Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 78, Ayahku...?!


__ADS_3

Aku dan yang lain berteleportasi ke atas. Saat kami sampai di atas, Tohka melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul dua belas siang.


"Sudah jam sekarang saja." katanya.


Aku yang mendengar hal itu melihat ke arah jam juga.


"Kalau begitu aku akan mengantarkan Anna, Sei, dan yang lainnya kembali ke istana dulu." kataku.


Mendengar hal itu, Anna langsung terkejut dan menolaknya.


"Tu-- Jangan! Aku akan tetap disini sampai kalian berdua juga ikut pulang!" kata Anna,


"Tapi... kami akan tetap disini sampai perangnya berakhir." kataku,


"HAAAAHH?! Sebenarnya... APA YANG KALIAN RENCANAKAN DIBELAKANG KU?!!" Teriak Anna,


"Yah... kami memiliki penjelasan logis dibaliknya." kataku,


"Jelaskan padaku! dan yang lainnya juga!",


"Mashiro adalah anak yang berbeda satu tahun dengan Nakano. Tetapi dia masih bertingkah seperti anak 13 tahun itu karena dia masih belum terbiasa dengan usianya." Jelas Tohka,


"Tu-- Apa katamu?! Aku sudah bisa menyesuaikan diriku dengan baik kau tahu?!" kata Mashiro yang merasa direndahkan,


"Benarkah? Padahal kamu kemarin saat mengetahui ayah dan ibu bisa mati di Medan perang, wajahmu terlihat pucat ketakutan. Seperti dirimu itu minta bantuan kepada seseorang." kataku,


"Ap--?!".


Mashiro yang ingin membantah argumenku mengurungkan niatnya sebelum menoleh ke samping dengan rasa malu sedikit.


"Singkatnya adalah Mashiro memiliki kesadaran anak kecil berusia 13 tahun di tubuh anak 16 tahun. Dan lagi baginya untuk berpindah ke istana Anna adalah sesuatu yang besar. Perlu waktu agar dia bisa membiasakan dirinya dengan lingkungan barunya. Tak seperti anak 16 tahun ke atas yang mudah beradaptasi." jelas Tohka,


"Kalau begitu aku akan tetap disini sampai perang yang kalian maksud itu berakhir!" kata Anna,


"Kurasa itu tidak bisa.",


"Kenapa?!",


"Karena ini di rumah ini, hanya ada 3 kasur dan semuanya telah dipakai.",


"Kalau begitu aku akan tidur di ruang tamu!",


"Ruang tamunya digabung dengan ruang makan. Jadi tak ada sofa disini.",


"Kalau begitu—!" henti Anna.


Aku dengan cepat memeluk Anna saat dia melontarkan argumen selanjutnya. Anna terbawa emosi.


"Sudahlah... aku akan baik-baik saja." kataku sambil memeluknya.


Anna terkejut sesaat sebelum dia mulai meneteskan air matanya. Dia terbawa emosi sekaligus cemburu karena aku dan Tohka yang tinggal seatap. Dia mulai menangis di dalam pelukanku.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan masak dulu. Kalian makanlah disini terlebih dahulu. Setelah itu aku akan pulang ke istana, Anna tetaplah disini saja bersama Nakano." kata Tohka.


Anna yang mendengar hal itu terkejut sesaat. Dia berhenti menangis dan melihat ke arah Tohka yang sedang berjalan menuju ke dapur.


"Kalau begitu semuanya, mohon menunggu dengan sabar. Aku akan membuat makan siang. Duduklah dengan manis di atas kursi itu." kata Tohka.


Dia mengambil celemek yang digantung dan memakainya. Dia mengambil alat-alat di bawahnya dan mengambil bahan-bahan yang ada di dalam kulkas. Sedangkan Anna masih terkejut sambil melihat Tohka yang mulai memasak. Dia tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulut lembab nya.


Arthories, Sei, Mashiro, dan Artoria berjalan menuju ke arah kursi yang tersedia. Sedangkan Anna masih memelukku walaupun dia melihat ke arah Tohka.


Anna melepaskan pelukannya dan berjalan pelan-pelan mendekati Tohka.


"Tohka.... Kamu serius...?" tanya Anna,


"Ya. Aku tak keberatan sama sekali. Ya Nakano?" tanya Tohka kepadaku,


"Ya. Aku tak keberatan sama sekali." jawabku,


"Tuh kan?".


Anna membalik dan melihat ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nakano....?" panggil Anna.


Aku melihat ke mata Anna yang berkaca-kaca itu. Kemudian, aku mengangkat kedua bahuku sambil menutup mata dan tersenyum polos.


Anna menundukkan kepalanya dan membalikkan badannya. Dia dengan cepat mendorong dirinya dan memeluk Tohka.


