Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 93, Kerjasama dan Hasrat


__ADS_3

"Kau... sebenarnya siapa?" tanya Sanae kepadaku,


"Aku akan memberitahukannya nanti secara empat mata." jawabku.


Sanae berdiri menerima uluran tanganku sambil mendengarkan aku berbicara.


"Alasan aku ingin ikut campur dengan masalah kelompok GsK adalah untuk membantu temanku membalaskan dendam nya, mungkin, dan juga untuk mencari informasi.",


"Informasi apa?",


"Rahasia. Itu tak boleh kukatakan.",


"Jika kamu tak memberitahuku, kamu tidak akan diizinkan ikut campur dalam urusan kami.",


"Baik-baik. Aku ingin mencari tahu kenapa mereka mengincar pengguna kekuatan gerigi dan alasan kenapa mereka melakukan ini.",


"Mereka adalah pemuja iblis dan setan, itu sudah biasa bagi mereka untuk membenci sosok tuhan.",


"Aku memang berpikir seperti itu. Tetapi aku mulai berpikir lagi, kenapa mereka melakukan ini? Apakah benar mereka hanyalah sekelompok pemuja iblis dan setan biasa? Aku mulai merasa ada yang aneh dengan kelompok ini. Seperti.... mereka sudah pernah bertemu dengan iblis sebelumnya.",


"Jika mereka telah bertemu dengan iblis maka itu pasti adalah Iblis Api.",


"Iblis api?",


"Jangan bilang kamu tak tahu?".


Sanae menepuk jidatnya dan bilang.


"Dasar. Apakah kamu ini datang dari alam semesta lain atau gimana?!",


"...",


"Sudahlah. Iblis api adalah evolusi dari manusia api, begitulah.",


"Eh... Apakah ada tingkat lain di atas itu?",


"Sejauh yang kulihat tak ada.",


"Begitu ya...".


Saat itu, seorang laki-laki yang pernah kutemui datang ke atas atap. Kalau tak salah namanya itu... oh iya, Shiro!


"Oi Sanae! Ada apa?!" tanyanya.


Sanae membalikkan kepalanya dan menjawabnya.


"Aku baik-baik saja. Mungkin.",


"Mungkin?! Apakah ada luka padamu?!",


"Kurasa... mental ku.".


Shiro membengkokkan kepalanya sedikit.


"Mental? apakah kamu serangan jantung atau semacamnya gitu?",


"Kurang lebih benar." jawab Sanae.


Mental? Apakah separah itu dia terkejutnya?


"A-aku anggap kamu baik-baik saja.".


Diabaikan?!


Shiro melihat ke arahku dan dia mengingatku.


"Ah! Kamu orang yang kemarin!" sapa nya,


"Apa yang kamu lakukan disini? Dan... kenapa kamu ada di atap?" tanyanya,


"Ceritanya panjang. Kamu akan bosan mendengarnya, iblis rock n roll." kata Sanae dengan cepat,


"BERISIK DASAR KUCING RUMAHAN!".


(KUCING RUMAHAN?! Itu menusuk sekali!)


Aku tak tahu harus berekspresi seperti apa dan secara tak sadar aku memasang wajah aneh dan bingung. Aku bingung harus bereaksi seperti apa. Aku berpura-pura batuk mencairkan suasana.


"Aku disini karena aku melihat asap dari kejauhan. Jadi aku tertarik untuk kesini." kataku,


"Begitu ya. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Berbahaya jika ada disekitar sini." kata Shiro,


"Aku bisa menjaga diriku seperti yang tadi itu.",


"Apa yang kamu maksud?",

__ADS_1


"Yang dia maksud adalah hembusan angin besar tadi. Yang membuatku hampir kena serangan jantung." kata Sanae secara tiba-tiba,


"Kamu tak bohong kan? Hembusan tadi itu sangat kuat loh! Setidaknya berada di level yang setara dengan penguasa alam semesta!",


"Sayangnya aku tak berbohong. Hembusan angin tadi benar-benar dibuat olehnya",


"Hebat... Kamu... sebenarnya siapa?".


Sepertinya aku tak bisa bohong lebih lama lagi.


