Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 103, Hati Sensitif Nakano


__ADS_3

Aku terkejut dan terdiam. Apa yang mereka maksud dan kenapa mereka bisa tahu kalau aku reinkarnasi dari Nakano Wynox? Apa yang mereka inginkan dariku?


Aku menggerakkan gigi sebelum bertanya apa yang mereka maksud.


"Apa maksudmu?!" tanyaku,


"Sekarang, lihat itu. Ekspresinya membuktikan kalau dia adalah reinkarnasi dari Nakano Wynox. Bagaimana sekarang?",


".... Nakano... Kau...?! Benarkah itu?",


"Tidak itu...!".


Aku maju satu langkah ke arah Shiro. Shiro dan Sanae mundur selangkah. Mereka meragukan ku... Mereka takut padaku... ekspresi mereka.... membuatku teringat saat aku kecil.... Ekspresi mereka sama seperti mereka yang takut kepadaku... Semuanya melihatku dalam tatapan yang sama... ketakutan... Mereka pikir aku adalah reinkarnasi dari seekor monster yang pernah merajalela... Kenapa? Padahal aku tak melakukan apapun kepada mereka... Hei, kenapa?


Aku menundukkan kepalaku sebelum menjawab Shiro sampai mataku tak terlihat lagi.


"Ya, itu benar. Aku memang reinkarnasi dari Nakano Wynox... kenapa?",


"Kenapa? KENAPA KATAMU?! APAKAH KAMU TAHU BERAPA ORANG YANG MATI KARENA DIRIMU?!?!".


Aku menundukkan kepalaku tak berani menjawab.


"APAKAH KAMU TAHU, BANYAK ORANG YANG KEHILANGAN YANG BERHARGA KARENA DIRIMU?!!!? APAKAH KAMU SADAR APA YANG KAMU LAKUKAN?!!".


Kata-kata yang selalu aku dengar... dimana pun... kapanpun... Setiap orang mengenalku sebagai reinkarnasi Nakano Wynox... mereka mengucapkan hal yang sama... mereka marah kepadaku... mereka berusaha menasehati ku dengan cara yang kasar... dan itu semua karena mereka takut kepadaku... Hei kenapa? Aku tak melakukan apapun loh... Hei? HEI?!


Dimana pun aku berada... aku selalu mendengar kata-kata itu...


"APAKAH KAMU MENYADARI APA YANG KAMU BUAT?!?!",


"Tu—Tunggu... Bukankah ini sudah kelewatan?" tanya Sanae kepada Shiro,


"AKU TAK PEDULI!!! DIA TELAH MEMBUNUH LEBIH DARI 150 JUTA JIWA!!! SEMUANYA MELAYANG SIA-SIA!!!",


"Te-tetapi kita kan belum tahu alasannya.",


"AKU TAK PEDULI ALASAN APAPUN! DIA TELAH MEMBUNUH!".

__ADS_1


Sanae memegang tangan Shiro dan membawanya mundur. Tetapi Shiro menolak dan berusaha melepaskan tangannya darinya.


"Hei... Apa salahku?" tanyaku dalam nada serak,


"Hah?! kau ingin tahu hah?!",


"Aku... tak melakukan apapun loh...".


Aku mengangkat kepalaku dan menunjukkan sebuah senyuman polos tak bersalah penuh ketakutan... senyuman yang tak pasti... Aku berusaha tersenyum tetapi sambil takut kepada diriku sendiri...


Shiro dan Sanae dan Paman Inara melihat senyuman itu... Mereka bertiga terkejut dan menyadari sesuatu... Bukan Nakano yang sekarang pelakunya... Sana menutup mulutnya yang terbuka. Shiro mundur selangkah demi langkah.


"Aku tak melakukan apapun... aku bukan yang bersalah... Hei, hei... kenapa?... Kenapa?" tanyaku,


"A-Apa?" tanya Shiro.


