
Hari perang pun hampir tiba. Semuanya berlatih dan menghemat energi sebisa mereka untuk nanti malam. Aku dengan Liyu berlatih kurang lebih 13 jam. Yang artinya kini hari sudah menjelang sore hari. Dia berlatih lebih siang dari pada kemarin membangunkan ku saat tengah malam. Walaupun begitu, pada akhirnya aku menghabiskan waktuku dengan berlatih dengannya.
Latihannya masih berlanjut setelah 13 jam. Liyu menendang ke arahku, tetapi aku menahannya dengan kakiku. Terjadi hantaman keras disana. Sebelumnya tak seperti ini.
Aku dan Liyu menjauh dari satu sama lain lalu Liyu mendorong kan dirinya menuju ke arahku dan berusaha memukulku. Meleset, tetapi dia mengambil diposisi dan menyerang lagi dengan cepat walaupun meleset lagi.
Di mataku, serangannya itu masih lambat tetapi cukup untuk mengalahkan sekitar seratus orang sekaligus. Kekuatannya berkembang dengan cepat. Sebenarnya latihan macam apa yang menuntunnya menjadi sekuat ini?
Disaat Liyu ingin menyerangku dengan tendangannya, aku menangkap kakinya dengan satu tangan. Tetapi Liyu menyerangku dengan kaki lainnya, walaupun begitu aku masih bisa menangkapnya. Aku tersenyum disaat dia menggerakkan giginya. Tetapi dia tiba-tiba tersenyum.
Dia menguatkan gerakan kakinya dan akhirnya lepas dari genggamanku. Kedua kakinya itu menyerangku sebelum dia terjun menyentuh tanah. Aku tak bisa menghindari serangan kedua sisi itu, sepertinya aku tak memiliki pilihan lain. Kau lulus pelatihan ini, Liyu.
Aku berteleportasi menjauh dari serangan itu dan berakhir jongkok. Aku berdiri sambil menundukkan kepalaku. Aku mengangkat kepalaku sambil tersenyum kepadanya.
Liyu yang terkejut mulai gembira. Dia tersenyum lebar. Dia loncat ke udara sambil berteriak penuh semangat dan gembira.
"YOSHAAAA!!!!!!".
Disaat Liyu sedang gembira, aku mendekat ke arahnya berniat memberikan ucapan selamat.
"Selamat, Liyu. Kamu telah lulus pelatihan ku. Itu adalah pelatihan tahap pertama yang pernah aku lalui saat berlatih dengan ayahku. Aku menerapkannya kepadamu berharap kamu akan sekuat dia dimasa depan atau lebih.",
"Terimakasih Kakak Naka!!".
Naka? Ya terserahlah..
Liyu gembira sebelum menyadari sesuatu dalam kata-kataku barusan.
"Tunggu, "Tahap pertama"?",
"Ya. Masih ada pelatihan tahap kedua hingga ketiga sebelum kamu lulus pelatihan sepenuhnya. Tetapi dengan lulusnya pelatihan pertama, itu cukup untuk kamu mengikuti perang.",
"Begitu ya! Ya! Aku tak sabar!".
Aku tersenyum ke arah Liyu sebelum melihat ke atas langit sore.
"Sekarang, bagaimana dengan pelatihan mereka semua? Aku jadi penasaran.",
"....".
Aku melihat ke arah Liyu sebelum pergi meninggalkannya.
"Kalau begitu aku akan pergi dulu. Semangat latihannya, aku berharap besar padamu nanti.",
"Ya! Aku akan berusaha semaksimal mungkin!".
Aku melambaikan tanganku kepadanya. Sekarang, aku masih memiliki waktu sebelum perang. Aku sedikit lelah tetapi aku juga bosan. Daripada tak ada kerjaan, lebih baik aku fokus untuk mematahkan kecanggungan diantara aku dan Artoria, tapi bagaimana?
Aku berjalan maju sambil menutup mata dan berpikir sesuatu yang bagus untuk masalahku. Tetapi, aku menabrak seseorang di depanku. Aku bangun dan meminta maaf sebelum melihat siapa yang aku tabrak.
"Maafkan aku.",
"Maafkan aku." kataku bersamaan dengan suara seorang perempuan.
__ADS_1
Suara itu berasa tak asing di telingaku. Aku membuka mataku dan melihat Artoria di depanku. Aku bertatapan dengannya sambil memasang ekspresi terkejut di wajah kami.
"Eh?",
"Eh?",
"HHEEEEEEHHHH?!",
"HHEEEEEEHHHH?!",
"N-Nakano?",
"Artoria?".
