Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 107, Serangan Nakano l


__ADS_3

2 hari telah berlalu... Aku menjalankan hari-hariku seperti biasanya, melatih para prajurit dan latih tanding dengan Liyu. Aku sedikit merasa kasihan dengan Liyu karena tak memiliki lawan tanding yang seimbang dengannya, maka dari itu aku memutuskan untuk menemaninya.


Dan hari itupun tiba, dimana Nakano datang ke kerajaan ini bukan sebagai pahlawan tetapi sebagai penjahat...


Aku mendengar suara hentakan kaki dari atas tembok di belakangku. Aku melihat disana, berdiri sosok Nakano yang kepalanya diselimuti oleh kain kusut. Dari bajunya aku tahu kalau dia itu Nakano. Aku tak terkejut atau langsung main drama. Aku penasaran, sebagai penjahat, apa yang akan dilakukan Nakano selanjutnya.


Dia memandang lurus ke depan sebelum melihat ke arah bawah, melihatku dengan sorot mata tajam. Aku masih melihatnya.


Tiba-tiba, sebuah pedang datang kepadanya. Tentu saja itu pedangnya yang selalu menemaninya, kalau tak salah namanya... Excusifer.


Setelah itu, Nakano melangkahkan kakinya ke depan yang tak ada apa-apanya dibawahnya. Dia langsung turun ke bawah dengan tenang dan kaki yang dia langkahkan menahan tubuhnya turun di tanah. Dia berjalan mendekati aku dan tempat pelatihan ku dengan pelan. Apakah dia menyadari kesalahannya dan meminta maaf? atau dia ingin bicara? atau....


Tohka yang sedang ke belakang untuk minum, kembali ke tempatku. Dia merasa lega.


"Hah... lega sekali...".


Dia berjalan mendekatiku.


"Artoria—".


Dia berhenti setelah melihat Nakano di depanku. Tohka terkejut sebentar lalu memasang sorot mata tajam ke arahnya.


"Apa mau mu?" tanyaku.


Nakano berjalan dengan pelan mendekatiku dan langsung berlari dengan ujung pedang yang siap menyerang. Dia berusaha menyerangku dan Tohka, tetapi kami berdua berhasil menghindar. Kami meloncat mundur.


Tepat saat aku ingin mendarat, Nakano berteleportasi dan meletakkan pedangnya didepan leherku dengan cepat. Dalam hal kecepatan, Nakano adalah rajanya. Saat dia telah berteleportasi tadi, hembusan angin di belakangnya membuat debu berterbangan kemana-mana. Barusan bukan teleportasi melainkan berlari.


Aku tak bisa bergerak, aku bergerak maka aku akan mati... mungkin... Aku terheran-heran, kenapa Nakano tak langsung menebas leherku.

__ADS_1


"Kenapa? Kalau kamu ingin menebasnya maka lakukanlah." kataku berbisik.


Karena saking dekatnya pedangnya dengan leherku, aku baru berbicara hal tadi telah membuat leherku terluka terkena bilah pedangnya. Aku benar-benar tak boleh bergerak baik itu mulutku atau semacamnya, bahkan aku harus bernafas dengan pelan atau aku celaka.


Tohka dan para prajurit disana terdiam dan terkejut. Mereka tak tahu harus melakukan apa. Tohka bisa saja bertindak tetapi dia pasti memikirkan apa Nakano akan menebas leherku atau tidak, dia pasti khawatir tentang hal itu. Aku tak bisa melakukan apapun, bahkan tak bisa bertanya kepadanya. Aku pasrah.


Aku mendengar suara hentakan yang lain dari arah lainnya, dari sampingku. Orang yang menghentak kakinya itu menjatuhkan apa yang dia pegang... mataku melirik ke arahnya... putih... buku... aku melihat ke arah wajah sosok itu... Anna! Dengan adanya Anna mungkin aku bisa terselamatkan. Tapi kenapa sepertinya Anna tak bisa melakukan apapun sekarang... Dia terkejut.


"Nakano..." panggilnya.


Nakano tak melihat ke arah Anna, dia mengabaikannya. Anna kemudian berlari dan mendekatinya, dia langsung merentangkan tangannya dan berkehendak memeluknya. Aku tak tahu apa yang dipikirkan si bodoh itu.


"Nakano!" katanya sambil meluncur ke arah Nakano.


Tetapi seseorang menebas dada Anna dengan cepat. Anna berhasil menghindar tetapi tak sepenuhnya berhasil, dia terluka cukup besar di bagian yang diserang. Anna langsung terengah-engah karena itu.


