
Setelah lantai pertama terlewati, ada sebuah pintu disana dan aku masuk ke dalamnya. Saat aku telah masuk, aku melihat hutan dan hewan disana. Ini lantai istirahat?
Aku melihat ke kanan dan ke kiri, tak ada orang dimana-mana. Tiba-tiba ada sebuah suara muncul.
"Selamat, bagi Peserta nomor 1263, Sakamaki Nakano, telah melewati lantai pertama sebagai orang pertama!".
Orang pertama? Jadi masih belum selesai semua?
"Baiklah, kalah begitu silahkan beristirahat dan jika kau lapar maka "bertahan hiduplah"".
Maksudnya aku harus memburu hewan disekitar sini ya? Aku melihat ke belakang dan ke depan, menemukan ada 2 ekor kelinci disana. Karena aku sendirian disini dan lagi aku sedikit lapar lebih baik aku berburu untuk makan, lebih baik sebelum orang-orang kemari dan berburu juga nanti akan lebih sudah untuk mencari makan. Setidaknya 2 ekor kelinci disana cukup untuk mengisi perutku.
Aku langsung mendorong diriku ke depan kedua kelinci, menarik pedangku dan menebas keduanya. Kedua kelinci itu tentu saja mati tetapi badannya tak rusak.
Sekarang, bagaimana caranya aku mengulitinya? Aku tak memiliki pisau untuk itu. Bagaimana ini? Menggunakan pedangku terlalu besar tapi tak ada pilihan lain, aku mengandalkan mu bilah pedang tajam.
Aku mengarahkan pedangku ke kelinci itu dan mengulitinya, sekarang aku perlu air untuk mengeluarkan darahnya. Apakah disekitar sini ada sungai? Aku menggunakan telingaku dan meningkatkan pendengaran sampai cukup tajam. 24 meter dari sini tepatnya di belakang pohon-pohon yang berdiri di belakangku ada yang mengalir. Aku mendorong diriku menuju ke depan pohon-pohon itu dan masuk kesana lurus ke depan.
Saat keluar dari pohon-pohon itu, aku menemukan sungai jernih yang mengalir dengan tenang. Aku menghela nafas dengan panjang. Hah... udara yang segar membuatku tenang.. sungguh menyejukkan...
Oh iya.. aku tak memiliki sesuatu untuk mengambil air ini... tapi beruntung disini ada kayu..
Aku menebas kayu yang ada di dekatku membelahnya menjadi sepotong kayu dan membuat lubang seperti mangkuk disana. Aku membuatnya agak dalam sedikit lalu mengambil airnya untuk percobaan dan dalam sekali percobaan aku berhasil, airnya terangkut dan tak terserap oleh kayunya.. yah sedikit terserap tetapi tak semuanya, itu bagus bukan?
Aku membawanya menuju ke tempat awal ku, memasukkan kelinci itu ke dalam air, meredamnya untuk beberapa menit.. mungkin 40 menit? Harusnya aku meminta diajari oleh ayahku bertahan hidup di alam liar tetapi aku malah hanya menginginkan kekuatan bukannya ilmunya sekalian dalam satu waktu!
__ADS_1
Aku menyalakan api dengan cara tradisional, benar dengan memutarkan batang ke kayu di satu tempat yang tetap sama. Awalnya ini sedikit susah tetapi, aku merobek bagian pakaianku yang akan aku ikat ke sebuah batang yang yang bengkok lalu ku ikatkan juga ke sebuah batang yang akan menghantarkan api nanti. Aku memegang batang yang bengkok itu dan satu lagi bagian kayu yang akan dibakar. Aku mencari posisi yang enak dan menggerakkan batang yang aku pegang ke kiri dan ke kanan.
Setelah beberapa menit aku berusaha akhirnya nyala juga dan saat itu tepat saat daging kelinci siap di bakar.
Aku memotong kayu yang tersisa menjadi beberapa bagian kecil dan panjang dan menjadikannya tusuk panjang untuk menusuk daging kelinci itu. Aku kemudian memotong daging-daging itu menjadi potongan kecil lalu menusukkannya ke tusuk itu lalu sekalian aku juga memberikan makan kepada api yang aku buat agar tidak mati. Dan melakukan seterusnya, kalian pasti tahukan apa yang akan aku lakukan selanjutnya?
...----------------...
Setelah aku makan, akhirnya ada yang datang juga dan diberitahukan oleh suara itu.
Saat mereka berburu dan bertahan hidup sekaligus istirahat, aku pergi menuju ke lantai selanjutnya dan itu karena ada pengumumannya.
"Wahai peserta bernomor 1263, jika kamu mau ke lantai selanjutnya, kamu bisa kesana sekarang juga. Waktu anda disini hampir habis.".
Aku melihat ke sekeliling ku, mereka semua terkejut. Tentu saja lah.
"Baiklah, aku terima tawaranmu." kataku.
Ada sebuah pintu muncul di depanku, pintu itu terbuka sendirinya dan mengeluarkan cahaya putih. Aku pun masuk ke dalamnya, kira-kira musuh selanjutnya siapa?
Aku menutup mataku karena silau sambil melangkah maju ke dalam. Setelah aku berada didalam, aku membuka mataku dan melihat ke sekeliling. Tak ada apapun disana.. aneh...
Aku melihat ke depan dan ada seseorang berdiri disana tetapi ditutupi oleh gelapnya ruangan disana. Gelap... tak seperti lantai pertama... musuhku sebenarnya siapa selanjutnya..?
Tiba-tiba aku mendengar suara petir dari atas ku, aku langsung mundur dari tempat aku berdiri dan melihat ada sambaran petir putih disana. Aku mendarat, dan melihat ke arah sosok itu... matanya bersinar... Tiba-tiba ruangan disana menjadi lebih terang sehingga aku bisa melihat wajahnya... dia.. herobrine..?
__ADS_1
Tiba-tiba saja suara kakakku terngiang-ngiang di kepalaku tentang yang orang itu.
Dia adalah seorang penguasa petir yang hebat yang merawatku saat aku kecil...
Jadi dia ya? Matanya benar-benar bersinar dan memegang beliung sebagai senjatanya.. ini pertama kalinya.. aku melihat orang bertarung dengan beliung besi..
Beliung itu mengeluarkan petir dan... apakah benar hanya elemen listrik yang dia kuasai? petir putih... kalau tak salah.. itu adalah tingkat tertinggi diantara petir lainnya. Sekarang, bagaimana ini?
Jika aku simpulkan... listrik dapat menyerang ke segala arah asalkan penggunanya tahu arah mana yang dia tuju maka arus listrik itu akan mengikutinya... dan sepertinya orang ini tahu daerah sekitarnya..
"Jadi kau ya Manabe?" tanyanya dalam nada serak.
Aku sedikit terkejut lalu menjawabnya dalam gugup.
"Y-Ya..",
"..... Sebelum kita bertarung, aku ingin meminta maaf karena kesalahanku kamu malah pergi ke alam semesta lain dan menghilang dalam waktu yang lama...",
"T-Tidak juga.. aku juga harus berterimakasih karena kau telah menjaga Tohka dan kakakku saat mereka masih kecil...",
"Hmm... Kau sepertinya rasa humormu sudah tumbuh besar...",
"Yah.. banyak yang terjadi...",
"Aku bisa mengerti itu.. karena itu.. tunjukkan kepadaku kemampuanmu itu...".
__ADS_1