"Aku berasal dari alam semesta lain. Namaku adalah Sakamaki Nakano. Salam kenal dan mohon kerjasama.",


"Wah...."


Aku berharap kamu bisa bereaksi lebih besar lagi.


"Tunggu "mohon kerjasamanya" itu apa maksudnya?",


"Seperti yang kamu dengar.".


Sanae berjalan mendekatiku dan menepuk punggungku.


"Dia ikut terlibat dalam masalah GsK.",


"BOHONG?! Kenapa dia bisa terlibat?! Ini pasti karena ulah mu ya kucing?!",


"Sayangnya ini bukan ulahku dan jangan sebut aku KUCING LAGI!!! Dia terlibat karena itulah keinginannya.",


"Benarkah?".


Shiro melihat ke arahku dan aku menjawabnya dengan mengangguk.


"Begitu ya..",


"Ya. Setidaknya kita mendapatkan anggota baru lagi. Ini akan memudahkan pekerjaan kita." kata Sanae,


"Benar juga. Namamu Nakano bukan? Kamu tertarik untuk bergabung dengan pasukan kami?" tanya Shiro,


"Maaf, tetapi aku tak tertarik. Aku hanya ingin bekerjasama dengan kalian saja. Kalian juga kelihatannya memiliki informasi yang berguna.",


"Ya. Kami memilikinya beberapa. Dan oh iya, Nakano, bisakah kamu memberitahuku informasi yang kau punya sebagai tanda kerjasama?",


"Ya aku ada sedikit. Yang kutahu kalau kelompok ini mengincar pengguna kekuatan gerigi generasi penerus, generasi ke-2.",


"Siapa pengguna itu?",


"Eh? Maaf, aku baru tahu itu.",


"Begitulah. Aku sekarang tinggal di istana. Jadi kalian tak perlu khawatir berlebihan terhadap tuan Puteri. Dia akan ku jaga. Karena itu kalian lebih baik fokus mencari informasi tentang kelompok ini.",


"Baiklah.",


"Oh iya sebelum aku pergi, apakah kalian tahu dimana tempat mereka berada sekarang?",


"Sudah ingin pergi? Apakah hanya itu informasi yang kamu ketahui?",


"Ya. Sisanya ada di Sanae, interogasi saja dia.",


"Interogasi?!",


"Kalau begitu terimakasih banyak.",


"Sampai jumpa. Aku akan menemui kalian jika aku memiliki informasi penting lagi. Dah." kataku lalu berteleportasi pulang.


"Sekarang... Sanae...".


Shiro meremas-remas tangannya.


"Tu--Tunggu... TIIIIIDAAAAAKKKK!!!!".


---


Aku berteleportasi pulang ke kamarku dan langsung berbaring di atas kasurku. Aku menghela nafas kelelahan tetapi juga puas. Aku akhirnya memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Sekarang, aku ingin ke kamar Sumiko untuk menggali informasi lebih dalam tetapi aku sudah lelah. Dia juga sepertinya masih belajar. Aku tak tahu harus berbuat apa kedepannya selanjutnya.


Tiba-tiba ada seseorang yang mengetok pintuku.


"Nakano, apakah kamu ada di dalam?".


Suara itu mirip suara Artoria. Aku bangkit berdiri dan berjalan mendekati pintu. Aku lalu membukanya dan melihat Artoria dibalik pintu. Dia memakai piyamanya yang berwarna pink dengan wajah merona.


"Ada apa?" tanyaku,


"Apakah... aku boleh masuk?".


Aneh biasanya Artoria takkan masuk tanpa alasan dan lagi dia yang memintanya? Ada yang aneh padanya.

__ADS_1


"Boleh." kataku.


Aku langsung menyingkir dari pintu masuk dan mempersilahkan Artoria masuk ke dalam kamarku. Artoria berjalan dan duduk di atas kasurku saat aku menutup pintu kamarku. Aku berjalan dan duduk di lantai.


"Kalau kamu mau... kamu bisa duduk di sebelahku kok..." katanya sambil malu-malu.


Ada yang aneh dengannya. Aku pun menerima tawarannya dan duduk disampingnya.