Aku tak bisa melihat ke arah sosok yang menyerangnya karena dia berada diluar lingkup mataku. Aku harap Anna baik-baik saja dengan luka yang dia terima. Anna melihat ke arah orang yang menyerangnya. Orang itu berdiri, aku pun bisa melihatnya. Tapi sayangnya, orang itu memakai syal yang sama dengan Nakano yang menutupi seluruh kepalanya, aku tak bisa melihat sampai rambutnya.


"Nakano... Kenapa?" tanya Anna.


Nakano tak merespon apapun kepada Anna tentu saja Anna merasa dia telah diabaikan. Aku mulai merasa kalau Anna memiliki hati yang rapuh dibandingkan Sei. Apa yang akan dilakukan Anna sekarang? Andaikan aku bisa melakukan sesuatu tetapi semua pergerakan ku dikunci sampai ke pergerakan terkecil oleh Nakano.


Tohka sepertinya masih tak percaya dengan apa yang dia lihat. Nakano menjadi penjahat sungguhan. Apakah Nakano menjadi dirinya yang dulu? Menjadi... Nakano Wynox?


Nakano menjauhkan pedangnya dari leherku yang telah mengeluarkan darah sedikit dan langsung mengayunkan pedangnya dengan cepat. Inilah akhir dariku. Aku menutup mata dan siap untuk mati tanpa rasa takut. Kadang-kadang aku pikir mati ditangan orang yang aku cintai tidaklah buruk, aku bisa mati tanpa adanya rasa penyesalan.


Tepat saat aku siap untuk mati, ada suara perempuan yang menyuruh Nakano menghentikan tindakannya.


"Berhenti!".

__ADS_1


Aku masih merasakan darahku mengalir di dalam tubuhku, aku... masih hidup! Dan suara itu... seperti Anna... apakah itu Sei? Aku harap itu memang dia.


Aku membuka mataku dan melihat bilah pedang yang sudah hampir tak terlihat bagian yang menyerangku. Tepat satu inci sebelum itu menebas leherku secara keseluruhan. Aku tentu saja terkejut. Nakano melihat ke arah suara yang tadi datang, aku juga begitu.


Aku, Tohka dan terutama, Anna terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"K-kau.." kata Anna terhenti.


Seorang perempuan berambut hitam kuncir 2 dengan pakaian mirip maid berwarna hitam merah belang, ditambah yang membuat kami sangat terkejut... dia memiliki mata waktu di mata kirinya yang sangat terbuka... Sosok itu... adalah salah satu istri Nakano Wynox yang sebenarnya... satu kesatuan... dengan Anna.. Totsuka Kurumi!


Bagaimana bisa?! Tohka pernah bercerita kalau Totsuka Kurumi telah dikalahkan oleh Nakano bahkan dibunuh! Kenapa dia masih bisa hidup?!


"Kau...! Totsuka Kurumi...! Bagai...mana... bisa..?" tanya Anna tertegun.


Kurumi melihat ke arah kembarannya yang sedang terluka.


"Ohya ohya... ternyata kembaran ku ya... Yaho... Anna... Selamat karena kamu telah memenangkan tubuh aslimu... atau bisa dibilang... kita? Fufufu....",


"Bagaimana.... Bagaimana bisa?",


"Hmm.... aneh juga kalau dijelaskan secara langsung... Fufu.... Kalau begitu... biar ku jelaskan secara langsung saja...".


Kurumi mendorong tubuhnya dengan kekuatan penuh ke arah Anna, membawa dirinya terjun mendekati Anna yang masih tak percaya apa yang dia lihat. Kurumi menendang Anna dengan keras ke depannya sampai dia membentur tembok yang ada dibelakangnya. Anna masih baik-baik saja tetapi darahnya mengalir tak henti-hentinya. Dia membuka mulutnya tak bisa berkata-kata.


Kurumi langsung mendorong dirinya begitu Anna membuka mulut. Saat dia didepannya, Kurumi mengeluarkan pistolnya dan memasukkannya ke dalam mulut Anna. Kesadisan Kurumi sebagai perempuan memanglah hebat...


"Sepertinya... kembaran ku ini... melemah ya...".


Kurumi menutup matanya dan langsung mengeluarkan senyuman jahatnya.

__ADS_1


"Kau... memang sebuah rongsokan tak berguna!!" katanya.


__ADS_2