya yang mengenaiku.
"Mustahil! K-Kau se-sebenarnya siapa?" tanyanya. Dia ketakutan.
"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah penyusup, tidak lebih dari itu." jawabku.
Aku memutar-mutarkan pedangku layaknya tombak, yang kemudian dilemparkan ke arahnya. Saat tepat di depan mata orang itu, aku berteleportasi ke pedangku dan mengehentikan pedangku di posisi yang sama.
Orang itu gemetar ketakutan. Badan-badannya melemas, membuatnya jatuh terduduk.
"Jika kamu menyerangku lagi... aku mungkin akan membunuhmu. Menyerahlah dengan baik!" Kataku dengan tegas,
"Baik! Baik! aku menyerah." kata orang itu. Dia kemudian berlari ketakutan entah kemana. Sekarang, bagaimana keadaan yang lainnya?
Ditempat Anna berada. Anna diserang oleh pengguna tombak saat ingin naik ke atap Istana Abyss. Anna menembaki tombak yang menyerangnya itu dan bertemu penggunaannya yang ada di bawah.
"Wah, wah... kukira siapa ternyata hanya nona cantik. Hei nona, lebih baik minum dengan aku dari pada menyusup ke istana ini.." Kata orang yang menyerangnya,
"Aku merasa terhormat dengan ajakan itu... tapi sayang... aku sudah memiliki kekasih sih..." kata Anna dengan santainya,
"Tak apa... ayolah minum denganku!" kata orang itu,
"Maaf ya... aku sudah bilang kalau aku sudah memiliki kekasih. Aku tak bisa melepaskannya begitu mudah." kata Anna mengingatkan,
"Cih!". Orang itu mengambil tombak berbentuk lingkaran dan perisai dari punggungnya. Dengan tombaknya, dia menginjakkan tanah.
"Kau akan menyesal loh... nona cantik..." kata orang itu menggertak. Orang itu berlari dengan perisai di depannya menuju ke arah Anna. Anna mengeluarkan pistolnya dan menembaknya ke arah perisainya. Orang itu terhenti sebentar untuk berlindung.
__ADS_1
Anna mulai menembak lagi dan lagi hingga perisai itu hancur karena retak. Anna mencondongkan pistolnya dan mencoba menggertak orang itu dengan nada santai.
"Hei... lebih baik kamu kabur sekarang atau....", lanjut dengan nada lebih kejam,
"Kau akan mati loh!".
Kata-kata itu membuat orang itu berpikir dua kali untuk melawannya. Orang itu memutuskan untuk menyerah dan kabur melarikan diri entah kemana. Kemenangan pun diraih oleh Anna.
Sementara keadaan yang lainnya juga sudah aman. Semuanya bisa menang dengan musuh melarikan diri dan semuanya tak terluka sedikitpun. Sudah kuduga... semua istri masa depan ku kuat..
Ditempat ku. Aku melihat ke arah seorang wanita yang tadi melihat pertarunganku dari awal hingga akhir. Dia sedang melihatku dari jendela. Wanita dengan rambut merah gelap seperti alam semesta ini dan gaun mewahnya. Apakah dia Magicufer? Dia menatapku dengan pandangan terpesona.
Aku pergi ke bagian paling atas di istana, atap. Meninggalkan gadis itu sendirian terkunci di kamarnya tanpa ada kebebasan.
Aku dan teman-temanku berkumpul di atap istana itu. Kami melepaskan penutup kepala jubah kami.
"Fuaahh.... Aku lelah sekali!!!" kata Sei memulai pembicaraan,
"Kau benar. Aku mendapatkan musuh di perjalanan kesini dan itu merepotkan. Orang tadi itu banyakan gaya.." Kata Tohka menjelaskan situasi yang menyergapnya tadi.
"Aku juga." kata Anna, Sei, Artoria dan aku satu per satu,
"Yah... yang penting kita baik-baik saja." kata Tohka,
"Sekarang kita akan beristirahat beberapa menit untuk mengisi ulang energi kita. Akan gawat kalau bertemu dengan musuh yang kuat jika kita bergerak sekarang." Jelasku terhadap situasi.
"Baik!"
"Baik!"
"Baik!"
"Baik!"
Kata teman-temanku secara bersamaan. Kami istirahat sebentar. Semuanya hening dan entah kenapa... suasananya serasa canggung.
"Oh iya, tampangnya Magicufer seperti apa?" tanya Sei kepada Anna menghangatkan suasana. Anna menjawab pertanyaan darinya.
"Itu.... dia berambut merah gelap seperti langit malam ini dan bermata merah terang." Jawab Anna sedetil mungkin,
"Eh..." gumam Sei,
"Aku kurang ingat detilnya karena kami hanya bertemu saat pertarungan itu dan tak bertemu lagi sama sekali.".
__ADS_1
Aku menyela pembicaraan mereka bertiga.
"Kalau begitu wanita yang kulihat tadi Magicufer?",
"Ehh??" gumam semuanya,
"Ya... dia seperti terkunci dalam kamarnya sendiri. Tadi dia melihat pertarunganku dari awal sampai akhir. Dia melihat pertarunganku dari jendela kamarnya." Jelasku sedetil mungkin,
"Eh.." gumam Tohka,
"Tapi aku merasa ada yang aneh..." kata Artoria,
"Aneh?" tanya Anna,
"Maksudku... adalah namanya... Magicufer... apa maksud dari nama itu... ada yang janggal dengan nama itu.",
"Bisakah... kamu menyederhanakannya?",
"Singkatnya.... namanya terlalu aneh untuk dijadikan nama!" kata Artoria dengan jujur tanpa rasa bersalah. Semuanya terdiam karena kata-kata Artoria.
"Yah... kamu memang benar... Aku merasa nama itu memiliki makna yang lain.." kata Anna,
"Kau benar!" kata Tohka dan Sei secara bersamaan. Mereka berempat berpikir tentang makna dibalik nama "Magicufer".
"Bukannya kalian terlalu kejam? Menganggap nama orang yang tidak diketahui secara signifikan itu aneh?" tanyaku,
"Kau benar Nakano..." kata Sei,
"Kita harus menanyakan ini kepada orangnya langsung!" kata Tohka,
"Ya!" Jawab Anna, Artoria, dan Sei secara bersamaan. Mereka terlalu penasaran, bahkan terhadap nama seseorang. Sudahlah... asalkan mereka bisa bertindak seperti teman berharga satu sama lain dari pada pesaing, itu sudah cukup karena aku tak ingin melihat istri-istri masa depanku bersaing karena aku.
Sekarang... tunggulah aku... Magicufer! Aku akan segera kesana bersama teman-temanku!
Aku berdiri dari dudukku.
"Hei kalian!" Kataku kepada mereka semua. Mereka semua melihat ke arahku yang sedang berdiri menatap langit malam. Aku pun melanjutkan kata-kataku.
"Sudah waktunya kita beraksi lagi!",
"Ya!" kata mereka berempat bersamaan,
"Yosh... waktunya.... mulai!".
__ADS_1