"Jadi, ada apa?" tanyaku,


"Aku hanya ingin mengobrol denganmu...",


"Tentang apa?",


"Apapun...",


"....".


Ada yang aneh dengannya. Kenapa dia bersikap lebih terbuka dari biasanya? Apakah dia belajar untuk bersikap lebih terbuka kepadaku?


"Nakano... akhir-akhir ini apa yang kamu lakukan?" tanya Artoria,


"Aku? Aku tengah menyelidiki sesuatu. Kalau kamu?",


"eh?",


"Apa yang akhir-akhir ini kamu lakukan? Aku tak mendengar kabar tentangmu dan Tohka 3 harian ini.",


"Aku tak melakukan hal yang spesial kok. Aku hanya membantu prajurit disini berlatih sehingga sekarang aku diangkat sebagai pelatih.",


"Wah... itu hebat ya.".


Aku menepuk kepalanya dengan lembut.


"Kamu memang hebat ya, Artoria. Kamu pasti bisa menjadi jenderal perang disini.".


Mukanya kemudian merona seperti tak tahan akan sesuatu. Jari kakinya terus bergerak ke satu sama lain. Badannya lalu gemetaran membuatku sedikit khawatir.


"Kenapa Artoria?" tanyaku.


Badannya lalu menggigil dengan kepalanya yang menunduk ke bawah.


Secara tiba-tiba dia langsung terjun ke atas memelukku lalu menjatuhkan ku. Dia berdiri dengan muka tepat di depanku. Kedua tangannya berada di samping kiri dan kanan ku.


"Nakano Maaf! Aku... tak bisa menahannya lagi!" katanya,


"...".


Menahan apa? Aku merasakan suatu firasat buruk sekaligus merangsang. Apa ini?!


"Aku sudah memuaskan diriku sendiri tetapi semakin banyak aku memuaskan diriku, hasrat ku tak bisa ditahan lagi!",


"Apa maksudmu, Artoria?",


"Aku... ingin... melakukan **** denganmu!",


"Eh?... EEEEEHHHH?!?!?!".


Situasi ini sama seperti aku dan Tohka sebelumnya tetapi yang kali ini... terlalu terbuka.


"Tu-Tunggu dulu...",


"Maaf... Nakano...".


Air matanya menetes ke pipiku.


"Maaf! Sebenarnya aku tak ingin melakukannya... Tetapi... kamu selalu saja muncul di pikiranku.... Kadang-kadang pikiran kotor juga masuk ke kepalaku. Aku langsung salah tingkah....",


"Artoria....",


"Aku sudah memuaskan diriku sendiri berulang kali tetapi hasrat itu selalu datang dan mengganggu pertarunganku... Sakinh besarnya... hasratnya membawaku kesini tanpa sadar... dan sekarang... sudah tak terkendali lagi... jika aku tak bisa menghilangkan hasrat ini.... aku tak bisa bertarung lagi! Aku tak bisa berguna untukmu dan aku tak mau itu! Karena itu maaf! Hasrat ku mengambil alih tubuhku dan membawaku kesini untuk melakukan **** denganmu... Maaf! Aku memang anak nakal! Maaf! Hukumlah aku Nakano jika kamu mau! Aku adalah gadis nakal. Gadis nakal sepertiku... tak pantas berada di sampingmu!!",


"Artoria!".


Aku langsung memeluknya dengan erat. Dia terkejut sebentar.


"Artoria maaf!",


"Eh? Nakano...? Kenapa...?",


"Karena aku tak peduli dengan semua calon istriku. Padahal kalian adalah istriku dimasa depan seharusnya aku lebih memperhatikan kalian. Aku terlalu fokus kepada tujuanku sehingga mengabaikan keenam calon istriku. Maaf!",


"Nakano....".


Aku merenggangkan pelukanku dan melihat ke arah Artoria, berciuman dan tanpa kami sadari kami melakukannya. Aku telah lepas dari status perjaka atau semacamnya. Sayangnya adegannya tak dijelaskan karena terlalu vulgar dan gak mau novel ini kena banned. Jadi begitulah, ya Author.

__ADS_1


Ya. That's right. Aku gak mau kena masalah besar-besaran jadi kita lewati saja adegannya.


__ADS_2