Kecanggungan diantara kami menghilang sebentar dan datang lagi. Aku dan Artoria langsung memalingkan wajah ke arah lain yang berlawanan. Pipiku memerah dan wajah Artoria merona. Inilah yang terjadi jika ada orang polos melakukan hubungan dewasa dengan perempuan pemalu.
Kecanggungan itu semakin parah. Kami tak bisa melihat wajah kami satu sama lain karena saking malunya. Aku bingung ingin berekspresi seperti apa saat aku melihat ke arahnya. Saat itu, Artoria bertanya suatu hal.
"N-Nakano... bagaimana kabar..mu..?",
"Aku baik..",
"Begitu ya..",
".... Bagaimana denganmu?",
"Eh? Ah.. aku baik...".
Tunggu sebentar... sejak kapan aku menjadi semakin peka bahkan sampai memikirkan perasaan Artoria? Aku tak pernah seperti ini... mungkin bagus bagi pasangan lain tetapi hubunganku selalu muncul jika terjadi suatu masalah baik itu kecil maupun besar... di sanalah aku bisa mempererat hubunganku dengan orang!
Aku menundukkan kepalaku dan memanggil Artoria.
"Artoria?",
"Y-Ya?".
Aku berdiri dan berjalan mendekat ke Artoria.
"Nakano?".
Aku membungkukkan badanku dan dengan cepat mengarahkan bibirku ke bibir Artoria. Apapun resikonya... apapun kata orang... aku tak akan memikirkannya. Aku harus melakukannya dengan caraku sendiri dan inilah caraku.
Artoria terkejut sampai tak bisa bergerak melakukan apapun. Setelah beberapa saatz aku menjauhkan bibirku dari bibirnya. Aku melihat ke matanya yang berkaca-kaca dan tiba-tiba aku merenungkan apa yang baru aku lakukan.
"Ah! Maaf, Artoria! Itu terlalu tiba-tiba... Kamu pasti terkejut kan?".
Artoria menundukkan kepalanya sampai matanya tak terlihat lagi.
"Ya... aku terkejut..." bisik Artoria.
Bidikannya terlalu kecil sehingga aku tak bisa mendengar apa yang dia katakan.
"Apa katamu barusan?",
__ADS_1
"Maksudku adalah ini.".
Artoria langsung memegang bajuku, menarik ku ke dekatnya dan menciumiku dengan cepat. Aku sempat terkejut sebentar, tetapi aku membiarkan Artoria melakukan apapun yang dia ingin lakukan. Aku menutup mataku dan menikmatinya.
Setelah beberapa saat, kami mengakhirinya kontak bibir itu. Artoria menundukkan kepalanya sambil meminta maaf.
"Maaf..".
Aku tak tahu apa maksud dari pernyataan maaf itu.
"Untuk apa?",
"Eh?".
Dia mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku.
"Itu... aku mencium mu tiba-tiba.",
"Aku tak keberatan kok.",
"Eh tapi—",
"Aku tak keberatan dicium oleh tunangan ku. Baik itu puluhan, ratusan, ataupun ribuan kali, aku tak keberatan asalkan itu tunangan ku. Kamu adalah salah satunya jadi aku tak keberatan.",
"Maaf, kupikir kamu akan marah...",
"Kenapa aku harus marah? Sepasang tunangan melakukan kontak bibir seperti tadi bukankah itu normal?".
Artoria melihat ke arahku dengan terkejut sebelum tertawa kecil.
"Hehe..." suara tawanya,
"Ada yang lucu?" tanyaku,
"Tidak....".
Artoria memelukku dengan lembut dan pelan.
"Terimakasih, Nakano...".
Aku terkejut sedikit lalu memeluknya kembali.
"Apapun demi tunangan tercintaku.. apapun..".
Kami melepaskan satu sama lain dan saat itulah kecanggungan diantara kami musnah. Akhirnya, kami bisa fokus kepada misi kami sekarang yaitu perang. Hari sudah mulai gelap. Tepat saat matahari telah terbenam secara total, itu adalah waktunya... untuk pertempuran.
Aku dan Artoria takkan menghambat pergerakan satu sama lain. Jadi, kami tak takut kepada apapun yang akan datang kepada kami, baik ataupun buruk.
"Siap?" tanyaku,
"Ya!" jawabnya sambil mengangguk ringan.
Harinya pun tiba... hari pertempuran. Dimana kami semua mengeluarkan seluruh kemampuan kami untuk kerajaan ini, para masyarakat kerajaan ini dan alam semesta ini.
__ADS_1