Aku melihat ekspresi Sanae dan Shiro yang ketakutan... ah... mereka takut padaku... aku tak mau! Tak mau melihat ekspresi itu lagi! Tidak! Tidak! Aku tidak ingin! Mereka semua takut kepadaku... kenapa? Pelakunya Nakano Wynox loh... kenapa aku yang disalahkan..? Kenapa? Aku bukan yang bersalah loh... kenapa? KENAPA?


"Kau, kalian... berada dimana?" tanyaku kepada suara itu,


"Eh? Ah, kami ada di depan sana. Mau apa? Menyerang kami?",


"Tentang apa?",


"Kalian menginginkanku bukan? Aku akan datang kepada kalian.",


"Menyerahkan diri? Membosankan.".


Aku tersenyum sinis sambil menundukkan kepalaku.


"Akan ada tawaran menarik nanti." kataku,


"Hoh... Yah... karena aku lagi bosan, aku akan mendengarkan mu. Maju dari sana sejauh 1 kilometer ke depan.",


"Baiklah.".


Artoria maju selangkah dengan pelan.

__ADS_1


"Apa yang kamu ingin lakukan, Nakano?" tanya Artoria.


Aku melihat ke arah Artoria dengan mataku yang tertutup oleh poniku sampai tak ada seorangpun yang bisa melihat mataku.


"Artoria. Bilang kepada yang lainnya, jaga diri kalian.",


"Tu— Apa yang ingin kamu lakukan?",


"Selamat tinggal, semuanya. Untuk selamanya.".


Artoria tak mengerti maksudku. Dia memegang tanganku, berusaha menghentikan ku. Dia ingin penjelasan yang jelas dariku.


"Oi, Naka—" tepat sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.


Aku menyingkirkan tangannya dariku dengan kasar. Artoria terkejut dengan apa yang aku lakukan. Dia melihatku dengan terkejut karena dia melihat tatapan tajam ku yang penuh kebencian dan amarah. Aku langsung berteleportasi menjauh dari mereka menuju tempat yang dimaksud.


1 kilometer... aku hanya membutuhkan sesuatu informasi semacam itu untuk berteleportasi. Bagiku, itu cukup.


Saat aku sampai di tempat yang dimaksud. Aku melihat 2 orang berbeda. Satu orang yang kukenal dengan jelas dan satu orang yang tidak aku kenal.


"Kukira siapa. Ternyata kamu ya." kataku.


Perempuan itu tersenyum.


"Sekarang, mari kita dengar tawaranmu.." kata perempuan itu,


"Tapi sebelum itu, sebaiknya kita pergi dari sini. Atau ada pengganggu yang akan datang kesini segera." kata orang lain yang ada di ruangan sana,


"Hmm... benar juga.",


"Pegang tanganku.".


Kedua orang itu memegang kedua tanganku sambil tersenyum sinis. Aku langsung berteleportasi ke suatu tempat yang jauh dari sana, tapi tak keluar dari Machinery. Tepat saat aku telah berteleportasi, Artoria mendobrak masuk melewati pintu yang awalnya ada di belakangku.


"Tak ada orang." katanya.


Artoria menggerakkan giginya, jengkel dengan tindakanku. Dia seperti ingin memukulku dengan keras dan menyadarkan ku akan sesuatu. Dia memegang perutnya dengan tatapan sedih dan kecewa tetapi dia tak menyerah untuk mencari ku.

__ADS_1


-----


Pengumuman Novel. Sang pemeran utamanya akan diganti oleh Artoria Pendragon mulai dari bab selanjutnya dan sampai akhir petualangan mereka di Machinery. Itu artinya akan sangat lama. Ok. Maaf karena pendek kali ini dan sekalian juga aku, Author Z, minta maaf karena 2 hari yang lalu gak update bab baru. Sibuk di real life, sampai beberapa waktu seperti berolahraga juga hilang dihari itu. Maaf ya.


__ADS_2