Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 104, Hati Sensitif Nakano ll


__ADS_3

Aku, Artoria Pendragon, mengambil alih pimpinan dari bencana ini semenjak pemimpin sebelumnya, Sakamaki Nakano, dibawa pergi. Semuanya berada disana, Keiko, Liyu, Sei, dan yang lainnya.


"Apa yang terjadi? Kakak Naka adalah reinkarnasi legenda Nakano Wynox? Bukankah itu hanyalah mitos belaka?" tanya Liyu,


"Tidak, itu bukan mitos. Aku, Tohka, dan lagi seseorang adalah ketiga istri Nakano Wynox." kataku,


"Aku tak peduli dengan kalian istri atau siapapun! Aku peduli kepada Kakak Naka! Dia pergi tanpa alasan yang jelas!",


"Semua ini karena Shiro, kalian tahu?!" kata Sanae tiba-tiba,


"Ap— APA KATAMU?!".


Semuanya melihat ke arah Shiro dengan tatapan tajam. Shiro merasa tertekan, dia berusaha membela dirinya sendiri.


"I-itu benarkan? Orang yang telah membunuh 150 Juta jiwa itu tak pantas dimaafkan bukan?!",


"....".


Tak ada yang menjawab. Memang benar apa kata Shiro. Orang yang telah membunuh sebegitu banyak pantas tak dimaafkan oleh siapapun.


"Walaupun begitu, Kakak Naka pasti memiliki penjelasan dibalik itu semua! Jika tidak, dia takkan melakukannya! Aku percaya itu!",


"Apapun alasannya, dia tetap tak bisa dimaafkan bukan?! Membunuh satu orang saja bisa mendatangkan kematian. Nakano telah membunuh 150 Juta! Itu sudah masuk angka yang tak bisa dimaafkan! Bahkan mungkin Neraka dan Surga takkan menerimanya!",


"Yah.. kamu memang benar. Tetapi kamu tak melihat apapun dibalik matanya.".


Shiro terdiam, mengingat ekspresi yang ditimbulkan Nakano di hadapannya. Ekspresi penuh ketakutan akan diri sendiri.


"Nakano... Memiliki alasan untuk itu semua..? Tapi apa?! Jika ada alasannya, aku ingin mendengarnya!",


"Aku telah mendengar semuanya!" kata seseorang.


Aku teralihkan ke sebuah bayangan perempuan dibalik pintu masuk tenda. Sosok itu masuk ke dalam, mengenakan pakaian seperti jendral petempuan putih dengan rambut putih yang mengikutinya. Sosok yang kukenal, Anna!


"A-Anna?!" kataku,


"Aku telah mendengar semuanya. Sangat jelas.",


"Siapa kau?" tanya Shiro,


"Aku adalah salah satu dari 3 istri Nakano Wynox, Totsuka Anna.",


"Salah satu istri..?!",

__ADS_1


"Ya. Aku datang dari Alam Semesta Fantasym dan juga ratu dari Kerajaan Pion Putih.",


"Kerajaan Pion.. Putih..." gumam Sanae.


Dia seperti mengingat sesuatu tentang kerajaan itu. Dia mengingatnya.


"Jangan-jangan?! Kerajaan paling makmur itu?! Kerajaan yang awalnya adalah...?! Kerajaan Pion Merah?!?!",


"Kerajaan Pion Merah?! Kerajaan yang menampung 5 juta jiwa yang penguasanya masih belum diketahui itu?! Kerajaan paling sejahtera di seluruh alam semesta?!",


"Ya. Itu hampir benar. Sebenarnya Pion Merah terpecah belah menjadi Pion Putih dan Hitam karena suatu kendala.",


"I-itu mengejutkan...." kata Sanae.


Anna menghela nafas kecil dan menutup matanya.