Tohka yang sedang memasak terganggu terhadap kelakukan Anna, tetapi dia membiarkannya karena bagaimanapun juga, baik itu ratu atau putri, Anna tetaplah perempuan berhati rapuh dibalik pesona tegasnya itu.


"Sudah-sudah. Lagian aku telah melewati malam dengan Nakano semalam." kata Tohka.


Seketika semuanya tertegun. Semuanya terdiam dan terkejut. Sei mengangkat cangkir yang disediakan oleh Arthories untuk membantu Tohka sebelumnya, dengan bergetar. Sei mengangkat cangkirnya dengan tangan yang bergetar dan tatapan tak percaya sehingga airnya jatuh ke sekitarnya.


"E-ehhhh... Be-begitu ya..." kata Sei.


Sei kemudian meminum teh yang tumpah setengah itu dengan keadaan tangan yang masih bergetar.


"Eh... Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah..?" tanya Tohka kepada dirinya sendiri.


Anna yang memeluk Tohka melihat ke arahku dengan tatapan kosong.


"Nakano....." panggil dia,


"A-Apa..?" tanyaku.


Anna membalikkan kepalanya dan melepaskan pelukannya dari Tohka. Dia berbicara dari sana.


"Kita harus membicarakan ini lebih jauh lagi..." kata Anna,


"A-Apa maskdu mu...?" tanyaku,

__ADS_1


"Kau tahu bukan...".


Anna membalikkan badannya ke arahku dan menatapku dengan tajam penuh dengan kekosongan.


"Ya.... Nakano....".


Aku mulai sedikit ketakutan karena tak pernah melihat sisi Anna yang ini.


"K-Kau salah paham! Aku dan Tohka sama sekali tak melakukannya!" kataku mencoba meluruskan kesalahpahaman yang dibuat Tohka,


"Kalau begitu.... Bisakah... kau... memberikan keperjakaan mu kepadaku?!" kata Anna dengan nada bicara mengerikan,


"Tidak! Aku tidak bisa!" kataku.


Artoria dan Sei berdiri dengan tegas.


"Tidak itu tidak boleh!" kata mereka bersamaan.


Aku awalnya cukup bersyukur karena ada yang membelaku. Tetapi aku salah.


"Keperjakaan Nakano itu milikku!",


"Keperjakaan Nakano itu milikku," kata mereka berdua secara bersamaan.


Mereka hanya membesar-besarkan masalah saja.


"Kalian semua salah paham. Aku dan Tohka benar-benar tak melakukan sesuatu seperti yang kalian pikirkan." kataku dengan nada normal.


Mereka bertiga tak mendengarkan ku dan lanjut berdebat tentang memperebutkan keperjakaan ku. Apakah memang sesulit ini memiliki istri lebih dari satu?!


Ditengah perdebatan mereka bertiga, ada seseorang yang mendobrak pintu. Kami dibuat terkejut karena hal itu. Aku semua melihat ke arah orang yang mendobrak itu dan melihat 3 wanita yang menggendong 1 laki-laki berambut pirang penuh luka berat. 3 wanita itu salah satunya adalah gadis kelinci dan dua nya manusia. Salah satu orang itu berambut hitam panjang dengan pita yang bekas bakar dan memakai gaun penuh dengan kotoran. Sedangkan satunya lagi berambut pendek dan memakai kalung kayu berpakaian seperti anak modern. Pakaian mereka kusut dan memiliki banyak luka. Dan kami menyadari kalau gadis kelinci itu adalah ibuku dan pria berambut pirang itu ayahku.


Aku dan yang lain langsung bergerak cepat. Tohka melepas celemek dan mematikan kompornya. Kami membawa mereka ke ruang makan/tamu dan aku dan Mashiro membawa ayahku ke kamarnya. Sebenarnya apa yang terjadi? aku tak pernah melihat ayahku terluka seperti itu.


Setelah beberapa menit setelah aku dan teman-temanku membantu ibuku dan 2 orang lainnya merawat lukanya, aku mulai bertanya.


"Ibu. Apa yang telah terjadi?" tanyaku,


"Monster itu menyerang lagi. Tapi kini dia telah kalah walaupun dia tidak mati." jawab Ibuku,


"Jadi apa yang membuat ayah seperti itu?" tanyaku,


"Itu semua karena monster itu.".


Aku dan teman-temanku merenung. Sesaat setelah itu, Arthories berlari menuju ke arah kami dan melaporkan keadaan Ayahku.


"Gawat! Gawat! Ayahmu... Sakamaki Izayoi... dia telah....".


Sesaat sebelum mengucapkan kata terakhir untuk menyempurnakannya, aku dan teman-temanku tegang, termasuk ibuku dan 2 orang lainnya. Dan Arthories melanjutkan laporannya.


"Dia telah... Mati!".

__ADS_1


__ADS_2