Sang Penguasa Alam Semesta

Sang Penguasa Alam Semesta
Chapter 38, Penjelasan Arthories dan Teman Perjalanan Baru!


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku dan disampingku ada Sei, Anna, Tohka, dan Keluargaku. "Nakano! NAKANO!" Teriak mereka —aku tidak peduli. Pendengaranku dan penglihatanku mulai pulih dan jelas.


Sei berkata kalau aku koma selama 6 bulan penuh tetapi aku baik-baik saja. Apakah separah sebanyak itu energi yang kuhabiskan?. Ingatanku yang terjadi 6 bulan lalu kembali padaku. Pertarungan dan janji... aku mulai mengingatnya.


Sei juga mengatakan kalau Anna sangat mengkhawatirkanku sampai merawat ku dengan baik seorang diri. Tetapi Sei dan Tohka tidak mau kalah, jadi mereka ikut membantu juga. Sei juga menjelaskan kalau Arthories dan Artoria dipenjara sampai aku terbangun dan menerima hukumannya. Aku ingin menjelaskan tetapi aku tidak punya cukup energi untuk berbicara, jadi aku putuskan nanti saja.


Sei menyuapiku bubur karena aku belum bisa menggerakkan anggota tubuhku dengan baik. Anna juga melarang diriku untuk banyak bergerak. Tohka juga melarang ku untuk tidak memaksakan diriku. Mereka terlalu mengkhawatirkan diriku, walaupun aku bahagia dengan apa yang mereka lakukan kepadaku. Rasa kasih sayang dan peduli yang tinggi terhadapku, mungkin aku tidak akan merasakannya lagi di masa depan. Sei juga mengatakan kalau nanti aku harus ikut serta dalam penghakiman Arthories dan Artoria.


Setelah itu, beberapa Minggu berlalu begitu cepat. Aku mulai bisa berdiri dan berbicara, tetapi Anna tetap tidak boleh membiarkanku bergerak terlalu banyak, sehingga aku harus duduk di kursi roda jika ingin kemana-mana.


Waktu penghakiman telah tiba. Dengan bantuan Sei, aku datang ke penghakiman Arthories dan Artoria dengan kursi roda. Penghakiman ini bertujuan untuk memutuskan hukuman apa yang setimpal dengan perbuatan mereka berdua karena telah mengotori pertandingan. Aku datang bersama teman-temanku dan keluargaku.


Kami semua masuk ke tempat penghakiman berada. Aku yang tengah menaiki kursi roda yang didorong oleh Sei, melihat beberapa orang yang diutus untuk menjadi saksi. Mereka juga adalah orang yang melihat pertandingan itu dengan mata mereka sendiri.


Aku melihat ke arah Arthories dan Artoria yang di tahan. Di samping mereka ada ahli sihir yang siap mengarahkan sihir mereka ke arah Arthories dan Artoria jika mereka berdua memberontak.


"Baiklah kalau begitu... penghakiman akan segera dimulai." kata Seseorang yang duduk di kursi tengah yang bisa diperhatikan semua orang, dan orang itu adalah Ayahku sendiri.


Dia berpindah lebih tepatnya berlari ke sana begitu cepat dan tanpa suara. Aku bahkan tak menyadarinya. Apa-apaan fisiknya itu?


Aku dan keluargaku pergi ke depan dimana telah disiapkan beberapa kursi.


"Baiklah kalau begitu. Berikut penjelasannya:


Seorang wanita berumur 29 tahun yang juga penguasa alam semesta, beserta dengan anaknya yang berumur 16 tahun, mencoba melakukan pembunuhan terhadap seorang remaja laki-laki berumur 17 tahun." Lanjut Ayahku,


"Pertanyaannya adalah... apa motif dibalik percobaan pembunuhan ini?",


"Itu... Kami...",


"Apa?",


"I-Iri terhadap Nakano yang ini dan k-kami mencoba membunuhnya karena... kami pikir itu bisa mengembalikan Nakano Wynox kepada kami." Jelas Arthories,


"I-Iri?" kata Anna,


"Ya itu benar, selain itu kami tidak punya alasan lainnya.".

__ADS_1


Di sana dengan cepat senyap tanpa suara. Ayahku yang sekaligus hakim bilang, "Baik. Bagi kalian semua yang ingin pulang silahkan pulang. Ini hanyalah masalah pribadi.".