"Apakah kalian pikir Sakamaki Nakano yang kalian kenal mirip dengan Nakano Wynox?",


"Eh? Ah..... kurasa tidak...",


"Kalau begitu jawabannya sudah jelas bukan? Sakamaki dan Wynox memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Aku pernah berada dalam masalah seperti ini sebelumnya tetapi berkat bantuan Sakamaki, aku bisa berdiri didepan kalian.",


"Apa maksudnya?",


"Itu artinya....",


"Cepat atau lambat Nakano akan berubah menjadi dirinya yang dulu. Sepertinya hal itu diketahui oleh kelompok GsK dan karena itu Nakano diincar oleh mereka.".


Semuanya yang disana terkejut dan mulai panik setelahnya.


"Kalau begitu kita harus membawa Nakano kemari sebelum hal yang sama terjadi!" kata Sanae,


"Itu jika diucapkan. Kita masih belum tahu anggota siapa saja yang ada di dalam kelompok ini, kita sangat kekurangan informasi.",


"Kalau begitu, kita harus bagaimana?!",


"Tenangkan lah diri kalian. Kemungkinan entah kapan, Nakano akan datang menyerang kemari tentu saja sebagai penjahat.",


"Tapi kenapa?!",


"Ohoh... kurasa yang paling mengerti hanya satu orang disini.".


Anna melirik ke arah Shiro. Shiro merasa tertekan.

__ADS_1


"Kita sudah tahu jelas siapa ulah dari ini semua.".


Semuanya sekali lagi melirik ke arah Shiro dengan sorot mata tajam. Sanae maju ke arah Shiro membuatnya mundur ke belakang sampai ujung tenda.


"Duh! GARA-GARA KAMU KITA ADA DI SITUASI SEPERTI INI! Andaikan kamu bisa mengendalikan mulutmu ini, kita takkan berada dalam seperti ini!",


"Baiklah, baiklah! Aku minta maaf! Aku tak bisa mengendalikan diriku, aku minta maaf! Aku tak menduga kalau Nakano memiliki hati yang sensitif!",


"Apapun alasanmu, lakukan sesuatu terhadap ini semua!",


"Baiklah! Aku akan melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.",


"Kau tak perlu." kata Anna,


"Eh?",


"Eh?",


"Jika masalah ini semakin rumit, itu akan sangat merepotkan. Jangan memperparah masalah!",


"B-baik..." jawab Shiro,


"Nakano sebenarnya memiliki hati yang kuat, namun karena dia dari kecil telah diperlakukan semacam itu. Dia tak terbiasa dengan sesuatu seperti tadi." kata Anna,


"Aku lihat sudah sekitar 3 kali Nakano diperlakukan semacam ini." kata Tohka secara tiba-tiba,


"Dimana saja?",


"Netherwath, Fighterys, dan disini.",


"Begitu ya..",


"Ini hanya kemungkinan, selain ketiga tempat itu, ada tempat lainnya yaitu tempat dimana Nakano lahir. Kita semua disini tak tahu darimana Nakano berasal dan lahir. Yang hanya tahu hal itu hanyalah ayahnya. Karena ayahnya yang membawanya ke Fantasym dan membesarkannya, itu kata Bibi Usagi.".


Kalau dipikir-pikir lagi... memang benar. Aku tak tahu darimana Nakano berasal dan lahir dimana dia. Aku tak begitu memperdulikan hak ini tetapi sebagai tunangannya, kurasa hal ini patut untuk diketahui.


Tidak! Fokus Artoria! Lihat situasi!


"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanyaku sambil maju selangkah,


"Kita akan diam disini sampai Nakano menyerang. Hanya itu satu-satunya cara untuk bertemu dengannya. Lalu kita akan mencoba bicara dengannya dan jika gagal...".


Sebelum Anna melontarkan kata-kata pengakhiran, suasana disana sangat tegang. Kami semua melawan sesuatu yang merepotkan dan tak kami duga akan berhadapan dengannya.

__ADS_1


"Kita rebut Nakano kembali dengan paksa.".


__ADS_2