
Aku, Tohka, dan Mashiro turun melewati tangga menuju ke ruang bawah tanah yang dimaksud oleh Mashiro. Aku dan yang lain turun secara perlahan dan mengawasi pergerakan kami. Setiap langkah kami menuruni tangga, angin mulai tak terasa dan hawa panas mulai menyengat. Aku tak tahu berapa panjang lagi tangga ini akan ke bawah.
Setelah perjalanan turun yang panjang, akhirnya ujung tangga ini terlihat juga. Kami turun satu persatu. Di depan kami ada sebuah pintu kayu yang kuno yang mulai tertutupi debu. Mashiro berjalan duluan dan membuka pintunya.
Saat membuka pintunya sedikit, seketika energi besar keluar dari balik pintu itu. Setelah pintunya terbuka, aku dan Tohka melihat sebuah pedang merah seukuran Excusifer yang menjadi asal energi besar itu. Pedang itu bukanlah pedang biasa.
"Selamat datang di ruang bawah tanah, dimana pedang merah ini berada." kata Mashiro.
Aku dan Tohka yang ragu berjalan dengan pelannya masuk ke dalam ruangan. Aku dan Tohka melihat pedang itu dengan tercengang. Tohka melihat ke arah Mashiro dengan ragu sebelum bertanya kepadanya.
"Ini pedang apa?" tanya Tohka,
"Aku senang kau bertanya. Ini adalah... pedang milik Nakano Wynox.",
"HEEEHHH?!!" Reaksi Tohka terkejut, sedangkan aku sendiri sedang melihat ke arah pedang itu dengan tatapan tajam. Aku merasa pedang itu mencoba berbicara kepadaku.
Aku terdiam sebentar sebelum bertanya kepada Mashiro untuk lebih.
".....Bukankah senjata Wynox itu sabit Malam Merah?",
"Itu hanya bentuk awal. Ini adalah bentuk akhirnya. Kekuatannya melampaui yang bentuk sabit.".
Aku melebarkan mataku, terdiam dan terkejut disaat bersamaan. Melebihi bentuk kekuatan sabit? Aku bahkan kesulitan melawan Wynox dengan bentuk sabitnya. Kekuatanku dengannya berbeda sangat jauh.
"Pedang awalnya adalah sabit yang dikenal semua orang. Tetapi semenjak Kakak datang kesini, pedang itu mulai menampakkan bentuk sempurnanya. Itulah yang dikatakan ibu." jelas Mashiro.
Aku terdiam sebentar sebelumny kembali bertanya.
__ADS_1
".....Bagaimana bisa ayah dan ibu punya senjata ini?" tanyaku,
"Apakah kakak tidak tahu kalau Nakano Wynox itu dikalahkan oleh ayah dan ibu serta teman-teman mereka berdua?",
".....".
Aku terdiam kembali. Tepat disaat aku terdiam, Tohka mulai bertanya tentang satu hal.
"Siapa teman-teman yang kamu bicarakan itu?" tanya Tohka,
"Mereka adalah diantara lain Obounara Yo, Miyaniku Asuha, Kinase Aoi, dan Shikigawa Ame." jawab cepat Mashiro,
"Obounara Yo? Shikigawa Ame? Siapa mereka?",
"Obounara Yo adalah istri dari penguasa Alam Semesta Machinery. Sedangkan Shikigawa Ame adalah penguasa Alam Semesta Animalips.".
Animalips... Aku pernah membacanya saat mandi di istana Anna. Animalips adalah Alam Semesta dimana ras hewan disana berkumpul, seperti salah satunya yang telah punah adalah ras Kelinci Bulan. Ras demi-human lainnya tinggal disana. Alam Semesta damai tanpa ada pertengkaran dari awal terciptanya sampai sekarang ini.
Aku yang berhadapan dengan pedang milik Nakano Wynox itu, mengangkat tanganku dan menggerakkannya ke bilah pedangnya. Aku hanya ingin menyentuhnya. Tetapi saat aku menyentuhnya, ada sesuatu yang cahaya keluar dan aku diledakkan sampai terlempar ke belakang.
"NAKANO!!",
"KAKAK!" Teriak Tohka dan Mashiro saat aku terlempar ke belakang.
Mereka dengan cepatnya bereaksi, berlari ke arahku dengan cepat. Mereka panik.
"NAKANO, KAMU BAIK-BAIK SAJA?!" Tanya Tohka khawatir.
__ADS_1
Aku yang sambil memegang kepalaku dan perutku disaat bersamaan, menjawab pertanyaan yang terlontar dari Tohka.
"Ya.... Aku baik-baik saja. Tetapi pedang itu membenciku. Sakin membenciku, dia bahkan tak membiarkanku menyentuhnya atau mendekatinya dalam jarah satu inci." jelasku dengan detil.
Kami bertiga bersamaan melihat ke arah pedang Wynox yang mengeluarkan energi yang lebih besar lagi.
"Sebenarnya... apa yang diinginkan oleh pedang itu. Aku merasakan firasat buruk." kata Mashiro.
Tohka yang kelihatan ragu, mulai meyakinkan dirinya. Dia berdiri dengan tegap dan berjalan ke arah sang pedang bersifat itu. Dia berjalan dengan pelannya penuh dengan rasa ragu.
"OOOII TOHKA!" panggil Mashiro.
Tohka terus berjalan seakan dia tak mendengarkan ucapan Mashiro. Dia terus berjalan dengan pelan.
Saat sampai di depan pedang, Tohka melakukan hal yang sama denganku. Dia mengangkat lengan kirinya dan mengarahkan ujung jarinya ke arah bilah pedang itu.
"TUNGGU, TOHKA! BAHAYA!" Teriak Mashiro berusaha memperingatkan.
Tohka tak mendengarkan peringatan dari Mashiro dan tetap menyentuhnya. Dia akhirnya menyentuhnya dan seketika di bagian terdalam dari pikirannya menyatu dengan suatu benang hitam. Dia dengan cepat mengingat semua memori tentang ras Kelinci Bulan dan alasan mereka bisa punah. Semua rahasia yang ingin dia ketahui tentang dirinya seketika saat itu juga terpecahkan, termasuk tentang gadis Kelinci istri Nakano Wynox, Narumi Ikumi.
Dia kembali ke kesadarannya yang sekarang dan berakhir dengan terengah-engah.
Saat aku melihat ke arah Tohka, aku melihat sosok gadis kelinci itu lagi. Dan seketika bagian terdalam pikiranku, terikat dengan suatu benang hitam. Semua memori yang berhubungan Narumi Ikumi tergabung ke dalam ingatanku yang sekarang. Aku mendapatkan kepingan memori yang amat besar. Aku kembali ke kesadaran diriku yang sekarang dan berakhir terengah-engah.
Tohka melihat ke arahku dan aku juga melihat ke arahnya.
"Nakano..." panggil Tohka,
__ADS_1
"Ikumi... Tidak, Tohka!" kataku.
Tohka tiba-tiba berlari dan sesuatu seperti bagian kaca pecah memisah dari kulit wajah Tohka. Saat sampai ujung rambut, Tohka sudah memiliki telinga kelinci dan ekor. Tohka berlari dan melompat ke arahku. Aku berdiri dan memeluknya dengan cepat. Berputar-putar di tengah ruangan sempit sambil menggendong Tohka. Aku mendapatkan kepingan ingatanku tentang Narumi Ikumi semuanya.