Karena hal itu, banyak kata-kata kecewa keluar dari mereka sembari pergi keluar. "Apa ini?", "Jangan mempermainkan kami lah!", dan semacamnya.


Ahli sihir yang berada di samping Arthories dan Artoria juga disuruh keluar oleh ayahku.


"Baiklah sekarang... bisakah kami mendengar penjelasannya.. Yang pertama kamu, Arthories.",


"Aku ingin membunuh Nakano karena aku iri dengan pedangnya. Pedang terkuat kedua dari 5 Pedang Legendaris Terkuat.",


"Bisakah kami mendengar itu lebih jauh. Aku sedikit penasaran. Karena pertama kalinya aku mendengar itu." kata Ayahku,


"Di seluruh alam semesta, ada 5 Pedang Legendaris Terkuat. Pedangku ini juga termasuk daftarnya tetapi di urutan ke-4. Pedang milik Nakano, yaitu Excusifer, memiliki urutan ke-2. Pedang yang dimiliki Ikumi dulu, yaitu Katana Sakura, memiliki urutan ke-3." jelas Arthories,


"Kalau begitu siapa yang di posisi pertama?" tanyaku menyela pembicaraan,


"Yang pertama aku tidak tahu. Tetapi menurut rumornya, pedang itu sangat besar dan memiliki sihir unik, yaitu Anti-Sihir.",


"Begitu kah. Kalau begitu penjelasan dari Artoria.",


"A-aku... itu... hanya.... iri melihat Nakano bersama dua gadis. Hanya itu...",


"A-aku... Gak apa-apa kan? Terserah akulah!",


"Jelaskan!" perintah Anna,


"Baiklah! Baiklah! A-aku hanya...",


"Apa?",


"Aku... aku.... mmmm.... AKU HANYA MENCINTAI NAKANO!",


"Eh? Artinya kamu cemburu... begitu?",


"C-cemburu? Mana ada aku tidak cemburu." kata Artoria. Dia memalingkan wajahnya yang memerah itu. Artoria bergumam, "hanya... sedikit.", tak ada yang bisa mendengarnya.


"Kau bilang sesuatu?" tanya Tohka,

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak bilang apa-apa." kata Artoria.


Dalam kasus ini.. Artoria itu... Tsundere... mungkin?


"Terus... bagaimana ini, Nakano?" tanya Tohka,


"Kalau begini, ya... Biarkan saja mereka..." jawabku,


"Hah? setelah mencoba membunuhmu? Mana mungkin kan?" Kata Anna,


"Sudahlah. Aku juga telah hilang kendali. Ada yang menggangguku di alam bawah sadarku." Jelasku,


"Siapa?" tanya Sei,


"Namanya... Magicufer..",


"Eh?" kata semuanya. Semuanya terdiam dan terkejut karena hal itu.


"Magicufer? Kau benar Nakano? Kau baik-baik saja?" tanya Anna mulai cemas,


"Ya.. Dan tujuanku selanjutnya adalah ke dia! Devilains!",


"Kau benar akan kesana? Dia itu musuhmu loh!" kata Tohka yang menganggapku seperti orang gila,


"Dia menungguku disana, aku juga tidak peduli walaupun dia musuhku atau bukan, tetapi dia sedang menungguku.",


"Kau memang begitu ya Nakano!" kata Sei,


"Kau benar." jawabku,


"Yosh dengan begitu juga kita akan ke sana ya?" tanya Tohka.


Aku dan Sei menjawabnya dengan menganggukkan kepala kami.


Artoria melihatku yang sedang berbicara dengan ketiga temanku-- bukan! tetapi ketiga Istriku dimasa depan. Artoria cemburu kepada ketiganya. Artoria menarik nafas dan bersiap jujur kepada perasaannya.


"NAKANO! Aku akan ikut dalam perjalananmu!" kata Artoria dengan tegas sekaligus menahan malu. Aku melihat ke arah Artoria yang matanya berkaca-kaca takut ditolak olehku.

__ADS_1


"Ya... Boleh kan?" kataku dengan lembut. Tohka, Sei, dan Anna menganggukkan kepalanya. Artoria menatapku tak percaya. Kemudian tersenyum lembut dan manis. Aku tak merasakan kebohongan dalam senyumannya. Artinya, dia memang benar-benar ingin ikut.


__ADS_2